Film Terbaru Benedict Cumberbatch “The Imitation Game”

27 Desember 2013 pukul 21.26 | Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar

Sepertinya tahun ini dan tahun depan, masih jadi tahunnya Benedict Cumberbatch.

0HGAsHA

Setelah sukses menghidupkan kembali karakter detektif paling terkenal di dunia Sherlock Holmes dalam kemasan modern, Cumberbatch juga jadi daya jual di beberapa film lain seperti Star Trek Into Darkness dan The Hobbit trilogy.

Dengan logat british yang kental, kesan misterius yang nakal, serta raut muka yang tidak pasaran, Benedict saat ini menjadi sasaran histeria para wanita di seluruh dunia. Ini tentu saja ditunjang dengan kemampuan aktingnya yang memang luar biasa.

Tapi mari kita tidak membicarakan pesona dan dan kehebatan Benedict Cumberbacth ini dari sudut pandang penggemar wanitanya. Takutnya nanti saya dituduh punya kecenderungan menjadi penyuka sesama pria… (–‘)

Mari kita berbicara tentang penyuka sesama pria saja..

Lah?

Jadi rencananya, tahun 2014 ini film terbaru Benedict Cumberbatch akan kembali dirilis. Filmnya diberi judul “The Imitation Game”. Kali ini ia akan memerankan sosok Alan Turing.

Kenal Alan Turing?

Sebagian orang menyebut Turing harusnya dikenal sebagaimana kita mengenal Albert Einstein. Selain sama-sama jenius, Turing juga berperan besar dalam mengubah jalan sejarah dunia menjadi apa yang sekarang kita kenal. Ia menciptakan mesin pemecah kode yang membantu Inggris membaca kode-kode milik pasukan Jerman pada perang dunia II. Dengan bantuan Turing, strategi perang Jerman dapat diketahui dan akhirnya, dikalahkan.

Selain itu, Turing juga dikenal jenius dalam komputer dan matematika yang penelitiannya pada jamannya mempengaruhi perkembangan komputer seperti yang kita kenal sekarang.

Dengan jasa-jasanya itu, seharusnya ALan Turing dikenal sebagai pahlawan, bukan?

Bukan, tentu saja.

Alan Turing dikucilkan dan dicabut hak-haknya oleh Kerajaan Inggris karena ia menjalin cinta dengan seorang remaja pria. Homoseksual merupakan pelanggaran hukum berat pada masa itu. Pengucilan dan penistaan tersebut yang konon akhirnya membawa Turing memutuskan untuk bunuh diri dengan memakan apel yang sudah dicampur sianida (Turing dikenal sangat menyukai dongeng Putri Salju dan Tujuh Kurcaci). Namun juga ada kecurigaan, Turing sebenarnya diracun oleh pihak tertentu.

Baru-baru ini, diberitakan Ratu Inggris sudah memberikan maaf resmi kepada Alan Turing.

Menarik ditunggu bagaimana Cumberbacth memerannya sosok Alan Turing, termasuk juga perlu ditunggu plot cerita film ini. Tapi sementara itu, mari kita menonton Sherlock dulu….

***

Link terkait

1. http://en.wikipedia.org/wiki/Alan_Turing

2. http://www.imdb.com/name/nm1212722/

3. http://www.buzzfeed.com/danmartin/heres-the-first-picture-of-benedict-cumberbatch-as-alan-turi

4. http://edition.cnn.com/2013/12/24/world/europe/alan-turing-royal-pardon/

Agnes Monica di Kantor Baru Saya

25 Desember 2013 pukul 13.19 | Ditulis dalam Uncategorized | 7 Komentar

Jadi sejak pindah kantor ini, saya mendadak melek gosib selebriti. Sialan.

Bayangpun. Saya, yang menolak mengikuti segala macam trend baik di dunia nyata maupun dunia maya, tiba-tiba saja mengerti kalau ternyata banyak artis yang memang sengaja bikin sensasi biar terkenal. Ada pedangdut yang sempat dikira salah satu teman saya ustadzah karena namanya pake Siti-siti dan beakhiran “yah-yah” yang gosibnya foto bugilnya beredar di internet. Ada om-om yang pacaran sama artis muda pendatang baru entah-siapa-namanya-saya-lupa lalu ternyata itu pacaran katanya settingan biar masuk infotainment. Ada pengacara yang saya curiga punya kelainan jiwa yang wara-wiri mengomentari segala kabar yang ada di tipi. Saya cuga jadi tau kalau adiknya Olga sama adiknya Raffi itu lagi flirting-flirtingan walau mungkin sebagian juga settingan produser acara.

Semua gara-gara kantor baru…

Di tempat kerja ini ada sekitar 30-an rekan kerja saya, dan cuma 3 orang termasuk saya yang punya titit. Dan entah kenapa, kaum hawa ini begitu berdedikasi dengan berita selebriti. Setiap pagi, setelah ucapan assalamualaikum, maka kalimat selanjutnya adalah “Liat hitam putih tadi malam gak?” atau “liat artis ini dihipnotis sama uya gak?” atau “anaknya Dhani yang pertama itu ganteng banget yaa” dan kalimat-kalimat tersebut diucapkan oleh ibu-ibu usia menjelang 50…

Dan tidak hanya acara gosib, atau sinetron yang mereka komentari, tapi juga iklan. IKLAN!

Seperti hidup di Indonesia belum cukup ribet dan harus ditambah dengan mengomentari iklan di tipi…

Salah satu iklan yang dikomentari adalah iklannya Agnes Monica. Tidak tanggung-tanggung, rekan-rekan kerja saya ini menggunjingkan Agnes dengan topik ‘kenapa iklan yang dibintangi Agnes Monica rata-rata itu iklan kelas dua. Khususnya iklan di tipi”.

Mau tidak mau saya jadi kepikiran, haha… Walaupun berniat tidak akan tidak ingin ikut menggibah, tetap saja jadi penasaran. Apa iya?

Jangan salah, Agnes itu salah satu dari ‘first crush’ masa-masa aqil baliq saya dulu. Selain Agnes, saingannya adalah Rachel di serial Friends, dan tentu saja… … Kimberly si Ranger Pink.

SIWI

Tapi kita tidak akan membahas Kimberly atau Rachel kali ini. Kita ngobrolin Agnes Monica saja.

Setelah saya pikir-pikir, terlepas dari nyinyiran banyak orang, IMHO Agnes sejauh ini tidak pernah mendapat pemberitaan yang negatif. Tidak pernah ada 3gp dengan aktris dia (Kalau yang judulnya ‘mirip Agnes’ sih banyak), tidak pernah ada terdengar cerita Agnes membuat isu murahan menjelang dia rilis album atau single, pun tidak pula ada kisah jelek tentang pribadinya.

Jikapun ada gosib-gosib seputar Agnes dan mantan-mantan, ya wajar. Namanya seleb, cantik pula. Jangankan yang seleb beneran, selebtwit saja sekarang polahnya sudah macam Don Juan 2.0 kok…

Lalu tentang kegagalannya Go International? Lah situ membahas Agnes gagal di Amerika, memangnya situ sudah keluar album berapa copy? Kesalahan Agnes di sini menurut saya cuma karena dia bragging rencananya memperluas pasar ke luar negeri sebelum ada bukti. Beda dengan (yang biasanya dibanding-bandingkan dengannya) Anggun, yang memang tau-tau muncul dengan status Diva Internasional. Agnes melewatan moment untuk menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu. Dia keburu penasaran rasanya terbang sebelum punya sayap yang mumpuni 🙂

Tapi dia masih muda, masih punya banyak jalan menuju Roma.

Dan tentang iklan kelas dua. Kenapa memangnya? Setau saya, selain iklan yang memang packagingnya sederhana macam iklan aromaterapi itu, Agnes juga pernah jadi duta promosi operator seluler paling besar Indonesia kan? Toh, kita nyinyir, duitnya tetap lumayan juga buat dia..

Terakhir, kenapa pula saya membahas Agnes membabi buta begini? Ya mau gimana lagi? Kerjaan sudah selesai, libur sudah membayang, tapi jadwal masih mengharuskan saya masuk kerja, duduk di meja menghadap TV dikelilingi ibu-ibu membahas berita selebriti hari ini…

Saya, terkontaminasi….

Tips dan Trik Menghadapi Penerimaan CPNS 2013

14 September 2013 pukul 01.23 | Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar

Akhir-akhir ini, baik di timeline media sosial maupun pembicaraan dengan tetangga komplek atau sekilas berbincang dengan kenalan baru ketika antri di bank, sering sekali topik yang muncul adalah tentang penerimaan CPNS 2013.

Sebagian (yang sepertinya idealis – atau nihilis) nyinyir tentang betapa negara kembali membuang-buang uang untuk mencari calon pekerja yang pada akhirnya setelah diterima (menurut mereka) kerjaannya juga hanya buang-buang uang negara.

Sebagian lagi menggebu-gebu menanyakan tentang tips dan trik dan (terkadang secara frontal) juga berapa duit yang perlu dihabiskan untuk menyuap kanan kiri atas untuk bisa diterima sebagai CPNS.

Ada juga beberapa orang (yang kebetulan sepertinya bersentuhan langsung dengan proses penerimaan CPNS ini) yang juga menggebu-gebu memberikan info-info penting seputar penerimaan CPNS 2013 ini. Seakan jadi PNS itu sedemikian hebat dan harus dibanggakan sedemikian rupa.

***

Menanggapi yang begini ini, saya seringnya hanya mengambil sikap diam. Memerikan tanggapan seperlunya.

Tentang apakah perlu penerimaan CPNS dibuka, saya tidak tau jawaban persisnya. Yang saya tau, sebagian sekolah masih kekurangan guru. Sebagian perawat di rumah sakit masih harus bekerja overtime siang dan malam. Dan tentang buang-buang uang, korupsi, toh yang ditangkap KPK itu yang PNS cuma sepersekian persen dari total keseluruhannya

Tentang mereka yang menanyakan tips trik agar bisa lulus, saya juga tidak tau. Jujur, saya benar-benar tidak tau hitung-hitungan resmi hasil test dan segala macam pertimbangan kenapa seseorang bisa dinyatakan diterima sebagai CPNS. Teman-teman saya, yang saya tau sangat rajin, baik, dan secara personal bisa saya katakan berdedikasi, entah kenapa tiap tahun ikut test CPNS selalu belum diterima. Sementara kenalan-kenalan yang semasa SMA, semasa kuliah, terkenal suka membantah dosen, sering menghilang dari peredaran absen presensi, pacarnya banyak, sekalinya mendaftar, malah langsung diterima.

Jadi sekali lagi, soal tips dan trik, saya tidak tau apa-apa. Tapi teman baik saya yang kebetulan jadi panitia penerimaan CPNS, pernah bilang, kalau skor paling besar dari test CPNS itu didapat dari soal-soal psikotest dan logika. Tau kan? Soal-soal tentang bentuk ini mengingatkan kita pada apa, kalau bentuk ini dan bentuk ini bisa disamakan dengan bentuk apa pada pilihan gandanya, kalau deret angka ini begini maka selanjutnya apa, yang begitu-begitu lah…

Oh iya, dan satu lagi, berdasarkan pengamatan pribadi sih ini. Teman-teman yang lulus jadi CPNS itu, biasanya yang menurut penilaian saya adalah mereka yang jujur. Jujur di sini bukan berarti tidak pernah selingkuh, atau tidak pernah bohong sama orang tua, tapi lebih ke jujur soal apa yang dirasa. Kalau lagi marah ya ditunjukkan marahnya, kalau lagi kangen, ya bilang kangen, kalau galau, ya mengalay, kalau lagi gembira, ya keliatan. Begitu.

Apakah yang tidak lulus tidak jujur? Oh tidak, tentu saja. Kan tadi saya bilang, saya tidak tau. Ini hanya pengamatan pribadi. Salah benarnya sangat bisa diperdebatkan.

Dan kepada yang menanyakan berapa duit yang diperlukan untuk menyuap siapa agar bisa diterima, reaksi pertama saya tentu saja, menahan diri sekuat tenaga agar tidak meninju mukanya. Selanjutnya ya diam saja. Mungkin ada memang yang seperti itu. Yang harus bayar membayar biar bisa dapat gaji dari negara. Tapi semua, serius, semua teman-teman saya yang PNS, yang saya kenal, setahu saya tidak satupun yang keluar duit suap untuk diterima.

Lalu tentang keriuhan gegap gempita berbagi pengumuman, berbagi data, sekaligus ada juga yang memanfaatkannya untuk memancing traffik pengunjung blog yang mencari informasi seputar penerimaan CPNS ini, saya juga cuma bisa nyengir. Mbok ya tidak perlu lebay seperti itu masbro, mbak, pak, bu. PNS kan cuma kerjaan, sama seperti ketika perusahaan swasta membuka lowongan kerja, tidak ada yang istimewa.

Bahwa informasi ini harus diteruskan ke banyak orang agar bisa menjaring calon-calon abdi negara potensial, itu saya setuju. Tapi calon yang untuk mencari informasi persyaratan pendaftaran saja harus bingung dan dibimbing macam anak TK? Ah, saya tidak yakin mereka itu calon potensial. Pun lagi nanti, seandainya lulus mampu mengayomi para pembayar pajak dan warga negara lainnya…

Jadi ya itu, PNS itu bukan hal yang istimewa. Tak perlu merasa jumawa. Bekerja dengan seragam dan dibayar negara itu ya biasa saja. Sama seperti yang lain, ada hak, ada kewajiban, jalankan saja. Sudah.

Percayalah, PNS atau bukan tidak mengubah kepribadian saya. PNS atau bukan, saya akan tetap ganteng dan menyebalkan. Beneran!

When Love Can’t Hurt Me Anymore

26 Mei 2013 pukul 01.43 | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

Right now..
When we’re trapped by days…
Right here…
Where a lonely place won’t be ever lonelier…

Then…
Unconsciously you will realize…
That every place has been filled by praises…

From me…
To a pretty fairy…

An undisputed description..
From all the beauty over the nation…
And your kindness is a healing potion…
When my heart’s out an awful condition…
And your voice’s just like sweet poison…
Fly me up so high with your affection…

Whatever…
Because for a moment I can only convince myself…
That love won’t ever hurt me anymore…

With you…

Register dan Variasi Bahasa

15 Januari 2013 pukul 23.41 | Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar

Disadari atau tidak, ada beberapa berbedaan kita ketika menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Perbedaan di sini muncul ketika kondisi , situasi dan lawan komunikasi kita juga berbeda. Variasi dalam berbahasa ini oleh para linguis disebut dengan istilah “register”.

Secara mendasar, ada lima (5) hal yang mempengaruhi perubahan variasi berbahasa (register) kita tersebut:

  1. Apa yang kita bicarakan (tentang masalah hukum, pendidikan, politik, hobi, asmara, curhat, dll)
  2. Siapa lawan bicara kita (Guru, orang tua, teman, kekasih, bos, pengemis, pembantu, saat pidato di depan orang banyak, dll)
  3. Kenapa kita berbicara (untuk menceritakan sesuatu, merayu lawan jenis, untuk mencairkan suasana, untuk meminta tolong, dll)
  4. Jenis komunikasi apa yang kita gunakan (tertulis, lisan, email, telpon, dll)
  5. Perasaan kita saat berbicara (Terpaksa, konsentrasi, lelah, dll)

Bisa berbahasa dalam banyak variasi hingga bisa menentukan register yang tepat pada situasi yang benar adalah bagian penting dari skill komunikasi.

Salah satu teori yang banyak dikutip terkait register ini adalah teori Martin Joos dalam bukunya “The 5 Clocks” (1972).

Joos membagi variasi penggunaan bahasa dalam lima level:

  1. Frozen (Jenis bahasa yang digunakan dengan tujuan tidak ada perbedaan pemahaman dari si pembaca/pendengar. Biasanya digunakan pada bidang hukum (bahasa undang-undang dan sejenisnya) dan keagamaan (penerjemahan kitab suci, do’a, dll.)
  2. Formal (Jenis bahasa yang digunakan dalam kondisi formal dan cenderung satu arah dan tidak bersifat personal. Misalnya pengumuman, khotbah, pidato, dll. Ciri dari level ini adalah penggunaan grammar yang baik, langsung, informasi detail, terencana sebelumnya dan jika bersifat lisan dilafalkan dengan sempurna.)
  3. Consultative (Register ini banyak digunakan dalam komunikasi antara pihak-pihak yang tidak memiliki latar belakang yang sama namun karena alasan tertentu berada di situasi yang sama. Misalnya ketika rapat dengan rekan bisnis, bertemu calon mertua, dan sejenisnya. Dalam jenis komunikasi ini, pembicara harus memberikan informasi awal dari topik yang akan ia bicarakan. Asumsinya adalah pendengar tidak akan memahami pembicaraan jika tidak diberikan informasi awal sebelumnya. Dalam proses komunikasi, pendengar dapat memberikan tanggapan jika ternyata informasi awal sudah ia ketahui.)
  4. Casual (Jenis komunikasi antara pihak-pihak yang sudah saling mengenal dekat; kawan, tetangga, anggota lingkaran pergaulan yang sama. Register ini digunakan untuk menciptakan perasaan semua pihak yang berkomunikasi adalah bagian dari grup yang sama. Bentuk bahasanya biasanya banyak menggunakan istilah slang/gaul, grammar yang tidak mengikat dan cenderung minim vocabulary.)
  5. Intimate (jenis bahasa yang digunakan antara individu yang sudah sangat mengenal dekat seperti pasangan hidup, orang tua dan anak, atau teman akrab.)

Apa Yang Baru?

8 November 2012 pukul 00.02 | Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar

Kesalahan Penerjemahan yang Mengubah Dunia

13 Juli 2011 pukul 16.01 | Ditulis dalam Uncategorized | 14 Komentar

Pada suatu ketika, seorang kawan mengirimkan tautan dari sebuah situs berita online nasional yang membuat saya terkonclang tertawa bergulingan di teras rumah bu RT. Tautan itu merujuk pada satu berita yang sepertinya diambil dari media berbahasa Inggris dan diterjemahkan. Judul beritanya: Sperma Raksasa Ikan Paus Dipindahkan dari Pantai.

Isi beritanya antara lain memuat kalimat “Sebuah sperma ikan paus yang panjangnya mencapai 13 meter dipindahkan dari sebuah pantai di Inggris. Butuh waktu lima jam untuk memotong sperma itu.”

Meskipun jika sekarang link berita ini dikunjungi, berita tersebut sudah direvisi, namun judul awalnya tetap dilihat pada alamat tautan itu sendiri.

Mengerikan memang, betapa sebuah kesalahan penerjemahan dapat mengarahkan audiens pada kekeliruan yang menggelikan. Jika si audiens mengerti kesalahan berita tersebut di atas, maka akan menimbulkan perasaan geli, gemas atau pasrah. Namun jika audiens tidak mengetahui asal muasal berita dan menyerap isinya apa adanya, maka akan menimbulkan… eerr… entahlah, apa yang akan timbul di benak ketika membayangkan sperma 13 meter?

***

Demikianlah, contoh ringan dari kesalahan penerjemahan dan dampaknya. Tapi ternyata, karena secara takdir dan perkembangannya, manusia, budaya, kondisi alam, membagi dunia ke dalam bahasa-bahasa berbeda yang ribuan jumlahnya, kekeliruan penerjemahan menjadi suatu masalah yang akhirnya bahkan mampu mengubah dunia itu sendiri.

Ketika mendapat tugas presentasi pada mata kuliah Sosiolinguistik beberapa waktu yang lalu, saya menampilkan “tanduk musa” sebagai contoh bagaimana bahasa (khususnya kesalahan penerjemahan) dapat mempengaruhi budaya.

Patung dan lukisan seniman abad pertengahan termasuk Michaelangelo selalu menggambarkan Moses (Musa) dengan tanduk di kepalanya. Hal ini terjadi karena kesalahan interpretasi bahasa Ibrani kuno pada Al-kitab yang menerjemahkan istilah yang arti sesungguhnya adalah ‘kulitnya bersinar’ dengan terjemahan ‘tanduk’.

Lalu pada sebuah situs, disebutkan pula beberapa kesalahan penerjemahan yang mengubah sejarah dunia, di antaranya adalah:

1. Mars pernah dihuni ras berintelejensia tinggi yang membangun kanal di planet itu.

Konon di planet tetangga bumi ini ditemukan kanal-kanal buatan makhluk berakal yang kemungkinan adalah alien penduduk asli Mars (Martians). Kanal-kanal tersebut diasumsikan adalah upaya gagal Martians menyelamatkan planet mereka dari ancaman kekeringan masal.

Pemahaman adanya kanal-kanal air buatan makhluk hidup di planet Mars ini mengilhami banyak karya fiksi ilmiah di antaranya The War of the Worlds karangan penulis terkenal H.G. Wells dan novel Edgar Rice Burroughs, berjudul A Princess of Mars yang kesemuanya memuat topik terkait kanal-kanal buatan di Mars.

Padahal, isu adanya kanal buatan alien di Mars ini muncul karena kesalahan penerjemahan oleh Astronomer Percival Lowell yang membaca karya astronomer Italia pada tahun 1877 Giovanni Schiaparelli. Schiaparelli menuliskan bahwa dalam pengamatannya, Mars memiliki “canali” di permukaannya. Kata “canali” ini oleh Lowell diartikan sebagai “kanal”. Kanal dalam definisinya adalah “saluran BUATAN MANUSIA”. Sementara sebenarnya “canali” yang dimaksudkan Schiaparelli makna tepatnya adalah “perbedaan tinggi permukaan tanah” yang disebabkan fenomena alamiah.

2. Kesalahan penerjemahan idiom Rusia yang hampir memicu perang nuklir
Pada tahun 1956, di mana perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat mencapai ketegangan tertingginya, Pimpinan Kabinet (Premier) Uni Soviet – Nikita Sergeyevich Khrushchev berpidato terkait persaingan mereka dengan Amerika serikat. Salah satu bagian dari pidatonya tersebut diartikan oleh media-media Amerika sebagai ancaman, yaitu kata-kata “Kami akan menguburkan kalian!”

Berita ancaman ini menimbulkan kemarahan dan kesiagaan perang di negara Paman Sam. Persiapan perang nuklir dilakukan hingga level paling waspada. Sayangnya, ada satu masalah; Khrushchev sama sekali tidak pernah mengucapkan ancaman tersebut.

Kalimat yang diartikan media Amerika sebagai ancaman perang “Kami akan menguburkan kalian!” itu aslinya adalah idiom atau pepatah asli bahasa Rusia yang makna literalnya memang “kami akan hadir ketika kalian dimakamkan!”. Namun arti idiom tersebut sebenarnya tidak kurang tidak lebih adalah “kami lebih baik dari kalian”, itu saja.

3. Pidato pertama presiden Amerika di negara Komunis
Masih seputar perang dingin, pada tahun 1973, presiden Amerika Serikat saat itu – Jimmy Carter, berpidato di Polandia yang merupakan negara komunis. Mudahnya, untuk menggambarkan pentingnya pidato tersebut, bayangkan saja Presiden Barrack Obama hari ini berpidato di negara yang dikuasai Taliban.

Celakanya, pidato Carter di Polandia ini akhirnya menjadi bahan tertawaan rakyat Polandia bahkan hingga saat ini. Penyebabnya adalah kalimat Carter “saya mencoba memahani opini rakyat Polandia dan mencoba mengerti keinginan kalian di masa depan” diterjemahan oleh penerjemah lokal menjadi “saya ingin dan perlu berhubungan seks dengan rakyat Polandia”

4. Bom Atom
Siapa tidak tahu peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945? Tahu semua? Tapi tahukah kalau tragedi perang paling mengerikan sepanjang sejarah tersebut terjadi karena kesalahan penerjemahan?

Pada Juli 1945, Amerika Serikat menerbitkan Postdam Declaration yang isinya menuntut Jepang menyerah tanpa syarat atau diserang dengan kekuatan yang menghancurkan secara total.

Jepang yang saat itu sebenarnya sudah terdesak, mengeluarkan pernyataan balasan berisikan kalimat “untuk sementara tidak ada komentar, kami akan memikirkan tawaran tersebut”.

Celakanya, pernyataan “no comment” perdana mentri jepang saat itu – Kantaro Suzuki yang diucapkan dalam bahasa Jepang “mokusatsu” diartikan menjadi “Kami tidak akan memperdulikan ultimatum sampah itu”.

Hasilnya?

Presiden Harry Truman marah, dan 10 hari setelah pernyataan perdana mentri Jepang itu dikeluarkan, Hiroshima rata dengan tanah, disusul Nagasaki 3 hari kemudian.

5. Penerjemahan di dunia kesehatan

Konon banyak sekali kekeliruan fatal penerjemahan di bidang ini, namun saya tidak sempat melakukan penelusuran secara lengkap. Satu contoh mungkin mewakili, ketika seorang pasien Spanyol meminum obat tekanan darah 11 kali sehari karena kata “once” dalam bahasa spanyol berarti “sebelas”.

6. Lidah berpeta rasa
Di SMA, kita diajari bahwa lidah kita memiliki kemampuan merasa yang berbeda pada tiap bagiannya. Ujung lidah untuk merasakan rasa manis, sisi depan untuk rasa asin, sisi belakang untuk asa, dan pangkal lidah untuk rasa pahit.

Informasi tersebut di atas adalah salah, karena faktanya, telan saja gula, maka di bagian manapun lidah, tetap saja terasa manis, atau telan saja garam, semua bagian lidah akan merasa asin, atau putus cinta saja, maka menelan ludah pun akan terasa pahit sampai ke hati *eh*.

Kesalahan ini terjadi karena lagi-lagi kesalahan penerjemahan hasil riset seorang Jerman – D.P. Hanig pada tahun 1901 (!).

***

Sebenarnya, ada banyak lagi kesalahan penerjemahan yang dapat dijadikan contoh. Misalnya pemaknaan istilah bahasa Arab “Jihad”, dari makna “pergulatan jiwa” menjadi “perang melawan kafir“. Atau pernyataan terkenal presiden Iran – Mahmoud Ahmadinejad yang akan “menghapuskan Israel dari peta” ternyata hanyalah kesalahan penerjemahan pers yang arti sebenarnya adalah “rejim yang menduduki Jerusalem saat ini harus dihilangkan di masa depan“.

Namun pembahasan masalah ini akan membawa topik yang lebih sensitif dan cenderung bias, hingga tujuan awal tulisan justru tidak tercapai.

Akhirul qalam, apapun bahasa yang kita pakai, teruslah menjadi bagian besar dari kesatuan umat manusia, karena sesungguhnya bahasa hati kita akan selalu sama…

***

Tautan terkait:

Sejarah Bahasa Inggris Sebagai Bahasa Asing di Indonesia

9 Juni 2011 pukul 23.25 | Ditulis dalam Uncategorized | 14 Komentar

Bahasa Inggris di Indonesia secara umum diajarkan sebagai bahasa asing. Istilah ‘bahasa asing’ dalam bidang pengajaran bahasa berbeda dengan ‘bahasa kedua’. Bahasa asing adalah bahasa yang yang tidak digunakan sebagai alat komunikasi di negara tertentu di mana bahasa tersebut diajarkan. Sementara bahasa kedua adalah bahasa yang bukan bahasa utama namun menjadi salah satu bahasa yang digunakan secara umum di suatu negara.

Sebagai contoh, bahasa Inggris di Singapura adalah bahasa kedua. Media massa, komunikasi, dan pembicaraan di negara tersebut kerap menggunakan bahasa Inggris.

Sementara Bahasa asing biasanya diajarkan sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dengan tujuan berkomunikasi dasar serta menguasai 4 skill berbahasa (menyimak, membaca, menulis, berbicara) dalam bahasa tersebut dalam batasan tertentu.

Di Indonesia, kebijakan pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing berubah seiring waktu dan pergantian kebijakan yang kebanyakan dipengaruhi ekonomi dan politik.

Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari sejarah Bahasa Inggris di Indonesia…

Jaman Belanda

Pada masa peperangan dengan Belanda, Bahasa Inggris diajarkan di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yang setara dengan SMP dan AMS (Algemeene Middlebare School) yang setara dengan SMA.

Pada masa ini, selain anak-anak Belanda, hanya orang-orang pribumi tertentu yang mampu dan diijinkan bersekolah di MULO dan AMS. Sebagian besar anak pribumi biasa hanya sekolah hingga tingkat yang setara SD saat sekarang.

Kondisi ini turut mempengaruhi pengajaran Bahasa Inggris.

Dan jangan salah, kondisi sekolah pada jaman Belanda ini konon sangat bagus. Guru-guru mendapat gaji besar, material pengajaran mencukupi, dan sistem pengajaran dan ujian sangat berkualitas. Wajar, karena sebagian besar yang sekolah hanyalah orang-orang berduit, terpandang, atau anak orang Belanda.

Lulusan MULO biasanya mampu berbahasa Inggris dengan sangat baik. Selain itu, mereka juga wajib menguasai bahasa Belanda serta memilih pelajaran bahasa pilihan Prancis atau German, serta bahasa lokal (Jawa/Melayu).

Namun membandingkan kondisi pengajaran di sekolah pada jaman Belanda dan sekarang tidaklah adil, karena saat itu, sekolah bersifat elit dan kemewahan adalah bagian dari elitisitas tersebut.

Jaman Jepang

Pada masa peperangan dengan Jepang, kondisi sebaliknya terjadi. Bahasa Belanda, Inggris, dan bahasa Eropa lainnya dilarang total digunakan di Indonesia. Semua buku yang berbahasa tersebut dimusnahkan dan dibakar. Sedihnya, keputusan pembakaran buku ini berdampak hingga saat ini, di mana sangat sedikit referensi sejarah yang bangsa Indonesia miliki tentang negerinya sendiri.

Sisi lainnya, Jepang merubah secara radikal sistem pendidikan, dari elitis menjadi egalitarian. Semua orang harus sekolah.

Selain itu, bahasa Jepang diajarkan secara intensif dan bahkan ditargetkan menjadi ‘bahasa kedua’ di Indonesia. Ditambah, pada masa Jepang ini lah banyak buku-buku asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Jaman Kemerdekaan

Bahasa Inggris secara resmi diajarkan sebagai bahasa asing di sekolah-sekolah Indonesia seiring dengan keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1967.

Sejak saat itu, perubahan menteri, kurikulum, keadaan politik, ekonomi dan perkembangan ilmu pendidikan, terus mewarnai perkembangan pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia.

Mulai dari sistem pengajaran di mana siswa diwajibkan menghapal sekian ratus kata dan artinya dalam waktu tertentu, menguasai grammar, lalu berubah ke orientasi bahasa Inggris untuk komunikasi, sampai ke isu pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak saat ini.

Yang perlu menjadi catatan adalah dana trilyunan rupiah yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan beragam pelatihan, seminar, peningkatan kualitas guru, perubahan kurikulum, pengadaan fasilitas bahasa semacam laboratorium hingga kamus dan semacamnya. Sebagian dari usaha ini membawa hasil positif, sebagian lainnya tidak jelas.

Mulai dari pendirian model pelatihan ekperimental yang disebut Standard Training Course (STC) di Bukit Tinggi dan Yogyakarta pada tahun 1950an (catatan penting: didanai oleh Ford FOundation), lalu pendirian Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Malang yang lalu berubah menjadi IKIP malang (sekarang Uiversitas Negeri Malang), hingga kontroversi Sekolah Berstandar Internasional saat ini.

Masalahnya adalah, konon sebagian besar dana yang digunakan untuk proyek-proyek pendidikan ini berasal dari pinjaman luar negeri, dan tentu saja, harus dikembalikan.

Beberapa catatan

Pada tahun 1960-an, ada dua kementrian yang mengurusi masalah pendidikan di Indonesia, yaitu Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan serta Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan. Celakanya, konon kedua pejabat tersebut saling berbeda pandangan, yang satu cederung kiri yang lain cenderung nasionalis. Dan hal ini turut mempengaruhi perkembangan pendidikan di Indonesia.

Kondisi politik 1960-an di mana faham komunis berjaya, membuat sebagian besar tenaga pengajar asing (khususnya dari negara barat) meninggalkan Indonesia, dan menciptakan kesenjangan proses perkembangan pendidikan.

Kontroversi pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Sebagian pihak berpendapat mengajarkan bahasa Inggris pada siswa SD akan sangat bagus bagi perkembangan anak ke depannya. Namun di sisi lain, perbedaan kondisi sosial, ekonomi dan geo-politik daerah-daerah di Indonesia, menciptakan perbedaan kualitas sekolah dan latar belakang siswa, sehingga ada siswa-siswa yang jangankan berbahasa Inggris, bahasa Indonesia dasar saja mereka belum menguasai secara baik.

Bahasa Inggris adalah bisnis yang besar. Jutaan dolar mengalir ke negara produsen material pengajaran Bahasa Inggris (USA, UK, Australia) dalam bentuk pembelian materi audio-visual, buku, sumber daya manusia dan lain-lain.

Bantuan-bantuan dari negara tersebut di atas dalam bentuk proyek pelatihan bahasa Inggris, beasiswa dan sebagainya bukanlah ketulusan. Semakin banyak penguasa bahasa Inggris di negara ini, semakin mudah penyebaran faham dan ideologi mereka. Ditambah, hubungan ekonomi, politik, bisnis, akan lebih gampang jika dilakukan dalam bahasa yang sama.

Masalah utamanya, adalah; Siswa mempelajari bahasa Inggris di Indonesia tanpa tujuan yang jelas. Untuk berkomunikasi? Untuk ke luar negeri? untuk nilai?

Pendapat pribadi

Saya pribadi berpendapat, selain menggiatkan pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, kita juga harus memperbanyak penerjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Indonesia. Kemajuan yang di dapat dari memperbanyak buku terjemahan menurut saya pribadi akan jauh lebih besar dibandingkan dengan pengajaran bahasa Inggris kepada orang Indonesia.

Memperkuat kecintaan terhadap bahasa Indonesia juga perlu dilakukan. Jika para orang asing itu ingin berbisnis di sini, mencari keuntungan di sini, ya usaha dong, belajar bahasa sini. Masa iya kita yang harus bersusah payah belajar bahasa mereka?

Tapi tentu saja, belajar bahasa asing itu tidak akan pernah salah, hanya saja, pertanyakan dulu, untuk apa kita mempelajarinya…

***

Berita

22 Mei 2011 pukul 09.31 | Ditulis dalam Uncategorized | 6 Komentar

Sempat menjadi wartawan selama bertahun-tahun, membuat saya sedikit banyak mengerti kenyataan yang ada di balik suatu berita. Mulai dari keyakinan pribadi, bahwa pada dasarnya, berita yang netral itu tidak ada. Sampai profesionalitas wartawan kita yang…sebut saja buah simalakama (saya kenal wartawan harian yang merupakan group dari kelompk media raksasa di Indonesia, dan dia digaji 300.000/perbulan).

Tapi kali ini saya hanya ingin memberikan gambaran betapa suatu berita yang kita baca itu bisa datang dari sumber yang sama, namun dipresentasikan dengan cara yang berbeda, sehingga menghasilkan efek yang bervariasi pula.

Ide tulisan datang ketika pagi tadi, seorang teman mengutuk Mahfud MD karena menyebutkan uang yang konon diterima (Mahkamah Konstitusi) MK dari bendahara partai pemenang Pemilu 2009 sebagai ‘gratifikasi’.

Tanpa bermaksud membela siapapun, saya tanyakan berita dari media mana yang ia baca sampai menyulut emosi sedemikian hingga. Dan ternyata benar saja, media online yang ia baca adalah media yang berafiliasi dengan salah satu TV swasta, yang pemiliknya juga salah satu tokoh utama dunia politik Indonesia.

Judul beritanya “Mahfud: tindakan Nazarudin HANYA pelanggaran etika” (catatan: cetak tebal dari saya)

Diksi ‘hanya’ di situ akan sangat mempengaruhi impresi pertama dari si penerima berita. Dan fungsi judul pada sebuah berita memang itu; mengarahkan pendengar/pembaca pada opini yang diharapkan penulis.

Berita yang sama, sumber yang sama, kutipan yang sama di media-media yang berbeda antara lain mencantumkan judul:

  • “Pemberian uang Nazaruddin itu bukan suap, tapi gratifikasi”
  • “Mahfud: Uang dari Nazaruddin ke MK Tergolong Gratifikasi”
  • “Mahfud: Pemberian Nazaruddin bukan Suap”

Pada contoh terakhir, judul tersebut justru akan mengarahkan opini ke tingkatan yang lebih ekstrim, semacam ‘apa?? bukan suap??’ yang memang menjadi tujuan dari si penulis judul.

Tapi berbicara berita politik memang sulit. Banyak kepentingan saling tarik menarik, bantah-membantah, pro dan kontra serta beragam hal yang mempengaruhi segala segi dari berita tersebut. Sebut saja kecenderungan politik wartawan/media, latar belakang berita ditulis, kondisi psikologis bangsa/target pembaca ketika berita ditulis, ekonomi, dan lainnya.

Mari kita lihat pada contoh lain yang tidak serumit politik. Olahraga misalnya.

Tidak, tidak, bukan PSSI, kan sudah saya tulis itu di atas, contoh lain yang tidak serumit politik.

Kali ini saya ingin mengambil contoh berita terkait pelatih tim sepakbola Manchester United – Sir Alex Ferguson.

Beberapa waktu yang lalu, Ferguson mendapat ancaman hukuman dari Federasi Sepakbola Inggris – FA karena dituduh mengeluarkan statement tentang wasit yang akan memimpin pertandingan MU, statement-nya dicurigai dapat mempengaruhi kenetralan wasit saat memimpin pertandingan tersebut.

Sebelumnya, Ferguson juga telah beberapa kali mendapat hukuman dari FA karena komentar-komentarnya yang dianggap menghina wasit.

Yang menjadi fokus kita adalah berita-berita ketika FA mengeluarkan keputusan terkait tuduhan terbaru terhadap Ferguson di atas.

Keputusannya adalah: Ferguson tidak dihukum namun mendapat peringatan agar berhati-hati dalam mengeluarkan statement sebelum pertandingan.

Dan…

Inilah judul-judul berita media lokal kita:

  1. “Ferguson hanya mendapat peringatan dari FA”
  2. “Ferguson mendapat peringatan Keras dari FA”
  3. “Ferguson mendapat teguran Keras dari FA”
  4. “Bebas Sanksi FA, Fergie Cuma Dapat Peringatan”
  5. “Fergie bebas dari sanksi FA “
  6. “Sir Alex Ferguson Lolos dari Hukuman FA”

Pemilihan kata-kata ‘hanya’, ‘bebas’, ‘cuma’, dan ‘sir’ pada judul-judul di atas membawa efek yang berbeda pada opini yang akan muncul dari penerima berita, padahal, inti beritanya sama.

Karena itu lah, di tengah meriahnya kemunculan media-media baik tradisional konvensional semacam koran maupun media baru semacam situs berita hingga jejaring sosial, adalah sangat penting menjadi penikmat berita yang cerdas, yang menghindarkan diri penggiringan opini tanpa harus kehilangan informasi.

Diksi

20 Mei 2011 pukul 11.03 | Ditulis dalam Uncategorized | 11 Komentar

Mari berbicara diksi.

Terkadang, kita bertanya-tanya, kenapa ada orang yang begitu hebat dalam berpidato dan orasi hingga membuat pendengarnya tergugah bahkan hingga mampu membuat mereka bertindak sesuai kehendak si pembicara, sebut saja orang-orang semacam Soekarno, Obama, Martin Luther King, Jr, atau pada bidang yang berbeda seperti Zainuddin MZ dengan ceramah agama beliau serta Ariel Peterpan dengan lirik lagunya.

Beberapa tahun lalu, kita juga menemukan tulisan-tulisan pada suatu blog yang memancing ratusan komentar, ribuan pengunjung dan mampu merubah cara berpikir kita.

Pada tataran yang lebih terkini, kita sering menemukan akun-akun twitter yang tweet-nya begitu banyak di-reply atau di retweet, serta status-status facebook yang sebenarnya mengungkapkan suatu hal yang biasa namun terasa menarik untuk dibaca.

Atau pada contoh yang lebih personal, kenapa ada pria dan wanita yang begitu mudah membuat lawan jenisnya tertarik hanya melalui kata-kata?

Kenapa?

Tema yang dibicarakan kah?
Mungkin, namun lihat saja, banyak orang yang membicarakan tema yang sama, menuliskan topik yang senada namun tidak mendapat respon yang semegah mereka harapkan.

Faktor siapa yang berbicara kah?
Tidak juga. Lihat saja blog-blog yang dulu sempat menciptakan mahzab sendiri itu. Terkadang si penulis bahkan tersembunyi dalam anonimitas.

Lalu apa?

Semua karena diksi.

Apa itu diksi?

Definisi sederhananya, diksi(diction) adalah pemilihan kata dan metode penggunaannya dalam tulisan atau pembicaraan, serta kemampuan menyampai maksud/ide/keinginan dalam bentuk kata-kata sejelas-jelasnya.

Mari kita baca kutipan berikut:
“Diction will be effective only when the words you choose are appropriate for the audience and purpose, when they convey your message accurately and comfortably. The idea of comfort may seem out of place in connection with diction, but, in fact, words can sometimes cause the reader to feel uncomfortable. You’ve probably experienced such feelings yourself as a listener–hearing a speaker whose words for one reason or another strike you as inappropriate.”
(Martha Kolln, Rhetorical Grammar. Allyn and Bacon, 1999)

Diksi sangat penting dalam komunikasi karena pada dasarnya, setiap orang memiliki tingkatan yang berbeda dalam berbahasa.

Mencoba menunjukkan ketidak setujuan kita pada dosen dengan berucap “penjelasan bapak kaya sampah” jauh lebih mengesankan kita sebagai orang tidak terdidik bagi si dosen, sementara pesan tentang pendapat kita yang berbeda justru akan tersamarkan.

Memilih kata yang tepat yang dapat mewakili pesan yang ingin kita sampaikan, yang tepat bagi audiens, dan yang dapat membawa tujuan dari komunikasi yang kita lakukan, itu lah diksi.

Dan diksi itu, semacam skill. Kemampuan. Bakat, namun juga dapat dikembangkan melalui latihan.

Dari buku Gorys Keraf (DIKSI DAN GAYA BAHASA (2002), hal. 24) dituliskan beberapa point – point penting tentang diksi, yaitu :

  • Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
  • Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa – nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
  • Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasa sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud pembendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki suatu bahasa.

Jadi semakin banyak vocabulary kita, serta semakin dalam pemahaman kita terhadap nuansa makna (efek mental) dari suatu kata, maka semakin bagus diksi kita.

Cara melatihnya tentu saja, banyak membaca, mendengar, memperhatikan reaksi orang-orang ketika membaca/mendengar kata-kata tertentu, banyak membuka kamus.

Lagipula, memangnya dictionary itu asal katanya dari mana? 😛

Contoh lain diksi adalah ketika seseorang dirujuk dengan panggilan yang berbeda oleh orang yang sama, namun pada situasi dan audiens yang berbeda.

Saya bisa memanggil seorang Rahmad Hidayat dengan beberapa pilihan, misalnya:

1. Pak Rahmad, ketika saya dan dia menjadi pembicara dalam sebuah diskusi bahasa di depan dosen
2. Rahmad, ketika diskusi bersama teman-teman kuliah tanpa dosen
3. Amet, ketika kami ada di rumah orang tuanya
4. Ndul, ketika kami bersama teman-teman dekat

Selain itu, eufumisme alias faktor keindahan bahasa juga penting dalam diksi. Hal ini terlihat jelas dalam lirik lagu, prosa pendek, puisi, atau gombalan.

Rima/akhiran, serta ritme/keselarasan yang serupa dalam tiap bait lagu akan sangat menentukan kenyamanan saat mendengar lagu tersebut.

Pun sama ketika menggombal, “aku cinta kamu, dalam benar maupun keliru” misalnya.

Sebagai tambahan, saya pribadi berpendapat, khusus untuk bahasa tulisan, diksi juga mencakup pemilihan tanda baca, kapitalisasi, serta bentuk-bentuk visual lain juga akan sangat membedakan makna. Misalnya memilih antara memakai HURUF KAPITAL atau italic atau cetak tebal untuk menekankan sesuatu. Atau menggunakan satu tanda seru (!) atau banyak tanda seru (!!!!!!) atau tanda tanya cuma satu (?) atau banyak (???) atau campuran (!?!?!)

Karena itu, untuk menjadi penulis yang baik, pengarang lagu yang hebat, blogger yang menarik, akun twitter yang disukai, status facebook yang mendapat banyak komentar, atau penggombal yang sukses, kuasailah diksi.

***

Bacaan tambahan:

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Register_(linguistics)
  2. http://grammar.about.com/od/d/g/disctionterm.htm
  3. http://dictionary.reference.com/browse/diction
  4. http://www.blog-raflyandreas.co.cc/2010/10/diksi-pilihan-kata.html
  5. http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/batasan-kosa-kata-dan-diksi-2/
« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.