Keluhan terkait Telkom

1 Mei 2017 pukul 14.04 | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

Update Senin, 1 Mei 2017 pukul 16.40 WITA, jaringan Indihome dan UseeTV sudah lancar kembali. Semoga akan terus begini hingga seterusnya. Terima kasih atas bantuan semuanya. Mohon maaf sudah mengganggu waktu liburnya.

 

***

 

Pada tanggal 28 April 2017 saya mendatangi kantor Plaza Telkom Banjarmasin untuk menyelesaikan tagihan indihome yang (menurut Telkom) menunggak selama 2 bulan. Kenapa saya merasa statement menunggak 2 bulan itu tidak tepat, karena tagihan tersebut masuk pada bulan april sementara sejak 20 Februari koneksi Indohome rumah saya sudah tidak lagi bisa digunakan.

Di Plaza Telkom Banjarmasin kami ditemui oleh mbak Septi dan mencoba menjelaskan permasalahan terkait hal tersebut. Namun menurut mbak Septi mereka hanya bisa menghapuskan denda tagihan sebesar Rp. 90.000. Sementara untuk tagihan selama dua bulan sebesar kurang lebih 900.000 ribu rupiah harus tetap dibayar.

Karena memang sedang memerlukan koneksi Indihome untuk pekerjaan dan tugas-tugas penting akhirnya diputuskan untuk mengalah dan membayar tagihan tersebut. Pihak Telkom Banjarmasin memberikan opsi pembayaran tunggakan secara mencicil selama 3 kali selama 2 bulan ke depan. Meskipun siap membayar secara tunai namun karena tawaran membayar secara mencicil dirasa lebih mudah dan ringan, kamipun memilih opsi tersebut.

Pembayaran pertama dilakukan langsung di Plaza Telkom Banjarmasin dibuktikan dengan slip pembayaran. Dan menurut mbak Septi, koneksi Indihome dan TV berlangganan di rumah akan segera diakftifkan kembali paling lambat 1 jam setelah itu.

Di sini awal masalah muncul.

Setelah ditunggu hingga 4 jam koneksi Indihome belum juga pulih. TV berlangganan juga masih berstatus diisolir. Setelah menelpon 147 dan menjelaskan masalahnya, koneksi dan TV sempat normal selama setengah hari, namun setelah itu kembali bermasalah.

Pengaduan sudah berkali-kali saya sampaikan melalui pengaduan 147, akun twitter @TelkomCare, hingga menelpon helpdesk Telkom Banjarmasin di 0511-3360652. Namun jawaban dan penjelasan dari pihak Telkom selalu berbeda-beda pada setiap kesempatan.

Mulai dari janji untuk segera memulihkan koneksi, diminta mengirimkan bukti pembayaran ke email CostumerCare@telkom.co.id hingga akhirnya pernyataan dari CS di 147 bahwa tagihan tetap harus dilunasi.

Yang menjadi keluhan saya di antaranya adalah:

– Kalau memang tagihan tidak bisa dicicil lalu kenapa Telkom Banjarmasin memberikan opsi tersebut?

– Apakah para anak-anak muda di akun twitter @TelkomCare tidak memiliki SOP yang sama seperti akun Costumer Care perusahaan lain yang meminta data-data pribadi pelanggan melalui DM? @TelkomCare justru meminta data dan bukti -bukti setoran melalui tweet publik termasuk ketika menyebutkan pelanggan belum melunasi tagihan. What’s that supposed to mean? To humiliate?

– Kenapa Telkom lamban sekali memberikan tanggapan terhadap keluhan. Padahal layanan yang mereka sediakan termasuk layanan penting dan utama di jaman sekarang? Selain belum ada balasan seperti yang dijanjikan setelah saya mengirimkan bukti pembayaran melalui email untuk kasus ini, kasus yang sama juga pernah saya alami tahun lalu. Saat itu saya meminta rincian tagihan untuk kepentingan keuangan kantor. Permintaan dikirimkan bulan januari, rincian tagihan baru dikirimkan pada bulan april.

– Jika tagihan dihitung perbulan dan dibayar pada bulan berikutnya, blokir seharusnya baru dilakukan pada tanggal 30/31 pada bulan berjalan. Bukannya pada tanggal 20 karena itu berarti merugikan pelanggan yang selama 10 hari tidak bisa memakai layanan sementara besar tagihan tetap sama.

Demikian kronologis keluhan ini dipublikasikan karena saya tidak tahu lagi harus mencari solusi ke mana. Terima kasih.

Iklan

What will you do?

28 Januari 2017 pukul 20.09 | Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar

Jadi begini…

Ada seorang ibu muda. Single parent. Putrinya berusia 3 tahun. Ibu muda ini penggangguran. Drug-addict. Gonta-ganti pasangan kencan hampir setiap minggu. Mereka berdua tinggal di rumah kontrakan sempit, di pinggiran kota. Kawasan kumuh. Lokalisasi, maling, germo, segala macam jenis manusia berkumpul di situ.

Si ibu muda ini kerap meninggalkan anaknya untuk pergi berkencan, atau sekedar dugem bersama teman-temannya sesama penghobi mabuk.

Lalu anak usia 3 tahun ini hilang diculik. Dan setelah pencarian selama beberapa minggu, polisi meyakini kemungkinan besar ia telah dibunuh penculiknya. Si ibu ditinggalkan sendirian. Meratapi nasip.

Kamu, karena satu dan lain hal, adalah satu-satunya orang yang mengetahui kalau anak itu sebenarnya diculik oleh pasangan kaya yang tidak mempunyai anak. Ia masih sehat walafiat, hidup dipelihara oleh pasangan tersebut selama beberapa minggu terakhir. Dibelikan mainan, makanan, dan dimanja.

Apa yang akan kamu lakukan?
Membiarkan anak itu hidup bersama penculiknya?
Atau melaporkannya kepada polisi agar si anak bisa kembali pada ibunya?

Forensic Linguistics

25 Januari 2017 pukul 14.02 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Sekitar awal 2009, seorang pria bernama Chris Coleman bercerita kepada teman-teman dan rekan kerjanya terkait kekhawatirannya terhadap keselamatan keluarganya. Coleman selama beberapa waktu terakhir menerima ancaman pembunuhan secara online dari orang yang tidak diketahui.

Sampai akhirnya email-email ancaman tersebut juga menyebut-nyebut nama istri Coleman, Sheri serta kedua anaknya yang berusia 9 dan 11 tahun, Garret dan Gavin. Coleman lalu meminta bantuan tetangganya yang seorang polisi untuk memasang CCTV di bagian depan rumahnya.

Pada 5 mei 2009, Coleman yang sedang fitness di gym menelpon istrinya di rumah. Tidak ada yang mengangkat telepon itu. Ia lalu meminta tolong pada si polisi tetangganya untuk mengecek rumahnya. Si polisi menemukan Sheri, Gavin dan Garret telah tewas di kamar tidur mereka. Dibunuh dengan cara dicekik. Sebuah jendela di bagian belakang rumah nampaknya telah dibuka paksa oleh seseorang.

Penyelidikan polisi ternyata mengarahkan dugaan kuat pelaku pembunuhan justru pada Chris Coleman sendiri. Coleman diketahui berselingkuh dengan seorang pelayan restoran. Selain itu, Coleman yang bekerja di sebuah lembaga keagamaan juga terancam dipecat dan kehilangan pendapatan ribuan dolar jika ia menceraikan istrinya karena lembaga tersebut memiliki kebijakan anti-perceraian yang sangat ketat terhadap karyawannya.

Pada Februari 2009, Sheri juga diketahui mengadu kepada salah satu temannya tentang ketakutannya terhadap suaminya. Ia berkata jika terjadi sesuatu padanya maka pelakunya adalah Chris.

Namun Coleman bersikeras ia tidak bersalah. Bukti-bukti yang ada tidak cukup kuat untuk memberatkannya. Tidak ada DNA-nya yang ditemukan, email-email ancaman yang sebelumnya disebutkan juga sulit dibuktikan apakah dikirimkan dari komputer miliknya.

Sekitar 40 orang saksi termasuk saksi ahli memberikan pendapat mereka di persidangan Coleman, mulai dari polisi, teman-teman dekat, tetangga, dokter, dan ahli-ahli lainnya. Belum ada kepastian yang bisa meyakinkan para juri bahwa Coleman bersalah.

Hingga akhirnya jaksa mengajukan satu saksi ahli lagi, Robert Leonard. Robert adalah ahli di bidang yang masih belum banyak dikenal: forensic linguitics.

Dengan keahliannya itu, Robert menganalisis perbandingan antara surat-surat ancaman yang dikirimkan dengan email-email yang resmi ditulis oleh Coleman. Analisis khususnya difokuskan pada diksi, ejaaan dan tata bahasa yang digunakan. Dari situ Robert berkesimpulan, surat-surat ancaman tersebut memiliki kemiripan yang sangat banyak dengan gaya bahasa tulisan Coleman.

Di antara kesamaan yang ditemukan adalah cara menuliskan “you” menjadi “U”, serta kesalahan peletakan tanda baca yang unik “cant'” dan “doesnt'”.

Juri akhirnya memutuskan Coleman bersalah dan dihukum seumur hidup tanpa ada kesempatan banding.

***

Kasus lain yang juga melibatkan ahli bahasa dalam pemecahannya adalah kasus pengeboman oleh Unabomber. Unabomber diketahui menjadi pelaku belasan pengeboman antara tahun 1980-1990an yang membuat setidaknya 3 orang tewas dan puluhan lainnya luka parah. Unabomber juga dikenal dengan kebiasaannya mengirimkan surat manifesto ke berbagai universitas berisi kecamannya terhadap modern tekhnologi, industrialisasi dan pengrusakan alam.

Atas desakan ahli bahasa James Fitzgerald, FBI akhirnya memutuskan untuk menyebarkan surat-surat manifesto Unabomber ke media-media. Dari situ, puluhan pembaca memberikan laporan ke FBI menyatakan mereka mengenali gaya penulisan si Unabomber ini. Fitzgerald menganalisis sintaksis, diksi dan pola-pola linguistik lainnya dari nama-nama yang dilaporkan oleh puluhan pembaca tadi dan akhirnya berkesimpulan, Unabomber adalah Ted Kaczynski, seorang jenius matematika yang beraliran anarkis.

Dari pilihan kata yang digunakan dalam surat manifestonya, dapat diketahui kisaran usia Unabomber, background pendidikannya, dan beberapa latar belakang lainnya. Berbekal bukti awal ini, FBI diperbolehkan melakukan penggeledahan di Kabin milik Ted Kaczynski dan akhirnya menemukan bukti-bukti yang cukup untuk menempatkan si Unabomber di penjara seumur hidup.

***

Salah satu pionir forensic linguistics, Roger Shuy ketika ditanya mengenai awal mula bidang keilmuan ini menggambarkan salah satu peristiwa yang diceritakan pada kitab Perjanjian Lama (tolong dikoreksi jika ada kesalahan). Dalam kitab Perjanjian Lama diceritakan peperangan antara orang-orang Gilead dan Efraim. Karena tidak bisa membedakan antara musuh dan kawa, peperangan tersebut sempat kacau balau dan menimbulkan kebingungan. Namun akhirnya orang-orang Gilead menemukan cara untuk menentukan apakah seseorang musuh atau teman. Caranya mereka diminta melafalkan kata dalam bahasa Ibrani “Shibboleth”. Jika mereka melafalkan suku kata pertamanya dengan dialek Efraim yaitu “sib” maka mereka akan dibunuh. Karena dialek Gilead membaca kata tersebut dengan awalan “Syib”. Konon 42 ribu orang Efraim yang gagal dalam test linguistik pertama dalam sejarah ini.

Kasus serupa konon juga terjadi ketika ada pertikaian dan kerusuhan masal di Sampit beberapa tahun lalu. Orang-orang yang dicurigai sebagai suku lain diminta melafalkan kosakata tertentu yang jika mereka melafalkannya dengan dialek suku yang dicurigai, maka nasibnya akan sama seperti nasib orang Efraim.

Kembali ke bahasan forensic linguistics, sampai saat ini bidang keilmuan ini masih terus berkembang. Karena bahasa adalah sesuatu yang sangat rumit untuk dijelaskan apa dan kenapanya. Sementara tujuan dari bahasa itu sendiri sangat sederhana: agar kita saling mengerti dan memahami. Namun pada prakteknya, agar sampai pada tahap mengerti dan memahami itu kita harus melalui banyak sekali ketidakmengertian dan kesalahfahaman.

Bahasa bukan sekedar susunan huruf menjadi kata dan kata menjadi kalimat. Ada konteks yang lebih luas dari situ. Ada bahasa lisan, bahasa tulisan, dan bahasa simbol.

Karena itu, daripada menjadi gampang tersinggung hanya karena ada pesan yang kita tidak fahami dari salah satu bentuk bahasa, bukannya akan jauh lebih mudah jika kita meminta si pengantar pesan untuk mengulangi pesannya agar kita menjadi lebih mengerti?

Daripada tersinggung karena bendera ditulis-tulisi kata-kata yang kita belum tahu tujuannya, bukankan sebaiknya mencoba mengerti pesan apa yang ingin disampaikan si pembawa bendera?

Bendera ditulisi kalimat dalam bahasa arab, misalnya. Bukannya bisa dimaknai jika itu adalah simbol bahwa ia adalah Islam dan juga adalah orang Indonesia?

Daripada marah karena dasar negara dituduh sebagai sesuatu yang sia-sia bukankah sebaiknya kita duduk bersama-sama dan mencari jalan agar bisa menjadi lebih berguna buat bangsa?

Daripada rusuh karena ada orang yang dianggap menghina agama, kenapa tidak difahami sebagai ketidakmengertian yang besangkutan dan menjadi kewajiban kita sebagai yang lebih mengerti untuk membantunya belajar agar menjadi lebih tahu?

Karena tujuan bahasa itu sederhana, agar kita menjadi saling mengerti dan memahami.

Kamu Anti Cina yang Mana?

19 Desember 2016 pukul 21.02 | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

Akhir-akhir ini kata China menjadi isu sensitif yang kerap dibicarakan di mana-mana.

Tidak mau kalah, mari kita bicara China juga. Tapi, dari sudut pandang bahasa. Lebih tepatnya, dari bidang keilmuan Toponimi.

Fakta pertama adalah, dalam bahasa China sendiri tidak ada ditemukan kata “China/Cina”. China menyebut negara mereka dengan sebutan Zhong Guo. Republik Rakyat China dalam bahasa aslinya disebut Zhōnghuá Rénmín Gònghéguó atau Zhōnghuá Mínguó (Republic of China).

Untuk etnisnya, mereka menyebut diri mereka sendiri dengan nama Han atau Tang. Belum lagi etnis-etnis turunannya seperti Zhuang, Uyghur, Tibetan, Mongol, Manchu dan seterusnya. Tapi tetap saja, tidak ditemukan kata “China” di situ.

Jadi darimana asal kata China?

Ada beberapa teori, namun tidak ada satupun yang kebenarannya dapat dipastikan.

Teori pertama menyebutkan, kata China berasal dari bahasa Persia; Cin/Chini, yang artinya Keramik atau Porselin. Kenapa Keramik? Karena kawasan yang menjadi negara China sekarang dikenal sebagai pengrajin barang-barang keramik yang diimpor ke Persia dan Eropa sejak abad ke-14.

Lalu ada lagi teori bahwa kata China adalah turunan dari bahasa Sanskrit; Cīna, yang disebutkan pada teks-teks Hindu kuno merujuk pada kawasan sekitar Tibet-Burma sekarang.

Teori lain menyebutkan bahwa kata China muncul pertama kali dari kerajaan kuno di kawasan Guizhou yang menyebut diri mereka sendiri “Zina”.

Yang jelas seperti yang sudah disebutkan tadi. Tidak ada yang tahu pasti, dari mana kata China ini berasal.

Masalahnya, ketidakjelasan ini menyebalkan. Khususnya ketika kita bicara tentang isu sensitif sekarang.

Kata China bisa digunakan untuk mendeskripsikan etnis, atau negara, atau kultur kebudayaan, dan bisa juga status kewarganegaraan.

Contohnya, penduduk provinsi Xinjiang adalah warga negara China, tapi mereka bukan etnis China.

Atau di Taiwan, mereka mungkin adalah etnis China, tapi tidak merasa sebagai bagian dari warga negara China.

Dan sekali lagi, orang China tidak pernah menyebut mereka sendiri “China” atau “Chinese” dalam bahasa China sendiri.

Jadi, kamu anti Cina? Cina yang mana? Yang keramik?

Kembali ke Masa Pra-Literasi

7 Desember 2016 pukul 08.43 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Jumat, 2 Desember 2016 kemarin media harian The Guardian menuliskan berita tentang munculnya kekhawatiran para politisi di Jerman terhadap semakin maraknya kemunculan fake news alias berita bohong atau hoax. Kekhawatiran ini terutama disebabkan penyebaran berita-berita bohong tersebut diyakini akan berdampak sangat negatif menjelang pemilihan umum di Jerman yang akan dilaksanakan beberapa bulan ke depan.

Di antara berita-berita terbebut di antaranya adalah rumor bahwa Angela Merkel, Kanselir German saat ini, adalah anak dari Hitler. Atau bahwa dia adalah mantan anggota agen rahasia Jerman Timur.

Salah satu contoh lain berita bohong yang dampaknya sangat luas dan berbahaya di Jerman adalah kabar tentang adanya pemerkosaan anak gadis keturunan Rusia usia 13 tahun oleh beberapa orang pengungsi asal timur tengah. Menurut The Guardian, berita tersebut menyebar sejak awal tahun ini bahkan di kalangan media-media besar di Jerman dan Rusia. Akibatnya, muncul banyak aksi demo dan anti Islam di kedua negara. Bahkan sempat membuat hubungan Jerman dan Rusia memanas karena para politikus kedua negara tersebut menjadi saling menuduh.

Padahal, berita tersebut sudah terbukti hoax. Dicurigai, berita bohong ini dibuat oleh intelijen Rusia sendiri untuk menyerang Merkel yang selama ini dinilai memang pro pengungsi. Merkel sendiri tidak disukai Rusia karena dia ada di posisi yang berseberangan dengan Putin pada konflik di Ukraina.

Di Amerika Serikat juga terjadi hal yang sama. Penyebaran berita bohong diyakini berperan besar terhadap kemenangan Donald Trump pada pemilu presiden tahun ini.

Di Indonesia? Malah sudah lebih dulu kita. Mulai dari isu agama dan ras para calon presiden pada pemilu 2014 lalu. Hingga kabar gempa di beberapa tempat di pulau Jawa yang konon sudah bisa diprediksi jauh-jauh hari.
Kekhawatiran terhadap penyebaran berita bohong yang semakin tidak terkendali ini muncul di mana-mana di hampir semua negara. Politisi, jurnalis, akademisi, semuanya merasa ada ancaman besar yang akan muncul jika masalah ini tidak teratasi.

Kemunculan flatform media sosial semacam Facebook dan Twitter diyakini menjadi penyebab utama dari masalah ini. Media sosial membuat kita kembali ke budaya lisan dan meninggalkan kultur baca tulis yang seharusnya lebih maju.

 

orality-and-literacy-by-walter-j-ong
Walter J. Ong, profesor literatur dan budaya yang juga presiden dari the Modern Language Association dalam bukunya Orality and Literacy membagi perkembangan budaya dan kesadaran masyarakat dalam dua tahapan besar. Budaya lisan, dan budaya tulisan. Menurut Ong, berkembangnya kebiasaan baca tulis membuat perkembangan pola pemikiran manusia/masyarakat menjadi berbeda dan mungkin, juga menjadi lebih baik.

Menurut Ong, tulisan bukan hanya sekedar perpanjangan medium dari lisan. Kebiasaan menulis dan membaca juga mengubah cara berpikir manusia dibanding dengan ketika mereka mempraktekkan budaya lisan. Perbedaan paling mendasar antara budaya lisan dan budaya tulisan adalah; pada budaya lisan hampir tidak ada cara untuk melakukan cek dan ricek.

Sebelum perkembangan tulisan, informasi hanya dapat berpindah dari satu orang ke orang lainnya dalam bentuk dialog langsung. Ketika informasi tersebut terlupakan, maka ia akan hilang selamanya. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan bentuk informasi dan ide yang ingin disampaikan harus dalam bentuk yang gampang diingat, dan gampang diulang-ulang (dengan kata lain; viral). Prasyarat informasi yang harus sederhana, gampang diingat dan gampang diulang pada budaya lisan ini membuat ide-ide kompleks dan abstrak sulit berkembang. Kultur lisan memunculkan tokoh-tokoh sumber informasi yang bisa menyederhanakan pesan.

Dan di sinilah anomali muncul. Keberadaan sosial media membuat kita kembali ke kultur lisan, tapi dalam bentuk tulisan. Facebook, twitter, Instagram, Snapchat, Grup Watsapp dan sejenisnya menempatkan prioritas informasi yang paling mungkin menyebar adalah yang ringkas, mudah diingat dan mudah disampaikan ulang. Entah dalam bentuk 140 karakter twitter, satu dua paragraf status facebook, atau yang gampang disebarkan dengan klik share di grup-grup whatsapp. Sementara ide-ide rumit, panjang, penuh referensi akan ditinggalkan dan jauh dari popularitas. Thus, senjakala blogger.

Celakanya, kultur lisan yang berkembang melalui tulisan di social media ini juga membawa efek yang sama. Miskin kemampuan cek dan ricek. Dan akibatnya, masifnya penyebaran berita bohong.

Sekarang semuanya kembali ke kita semua. Ingin jadi apa. Kembali ke kultur lisan yang mengagungkan simplisitas dan repetisi informasi, atau mencoba mempersulit diri sendiri dengan belajar cek dan ricek sebelum menerima dan menyampaikan kembali informasi.

Jangan Menerapkan Toleransi Kepada Mereka Yang Tidak Toleran

7 Desember 2016 pukul 08.25 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Pernahkah kalian, sebagai seseorang yang berpikiran terbuka, toleran, atau sebut saja, liberal, mengalami dilema ketika menghadapi orang lain atau aktivitas yang tidak toleran. Kalau dibiarkan, tidak mengenakkan. Kalau dicegah, kita justru menjadi pihak yang dituduh intoleran.

Misalnya, demokrasi menyatakan semua pihak, pendapat, dan ideologi berhak hidup dan berkembang. Iklim demokrasi ini juga akhirnya membuat ideologi-ideologi yang anti-demokrasi berkembang dan mendapat semakin banyak pengikut.

karl-popper

Terkait kasus ini, almarhum filsuf Karl Popper memerkenalkan istilah “Paradox of Tolerance”. Paradoks Toleransi adalah ketika sikap toleran yang berlebihan, justru akan mematikan toleransi itu sendiri.

Ketika jangkauan toleransi merangkul bahkan hingga kepada mereka yang tidak toleran, kita justru akan kesulitan melindungi kultur dan sistem masyarakat yang toleran. Sikap toleran akan dihancurkan oleh mereka yang tidak toleran dan masyarakat tersebut, saking tolerannya, justru menoleransi kehancuran tersebut.

Bingung? Namanya juga paradoks.

Intinya, menurut Karl, jika masyarakat terus toleran terhadap mereka yang tidak toleran, mereka ini akan semakin berkembang. Memanfaatkan sifat toleran publik dan akhirnya, menang. Mengubah masyarakat toleran menjadi masyarakan intoleran justru karena masyarakat tersebut terlalu toleran.

Tentu saja tidak disarankan untuk menekan mereka yang intoleran tanpa kecuali. Yang diperlukan adalah argumen rasional dan kemampuan publik untuk terus mengawasi perkembangan ide-ide intoleransi tersebut.

Tapi Karl juga mengatakatan masyarakat berhak untuk menggunakan tekanan bahkan dengan power hingga batasan tertentu ketika pelaku intoleransi ini tidak bersedia untuk beradu argumen dengan cara beradab, atau ketika mereka menolak dan menyalahkan semua argumen yang berbeda, atau ketika mereka melarang para pengikut ide-idenya untuk mendengarkan argumen lain dengan tuduhan bid’ah, haram, antek asing, dan sejenisnya, atau ketika mereka dan pengikutnya mulai menjawab argumen dengan tinju, atau senjata.

Untuk itu, ketika kasus di atas terjadi, atas nama toleransi, publik berhak untuk tidak menoleransi aksi tidak toleran tersebut. Masyarakat harus menyatakan setiap gerakan yang mencoba membenarkan dan menyebarkan ajaran intoleransi adalah pelanggaran hukum. Pelaku intoleransi harus diperlakukan sama dengan kriminal lainnya. Seperti mereka yang membunuh, mencuri, pelaku perdagangan manusia.
Kenapa?

Karena menurut Karl, kita menjalankan toleransi bukan demi toleransi itu sendiri. Kita tidak toleran agar disebut toleran. Tujuan akhir kita mengajarkan toleransi bukan untuk membuat masyarakat toleran. Tujuan akhir toleransi adalah MENCIPTAKAN MASYARAKAT YANG LEBIH BAIK.

Memaksakan sikap toleran hanya demi disebut orang yang penuh toleransi justru membuat paradoks toleransi muncul. Para pelaku intoleransi akan memanfaatkan paradoks ini untuk menyerang ideologi toleransi dan menyebarkan ajaran intoleran mereka.

Jangan naif.

Tolerasi perlu diajarkan, didukung dan disebarkan karena terbukti bagus untuk masyarakat. Intoleransi perlu dicegah karena terbukti membawa keburukan pada masyarakat.

Karena kita mempraktekkan toleransi demi kebaikan masyarakat, maka akan menjadi tidak logis jika kita membiarkan intoleransi berkembang karena sikap itu akan membawa keburukan pada masyarakat.

Singkatnya, jangan terpengaruh pada para pelaku intoleransi yang menyerang kita yang toleran dengan alasan kita harus menoleransi sikap dan aksi intoleran mereka. Mereka salah. Sesalah sikap intoleran mereka.

Itu, kata Karl Popper.

Kenapa Anies

28 Juli 2016 pukul 09.16 | Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar

Presiden Joko Widodo pada Rabu 27 Juli 2016 kemarin kembali menata ulang susunan para menteri pembantunya di Kabinet Kerja.  Reshuffle jilid dua ini memunculkan beberapa nama baru dan menggeser beberapa pejabat lama. Selain kemunculan kembali Sri Mulyani yang menjadi pembicaraan di banyak forum media, salah satu nama yang banyak disebut-sebut adalah Anies Baswedan.

 

Anies Baswedan menjadi salah satu menteri yang tergusur dari posisinya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Keputusan presiden Jokowi menggantikan Anies dengan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Muhadjir Effendi dirasa sebagian pihak cukup mengagetkan. Dalam beberapa hasil survey kepuasan kinerja kabinet, nama Anies kerap ada di posisi teratas, bersama-sama dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan Menteri ESDM Sudirman Said.

 

Lalu kenapa Anies tergusur?

 

Ada beberapa alasan yang mungkin dijadikan dasar oleh presiden Jokowi dalam mengambil keputusannya di reshuffle kali ini.

 

Pertama, alasan politis. Saat ini ada beberapa partai politik baru di gerbong pendukung pemerintahan Jokowi-JK. Sebut saja Golkar, PAN dan (mungkin) PKS. Dukungan ini tidak gratis. Imbalannya seperti biasa adalah pos pimpinan kementerian. Untuk dapat memberikan kursi menteri pada partai pendukung baru ini, presiden mau tidak mau harus mengurangi kursi menteri dari kalangan profesional. Anies Baswedan adalah pilihan paling logis untuk dilengserkan, karena Anies tidak mewakili kalangan apa-apa. Tidak seperti misalnya Yohana Yembisa yang kalau dicopot mungkin akan menimbulkan protes dari kawan-kawan dari Papua.

 

Alasan politis lain adalah kemungkinan masih berambisinya Anies Baswedan untuk mencalonkan diri jadi presiden pada 2019. Seperti diketahui sebelumnya Anies sempat mengikuti konvensi partai Demokrat menjelang pemilihan presiden 2014 lalu. Situs pribadi resminya aniesbaswedan.com malah masih memuat beberapa artikel terkait pencalonannya sebagai bakal calon presiden tersebut. Selain itu, salah satu kebijakan pertama Anies ketika menjabat sebagai mendiknas adalah membuat divisi khusus untuk mempromosikan kegiatan-kegiatannya ke berbagai media cetak dan online nasional. Adanya menteri yang membawa visi misi pribadi tentu ditakutkan akan membuat kerja pemerintahan secara keseluruhan akan terganggu. Bahkan salah satu ucapan pertama Jokowi saat pelantikan menteri hasil reshusffle jilid dua ini adalah “Jangan gaduh. Menteri jangan jalan sendiri-sendiri. Tidak ada yang namanya visi misi mentri. Yang ada itu visi misi presiden.”

 

Alasan berikut yang tidak kalah penting adalah masalah kinerja dan hasil kerja Anies Baswedan sebagai menteri. Terlepas dari posisi Anies yang popular dalam berbagai hasil survey, kinerja Anies disebut-sebut tidak sesuai harapan. Ia dinilai lamban dan terlalu banyak megeluarkan retorika yang sebenarnya tidak penting.

 

Anies terkesan terlalu sibuk mengurusi hal remeh seperti keharusan memutar lagu nasional dan lagu daerah sebelum masuk kelas, mengurusi ospek yang sebenarnya sudah ada aturannya sejak dulu, instruksi orang tua mengantar anak ke sekolah dan semacamnya dibanding membenahi isu-isu besar pendidikan.

 

Isu paling besar adalah kesan ragu-ragunya Anies dalam membabat Kurikulum 2013. Bukannya langsung membatalkan kurikulum kontroversial tersebut, Anies justru terlihat ragu-ragu dan malah sekedar mengganti nama K13 menjadi K13 Revisi. Alasannya bahwa dana anggaran yang keluar dalam persiapan K13 sudah terlalu besar justru menjadi kontradiktif ketika K13 versi revisi juga mengharuskan pemerintah memberikan pelatihan-pelatihan dan pembuatan modul-modul serta buku pegangan baru bagi guru dan sekolah.

 

Contoh lain dari yang mungkin menjadi dasar kementerian pendidikan dinilai lamban dalam bekerja adalah ketika sang menteri di mana-mana memasang statement sekolah tidak boleh menentukan buku pegangan sendiri, siswa jangan disuruh beli buku, sementara itu buku pelajaran resmi dari pemerintah justru belum naik cetak sama sekali. Akhirnya para guru di lapangan menjadi kesulitan memutuskan harus mengajar siswa dengan buku pegangan yang bagaimana.

Belum lagi masalah UN yang masih menjadi kebijakan mercu suar. Tidak terlihat ada perubahan signifikan. Masalah utama UN sebenarnya bukanlah kecurangan guru dan siswa ketika menjalani ujian, tapi praktik tekanan secara halus dari kepala daerah agar hasil UN daerahnya sempurna untuk bisa dijadikan modal kampanye pencitraan politis. Solusi paling tepat dari masalah ini seharusnya adalah pemisahan urusan pendidikan dari kepentingan politik.

Isu lainnya yang tidak disentuh Anies adalah pemborosan (dan kemungkinan penyelewengan) anggaran pendidikan. Masalah ini memang ada di setiap kementerian dan level pemerintahan. Tidak hanya kementrian pendidikan. Tapi karena kementrian pendidikan termasuk yang mendapat anggaran paling besar, maka pemborosannya juga terkesan sangat masif.

Lalu terakhir masalah sertifikasi dan kerepotan guru-guru terkait tetek bengek administrasi birokrasi kepegawaian. Keharusan guru melakukan beragam hal yang tidak terkait dengan kewajibannya mengajar justru mengganggu tujuan dasar pendidikan itu sendiri.

Hal-hal di atas menjadi PR besar yang seharusnya bisa diselesaikan secepatnya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Jika memang 20 bulan terakhir Anies Baswedan belum bisa membenahinya secara keseluruhan, setidaknya ia sudah membuat landasan yang cukup kokoh untuk penerusnya untuk bisa bekerja dengan cepat dan taktis. Karena pendidikan di Indonesia memang bidang yang luar biasa luas untuk diurusi. Karena itu, untuk menatanya juga diperlukan sosok yang tidak biasa.

Remember the Name: Faraaz Hossain

5 Juli 2016 pukul 23.32 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

faraz

 

Namanya Faraaz Hossain. Usianya 19 tahun. Faraaz adalah mahasiswa muslim asal Emory University, Atlanta yang sedang ada di Dhaka, Bangladesh untuk mengikuti program internship bersama teman-temannya.

Hari itu, 27 Ramadan 1437 H, Faraaz bersama dua orang temannya bertemu di sebuah kafe. Hari yang sama ketika sekelompok orang bersenjata menyerbu dan menyandera pengunjung kafe tersebut. Faraaz dan 20 orang lainnya tewas dalam penyanderaan ini. Namun Faraaz Hossain bukan sekedar korban terorisme. Karena saat kejadian para teroris ini sebenarnya sudah memperbolehkan Faraaz pergi menjauh dari kafe. Mereka memang hanya mengincar target orang asing non-muslim di kawasan tempat berkumpulnya ekspatriat di Dhaka ini. Faraaz menolak untuk meninggalkan kedua temannya yang memang bukan beragama Islam. “What about them?” katanya.

Akhirnya, Faraaz yang muslim menjadi salah satu korban di peristiwa ini karena ia menolak meninggalkan teman-temannya yang berbeda agama dengannya.

Ada dua pesan yang hadir di sini.
Pertama, pesan dari para teroris pada Faraaz. “Kamu seperti kami. Kamu boleh tetap hidup.”
Kedua, pesan Faraaz pada kepada dunia lewat responnya terhadap pada teroris. “Aku lebih baik mati daripada disamakan dengan kalian.”

Selamat mengakhiri Ramadan.

Kenapa Gay Identik Dengan HIV/AIDS

6 Maret 2016 pukul 20.47 | Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar

Masih rame bicara soal LGBT ya. Ikutan lagi ah.

Warning: beberapa diksi dalam tulisan ini memerlukan parental advisory untuk pembaca di bawah 13 tahun.

Kali ini mau membicarakan spesifik soal klaim bahwa LGBT itu identik dengan penularan HIV/AIDS. Mereka yang anti LGBT percaya bahwa salah satu alasan kenapa prilaku seksual sesama jenis perlu dilarang adalah karena rentan dengan penularan penyakit seksual khususnya HIV/AIDS.

Sementara yang pro-LGBT menolak asumsi tersebut karena menurut mereka pengidap HIV/AIDS justru lebih banyak terdapat pada pasangan straight.

Mana yang benar? Entahlah, saya jujur saja hampir tidak lulus mata kuliah statistik, di S1 maupun di S2. Jadi soal data silakan googling sendiri atau bisa yang lebih mengerti menjelaskan nanti.

Sekarang pertama mari kita bicara soal HIV/AIDS itu sendiri.

Mungkin banyak yang sudah tahu, HIV dan AIDS itu walau sering ditulis bersama-sama, sebenarnya adalah dua hal yang berbeda. Sederhananya, HIV itu nama virusnya, AIDS itu nama penyakitnya. Orang bisa saja sudah memiliki virus HIV di tubuhnya tapi belum menderita AIDS karena satu lain sebab. Karena daya tahan tubuhnya masih kuat, misalnya. Atau karena cepat terdeteksi dan ia segera mendapat perawatan untuk mengontrol dampak virusnya secara efektif.

HIV jadi momok menakutkan karena obatnya belum ditemukan hingga sekarang walaupun ilmu kesehatan sejauh ini terus mencari terobosan-terobosan untuk menyembuhkan penderitanya. Dan seperti yang sudah ditulis di atas, saat ini sudah ditemukan pengobatan guna mengendalikan virus ini secara efektif.

Lalu sejarahnya HIV ini dari mana?

Menurut penelitian ilmiah yang dipercaya, HIV diyakini berasal dari virus yang awalnya ada pada sejenis simpanse afrika.

Kenapa bisa pindah ke manusia?

Belum bisa dipastikan kenapa, namun diperkirakan perpindahan virus dari monyet ke manusia ini terjadi karena perburuan dan kebiasaan menjadikan hewan liar tersebut menjadi santapan. Bushmeat istilahnya. Selain itu, penyebab lain penularan virus cikal bakal HIV ini diduga juga karena belum higenisnya praktik kesehatan di Afrika jaman dulu.

Lalu dari sinilah terjadi penularan lanjutan antara manusia ke manusia lain disertai dengan evolusi dari virus yang sebelumnya dari monyet tersebut menjadi HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

Ada teori konspirasi yang bilang kalau HIV sebenarnya dikembangkan oleh CIA sebagai alat genosida untuk kaum kulit hitam dan gay di Amerika. Teori tersebut sejauh ini masih tidak didukung bukti yang kuat. Penelitian genetika bahkan menunjukkan awal mutasi virus dari monyet ke manusia tersebut kemungkinan besar terjadi sekitar tahun 1910an. Dokumentasi paling awal HIV pada manusia tercatat pada tahun 1959 di negara Kongo. Di Amerika Serikat,penyebaran HIV diteliti secara ilmiah sejak 1981. Di Indonesia sendiri, HIV ditemukan dan mulai diteliti secara keilmuan sejak tahun 1983.

Pertanyaan besarnya sekarang adalah, kenapa HIV/AIDS diidentikkan dengan LGBT?

Sebenarnya asumsi di atas salah. HIV/AIDS tidak identik dengan LGBT. Tapi HIV/AIDS identik dengan dengan PRIA GAY.

Kenapa? Karena sejarahnya memang begitu. HIV/AIDS awalnya memang menular di kalangan komunitas gay. Penyakit ini bahkan pada mulanya disebut GRID (gay-related immune deficiency) sebelum akhirnya menjadi AIDS.

Banyak negara melarang mereka yang gay menjadi donor darah juga karena asumsi tersebut. Walaupun saat ini di beberapa negara larangan tersebut sudah dicabut. Menteri Kesehatan RI tahun 1980an – Dr. Soewandjono Soerjaningrat bahkan pernah menyatakan pencegahan AIDS terbaik adalah tidak ikut-ikutan jadi homoseks.

Jadi ya begitulah. HIV/AIDS identik dengan gay karena sejarahnya.

Lalu sekarang bagaimana? Sekali lagi saya tidak begitu mengerti data statistiknya. Yang jelas penderita HIV/AIDS sekarang sudah menjadi pandemik yang menyebar di berbagai rentang usia, gender, orientasi seksual dan kawasan.

Tapi kenapa masih ada asumsi bahwa gay lebih mudah tertular dan menularkan HIV?

Ada beberapa alasan.

Anal Sex
Penelitiannya memang begitu. Hubungan seks secara anal lebih beresiko menularkan penyakit seksual karena anus tidak punya proteksi terhadap resiko penularan penyakit karena hubungan seksual seperti vagina karena memang fungsi aslinya bukan itu. Selain itu, struktur anus juga menjadikannya rentan sobek/terluka ketika terkena gesekan secara masif. Sementara kita tahu, HIV menular melalui cairan tubuh termasuk darah. Dan sebagaimana kita mahfum, anal seks jadi adalah aktifitas yang lebih sering didapati pada pasangan gay dibandingkan pasangan heteroseksual.

Seks Tanpa Kondom
Pasangan gay (diduga) lebih abai terhadap penggunaan kondom karena ketiadaan resiko kehamilan. Karenanya, resiko penularan penyakit seksual termasuk HIV/AIDS juga menjadi lebih rentan. Misalnya ketika pasangan menyatakan dirinya sehat dan aman dari penyakit seksual, maka yang gay akan lebih gampang percaya dan tidak menggunakan kondom, padahal bisa saja klaim pasangannya tersebut tidak benar. Sementara untuk pasangan heteroseksual, meskipun diyakini sehat dan aman, penggunakan kondom tetap acap ada karena menghindari atau menunda kemungkinan kehamilan.

Gonta-ganti Pasangan
Ini mungkin stereotif (saya, contohnya, tidak seperti itu), tapi laki-laki dianggap lebih mudah gonta-ganti pasangan. Bayangkan pasangan yang terdiri dari 2 orang laki-laki? Maka kemungkinan gonta-gonta pasangannya juga menjad dua kali lipat. Dus, resiko penyebaran penyakit juga menjadi berlipat.

Sejarah
Seperti paparan sebelumnya di atas, HIV menyebar secara masif lebih dulu di komunitas gay jauh sebelum penelitian dan penanganan secara medisnya dilakukan. Akibatnya sedari awal, resiko penyebaran di kalangan pasangan gay lebih tinggi karena populasi sumbernya juga telah lebih dulu banyak. Ibarat tanaman, bibitnya sudah tertanam di situ duluan, jadi sudah berakar lama. Memang sekarang menyebar ke mana-mana, tapi akarnya ya di situ.

Nah, sudah ya. Sekilas tentang kenapa HIV/AIDS diidentikkan dengan LGBT (khususnya gay) sudah bisa sedkit banyak difahami. Tidak ada salahnya mengetahui sesuatu sebelum memutuskan pendapat pribadi terkait hal-hal yang menjadi kontroversi.

Salah dan khilaf mohon maaf, wabilllahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat Kepada Walikota Terpilih

6 Maret 2016 pukul 20.41 | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

Kota tetangganya Banjarmasin baru saja mendapat walikota baru hasil pilkada kemarin. Alhamdulillah, seperti biasa pada umumnya di Kalimantan Selatan prosesi pemilihan mulai dari pencalonan, kampanye hingga pelantikan tidak ada masalah yang berarti.

 

Tapi setelah dilantik justru ada satu hal yang menganggu benak.

Di mana-mana mulai dari pusat kota hingga sudut-sudutnya, betebaran spanduk, baliho, poster ucapan selamat kepada walikota baru yang hampir semuanya berasal dari pengusaha, bisnis dan organisasi-organisasi/LSM/paguyupan something-something.

 

Ada yang salah kah?

Semoga tidak. Tapi ini tentang politik. Dan di politik tidak ada makan siang gratis. Pemasangan baliho dan sejenisnya itu tidak murah. Biaya sewa reklame di tengah jalan raya saja bisa mencapai belasan juta.

 

Lalu buat apa?

Ucapan selamat oleh pengusaha/bisnis/organisasi itu bukan sekedar doa. Itu pengingat. Towelan-towelan halus kepada yang dituju. Hei, hei, jangan lupa sama saya ya. Situ sudah menang, sudah jadi walikota, jangan lupa kemaren pas masih mau calon janjinya apa. Jangan lupa kemaren sebelum maju sowannya juga sekalian ada yang diminta. Begitu.

 

Belum lagi sepertinya kewajiban instansi pemerintah setempat memasang spanduk serupa di depan kantor mereka masing-masing.  Yang memprihatinkan, spanduk-spanduk ini juga dipajang di depan sekolah-sekolah dasar. Mengerti apa anak-anak SD itu tentang politik? Selama ini institusi kesehatan dan pendidikan masih tidak terjamah aksi politik pencitraan tapi sekarang semuanya berubah.

 

Tapi semoga saja ini sekedar kekhawatiran belaka. Semoga pemimpin yang terpilih setidaknya tidak lupa klien utama mereka yang mana. Bukan yang ketika kampanye jadi pemodal penggerak massa. Klien utama mereka adalah rakyat yang berhak untuk bahagia.

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.