Kesalahan Penerjemahan yang Mengubah Dunia

13 Juli 2011 pukul 16.01 | Ditulis dalam Uncategorized | 14 Komentar

Pada suatu ketika, seorang kawan mengirimkan tautan dari sebuah situs berita online nasional yang membuat saya terkonclang tertawa bergulingan di teras rumah bu RT. Tautan itu merujuk pada satu berita yang sepertinya diambil dari media berbahasa Inggris dan diterjemahkan. Judul beritanya: Sperma Raksasa Ikan Paus Dipindahkan dari Pantai.

Isi beritanya antara lain memuat kalimat “Sebuah sperma ikan paus yang panjangnya mencapai 13 meter dipindahkan dari sebuah pantai di Inggris. Butuh waktu lima jam untuk memotong sperma itu.”

Meskipun jika sekarang link berita ini dikunjungi, berita tersebut sudah direvisi, namun judul awalnya tetap dilihat pada alamat tautan itu sendiri.

Mengerikan memang, betapa sebuah kesalahan penerjemahan dapat mengarahkan audiens pada kekeliruan yang menggelikan. Jika si audiens mengerti kesalahan berita tersebut di atas, maka akan menimbulkan perasaan geli, gemas atau pasrah. Namun jika audiens tidak mengetahui asal muasal berita dan menyerap isinya apa adanya, maka akan menimbulkan… eerr… entahlah, apa yang akan timbul di benak ketika membayangkan sperma 13 meter?

***

Demikianlah, contoh ringan dari kesalahan penerjemahan dan dampaknya. Tapi ternyata, karena secara takdir dan perkembangannya, manusia, budaya, kondisi alam, membagi dunia ke dalam bahasa-bahasa berbeda yang ribuan jumlahnya, kekeliruan penerjemahan menjadi suatu masalah yang akhirnya bahkan mampu mengubah dunia itu sendiri.

Ketika mendapat tugas presentasi pada mata kuliah Sosiolinguistik beberapa waktu yang lalu, saya menampilkan “tanduk musa” sebagai contoh bagaimana bahasa (khususnya kesalahan penerjemahan) dapat mempengaruhi budaya.

Patung dan lukisan seniman abad pertengahan termasuk Michaelangelo selalu menggambarkan Moses (Musa) dengan tanduk di kepalanya. Hal ini terjadi karena kesalahan interpretasi bahasa Ibrani kuno pada Al-kitab yang menerjemahkan istilah yang arti sesungguhnya adalah ‘kulitnya bersinar’ dengan terjemahan ‘tanduk’.

Lalu pada sebuah situs, disebutkan pula beberapa kesalahan penerjemahan yang mengubah sejarah dunia, di antaranya adalah:

1. Mars pernah dihuni ras berintelejensia tinggi yang membangun kanal di planet itu.

Konon di planet tetangga bumi ini ditemukan kanal-kanal buatan makhluk berakal yang kemungkinan adalah alien penduduk asli Mars (Martians). Kanal-kanal tersebut diasumsikan adalah upaya gagal Martians menyelamatkan planet mereka dari ancaman kekeringan masal.

Pemahaman adanya kanal-kanal air buatan makhluk hidup di planet Mars ini mengilhami banyak karya fiksi ilmiah di antaranya The War of the Worlds karangan penulis terkenal H.G. Wells dan novel Edgar Rice Burroughs, berjudul A Princess of Mars yang kesemuanya memuat topik terkait kanal-kanal buatan di Mars.

Padahal, isu adanya kanal buatan alien di Mars ini muncul karena kesalahan penerjemahan oleh Astronomer Percival Lowell yang membaca karya astronomer Italia pada tahun 1877 Giovanni Schiaparelli. Schiaparelli menuliskan bahwa dalam pengamatannya, Mars memiliki “canali” di permukaannya. Kata “canali” ini oleh Lowell diartikan sebagai “kanal”. Kanal dalam definisinya adalah “saluran BUATAN MANUSIA”. Sementara sebenarnya “canali” yang dimaksudkan Schiaparelli makna tepatnya adalah “perbedaan tinggi permukaan tanah” yang disebabkan fenomena alamiah.

2. Kesalahan penerjemahan idiom Rusia yang hampir memicu perang nuklir
Pada tahun 1956, di mana perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat mencapai ketegangan tertingginya, Pimpinan Kabinet (Premier) Uni Soviet – Nikita Sergeyevich Khrushchev berpidato terkait persaingan mereka dengan Amerika serikat. Salah satu bagian dari pidatonya tersebut diartikan oleh media-media Amerika sebagai ancaman, yaitu kata-kata “Kami akan menguburkan kalian!”

Berita ancaman ini menimbulkan kemarahan dan kesiagaan perang di negara Paman Sam. Persiapan perang nuklir dilakukan hingga level paling waspada. Sayangnya, ada satu masalah; Khrushchev sama sekali tidak pernah mengucapkan ancaman tersebut.

Kalimat yang diartikan media Amerika sebagai ancaman perang “Kami akan menguburkan kalian!” itu aslinya adalah idiom atau pepatah asli bahasa Rusia yang makna literalnya memang “kami akan hadir ketika kalian dimakamkan!”. Namun arti idiom tersebut sebenarnya tidak kurang tidak lebih adalah “kami lebih baik dari kalian”, itu saja.

3. Pidato pertama presiden Amerika di negara Komunis
Masih seputar perang dingin, pada tahun 1973, presiden Amerika Serikat saat itu – Jimmy Carter, berpidato di Polandia yang merupakan negara komunis. Mudahnya, untuk menggambarkan pentingnya pidato tersebut, bayangkan saja Presiden Barrack Obama hari ini berpidato di negara yang dikuasai Taliban.

Celakanya, pidato Carter di Polandia ini akhirnya menjadi bahan tertawaan rakyat Polandia bahkan hingga saat ini. Penyebabnya adalah kalimat Carter “saya mencoba memahani opini rakyat Polandia dan mencoba mengerti keinginan kalian di masa depan” diterjemahan oleh penerjemah lokal menjadi “saya ingin dan perlu berhubungan seks dengan rakyat Polandia”

4. Bom Atom
Siapa tidak tahu peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945? Tahu semua? Tapi tahukah kalau tragedi perang paling mengerikan sepanjang sejarah tersebut terjadi karena kesalahan penerjemahan?

Pada Juli 1945, Amerika Serikat menerbitkan Postdam Declaration yang isinya menuntut Jepang menyerah tanpa syarat atau diserang dengan kekuatan yang menghancurkan secara total.

Jepang yang saat itu sebenarnya sudah terdesak, mengeluarkan pernyataan balasan berisikan kalimat “untuk sementara tidak ada komentar, kami akan memikirkan tawaran tersebut”.

Celakanya, pernyataan “no comment” perdana mentri jepang saat itu – Kantaro Suzuki yang diucapkan dalam bahasa Jepang “mokusatsu” diartikan menjadi “Kami tidak akan memperdulikan ultimatum sampah itu”.

Hasilnya?

Presiden Harry Truman marah, dan 10 hari setelah pernyataan perdana mentri Jepang itu dikeluarkan, Hiroshima rata dengan tanah, disusul Nagasaki 3 hari kemudian.

5. Penerjemahan di dunia kesehatan

Konon banyak sekali kekeliruan fatal penerjemahan di bidang ini, namun saya tidak sempat melakukan penelusuran secara lengkap. Satu contoh mungkin mewakili, ketika seorang pasien Spanyol meminum obat tekanan darah 11 kali sehari karena kata “once” dalam bahasa spanyol berarti “sebelas”.

6. Lidah berpeta rasa
Di SMA, kita diajari bahwa lidah kita memiliki kemampuan merasa yang berbeda pada tiap bagiannya. Ujung lidah untuk merasakan rasa manis, sisi depan untuk rasa asin, sisi belakang untuk asa, dan pangkal lidah untuk rasa pahit.

Informasi tersebut di atas adalah salah, karena faktanya, telan saja gula, maka di bagian manapun lidah, tetap saja terasa manis, atau telan saja garam, semua bagian lidah akan merasa asin, atau putus cinta saja, maka menelan ludah pun akan terasa pahit sampai ke hati *eh*.

Kesalahan ini terjadi karena lagi-lagi kesalahan penerjemahan hasil riset seorang Jerman – D.P. Hanig pada tahun 1901 (!).

***

Sebenarnya, ada banyak lagi kesalahan penerjemahan yang dapat dijadikan contoh. Misalnya pemaknaan istilah bahasa Arab “Jihad”, dari makna “pergulatan jiwa” menjadi “perang melawan kafir“. Atau pernyataan terkenal presiden Iran – Mahmoud Ahmadinejad yang akan “menghapuskan Israel dari peta” ternyata hanyalah kesalahan penerjemahan pers yang arti sebenarnya adalah “rejim yang menduduki Jerusalem saat ini harus dihilangkan di masa depan“.

Namun pembahasan masalah ini akan membawa topik yang lebih sensitif dan cenderung bias, hingga tujuan awal tulisan justru tidak tercapai.

Akhirul qalam, apapun bahasa yang kita pakai, teruslah menjadi bagian besar dari kesatuan umat manusia, karena sesungguhnya bahasa hati kita akan selalu sama…

***

Tautan terkait:

Sejarah Bahasa Inggris Sebagai Bahasa Asing di Indonesia

9 Juni 2011 pukul 23.25 | Ditulis dalam Uncategorized | 14 Komentar

Bahasa Inggris di Indonesia secara umum diajarkan sebagai bahasa asing. Istilah ‘bahasa asing’ dalam bidang pengajaran bahasa berbeda dengan ‘bahasa kedua’. Bahasa asing adalah bahasa yang yang tidak digunakan sebagai alat komunikasi di negara tertentu di mana bahasa tersebut diajarkan. Sementara bahasa kedua adalah bahasa yang bukan bahasa utama namun menjadi salah satu bahasa yang digunakan secara umum di suatu negara.

Sebagai contoh, bahasa Inggris di Singapura adalah bahasa kedua. Media massa, komunikasi, dan pembicaraan di negara tersebut kerap menggunakan bahasa Inggris.

Sementara Bahasa asing biasanya diajarkan sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dengan tujuan berkomunikasi dasar serta menguasai 4 skill berbahasa (menyimak, membaca, menulis, berbicara) dalam bahasa tersebut dalam batasan tertentu.

Di Indonesia, kebijakan pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing berubah seiring waktu dan pergantian kebijakan yang kebanyakan dipengaruhi ekonomi dan politik.

Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari sejarah Bahasa Inggris di Indonesia…

Jaman Belanda

Pada masa peperangan dengan Belanda, Bahasa Inggris diajarkan di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yang setara dengan SMP dan AMS (Algemeene Middlebare School) yang setara dengan SMA.

Pada masa ini, selain anak-anak Belanda, hanya orang-orang pribumi tertentu yang mampu dan diijinkan bersekolah di MULO dan AMS. Sebagian besar anak pribumi biasa hanya sekolah hingga tingkat yang setara SD saat sekarang.

Kondisi ini turut mempengaruhi pengajaran Bahasa Inggris.

Dan jangan salah, kondisi sekolah pada jaman Belanda ini konon sangat bagus. Guru-guru mendapat gaji besar, material pengajaran mencukupi, dan sistem pengajaran dan ujian sangat berkualitas. Wajar, karena sebagian besar yang sekolah hanyalah orang-orang berduit, terpandang, atau anak orang Belanda.

Lulusan MULO biasanya mampu berbahasa Inggris dengan sangat baik. Selain itu, mereka juga wajib menguasai bahasa Belanda serta memilih pelajaran bahasa pilihan Prancis atau German, serta bahasa lokal (Jawa/Melayu).

Namun membandingkan kondisi pengajaran di sekolah pada jaman Belanda dan sekarang tidaklah adil, karena saat itu, sekolah bersifat elit dan kemewahan adalah bagian dari elitisitas tersebut.

Jaman Jepang

Pada masa peperangan dengan Jepang, kondisi sebaliknya terjadi. Bahasa Belanda, Inggris, dan bahasa Eropa lainnya dilarang total digunakan di Indonesia. Semua buku yang berbahasa tersebut dimusnahkan dan dibakar. Sedihnya, keputusan pembakaran buku ini berdampak hingga saat ini, di mana sangat sedikit referensi sejarah yang bangsa Indonesia miliki tentang negerinya sendiri.

Sisi lainnya, Jepang merubah secara radikal sistem pendidikan, dari elitis menjadi egalitarian. Semua orang harus sekolah.

Selain itu, bahasa Jepang diajarkan secara intensif dan bahkan ditargetkan menjadi ‘bahasa kedua’ di Indonesia. Ditambah, pada masa Jepang ini lah banyak buku-buku asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Jaman Kemerdekaan

Bahasa Inggris secara resmi diajarkan sebagai bahasa asing di sekolah-sekolah Indonesia seiring dengan keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1967.

Sejak saat itu, perubahan menteri, kurikulum, keadaan politik, ekonomi dan perkembangan ilmu pendidikan, terus mewarnai perkembangan pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia.

Mulai dari sistem pengajaran di mana siswa diwajibkan menghapal sekian ratus kata dan artinya dalam waktu tertentu, menguasai grammar, lalu berubah ke orientasi bahasa Inggris untuk komunikasi, sampai ke isu pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak saat ini.

Yang perlu menjadi catatan adalah dana trilyunan rupiah yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan beragam pelatihan, seminar, peningkatan kualitas guru, perubahan kurikulum, pengadaan fasilitas bahasa semacam laboratorium hingga kamus dan semacamnya. Sebagian dari usaha ini membawa hasil positif, sebagian lainnya tidak jelas.

Mulai dari pendirian model pelatihan ekperimental yang disebut Standard Training Course (STC) di Bukit Tinggi dan Yogyakarta pada tahun 1950an (catatan penting: didanai oleh Ford FOundation), lalu pendirian Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Malang yang lalu berubah menjadi IKIP malang (sekarang Uiversitas Negeri Malang), hingga kontroversi Sekolah Berstandar Internasional saat ini.

Masalahnya adalah, konon sebagian besar dana yang digunakan untuk proyek-proyek pendidikan ini berasal dari pinjaman luar negeri, dan tentu saja, harus dikembalikan.

Beberapa catatan

Pada tahun 1960-an, ada dua kementrian yang mengurusi masalah pendidikan di Indonesia, yaitu Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan serta Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan. Celakanya, konon kedua pejabat tersebut saling berbeda pandangan, yang satu cederung kiri yang lain cenderung nasionalis. Dan hal ini turut mempengaruhi perkembangan pendidikan di Indonesia.

Kondisi politik 1960-an di mana faham komunis berjaya, membuat sebagian besar tenaga pengajar asing (khususnya dari negara barat) meninggalkan Indonesia, dan menciptakan kesenjangan proses perkembangan pendidikan.

Kontroversi pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Sebagian pihak berpendapat mengajarkan bahasa Inggris pada siswa SD akan sangat bagus bagi perkembangan anak ke depannya. Namun di sisi lain, perbedaan kondisi sosial, ekonomi dan geo-politik daerah-daerah di Indonesia, menciptakan perbedaan kualitas sekolah dan latar belakang siswa, sehingga ada siswa-siswa yang jangankan berbahasa Inggris, bahasa Indonesia dasar saja mereka belum menguasai secara baik.

Bahasa Inggris adalah bisnis yang besar. Jutaan dolar mengalir ke negara produsen material pengajaran Bahasa Inggris (USA, UK, Australia) dalam bentuk pembelian materi audio-visual, buku, sumber daya manusia dan lain-lain.

Bantuan-bantuan dari negara tersebut di atas dalam bentuk proyek pelatihan bahasa Inggris, beasiswa dan sebagainya bukanlah ketulusan. Semakin banyak penguasa bahasa Inggris di negara ini, semakin mudah penyebaran faham dan ideologi mereka. Ditambah, hubungan ekonomi, politik, bisnis, akan lebih gampang jika dilakukan dalam bahasa yang sama.

Masalah utamanya, adalah; Siswa mempelajari bahasa Inggris di Indonesia tanpa tujuan yang jelas. Untuk berkomunikasi? Untuk ke luar negeri? untuk nilai?

Pendapat pribadi

Saya pribadi berpendapat, selain menggiatkan pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, kita juga harus memperbanyak penerjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Indonesia. Kemajuan yang di dapat dari memperbanyak buku terjemahan menurut saya pribadi akan jauh lebih besar dibandingkan dengan pengajaran bahasa Inggris kepada orang Indonesia.

Memperkuat kecintaan terhadap bahasa Indonesia juga perlu dilakukan. Jika para orang asing itu ingin berbisnis di sini, mencari keuntungan di sini, ya usaha dong, belajar bahasa sini. Masa iya kita yang harus bersusah payah belajar bahasa mereka?

Tapi tentu saja, belajar bahasa asing itu tidak akan pernah salah, hanya saja, pertanyakan dulu, untuk apa kita mempelajarinya…

***

Berita

22 Mei 2011 pukul 09.31 | Ditulis dalam Uncategorized | 6 Komentar

Sempat menjadi wartawan selama bertahun-tahun, membuat saya sedikit banyak mengerti kenyataan yang ada di balik suatu berita. Mulai dari keyakinan pribadi, bahwa pada dasarnya, berita yang netral itu tidak ada. Sampai profesionalitas wartawan kita yang…sebut saja buah simalakama (saya kenal wartawan harian yang merupakan group dari kelompk media raksasa di Indonesia, dan dia digaji 300.000/perbulan).

Tapi kali ini saya hanya ingin memberikan gambaran betapa suatu berita yang kita baca itu bisa datang dari sumber yang sama, namun dipresentasikan dengan cara yang berbeda, sehingga menghasilkan efek yang bervariasi pula.

Ide tulisan datang ketika pagi tadi, seorang teman mengutuk Mahfud MD karena menyebutkan uang yang konon diterima (Mahkamah Konstitusi) MK dari bendahara partai pemenang Pemilu 2009 sebagai ‘gratifikasi’.

Tanpa bermaksud membela siapapun, saya tanyakan berita dari media mana yang ia baca sampai menyulut emosi sedemikian hingga. Dan ternyata benar saja, media online yang ia baca adalah media yang berafiliasi dengan salah satu TV swasta, yang pemiliknya juga salah satu tokoh utama dunia politik Indonesia.

Judul beritanya “Mahfud: tindakan Nazarudin HANYA pelanggaran etika” (catatan: cetak tebal dari saya)

Diksi ‘hanya’ di situ akan sangat mempengaruhi impresi pertama dari si penerima berita. Dan fungsi judul pada sebuah berita memang itu; mengarahkan pendengar/pembaca pada opini yang diharapkan penulis.

Berita yang sama, sumber yang sama, kutipan yang sama di media-media yang berbeda antara lain mencantumkan judul:

  • “Pemberian uang Nazaruddin itu bukan suap, tapi gratifikasi”
  • “Mahfud: Uang dari Nazaruddin ke MK Tergolong Gratifikasi”
  • “Mahfud: Pemberian Nazaruddin bukan Suap”

Pada contoh terakhir, judul tersebut justru akan mengarahkan opini ke tingkatan yang lebih ekstrim, semacam ‘apa?? bukan suap??’ yang memang menjadi tujuan dari si penulis judul.

Tapi berbicara berita politik memang sulit. Banyak kepentingan saling tarik menarik, bantah-membantah, pro dan kontra serta beragam hal yang mempengaruhi segala segi dari berita tersebut. Sebut saja kecenderungan politik wartawan/media, latar belakang berita ditulis, kondisi psikologis bangsa/target pembaca ketika berita ditulis, ekonomi, dan lainnya.

Mari kita lihat pada contoh lain yang tidak serumit politik. Olahraga misalnya.

Tidak, tidak, bukan PSSI, kan sudah saya tulis itu di atas, contoh lain yang tidak serumit politik.

Kali ini saya ingin mengambil contoh berita terkait pelatih tim sepakbola Manchester United – Sir Alex Ferguson.

Beberapa waktu yang lalu, Ferguson mendapat ancaman hukuman dari Federasi Sepakbola Inggris – FA karena dituduh mengeluarkan statement tentang wasit yang akan memimpin pertandingan MU, statement-nya dicurigai dapat mempengaruhi kenetralan wasit saat memimpin pertandingan tersebut.

Sebelumnya, Ferguson juga telah beberapa kali mendapat hukuman dari FA karena komentar-komentarnya yang dianggap menghina wasit.

Yang menjadi fokus kita adalah berita-berita ketika FA mengeluarkan keputusan terkait tuduhan terbaru terhadap Ferguson di atas.

Keputusannya adalah: Ferguson tidak dihukum namun mendapat peringatan agar berhati-hati dalam mengeluarkan statement sebelum pertandingan.

Dan…

Inilah judul-judul berita media lokal kita:

  1. “Ferguson hanya mendapat peringatan dari FA”
  2. “Ferguson mendapat peringatan Keras dari FA”
  3. “Ferguson mendapat teguran Keras dari FA”
  4. “Bebas Sanksi FA, Fergie Cuma Dapat Peringatan”
  5. “Fergie bebas dari sanksi FA “
  6. “Sir Alex Ferguson Lolos dari Hukuman FA”

Pemilihan kata-kata ‘hanya’, ‘bebas’, ‘cuma’, dan ‘sir’ pada judul-judul di atas membawa efek yang berbeda pada opini yang akan muncul dari penerima berita, padahal, inti beritanya sama.

Karena itu lah, di tengah meriahnya kemunculan media-media baik tradisional konvensional semacam koran maupun media baru semacam situs berita hingga jejaring sosial, adalah sangat penting menjadi penikmat berita yang cerdas, yang menghindarkan diri penggiringan opini tanpa harus kehilangan informasi.

Diksi

20 Mei 2011 pukul 11.03 | Ditulis dalam Uncategorized | 11 Komentar

Mari berbicara diksi.

Terkadang, kita bertanya-tanya, kenapa ada orang yang begitu hebat dalam berpidato dan orasi hingga membuat pendengarnya tergugah bahkan hingga mampu membuat mereka bertindak sesuai kehendak si pembicara, sebut saja orang-orang semacam Soekarno, Obama, Martin Luther King, Jr, atau pada bidang yang berbeda seperti Zainuddin MZ dengan ceramah agama beliau serta Ariel Peterpan dengan lirik lagunya.

Beberapa tahun lalu, kita juga menemukan tulisan-tulisan pada suatu blog yang memancing ratusan komentar, ribuan pengunjung dan mampu merubah cara berpikir kita.

Pada tataran yang lebih terkini, kita sering menemukan akun-akun twitter yang tweet-nya begitu banyak di-reply atau di retweet, serta status-status facebook yang sebenarnya mengungkapkan suatu hal yang biasa namun terasa menarik untuk dibaca.

Atau pada contoh yang lebih personal, kenapa ada pria dan wanita yang begitu mudah membuat lawan jenisnya tertarik hanya melalui kata-kata?

Kenapa?

Tema yang dibicarakan kah?
Mungkin, namun lihat saja, banyak orang yang membicarakan tema yang sama, menuliskan topik yang senada namun tidak mendapat respon yang semegah mereka harapkan.

Faktor siapa yang berbicara kah?
Tidak juga. Lihat saja blog-blog yang dulu sempat menciptakan mahzab sendiri itu. Terkadang si penulis bahkan tersembunyi dalam anonimitas.

Lalu apa?

Semua karena diksi.

Apa itu diksi?

Definisi sederhananya, diksi(diction) adalah pemilihan kata dan metode penggunaannya dalam tulisan atau pembicaraan, serta kemampuan menyampai maksud/ide/keinginan dalam bentuk kata-kata sejelas-jelasnya.

Mari kita baca kutipan berikut:
“Diction will be effective only when the words you choose are appropriate for the audience and purpose, when they convey your message accurately and comfortably. The idea of comfort may seem out of place in connection with diction, but, in fact, words can sometimes cause the reader to feel uncomfortable. You’ve probably experienced such feelings yourself as a listener–hearing a speaker whose words for one reason or another strike you as inappropriate.”
(Martha Kolln, Rhetorical Grammar. Allyn and Bacon, 1999)

Diksi sangat penting dalam komunikasi karena pada dasarnya, setiap orang memiliki tingkatan yang berbeda dalam berbahasa.

Mencoba menunjukkan ketidak setujuan kita pada dosen dengan berucap “penjelasan bapak kaya sampah” jauh lebih mengesankan kita sebagai orang tidak terdidik bagi si dosen, sementara pesan tentang pendapat kita yang berbeda justru akan tersamarkan.

Memilih kata yang tepat yang dapat mewakili pesan yang ingin kita sampaikan, yang tepat bagi audiens, dan yang dapat membawa tujuan dari komunikasi yang kita lakukan, itu lah diksi.

Dan diksi itu, semacam skill. Kemampuan. Bakat, namun juga dapat dikembangkan melalui latihan.

Dari buku Gorys Keraf (DIKSI DAN GAYA BAHASA (2002), hal. 24) dituliskan beberapa point – point penting tentang diksi, yaitu :

  • Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
  • Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa – nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
  • Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasa sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud pembendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki suatu bahasa.

Jadi semakin banyak vocabulary kita, serta semakin dalam pemahaman kita terhadap nuansa makna (efek mental) dari suatu kata, maka semakin bagus diksi kita.

Cara melatihnya tentu saja, banyak membaca, mendengar, memperhatikan reaksi orang-orang ketika membaca/mendengar kata-kata tertentu, banyak membuka kamus.

Lagipula, memangnya dictionary itu asal katanya dari mana?😛

Contoh lain diksi adalah ketika seseorang dirujuk dengan panggilan yang berbeda oleh orang yang sama, namun pada situasi dan audiens yang berbeda.

Saya bisa memanggil seorang Rahmad Hidayat dengan beberapa pilihan, misalnya:

1. Pak Rahmad, ketika saya dan dia menjadi pembicara dalam sebuah diskusi bahasa di depan dosen
2. Rahmad, ketika diskusi bersama teman-teman kuliah tanpa dosen
3. Amet, ketika kami ada di rumah orang tuanya
4. Ndul, ketika kami bersama teman-teman dekat

Selain itu, eufumisme alias faktor keindahan bahasa juga penting dalam diksi. Hal ini terlihat jelas dalam lirik lagu, prosa pendek, puisi, atau gombalan.

Rima/akhiran, serta ritme/keselarasan yang serupa dalam tiap bait lagu akan sangat menentukan kenyamanan saat mendengar lagu tersebut.

Pun sama ketika menggombal, “aku cinta kamu, dalam benar maupun keliru” misalnya.

Sebagai tambahan, saya pribadi berpendapat, khusus untuk bahasa tulisan, diksi juga mencakup pemilihan tanda baca, kapitalisasi, serta bentuk-bentuk visual lain juga akan sangat membedakan makna. Misalnya memilih antara memakai HURUF KAPITAL atau italic atau cetak tebal untuk menekankan sesuatu. Atau menggunakan satu tanda seru (!) atau banyak tanda seru (!!!!!!) atau tanda tanya cuma satu (?) atau banyak (???) atau campuran (!?!?!)

Karena itu, untuk menjadi penulis yang baik, pengarang lagu yang hebat, blogger yang menarik, akun twitter yang disukai, status facebook yang mendapat banyak komentar, atau penggombal yang sukses, kuasailah diksi.

***

Bacaan tambahan:

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Register_(linguistics)
  2. http://grammar.about.com/od/d/g/disctionterm.htm
  3. http://dictionary.reference.com/browse/diction
  4. http://www.blog-raflyandreas.co.cc/2010/10/diksi-pilihan-kata.html
  5. http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/batasan-kosa-kata-dan-diksi-2/

2 Pertanyaan

5 Maret 2011 pukul 10.26 | Ditulis dalam Uncategorized | 12 Komentar

Ada dua pertanyaan

Pertanyaan pertama:
Anggap saja saat ini anda mengenal seorang wanita yang sedang mengandung. Ia sudah memiliki 8 orang anak sebelumnya. 3 orang diantaranya anaknya tersebut terlahir tuli, 2 lainnya buta, seorang lagi mengalami keterbelakangan mental. Si wanita sendiri menderita Sifilis. Dengan latar belakang tersebut, akankah anda merekomendasikan si wanita untuk melakukan aborsi saja?

Tahan dulu jawabannya anda, sekarang kita lihat pertanyaan kedua.

Pertanyaan kedua:
Saat ini sedang berlangsung pemilihan pemimpin dunia. Ada 3 kandidat dan ketiganya meraih suara yang sama banyak. Satu-satunya yang belum memberikan suara adalah anda. Dan ini adalah fakta dari ketiga kandidat pemimpin dunia tersebut;

Kandidat A
Memiliki banyak teman politisi busuk. Percaya pada ramalan bintang. Punya 2 istri gelap. Perokok ganja dan minum 8 hingga 10 gelas martini sehari.

Kandidat B
Pernah dipecat dari kantornya 2 kali. Selalu tidur hingga siang hari. Pengguna opiom ketka menjadi mahasiswa dan meminum setengah galon whiski tiap malam.

Kandidat C
Dinobatkan sebagai pahlawan perang. Vegetarian. Tidak merokok, dan sangat jarang minum minuman keras. Ia juga tidak pernah melakukan pelecehan seksual apapun.

Dari ketiganya, yang mana yang akan anda pilih?

Bagaimana? Sudah memilih? Yakin dengan pilihan anda? Baiklah..

*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

Kandidat A adalah Franklin D. Roosevelt
Kandidat B adalah Winston Churchill
Kandidat C adalah Adolph Hitler

dan sekedar informasi, tentang pertanyaan pertama soal aborsi itu. Jika anda menjawab YA, maka anda baru saja membunuh Beethoven.

Masalah Selera..

1 Maret 2011 pukul 22.22 | Ditulis dalam Uncategorized | 11 Komentar

Saya ingin bercerita tentang sebuah peristiwa, yang terjadi di Amerika, pada tahun 2007 lalu.

Tulisan ini juga saya buat sedikit banyak untuk ikut serta dalam kekisruhan aneh terkait putri yang ditukar di blogosphere Indonesia beberapa waktu lalu.

Begini ceritanya…

Pada sebuah pagi yang dingin, Januari 2007 di Stasiun Metro, Washington DC, kotanya para pemikir Amerika.

Seorang pria berdiri di satu sudut memainkan karya maestro klasik Bach dengan biola-nya. Selama 45 menit sudah ia menggesek alat musiknya, dengan topi terhampar terbalik di bawah kakinya.

Selama itu, kira-kira 2000 orang yang pulang pergi di stasiun tersebut. Pagi yang selalu sibuk di Metro.

3 menit kemudian, seorang pria paruh baya menyadari bahwa ada seorang musisi sedang bermain. Ia memelankan langkahnya, berhenti beberapa detik, dan kemudian bergegas kembali melanjutkan perjalanannya, menuju tempat kerja.

4 Menit kemudian

Sang pemain biola menerima dolar pertamanya. Seorang wanita melemparkan uang ke topinya dan, tanpa berhenti, terus berjalan.

6 menit

Seorang remaja pria bersandar ke dinding mendengarkan permainan biolanya, lalu melihat ke jam tangan dan berlalu.

10 menit

seorang anak berusia 5 tahun berhenti di depan pemain biola, namun ibunya mendorongnya agar terus berjalan. Si anak kembali menoleh namun sang ibu terus menyuruh si anak buru-buru. Anak itu terpaksa meneruskan langkah kakinya namun dengan terus-menerus menoleh ke arah si pemegang biola.

Kejadian ini terulang pada beberapa anak lain. Dan semuanya, tanpa kecuali, terus dipaksa orang tuanya untuk terus berjalan.

45 menit

Sang pemusik terus bermain. Hanya 6 orang yang berhenti dan mendengarkannya sejenak. Sekitar 20 orang memberinya sumbangan namun terus berjalan tanpa memperhatikan. Pria ini mengumpulkan total 32 dolar.

1 jam

Sang pemain biola selesai bermain dan keheningan menyambut. Tak ada yang menyadari. Tak ada tepuk tangan, tak ada apapun.

Tak seorangpun menyadari, sang pria ini adalah Joshua Bell, salah satu pemusik terhebat di dunia. Yang ia mainkan adalah salah satu karya musik klasik paling menakjubkan, dimainkan dengan biola seharga 3,5 juta dolar. 2 Hari sebelumnya, tiket pertunjukan Joshua Bell di sebuah teater di Boston dipenuhi terjual habis. Harga tiketnya rata-rata 100 dolar.

***

Cerita ini adalah fakta.

Joshua Bell melakukan aksinya itu sebagai bagian dari eksperimen sosial yang digagas koran Washington Post, terkait persepsi, selera dan prioritas masyarakat.

Dari peristiwa ini tercipta tanya, apa dan bagaimana sebenarnya ukuran dari selera kita?

faktor apa saja yang mempengaruhi kita dalam menentukan sesuatu itu layak atau tidak layak untuk kita nikmati?

Namun satu hal, jika kita tidak sempat berhenti untuk menikmati seorang pemusik kelas dunia memainkan karya terindah yang pernah ada, dengan instrumen terbaik yang pernah dibuat…

Berapa banyak lagi yang sudah kita lewatkan?

Saya Tidak Datang Ke Pesta Blogger 2010

20 Oktober 2010 pukul 13.00 | Ditulis dalam Uncategorized | 42 Komentar

Ya, saya tidak datang ke perhelatan yang konon disebut-sebut sebagai event off-line pengguna internet terbesar di Indonesia ini.

Jangan salah. Saya bukan bagian dari ‘pembenci’ pesta. Bukan pula sosok anti-mainstream yang biasanya terperosok pada pemujaan idelisme buta. Tidak pula alasan fisik seperti ketiadaan ongkos yang jadi kendala.

Sebut saja saya benar-benar tidak bisa ada di Jakarta pada saat momen Pesta Blogger diadakan.

Dan jujur, saya sebenarnya penasaran dengan Pesta Blogger. Ingin membuktikan apa benar saya ini blogger seleb *disepak*.

Saya ingin memastikan benar salahnya gosib yang bilang kalau tetua-tetua ranah maya Indonesia itu sombong dan tidak down-to-earth.

Dan terutama, saya ingin bertemu sahabat-sahabat saya yang sudah bertahun-tahun berbagi banyak hal, meski hanya lewat kata-kata tanpa suara.

I mean it. There’re a lot of things I share with and only with you, bloggers.

Saya, misalnya, punya banyak kisah yang hanya saya ceritakan pada Chika. Pun saya yakin sebaliknya, iya kan Chi?

Saya sering bertukar kekonyolan rahasia dengan Mbok Venus.

Atau obrolan-obrolan laki-banget dengan ALex Aceh yang blognya sekarang (persis ceweknya) entah yang mana.

Intinya adalah, saya ingin ke Pesta Blogger 2010, tapi saya tidak bisa.

Karena itu, saya ingin mempersembahkan tulisan ini untuk kalian, teman-teman saya yang luar biasa.

***

Tulisan ini semata dibuat dengan tujuan berterima kasih pada para blogger.

Saya berterima kasih pada Raditya Dika dan Enda yang sudah membuat saya kenal dengan blog, dan blog, sedikit banyak membawa saya ke jalan hidup yang saya lalui sekarang.

Saya berterima kasih pada rekan-rekan blogger WordPress (dan yang lainnya) angkatan 2007 yang sudah berbagi tahun-tahun penuh canda tawa, pengalaman berharga, perbedaan yang merekatkan, cinta yang membebaskan, dan bahkan, membuat saya merasa lebih mengenal Tuhan.

Karenanya, sekali lagi terima kasih pada Chika, Teguh, DeKing, Hana, Antobilang, Desti, Rizma, Dipo, Sora, Alex, Almas, Mbak Ira, Siwi, Caplang, drg. Evy, Joe, Bang Aip, Agorsiloku, Erander, Pak Urip, Gunawan a.k.a. Shan-in Lee, Mbok Venus, Mina Mave, dan semua yang jujur saja tidak akan mampu saya sebutkan di sini, tapi kalian selalu jadi bagian dari saya.

Saya, juga tentu harus berterima kasih pada teman-teman blogger di Kalimantan Selatan, yang sedikit banyak mengajari saya, tentang cara membedakan mana teman sebenarnya, mana yang bukan.

Pada Pakacil, Aap, Amed, Farid, Harie, Carbone, Nia, Widya, Syafwan, Awym, Gusti, Pak Arsyad, Pak Syam, Chandra, Juli, Rolly, Om Yul, Cumie, Isur, Eva, Sandi Firli, Eby, Susan, Ichal, Bowo, Wawan, Dillah, Rizal, Hersan, Said, Zaldo, Inas dan semua kalian, terima kasih.

Saya juga harus, tidak bisa tidak, berterima kasih pada para Blogger Jogja. Yang sudah menemani saya dan keluarga di saat-saat paling sulit dalam hidup kami.

Pada Memeth, Anto, Choro, Momon, Alle, Tika, Eko, Funkshit, Gage, Alyak, Zam, Sandal, dan semuamuanya.. percayalah, satu-satunya hal yang bisa membuat abah saya tersenyum ketika mengenang Jogja, adalah kalian… Kapan saja kalian ke Banjarmasin, rumah saya adalah rumah kalian juga.

Dan daftar ini tentu tidak terbatas sampai di sini. Ini hanya sekedar pernyataan terima kasih, dan penyesalan saya tidak bisa menemui kalian nanti di sana.

Hanya saja, cerita ini akan terus berlanjut bukan?

Kita akan terus menulis. Dan karenanya, kita akan abadi.

Here Without You, Baby…

13 Oktober 2010 pukul 17.37 | Ditulis dalam Uncategorized | 8 Komentar

A hundred days had made me older
Since the last time that I’ve saw your pretty face

A thousand lights had made me colder and I don’t think I can look at this the same

But all the miles had separate
They disappear now when I’m dreaming of your face

I’m here without you baby
But your still on my lonely mind
I think about you baby
And I dream about you all the time
I’m here without you baby
But your still with me in my dreams
And tonight it’s only you and me

The miles just keep rollin
As the people either way to say hello
I’ve heard this life is overrated
But I hope that it gets better as we go

Everything I know,
And anywhere I go
It gets hard but it won’t take away my love
And when the last one falls,
When it’s all said and done
It get hard but it won’t take away my love

***

Sometimes, words just do nothing…
All the feelings inside, either kill me…or make me stronger…
And love… is as much as a score of zero…

***

Song by Three Doors Down

Mau Update Blog (Lagi)

23 Agustus 2010 pukul 17.15 | Ditulis dalam Uncategorized | 17 Komentar

Sudah.


Update kali ini dilakukan untuk memenuhi permintaan Mbak Ulan via Twitter. Terima kasih.

Si Kalajengking dan si Buaya di Sungai Nil

1 Juni 2010 pukul 10.47 | Ditulis dalam Uncategorized | 24 Komentar

Seekor Kalajengking tiba di tepian sungai Nil yang lebar dan dalam, di mana di situ dia bertemu dengan seekor Buaya.

“Halo kawan baru,” sapa si Kalajengking pada si Buaya, “mungkinkah engkau dan aku membentuk semacam kerja sama agar dapat menyeberangi sungai Nil ini dengan aman dan selamat? Dengan aku di atas punggungmu sebagai penunjuk jalan sementara kau berenang.”

Si Buaya dengan sinis menjawab, “Kamu pikir aku bodoh? Kalau begitu aku akan sepenuhnya ada dalam kekuasaanmu. Engkau bisa saja menyengatku saat kita menyeberang.”

“Tentu saja tidak,” ujar si Kalajengking. “Aku berjanji tidak akan menyengatmu, karena jika aku menyengatmu hingga tewas, aku juga akan mati tenggelam”

Setelah memikirkan hal tersebut beberapa saat, akhirnya si Buaya sepakat kerjasama tersebut masuk akal dan bersedia membawa Kalajengking di punggungnya. Ketika di tengah sungai, si Kalajengking tiba-tiba berubah pikiran dan menyengat si Buaya.

Sementara tubuh mereka berdua tenggelam ke dasar Nil, sekarat, si Buaya berpaling kepada si Kalajengking dan berkata, “Sekarang kita berdua akan mati. Penjelasan logis apa yang mungkin ada untuk perilakumu ini??”

“Tidak ada,” jawab si Kalajengking, “Ini adalah Timur Tengah.”

——

note: diterjemahkan dengan semena-mena dari buku “The Complete Idiot’s Guide to Middle East Conflict”

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 56 pengikut lainnya