Kenapa Anies

28 Juli 2016 pukul 09.16 | Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar

Presiden Joko Widodo pada Rabu 27 Juli 2016 kemarin kembali menata ulang susunan para menteri pembantunya di Kabinet Kerja.  Reshuffle jilid dua ini memunculkan beberapa nama baru dan menggeser beberapa pejabat lama. Selain kemunculan kembali Sri Mulyani yang menjadi pembicaraan di banyak forum media, salah satu nama yang banyak disebut-sebut adalah Anies Baswedan.

 

Anies Baswedan menjadi salah satu menteri yang tergusur dari posisinya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Keputusan presiden Jokowi menggantikan Anies dengan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Muhadjir Effendi dirasa sebagian pihak cukup mengagetkan. Dalam beberapa hasil survey kepuasan kinerja kabinet, nama Anies kerap ada di posisi teratas, bersama-sama dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan Menteri ESDM Sudirman Said.

 

Lalu kenapa Anies tergusur?

 

Ada beberapa alasan yang mungkin dijadikan dasar oleh presiden Jokowi dalam mengambil keputusannya di reshuffle kali ini.

 

Pertama, alasan politis. Saat ini ada beberapa partai politik baru di gerbong pendukung pemerintahan Jokowi-JK. Sebut saja Golkar, PAN dan (mungkin) PKS. Dukungan ini tidak gratis. Imbalannya seperti biasa adalah pos pimpinan kementerian. Untuk dapat memberikan kursi menteri pada partai pendukung baru ini, presiden mau tidak mau harus mengurangi kursi menteri dari kalangan profesional. Anies Baswedan adalah pilihan paling logis untuk dilengserkan, karena Anies tidak mewakili kalangan apa-apa. Tidak seperti misalnya Yohana Yembisa yang kalau dicopot mungkin akan menimbulkan protes dari kawan-kawan dari Papua.

 

Alasan politis lain adalah kemungkinan masih berambisinya Anies Baswedan untuk mencalonkan diri jadi presiden pada 2019. Seperti diketahui sebelumnya Anies sempat mengikuti konvensi partai Demokrat menjelang pemilihan presiden 2014 lalu. Situs pribadi resminya aniesbaswedan.com malah masih memuat beberapa artikel terkait pencalonannya sebagai bakal calon presiden tersebut. Selain itu, salah satu kebijakan pertama Anies ketika menjabat sebagai mendiknas adalah membuat divisi khusus untuk mempromosikan kegiatan-kegiatannya ke berbagai media cetak dan online nasional. Adanya menteri yang membawa visi misi pribadi tentu ditakutkan akan membuat kerja pemerintahan secara keseluruhan akan terganggu. Bahkan salah satu ucapan pertama Jokowi saat pelantikan menteri hasil reshusffle jilid dua ini adalah “Jangan gaduh. Menteri jangan jalan sendiri-sendiri. Tidak ada yang namanya visi misi mentri. Yang ada itu visi misi presiden.”

 

Alasan berikut yang tidak kalah penting adalah masalah kinerja dan hasil kerja Anies Baswedan sebagai menteri. Terlepas dari posisi Anies yang popular dalam berbagai hasil survey, kinerja Anies disebut-sebut tidak sesuai harapan. Ia dinilai lamban dan terlalu banyak megeluarkan retorika yang sebenarnya tidak penting.

 

Anies terkesan terlalu sibuk mengurusi hal remeh seperti keharusan memutar lagu nasional dan lagu daerah sebelum masuk kelas, mengurusi ospek yang sebenarnya sudah ada aturannya sejak dulu, instruksi orang tua mengantar anak ke sekolah dan semacamnya dibanding membenahi isu-isu besar pendidikan.

 

Isu paling besar adalah kesan ragu-ragunya Anies dalam membabat Kurikulum 2013. Bukannya langsung membatalkan kurikulum kontroversial tersebut, Anies justru terlihat ragu-ragu dan malah sekedar mengganti nama K13 menjadi K13 Revisi. Alasannya bahwa dana anggaran yang keluar dalam persiapan K13 sudah terlalu besar justru menjadi kontradiktif ketika K13 versi revisi juga mengharuskan pemerintah memberikan pelatihan-pelatihan dan pembuatan modul-modul serta buku pegangan baru bagi guru dan sekolah.

 

Contoh lain dari yang mungkin menjadi dasar kementerian pendidikan dinilai lamban dalam bekerja adalah ketika sang menteri di mana-mana memasang statement sekolah tidak boleh menentukan buku pegangan sendiri, siswa jangan disuruh beli buku, sementara itu buku pelajaran resmi dari pemerintah justru belum naik cetak sama sekali. Akhirnya para guru di lapangan menjadi kesulitan memutuskan harus mengajar siswa dengan buku pegangan yang bagaimana.

Belum lagi masalah UN yang masih menjadi kebijakan mercu suar. Tidak terlihat ada perubahan signifikan. Masalah utama UN sebenarnya bukanlah kecurangan guru dan siswa ketika menjalani ujian, tapi praktik tekanan secara halus dari kepala daerah agar hasil UN daerahnya sempurna untuk bisa dijadikan modal kampanye pencitraan politis. Solusi paling tepat dari masalah ini seharusnya adalah pemisahan urusan pendidikan dari kepentingan politik.

Isu lainnya yang tidak disentuh Anies adalah pemborosan (dan kemungkinan penyelewengan) anggaran pendidikan. Masalah ini memang ada di setiap kementerian dan level pemerintahan. Tidak hanya kementrian pendidikan. Tapi karena kementrian pendidikan termasuk yang mendapat anggaran paling besar, maka pemborosannya juga terkesan sangat masif.

Lalu terakhir masalah sertifikasi dan kerepotan guru-guru terkait tetek bengek administrasi birokrasi kepegawaian. Keharusan guru melakukan beragam hal yang tidak terkait dengan kewajibannya mengajar justru mengganggu tujuan dasar pendidikan itu sendiri.

Hal-hal di atas menjadi PR besar yang seharusnya bisa diselesaikan secepatnya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Jika memang 20 bulan terakhir Anies Baswedan belum bisa membenahinya secara keseluruhan, setidaknya ia sudah membuat landasan yang cukup kokoh untuk penerusnya untuk bisa bekerja dengan cepat dan taktis. Karena pendidikan di Indonesia memang bidang yang luar biasa luas untuk diurusi. Karena itu, untuk menatanya juga diperlukan sosok yang tidak biasa.

Iklan

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Analisis yang tajam, dingin, dan tidak patut diduga didasari tendensi apa-apa. Karena ditulis oleh orang “dalam” di dunia pendidikan, validitasnya juga sudah shahih mendekati mutawatir😀
    Nanti mau ta’ kasih anakku yang tampaknya begitu terpukul, menteri idolanya kena gusur hahaha.. Atau gak usah, ya? Kadang-kadang “menguliti” seorang idola, bisa berefek kurang baik. Iya gak, Pak Guru?

    • Ahahaha…. Saya juga fansnya AW sebenarnya bang. Tapi ya karena merasakan langsung gimana perkembangan di dalam ya ada sedikit kurang puas gitu. Mungkin karena ekspektasi yang berlebihan juga kali ya.

  2. Aku merasa tulisan ini benar adanya. AW memang terdengar dengan program-programnya yang tersebar di social media, namun aku merasa dampaknya sendiri tidak begitu masif. Dan entah kenapa aku merasa alasan politisi ini yang paling kuat. :))

  3. […] A Journal of A Not-Superman Human […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: