Berita

22 Mei 2011 pukul 09.31 | Ditulis dalam Uncategorized | 6 Komentar

Sempat menjadi wartawan selama bertahun-tahun, membuat saya sedikit banyak mengerti kenyataan yang ada di balik suatu berita. Mulai dari keyakinan pribadi, bahwa pada dasarnya, berita yang netral itu tidak ada. Sampai profesionalitas wartawan kita yang…sebut saja buah simalakama (saya kenal wartawan harian yang merupakan group dari kelompk media raksasa di Indonesia, dan dia digaji 300.000/perbulan).

Tapi kali ini saya hanya ingin memberikan gambaran betapa suatu berita yang kita baca itu bisa datang dari sumber yang sama, namun dipresentasikan dengan cara yang berbeda, sehingga menghasilkan efek yang bervariasi pula.

Ide tulisan datang ketika pagi tadi, seorang teman mengutuk Mahfud MD karena menyebutkan uang yang konon diterima (Mahkamah Konstitusi) MK dari bendahara partai pemenang Pemilu 2009 sebagai ‘gratifikasi’.

Tanpa bermaksud membela siapapun, saya tanyakan berita dari media mana yang ia baca sampai menyulut emosi sedemikian hingga. Dan ternyata benar saja, media online yang ia baca adalah media yang berafiliasi dengan salah satu TV swasta, yang pemiliknya juga salah satu tokoh utama dunia politik Indonesia.

Judul beritanya “Mahfud: tindakan Nazarudin HANYA pelanggaran etika” (catatan: cetak tebal dari saya)

Diksi ‘hanya’ di situ akan sangat mempengaruhi impresi pertama dari si penerima berita. Dan fungsi judul pada sebuah berita memang itu; mengarahkan pendengar/pembaca pada opini yang diharapkan penulis.

Berita yang sama, sumber yang sama, kutipan yang sama di media-media yang berbeda antara lain mencantumkan judul:

  • “Pemberian uang Nazaruddin itu bukan suap, tapi gratifikasi”
  • “Mahfud: Uang dari Nazaruddin ke MK Tergolong Gratifikasi”
  • “Mahfud: Pemberian Nazaruddin bukan Suap”

Pada contoh terakhir, judul tersebut justru akan mengarahkan opini ke tingkatan yang lebih ekstrim, semacam ‘apa?? bukan suap??’ yang memang menjadi tujuan dari si penulis judul.

Tapi berbicara berita politik memang sulit. Banyak kepentingan saling tarik menarik, bantah-membantah, pro dan kontra serta beragam hal yang mempengaruhi segala segi dari berita tersebut. Sebut saja kecenderungan politik wartawan/media, latar belakang berita ditulis, kondisi psikologis bangsa/target pembaca ketika berita ditulis, ekonomi, dan lainnya.

Mari kita lihat pada contoh lain yang tidak serumit politik. Olahraga misalnya.

Tidak, tidak, bukan PSSI, kan sudah saya tulis itu di atas, contoh lain yang tidak serumit politik.

Kali ini saya ingin mengambil contoh berita terkait pelatih tim sepakbola Manchester United – Sir Alex Ferguson.

Beberapa waktu yang lalu, Ferguson mendapat ancaman hukuman dari Federasi Sepakbola Inggris – FA karena dituduh mengeluarkan statement tentang wasit yang akan memimpin pertandingan MU, statement-nya dicurigai dapat mempengaruhi kenetralan wasit saat memimpin pertandingan tersebut.

Sebelumnya, Ferguson juga telah beberapa kali mendapat hukuman dari FA karena komentar-komentarnya yang dianggap menghina wasit.

Yang menjadi fokus kita adalah berita-berita ketika FA mengeluarkan keputusan terkait tuduhan terbaru terhadap Ferguson di atas.

Keputusannya adalah: Ferguson tidak dihukum namun mendapat peringatan agar berhati-hati dalam mengeluarkan statement sebelum pertandingan.

Dan…

Inilah judul-judul berita media lokal kita:

  1. “Ferguson hanya mendapat peringatan dari FA”
  2. “Ferguson mendapat peringatan Keras dari FA”
  3. “Ferguson mendapat teguran Keras dari FA”
  4. “Bebas Sanksi FA, Fergie Cuma Dapat Peringatan”
  5. “Fergie bebas dari sanksi FA “
  6. “Sir Alex Ferguson Lolos dari Hukuman FA”

Pemilihan kata-kata ‘hanya’, ‘bebas’, ‘cuma’, dan ‘sir’ pada judul-judul di atas membawa efek yang berbeda pada opini yang akan muncul dari penerima berita, padahal, inti beritanya sama.

Karena itu lah, di tengah meriahnya kemunculan media-media baik tradisional konvensional semacam koran maupun media baru semacam situs berita hingga jejaring sosial, adalah sangat penting menjadi penikmat berita yang cerdas, yang menghindarkan diri penggiringan opini tanpa harus kehilangan informasi.

Diksi

20 Mei 2011 pukul 11.03 | Ditulis dalam Uncategorized | 11 Komentar

Mari berbicara diksi.

Terkadang, kita bertanya-tanya, kenapa ada orang yang begitu hebat dalam berpidato dan orasi hingga membuat pendengarnya tergugah bahkan hingga mampu membuat mereka bertindak sesuai kehendak si pembicara, sebut saja orang-orang semacam Soekarno, Obama, Martin Luther King, Jr, atau pada bidang yang berbeda seperti Zainuddin MZ dengan ceramah agama beliau serta Ariel Peterpan dengan lirik lagunya.

Beberapa tahun lalu, kita juga menemukan tulisan-tulisan pada suatu blog yang memancing ratusan komentar, ribuan pengunjung dan mampu merubah cara berpikir kita.

Pada tataran yang lebih terkini, kita sering menemukan akun-akun twitter yang tweet-nya begitu banyak di-reply atau di retweet, serta status-status facebook yang sebenarnya mengungkapkan suatu hal yang biasa namun terasa menarik untuk dibaca.

Atau pada contoh yang lebih personal, kenapa ada pria dan wanita yang begitu mudah membuat lawan jenisnya tertarik hanya melalui kata-kata?

Kenapa?

Tema yang dibicarakan kah?
Mungkin, namun lihat saja, banyak orang yang membicarakan tema yang sama, menuliskan topik yang senada namun tidak mendapat respon yang semegah mereka harapkan.

Faktor siapa yang berbicara kah?
Tidak juga. Lihat saja blog-blog yang dulu sempat menciptakan mahzab sendiri itu. Terkadang si penulis bahkan tersembunyi dalam anonimitas.

Lalu apa?

Semua karena diksi.

Apa itu diksi?

Definisi sederhananya, diksi(diction) adalah pemilihan kata dan metode penggunaannya dalam tulisan atau pembicaraan, serta kemampuan menyampai maksud/ide/keinginan dalam bentuk kata-kata sejelas-jelasnya.

Mari kita baca kutipan berikut:
“Diction will be effective only when the words you choose are appropriate for the audience and purpose, when they convey your message accurately and comfortably. The idea of comfort may seem out of place in connection with diction, but, in fact, words can sometimes cause the reader to feel uncomfortable. You’ve probably experienced such feelings yourself as a listener–hearing a speaker whose words for one reason or another strike you as inappropriate.”
(Martha Kolln, Rhetorical Grammar. Allyn and Bacon, 1999)

Diksi sangat penting dalam komunikasi karena pada dasarnya, setiap orang memiliki tingkatan yang berbeda dalam berbahasa.

Mencoba menunjukkan ketidak setujuan kita pada dosen dengan berucap “penjelasan bapak kaya sampah” jauh lebih mengesankan kita sebagai orang tidak terdidik bagi si dosen, sementara pesan tentang pendapat kita yang berbeda justru akan tersamarkan.

Memilih kata yang tepat yang dapat mewakili pesan yang ingin kita sampaikan, yang tepat bagi audiens, dan yang dapat membawa tujuan dari komunikasi yang kita lakukan, itu lah diksi.

Dan diksi itu, semacam skill. Kemampuan. Bakat, namun juga dapat dikembangkan melalui latihan.

Dari buku Gorys Keraf (DIKSI DAN GAYA BAHASA (2002), hal. 24) dituliskan beberapa point – point penting tentang diksi, yaitu :

  • Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
  • Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa – nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
  • Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasa sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud pembendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki suatu bahasa.

Jadi semakin banyak vocabulary kita, serta semakin dalam pemahaman kita terhadap nuansa makna (efek mental) dari suatu kata, maka semakin bagus diksi kita.

Cara melatihnya tentu saja, banyak membaca, mendengar, memperhatikan reaksi orang-orang ketika membaca/mendengar kata-kata tertentu, banyak membuka kamus.

Lagipula, memangnya dictionary itu asal katanya dari mana?😛

Contoh lain diksi adalah ketika seseorang dirujuk dengan panggilan yang berbeda oleh orang yang sama, namun pada situasi dan audiens yang berbeda.

Saya bisa memanggil seorang Rahmad Hidayat dengan beberapa pilihan, misalnya:

1. Pak Rahmad, ketika saya dan dia menjadi pembicara dalam sebuah diskusi bahasa di depan dosen
2. Rahmad, ketika diskusi bersama teman-teman kuliah tanpa dosen
3. Amet, ketika kami ada di rumah orang tuanya
4. Ndul, ketika kami bersama teman-teman dekat

Selain itu, eufumisme alias faktor keindahan bahasa juga penting dalam diksi. Hal ini terlihat jelas dalam lirik lagu, prosa pendek, puisi, atau gombalan.

Rima/akhiran, serta ritme/keselarasan yang serupa dalam tiap bait lagu akan sangat menentukan kenyamanan saat mendengar lagu tersebut.

Pun sama ketika menggombal, “aku cinta kamu, dalam benar maupun keliru” misalnya.

Sebagai tambahan, saya pribadi berpendapat, khusus untuk bahasa tulisan, diksi juga mencakup pemilihan tanda baca, kapitalisasi, serta bentuk-bentuk visual lain juga akan sangat membedakan makna. Misalnya memilih antara memakai HURUF KAPITAL atau italic atau cetak tebal untuk menekankan sesuatu. Atau menggunakan satu tanda seru (!) atau banyak tanda seru (!!!!!!) atau tanda tanya cuma satu (?) atau banyak (???) atau campuran (!?!?!)

Karena itu, untuk menjadi penulis yang baik, pengarang lagu yang hebat, blogger yang menarik, akun twitter yang disukai, status facebook yang mendapat banyak komentar, atau penggombal yang sukses, kuasailah diksi.

***

Bacaan tambahan:

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Register_(linguistics)
  2. http://grammar.about.com/od/d/g/disctionterm.htm
  3. http://dictionary.reference.com/browse/diction
  4. http://www.blog-raflyandreas.co.cc/2010/10/diksi-pilihan-kata.html
  5. http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/batasan-kosa-kata-dan-diksi-2/

2 Pertanyaan

5 Maret 2011 pukul 10.26 | Ditulis dalam Uncategorized | 12 Komentar

Ada dua pertanyaan

Pertanyaan pertama:
Anggap saja saat ini anda mengenal seorang wanita yang sedang mengandung. Ia sudah memiliki 8 orang anak sebelumnya. 3 orang diantaranya anaknya tersebut terlahir tuli, 2 lainnya buta, seorang lagi mengalami keterbelakangan mental. Si wanita sendiri menderita Sifilis. Dengan latar belakang tersebut, akankah anda merekomendasikan si wanita untuk melakukan aborsi saja?

Tahan dulu jawabannya anda, sekarang kita lihat pertanyaan kedua.

Pertanyaan kedua:
Saat ini sedang berlangsung pemilihan pemimpin dunia. Ada 3 kandidat dan ketiganya meraih suara yang sama banyak. Satu-satunya yang belum memberikan suara adalah anda. Dan ini adalah fakta dari ketiga kandidat pemimpin dunia tersebut;

Kandidat A
Memiliki banyak teman politisi busuk. Percaya pada ramalan bintang. Punya 2 istri gelap. Perokok ganja dan minum 8 hingga 10 gelas martini sehari.

Kandidat B
Pernah dipecat dari kantornya 2 kali. Selalu tidur hingga siang hari. Pengguna opiom ketka menjadi mahasiswa dan meminum setengah galon whiski tiap malam.

Kandidat C
Dinobatkan sebagai pahlawan perang. Vegetarian. Tidak merokok, dan sangat jarang minum minuman keras. Ia juga tidak pernah melakukan pelecehan seksual apapun.

Dari ketiganya, yang mana yang akan anda pilih?

Bagaimana? Sudah memilih? Yakin dengan pilihan anda? Baiklah..

*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

Kandidat A adalah Franklin D. Roosevelt
Kandidat B adalah Winston Churchill
Kandidat C adalah Adolph Hitler

dan sekedar informasi, tentang pertanyaan pertama soal aborsi itu. Jika anda menjawab YA, maka anda baru saja membunuh Beethoven.

Masalah Selera..

1 Maret 2011 pukul 22.22 | Ditulis dalam Uncategorized | 11 Komentar

Saya ingin bercerita tentang sebuah peristiwa, yang terjadi di Amerika, pada tahun 2007 lalu.

Tulisan ini juga saya buat sedikit banyak untuk ikut serta dalam kekisruhan aneh terkait putri yang ditukar di blogosphere Indonesia beberapa waktu lalu.

Begini ceritanya…

Pada sebuah pagi yang dingin, Januari 2007 di Stasiun Metro, Washington DC, kotanya para pemikir Amerika.

Seorang pria berdiri di satu sudut memainkan karya maestro klasik Bach dengan biola-nya. Selama 45 menit sudah ia menggesek alat musiknya, dengan topi terhampar terbalik di bawah kakinya.

Selama itu, kira-kira 2000 orang yang pulang pergi di stasiun tersebut. Pagi yang selalu sibuk di Metro.

3 menit kemudian, seorang pria paruh baya menyadari bahwa ada seorang musisi sedang bermain. Ia memelankan langkahnya, berhenti beberapa detik, dan kemudian bergegas kembali melanjutkan perjalanannya, menuju tempat kerja.

4 Menit kemudian

Sang pemain biola menerima dolar pertamanya. Seorang wanita melemparkan uang ke topinya dan, tanpa berhenti, terus berjalan.

6 menit

Seorang remaja pria bersandar ke dinding mendengarkan permainan biolanya, lalu melihat ke jam tangan dan berlalu.

10 menit

seorang anak berusia 5 tahun berhenti di depan pemain biola, namun ibunya mendorongnya agar terus berjalan. Si anak kembali menoleh namun sang ibu terus menyuruh si anak buru-buru. Anak itu terpaksa meneruskan langkah kakinya namun dengan terus-menerus menoleh ke arah si pemegang biola.

Kejadian ini terulang pada beberapa anak lain. Dan semuanya, tanpa kecuali, terus dipaksa orang tuanya untuk terus berjalan.

45 menit

Sang pemusik terus bermain. Hanya 6 orang yang berhenti dan mendengarkannya sejenak. Sekitar 20 orang memberinya sumbangan namun terus berjalan tanpa memperhatikan. Pria ini mengumpulkan total 32 dolar.

1 jam

Sang pemain biola selesai bermain dan keheningan menyambut. Tak ada yang menyadari. Tak ada tepuk tangan, tak ada apapun.

Tak seorangpun menyadari, sang pria ini adalah Joshua Bell, salah satu pemusik terhebat di dunia. Yang ia mainkan adalah salah satu karya musik klasik paling menakjubkan, dimainkan dengan biola seharga 3,5 juta dolar. 2 Hari sebelumnya, tiket pertunjukan Joshua Bell di sebuah teater di Boston dipenuhi terjual habis. Harga tiketnya rata-rata 100 dolar.

***

Cerita ini adalah fakta.

Joshua Bell melakukan aksinya itu sebagai bagian dari eksperimen sosial yang digagas koran Washington Post, terkait persepsi, selera dan prioritas masyarakat.

Dari peristiwa ini tercipta tanya, apa dan bagaimana sebenarnya ukuran dari selera kita?

faktor apa saja yang mempengaruhi kita dalam menentukan sesuatu itu layak atau tidak layak untuk kita nikmati?

Namun satu hal, jika kita tidak sempat berhenti untuk menikmati seorang pemusik kelas dunia memainkan karya terindah yang pernah ada, dengan instrumen terbaik yang pernah dibuat…

Berapa banyak lagi yang sudah kita lewatkan?

Saya Tidak Datang Ke Pesta Blogger 2010

20 Oktober 2010 pukul 13.00 | Ditulis dalam Uncategorized | 43 Komentar

Ya, saya tidak datang ke perhelatan yang konon disebut-sebut sebagai event off-line pengguna internet terbesar di Indonesia ini.

Jangan salah. Saya bukan bagian dari ‘pembenci’ pesta. Bukan pula sosok anti-mainstream yang biasanya terperosok pada pemujaan idelisme buta. Tidak pula alasan fisik seperti ketiadaan ongkos yang jadi kendala.

Sebut saja saya benar-benar tidak bisa ada di Jakarta pada saat momen Pesta Blogger diadakan.

Dan jujur, saya sebenarnya penasaran dengan Pesta Blogger. Ingin membuktikan apa benar saya ini blogger seleb *disepak*.

Saya ingin memastikan benar salahnya gosib yang bilang kalau tetua-tetua ranah maya Indonesia itu sombong dan tidak down-to-earth.

Dan terutama, saya ingin bertemu sahabat-sahabat saya yang sudah bertahun-tahun berbagi banyak hal, meski hanya lewat kata-kata tanpa suara.

I mean it. There’re a lot of things I share with and only with you, bloggers.

Saya, misalnya, punya banyak kisah yang hanya saya ceritakan pada Chika. Pun saya yakin sebaliknya, iya kan Chi?

Saya sering bertukar kekonyolan rahasia dengan Mbok Venus.

Atau obrolan-obrolan laki-banget dengan ALex Aceh yang blognya sekarang (persis ceweknya) entah yang mana.

Intinya adalah, saya ingin ke Pesta Blogger 2010, tapi saya tidak bisa.

Karena itu, saya ingin mempersembahkan tulisan ini untuk kalian, teman-teman saya yang luar biasa.

***

Tulisan ini semata dibuat dengan tujuan berterima kasih pada para blogger.

Saya berterima kasih pada Raditya Dika dan Enda yang sudah membuat saya kenal dengan blog, dan blog, sedikit banyak membawa saya ke jalan hidup yang saya lalui sekarang.

Saya berterima kasih pada rekan-rekan blogger WordPress (dan yang lainnya) angkatan 2007 yang sudah berbagi tahun-tahun penuh canda tawa, pengalaman berharga, perbedaan yang merekatkan, cinta yang membebaskan, dan bahkan, membuat saya merasa lebih mengenal Tuhan.

Karenanya, sekali lagi terima kasih pada Chika, Teguh, DeKing, Hana, Antobilang, Desti, Rizma, Dipo, Sora, Alex, Almas, Mbak Ira, Siwi, Caplang, drg. Evy, Joe, Bang Aip, Agorsiloku, Erander, Pak Urip, Gunawan a.k.a. Shan-in Lee, Mbok Venus, Mina Mave, dan semua yang jujur saja tidak akan mampu saya sebutkan di sini, tapi kalian selalu jadi bagian dari saya.

Saya, juga tentu harus berterima kasih pada teman-teman blogger di Kalimantan Selatan, yang sedikit banyak mengajari saya, tentang cara membedakan mana teman sebenarnya, mana yang bukan.

Pada Pakacil, Aap, Amed, Farid, Harie, Carbone, Nia, Widya, Syafwan, Awym, Gusti, Pak Arsyad, Pak Syam, Chandra, Juli, Rolly, Om Yul, Cumie, Isur, Eva, Sandi Firli, Eby, Susan, Ichal, Bowo, Wawan, Dillah, Rizal, Hersan, Said, Zaldo, Inas dan semua kalian, terima kasih.

Saya juga harus, tidak bisa tidak, berterima kasih pada para Blogger Jogja. Yang sudah menemani saya dan keluarga di saat-saat paling sulit dalam hidup kami.

Pada Memeth, Anto, Choro, Momon, Alle, Tika, Eko, Funkshit, Gage, Alyak, Zam, Sandal, dan semuamuanya.. percayalah, satu-satunya hal yang bisa membuat abah saya tersenyum ketika mengenang Jogja, adalah kalian… Kapan saja kalian ke Banjarmasin, rumah saya adalah rumah kalian juga.

Dan daftar ini tentu tidak terbatas sampai di sini. Ini hanya sekedar pernyataan terima kasih, dan penyesalan saya tidak bisa menemui kalian nanti di sana.

Hanya saja, cerita ini akan terus berlanjut bukan?

Kita akan terus menulis. Dan karenanya, kita akan abadi.

Here Without You, Baby…

13 Oktober 2010 pukul 17.37 | Ditulis dalam Uncategorized | 8 Komentar

A hundred days had made me older
Since the last time that I’ve saw your pretty face

A thousand lights had made me colder and I don’t think I can look at this the same

But all the miles had separate
They disappear now when I’m dreaming of your face

I’m here without you baby
But your still on my lonely mind
I think about you baby
And I dream about you all the time
I’m here without you baby
But your still with me in my dreams
And tonight it’s only you and me

The miles just keep rollin
As the people either way to say hello
I’ve heard this life is overrated
But I hope that it gets better as we go

Everything I know,
And anywhere I go
It gets hard but it won’t take away my love
And when the last one falls,
When it’s all said and done
It get hard but it won’t take away my love

***

Sometimes, words just do nothing…
All the feelings inside, either kill me…or make me stronger…
And love… is as much as a score of zero…

***

Song by Three Doors Down

Mau Update Blog (Lagi)

23 Agustus 2010 pukul 17.15 | Ditulis dalam Uncategorized | 17 Komentar

Sudah.


Update kali ini dilakukan untuk memenuhi permintaan Mbak Ulan via Twitter. Terima kasih.

Si Kalajengking dan si Buaya di Sungai Nil

1 Juni 2010 pukul 10.47 | Ditulis dalam Uncategorized | 24 Komentar

Seekor Kalajengking tiba di tepian sungai Nil yang lebar dan dalam, di mana di situ dia bertemu dengan seekor Buaya.

“Halo kawan baru,” sapa si Kalajengking pada si Buaya, “mungkinkah engkau dan aku membentuk semacam kerja sama agar dapat menyeberangi sungai Nil ini dengan aman dan selamat? Dengan aku di atas punggungmu sebagai penunjuk jalan sementara kau berenang.”

Si Buaya dengan sinis menjawab, “Kamu pikir aku bodoh? Kalau begitu aku akan sepenuhnya ada dalam kekuasaanmu. Engkau bisa saja menyengatku saat kita menyeberang.”

“Tentu saja tidak,” ujar si Kalajengking. “Aku berjanji tidak akan menyengatmu, karena jika aku menyengatmu hingga tewas, aku juga akan mati tenggelam”

Setelah memikirkan hal tersebut beberapa saat, akhirnya si Buaya sepakat kerjasama tersebut masuk akal dan bersedia membawa Kalajengking di punggungnya. Ketika di tengah sungai, si Kalajengking tiba-tiba berubah pikiran dan menyengat si Buaya.

Sementara tubuh mereka berdua tenggelam ke dasar Nil, sekarat, si Buaya berpaling kepada si Kalajengking dan berkata, “Sekarang kita berdua akan mati. Penjelasan logis apa yang mungkin ada untuk perilakumu ini??”

“Tidak ada,” jawab si Kalajengking, “Ini adalah Timur Tengah.”

——

note: diterjemahkan dengan semena-mena dari buku “The Complete Idiot’s Guide to Middle East Conflict”

Hasil Pemilihan Gubernur Kalimantan Selatan 2010

31 Mei 2010 pukul 19.40 | Ditulis dalam Uncategorized | 21 Komentar

Ya ndak adaaaaa…

Jangankan hasilnya, pencoblosannya saja belum mulai ketika saya menulis postingan ini.😛

Saya cuma ingin menanggapi agenda Debat Antar Calon Gubernur yang ditayangkan langsung di tipi-tipi lokal dan satu tipi nasional itu.

Sedikit banyak, tulisan ini juga hadir setelah terinspirasi tulisan Tetuha kita bersama, Pak Ben.

***

KPU Kalimantan Selatan memang menjadwalkan beberapa kali acara debat antar calon Gubernur dan Wakil Gubernur sebagai bagian dari agenda Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Kalimantan Selatan 2010 – 2015 pada 2 juni ini.

Semua acara debat disiarkan secara langsung melalui televisi, dan puncaknya adalah debat terakhir yang disiarkan oleh salah satu televisi siaran nasional tadi.

Membaca komentar-komentar teman-teman baik melalui situs jejaring sosial maupun tulisan di blog, saya menangkap ada kekecewaan terkait performa masing-masing kandidat dalam debat-debat tersebut.

Ada yang merasa marah karena salah satu kandidat (dalam rangka menegaskan keberhasilannya sebagai pemimpin) menyatakan orang-orang miskin yang ada di kabupaten yang dia pimpin sebelum menjadi calon gubernur, berasal dari daerah lain yang dipimpin oleh kandidat saingan.

Ada yang merasa bingung karena omongan para kandidat tidak memiliki konsep dan ide dasar yang jelas.

Ada pula yang merasa debat itu buang-buang duit karena konon tidak mempengaruhi pemilih secara signifikan.

Entahlah…

Soal pengaruhnya terhadap pemilih, saya tidak berani memastikan apakah ada warga Kalimantan Selatan yang memilih calon Gubernurnya karena melihat sisi positif si calon saat debat.

Tapi membaca tulisan Pak Ben dan beberapa netter tentang betapa debat antar calon gubernur itu serupa benang kusut berbumbu opera van Borneo yang tidak begitu lucu, saya jadi tertarik membahasnya.

Pertama mungkin masalah mental.

Continue Reading Hasil Pemilihan Gubernur Kalimantan Selatan 2010…

Jadi, begitulah…

25 Mei 2010 pukul 09.32 | Ditulis dalam Uncategorized | 9 Komentar

“A period novel! About the Civil War! Who needs the Civil War now — who cares?”
– Herbert R. Mayes (Editor of the Pictorial Review ), turning down a prepublication offer to serialize Margaret Mitchell’s novel Gone with the Wind, 1936

“You’d better learn secretarial work or else get married.”
– Emmeline Snively, Director of the Blue Book Modeling Agency, giving advice to Marilyn Monroe in 1944

“We don’t like their sound. Groups of guitars are on the way out.”
– Decca Records Rejecting the Beatles, in 1962

Jadi begitulah…

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | Tema Pool.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya