Banjarbaru yang Beranjak Remaja

23 Juli 2014 pukul 21.07 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Banjarbaru adalah kota favorit ke-3 saya. Setelah London dan Yogyakarta. Bahkan melihat perkembangan Yogya yang setiap tahun semakin macet dan kehilangan identitas budayanya, ada kemungkinan dalam waktu dekat Banjarbaru menjadi kota favorit saya yang ke-2. Berdoa saja.

Namun sama dengan Yogya, sekian tahun ini, Banjarbaru juga berkembang pesat. Kota ini menjadi pilihan untuk perkantoran, pemukiman dan beragam jenis tempat hiburan. Pembukaan dan perluasan lahan di mana-mana.

Saya masih ingat, sekitar 10 tahun yang lalu ikut kegiatan Lintas Alam di kota ini. Waktu itu kawasan yang padat penduduk hanya ada dalam radius sekitar 5-6 kilometer dari jalan raya Ahmad Yani. Sisanya benar-benar cocok untuk lintas alam. Ada hutan di belakang kampus Unlam, lalu menyeberangi bebatuan sungai Kemuning yang airnya cukup dalam, hingga menerabas ilalang setinggi leher hingga malam.

Tapi sekarang, Banjarbaru sudah beranjak dewasa. Ia seperti gadis yang mulai menarik perhatian semua pria. Mulai dari pemerintah provinsi yang memindahkan ke sini pusat perkantorannya, developer perumahan yang bahkan berani membuat villa-villa, perusahaan tingkat nasional dan multi-nasional yang membuka cabangnya, hingga tempat tongkrongan anak-anak muda dari kota dan kabupaten tetangga. Semua ada di Banjarbaru kita.

Secara infrastruktur, Banjarbaru juga tidak buruk. Tata kelola kotanya cukup baik. Rasa memiliki warganya juga sangat terjaga. Dan, kota ini satu-satunya kota di Kalimantan Selatan yang pemerintah daerahnya mengaspal jalan bahkan hingga ke dalam gang-gang kecil tak bernama.

Namun di sini masalahnya.

Berkembangnya Banjarbaru berbanding lurus dengan semakin banyaknya pemukim yang berdatangan. Sebagian besar pendatang ini baru beberapa tahun ada di sini. Mungkin banyak yang tidak mengetahui kultur dan kebiasaan asli.

Mulusnya jalan-jalan di Banjarbaru selain membawa kemudahan transportasi, ternyata juga membawa ekses negatif yaitu kebiasaan kebut-kebutan sebagian pengguna jalannya. Hal ini diperparah dengan kerap mereka yang memacu motornya di atas batas kecepatannya ini juga memakai knalpot-knalpot modifikasi yang bising setengah mati.

Saya, kebetulan tinggal di Banjarbaru dengan posisi rumah persis di samping jalan yang lumayan besar dan menuju salah satu kawasan pemukiman padat baru. Di sini, setiap 10 menit sekali motor-motor, dan bahkan mobil, yang melaju kencang dan bising itu lewat. 24 jam tanpa henti.

Seandainya ini bukan Banjarbaru. Saya menjamin, mereka yang ngebut dan berisik itu tidak akan bertahan setengah hari. Sebut saja seandainya pengendara berisik ini lewatnya di kawasan Kelayan Banjarmasin, atau sekitaran Kayu Tangi. Habis mereka akan dipukuli oleh warga setempat yang emosi.

Saya tidak ingin ini terjadi di Banjarbaru. Kota ini kota yang ramah. Menerima pendatang dan penduduk aslinya mudah berafiliasi. Tapi kesabaran tentu ada batasnya.

Sempat ada pembicaraan tingkat RT untuk membuat semacam polisi tidur di jalan-jalan yang kerap dilewati pembalap amatir ini. Tapi usul ini dipending, karena polisi tidur justru akan menyulitkan pengguna jalan lain yang berhati-hati. Janganlah karena perilaku sebagian oknum, kita menyusahkan seluruh negeri. Itulah, contoh betapa warga Banjarbaru baik hati.

Lalu kalau polisi tidur tidak jadi, bagaimana?

Tentu saja, kita perlu berharap pada polisi beneran.

Sepengetahuan saya, Undang-undang Lalu Lintas sudah memuat pasal yang mengatur tingkat kebisingan sebuah kendaraan bermotor. Hal ini seharusnya bisa menjadi pegangan aparat khususnya di jajaran Satlantas Polresta Banjarbaru untuk mengambil tindakan.

Bahwa dengan kota yang berkembang pesat seperti Banjarbaru, maka akan ada kendala seperti kekurangan aparat polisi, tentu bisa dimengerti. Selanjutnya maka yang perlu dicari adalah solusi.

Mungkin Satlantas Polresta Banjarbaru bisa membuka semacam hotline publik untuk pengaduan warga terkait masalah seperti ini. Setahu saya, di Kabupaten Banjar sudah ada yang begini. Di setiap kelurahan ada nomer telepon aparat yang menjadi penanggung jawab dan bisa dihubungi.y

Mungkin juga bisa dibuka pos-pos jaga baru di kawasan pemukiman yang memang terus berkembang. Tidak hanya terfokus pada jalan raya utama atau lapangan Murjani.

Mungkin, juga bisa mengintensifkan patroli.

Saya harap ini bisa diterapkan secepatnya. Sebelum warga main hakim sendiri…

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: