Kenapa Gay Identik Dengan HIV/AIDS

6 Maret 2016 pukul 20.47 | Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar

Masih rame bicara soal LGBT ya. Ikutan lagi ah.

Warning: beberapa diksi dalam tulisan ini memerlukan parental advisory untuk pembaca di bawah 13 tahun.

Kali ini mau membicarakan spesifik soal klaim bahwa LGBT itu identik dengan penularan HIV/AIDS. Mereka yang anti LGBT percaya bahwa salah satu alasan kenapa prilaku seksual sesama jenis perlu dilarang adalah karena rentan dengan penularan penyakit seksual khususnya HIV/AIDS.

Sementara yang pro-LGBT menolak asumsi tersebut karena menurut mereka pengidap HIV/AIDS justru lebih banyak terdapat pada pasangan straight.

Mana yang benar? Entahlah, saya jujur saja hampir tidak lulus mata kuliah statistik, di S1 maupun di S2. Jadi soal data silakan googling sendiri atau bisa yang lebih mengerti menjelaskan nanti.

Sekarang pertama mari kita bicara soal HIV/AIDS itu sendiri.

Mungkin banyak yang sudah tahu, HIV dan AIDS itu walau sering ditulis bersama-sama, sebenarnya adalah dua hal yang berbeda. Sederhananya, HIV itu nama virusnya, AIDS itu nama penyakitnya. Orang bisa saja sudah memiliki virus HIV di tubuhnya tapi belum menderita AIDS karena satu lain sebab. Karena daya tahan tubuhnya masih kuat, misalnya. Atau karena cepat terdeteksi dan ia segera mendapat perawatan untuk mengontrol dampak virusnya secara efektif.

HIV jadi momok menakutkan karena obatnya belum ditemukan hingga sekarang walaupun ilmu kesehatan sejauh ini terus mencari terobosan-terobosan untuk menyembuhkan penderitanya. Dan seperti yang sudah ditulis di atas, saat ini sudah ditemukan pengobatan guna mengendalikan virus ini secara efektif.

Lalu sejarahnya HIV ini dari mana?

Menurut penelitian ilmiah yang dipercaya, HIV diyakini berasal dari virus yang awalnya ada pada sejenis simpanse afrika.

Kenapa bisa pindah ke manusia?

Belum bisa dipastikan kenapa, namun diperkirakan perpindahan virus dari monyet ke manusia ini terjadi karena perburuan dan kebiasaan menjadikan hewan liar tersebut menjadi santapan. Bushmeat istilahnya. Selain itu, penyebab lain penularan virus cikal bakal HIV ini diduga juga karena belum higenisnya praktik kesehatan di Afrika jaman dulu.

Lalu dari sinilah terjadi penularan lanjutan antara manusia ke manusia lain disertai dengan evolusi dari virus yang sebelumnya dari monyet tersebut menjadi HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

Ada teori konspirasi yang bilang kalau HIV sebenarnya dikembangkan oleh CIA sebagai alat genosida untuk kaum kulit hitam dan gay di Amerika. Teori tersebut sejauh ini masih tidak didukung bukti yang kuat. Penelitian genetika bahkan menunjukkan awal mutasi virus dari monyet ke manusia tersebut kemungkinan besar terjadi sekitar tahun 1910an. Dokumentasi paling awal HIV pada manusia tercatat pada tahun 1959 di negara Kongo. Di Amerika Serikat,penyebaran HIV diteliti secara ilmiah sejak 1981. Di Indonesia sendiri, HIV ditemukan dan mulai diteliti secara keilmuan sejak tahun 1983.

Pertanyaan besarnya sekarang adalah, kenapa HIV/AIDS diidentikkan dengan LGBT?

Sebenarnya asumsi di atas salah. HIV/AIDS tidak identik dengan LGBT. Tapi HIV/AIDS identik dengan dengan PRIA GAY.

Kenapa? Karena sejarahnya memang begitu. HIV/AIDS awalnya memang menular di kalangan komunitas gay. Penyakit ini bahkan pada mulanya disebut GRID (gay-related immune deficiency) sebelum akhirnya menjadi AIDS.

Banyak negara melarang mereka yang gay menjadi donor darah juga karena asumsi tersebut. Walaupun saat ini di beberapa negara larangan tersebut sudah dicabut. Menteri Kesehatan RI tahun 1980an – Dr. Soewandjono Soerjaningrat bahkan pernah menyatakan pencegahan AIDS terbaik adalah tidak ikut-ikutan jadi homoseks.

Jadi ya begitulah. HIV/AIDS identik dengan gay karena sejarahnya.

Lalu sekarang bagaimana? Sekali lagi saya tidak begitu mengerti data statistiknya. Yang jelas penderita HIV/AIDS sekarang sudah menjadi pandemik yang menyebar di berbagai rentang usia, gender, orientasi seksual dan kawasan.

Tapi kenapa masih ada asumsi bahwa gay lebih mudah tertular dan menularkan HIV?

Ada beberapa alasan.

Anal Sex
Penelitiannya memang begitu. Hubungan seks secara anal lebih beresiko menularkan penyakit seksual karena anus tidak punya proteksi terhadap resiko penularan penyakit karena hubungan seksual seperti vagina karena memang fungsi aslinya bukan itu. Selain itu, struktur anus juga menjadikannya rentan sobek/terluka ketika terkena gesekan secara masif. Sementara kita tahu, HIV menular melalui cairan tubuh termasuk darah. Dan sebagaimana kita mahfum, anal seks jadi adalah aktifitas yang lebih sering didapati pada pasangan gay dibandingkan pasangan heteroseksual.

Seks Tanpa Kondom
Pasangan gay (diduga) lebih abai terhadap penggunaan kondom karena ketiadaan resiko kehamilan. Karenanya, resiko penularan penyakit seksual termasuk HIV/AIDS juga menjadi lebih rentan. Misalnya ketika pasangan menyatakan dirinya sehat dan aman dari penyakit seksual, maka yang gay akan lebih gampang percaya dan tidak menggunakan kondom, padahal bisa saja klaim pasangannya tersebut tidak benar. Sementara untuk pasangan heteroseksual, meskipun diyakini sehat dan aman, penggunakan kondom tetap acap ada karena menghindari atau menunda kemungkinan kehamilan.

Gonta-ganti Pasangan
Ini mungkin stereotif (saya, contohnya, tidak seperti itu), tapi laki-laki dianggap lebih mudah gonta-ganti pasangan. Bayangkan pasangan yang terdiri dari 2 orang laki-laki? Maka kemungkinan gonta-gonta pasangannya juga menjad dua kali lipat. Dus, resiko penyebaran penyakit juga menjadi berlipat.

Sejarah
Seperti paparan sebelumnya di atas, HIV menyebar secara masif lebih dulu di komunitas gay jauh sebelum penelitian dan penanganan secara medisnya dilakukan. Akibatnya sedari awal, resiko penyebaran di kalangan pasangan gay lebih tinggi karena populasi sumbernya juga telah lebih dulu banyak. Ibarat tanaman, bibitnya sudah tertanam di situ duluan, jadi sudah berakar lama. Memang sekarang menyebar ke mana-mana, tapi akarnya ya di situ.

Nah, sudah ya. Sekilas tentang kenapa HIV/AIDS diidentikkan dengan LGBT (khususnya gay) sudah bisa sedkit banyak difahami. Tidak ada salahnya mengetahui sesuatu sebelum memutuskan pendapat pribadi terkait hal-hal yang menjadi kontroversi.

Salah dan khilaf mohon maaf, wabilllahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Iklan

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Tumben nulis postingan yang cukup mencerahkan. Eh tumben juga udah ngeblog lagi…

  2. Waaaah baru tahu bahwa blog ini hidup lagi.

  3. good news

  4. […] A Journal of A Not-Superman Human […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: