Survei, Internet dan Kita

20 Juni 2014 pukul 13.39 | Ditulis dalam Uncategorized | 5 Komentar

Membaca lingkar pertemanan di media sosial semacam Facebook atau Twitter akhir-akhir ini memang memerlukan level kesabaran dan kekuatan mental yang luar biasa. Indonesia sedang terbelah dua. Pemilihan presiden yang hanya menghadirkan dua pasang calon penyebabnya.

Tidak adanya calon incumbent dalam pemilu kali ini juga membuatnya jadi luar biasa. Isu klasik “keberhasilan pembangunan sebelumnya” vs “kita perlu perubahan” menjadi sulit diangkat ke permukaan sebagai bahan kampanye. Kedua calon dan pendukungnya sama-sama menawarkan merek baru, sama-sama membawa visi misi yang penuh janji.

Seiring dengan semakin dekatnya waktu pemilihan, beragam isu mulau bergentayangan. Mulai dari keunggulan masing-masing calon, janji apa yang akan dilakukan jika terpilih, latar belakang calon, soal agama, soal keluarga, hasil beragam survei hingga isu-isu tidak jelas yang kalau dipikirkan seksama sebenarnya konyol luar biasa.

Kali ini mari berbicara tentang hasil survei.

Dikutip dari laman Wikipedianyanya Lingkaran Survei Indonesia – LSI Denny J. A. disebutkan survei dan riset sosial menjadi instrumen penting pertarungan politik. Partai politik, kandidat presiden, kandidat kepala daerah dan elit politik lainnya semakin menyadari akan pentingnya survei pemilih. Lewat survei, posisi, kekuatan dan kelemahan partai atau kandidat bisa diketahui sedini mungkin. Strategi politik bisa dilakukan secara efektif dan efisien karena memperhatikan data mengenai apa yang dibutuhkan oleh pemilih (Wikipedia, 2014).

Kenapa membicarakan hasil survei ini dirasa perlu? Karena hasil survei bisa menimbulkan opini publik. Bisa mengubah pendapat dan mempengaruhi hasil pemilihan.

Terakhir Anies Baswedan, juru bicara salah satu pasangan calon mengklaim bahwa dari hasil survei 9 Lembaga Survei, 7 lembaga survey secara konsisten mengunggulkan pasangan yang didukungnya. Sementara dua lembaga survei mengunggulkan pasangan lainnya.

Paparan Anies ini menyusul klaim dari pihak lawannya yang memberitakan hasil satu lembaga survei yang menyebutkan pasangan tersebut mulai unggul setelah sebelumnya selalu ada diurutan bawah.

Kenapa hasil survei bisa berbeda? Karena yang melakukan survei juga berbeda. Mereka bisa punya perbedaan metode, beda demografis sasaran survei, dan tentu saja, beda penyandang dana survei.

Karenanya, survei mungkin memang penting bagi stakeholder politik. Bagi para politisi dan yang berkepentingan langsung dengan pemilih. Tapi bagi para pemilih sendiri, bagi penduduk, masyarakat awam, bagi kita, survei sebenarnya TIDAK PENTING.

Mengambil keputusan berdasarkan hasil survei adalah hal yang berbahaya jika tidak diimbangi dengan data tambahan lainnya. Sama seperti mempercayai media tanpa tahu siapa di belakang media atau faktor lainnya.

Jadi untuk kita, masyarakat pemilih, sekali lagi, HASIL SURVEI TIDAK PENTING. Putuskan pilihan berdasarkan pertimbangan rasional, apa yang sudah dilakukan calon, rekam jejaknya, visibilitas janji-janjinya, para pendukungnya, atau alasan lainnya yang menurut level otak sampeyan memang bisa dibenarkan.

Selain survei, hal lain yang bisa menipu penilaian adalah lingkaran pertemanan. Jejaring sosial memang sering dianggap sebagai miniatur realitas. Bahwa segala macam jenis manusia ada di sana, sama seperti lingkungan pergaulan kita pada umumnya. Jadi apa yang terjadi di social media, adalah cerminan dari keadaan di luar sana sebenarnya.

Benarkah?

Tidak. Ada beberapa perbedaan yang membuat jejaring sosial tidak bisa dijadikan dasar utama dalam pertimbangan mengambil keputusan di dunia nyata.

Mari kita dalami sejenak asumsi tersebut. Pertama, demografi internet itu tidak menggambarkan secara tepat demografi sebenarnya. Isi internet (khususnya media sosial) berdasarkan data terakhir didominasi oleh pengguna di rentang usia 15-35 tahun. Terkenal di internet belum tentu terkenal di luar internet. Tanyalah orang tua kalian, apakah kenal dengan Edward Snowden, atau Triomacan?

Kedua, selain media sosial yang memang booming, macam Facebook, Twitter, dan sejenisnya, sisi-sisi lain internet didominasi kaum adam. Karena itu, keren di internet belum tentu keren bagi kaum wanita di dunia nyata 😛

Dan ketiga, tentu saja, jauh sebelum membahas perbedaan pendapat, isu dan pilihan politik, kita sadar atau tidak sadar sudah membuat lingkar pertemanan yang kita rasa cocok dengan kita. Kita melakukan seleksi pada siapa yang kita add sebagai teman, siapa yang kita blok. Siapa yang kita follow di twitter dan lainnya. Ini, tentu saja mempengaruhi apa yang kita liat di timeline akun media sosial. Karena itu, populer di lingkar pertemanan kita, belum tentu populer di luar sana. Hal ini berlaku juga untuk pendapat dan ide.

Jadi sebagai penutup, bisa disimpulkan bahwa meskipun terkesan masif dan gaungnya ke mana-mana, isu-isu dan topik hangat di internet belum tentu berpengaruh besar pada publik. Hasil survei hanya penting bagi mereka yang berkepentingan merancang strategi dan perencanaan ke depan.

Oleh karena itu, jika disempitkan pada topik pemilihan presiden 9 juli mendatang, pesannya adalah: jangan pasif. Sampaikan ide-ide kalian agar mampu menjangkau seluas mungkin. Diskusikan dengan rekan kerja, keluarga, kawan tim futsal, siapa saja. Berdebat di internet sebagian besar hanya menghasilkan kepuasan sementara. Mereka yang berlawanan pendapat hanya akan semakin kuat menolak, sementara yang belum memilih hanya akan jenuh melihat.

Demikian.

***

Sebagai hiburan, saya sertakan video musik dari Taylor Swift berikut ini, selamat menikmati.

 

 

Iklan

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hello! Lama gak komen di sini… 😀 biarpun sebagian karena sayanya menghilang sih

    Kenapa hasil survei bisa berbeda? Karena yang melakukan survei juga berbeda. Mereka bisa punya perbedaan metode, beda demografis sasaran survei, dan tentu saja, beda penyandang dana survei.

    Soal ini klasik sebetulnya, seperti yang pernah diposting zaman dulu. “It’s easy to lie with statistics, but it’s hard to tell truth without it…”

    Satu lagi, mumpung ingat. Belakangan banyak hasil survei mengatakan “Masyarakat menilai Capres X lebih tegas”, “Masyarakat menilai Capres Y lebih menguasai topik” … dan sebagainya. Enggak salah sih. Cuma qualifier macam itu cenderung kabur dan opini-sentris.

    Contoh: yang dianggap “tegas” di mata responden A, boleh jadi dimaknai “otoriter” oleh responden B. Yang dianggap “menguasai topik” oleh orang awam, boleh jadi dinilai “naif dan mengawang” oleh profesor ekonomi. Jadi, yah, begitulah… 😆

  2. …saking lama menghilang lupa kalo theme blog mansup gak munculin paragraf. Ya sudahlah. 😐

  3. Soal survei. Memang tidak terlalu penting, kecuai bagi media massa dan pengamat politik. Tapi bukan berarti tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Dan sama sekali tidak berguna, bagi pemilih sekalipun.
    .
    Kesimpulannya memang sekilas benar adanya: janganlah kita memilih berdasarkan hasil survey APABILA logika yang digunakan adalah ini: kita memilih capres A karena semua orang memilih capres A. Itu namanya peer pressure.
    .
    Tetapi, hasil survey masih bisa digunakan untuk memicu pemilih untuk berpartisipasi lebih jauh dalam politik untuk memenangkan capres yang dia pilih. Jadi, masih penting. Karena bagaimanapun, hasil survey, bila dikerjakan dengan benar, tidak bisa dianggap sepenuhnya akal-akalan.
    .
    Satu contoh: bahwa elektabilitas Jokowi stagnan dan sementara Prabowo naik itu sudah menjadi konsensus beberapa pollsters yang bisa dipercaya. Iya. Ada pollster gadungan, dan ada pollster yang bisa dipercaya. LSI, Indikator dan SMRC, misalnya, mereka bisa dipercaya. Meskipun, misalnya, SMRC jelas-jelas mencukung Jokowi, mereka gak bisa seenaknya ngakalin survey. Bisa aja sih. Tapi gak bakal bisa menjungkirbalikkan keadaan. Konsensus yang ada pada saat ini adalah: Prabowo dan Jokowi bersaing ketat. Selisih suara mereka cuma satu dijit. Prediksinya sudah barang tentu gak bakal akurat karena survey dilakukan sebelum hari pemilihan dan menjelang pemiihan anything could happen. Di sini survey berperan. Jadi alat ukur kerja parpol dan tim kampanye.
    .
    Nah, seperti membaca media, pemilih harus tau kecenderungan pollster. Sebias-biasnya media, mereka hanya boleh mengartikan periistiwa secara lain. Mereka tidak boleh bohong. Media masih berguna, survey pun juga sama.

  4. selama ada ketidak beresan di pemerintahan wajib bagi rakyat untuk mengkritiknya, jangan sampai diam saja atau pasif.. 🙂

  5. […] A Journal of A Not-Superman Human […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: