Berpikir Kritis Membaca Berita

16 Juni 2014 pukul 14.25 | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

Pembaca kritis

 

Perkembangan media massa dan internet dalam beberapa tahun terakhir membuat kita dibanjiri informasi dari segala sisi. Tidak jarang terjadi kebingungan karena banyak informasi yang masuk justru saling bertentangan dan tumpang tindih.

Tidak sedikit yang merasa overload informasi dan merasa kebingungan sendiri. Padahal, hakikat berita adalah membantu pemahaman.

Untuk menghindari kebingungan dan kesalahpengertian ketika membaca berita, ada baiknya kita belajar menjadi pembaca yang kritis. Caranya sederhana. Sama seperti wartawan junior diajari cara menulis berita yang baik, seperti itu pulalah kita belajar menjadi penerima berita yang baik. Yaitu dengan memahami konsep 5W1H.

Apa itu 5W1H?

Mereka yang berkecimpung di dunia informasi, penulisan atau sekedar penikmat linguistik, pasti tahu. 5W1H adalah akronim bahasa Inggris dari Who, What, Where, When, Why dan How.

Siapa, Apa, Di mana, Kapan, Kenapa dan Bagaimana.

Berita yang baik selalu memuat enam unsur di atas.

  • Siapa yang mengalami, siapa yang mengatakan.
  • Apa yang dialami, apa yang dikatakan.
  • Di mana kejadian terjadi, di mana ucapan tersebut di katakan.
  • Kapan kejadian tersebut, kapan omongannya itu diutarakan.
  • Kenapa bisa terjadi, kenapa sampai terucap.
  • Bagaimana kronologis kejadian, bagaimana cara ngomongnya.

Kalau tidak memuat fakta-fakta di atas, suatu berita bisa dikatakan sebagai berita yang tidak benar. Atau bahkan, bukan berita. Bukan berita bisa jadi berupa opini, pendapat, prediksi, atau yang berbahaya, fitnah.

Nah, untuk menjadi penikmat berita yang kritis, kita juga perlu menerapkan prinsip-prinsip di atas ketika menerima suatu informasi dan menelaahnya.

1. Siapa (who)
Kita perlu mengetahui siapa yang mengalami kejadiannya, atau siapa yang mengatakan berita tersebut. Apakah seseorang yang terkenal? Ahli di bidang yang memang menjadi topik berita? Orang yang memang berwenang?

Misalnya, ketika kita membaca berita tentang seorang calon presiden, tapi yang menjadi sumber berita adalah tim sukses calon tersebut, maka secara logis perlu dipertimbangkan bahwa apa yang diucapkannya ada unsur promosi. Atau sebaliknya, yang dikutip oleh berita tersebut adalah lawan dari si calon, maka perlu dipahami tentu akan ada tendensi menjatuhkan dari omongannya tersebut.

2. Apa (What)
Apakah yang ditulis merupakan fakta atau opini? Jika memang fakta, apakah semua fakta ditulis lengkap atau dipotong-potong untuk menimbulkan asumsi?

Misalnya, ada berita calon presiden A dilahirkan dari orang tua yang non-muslim. Tapi tidak disebutkan kalau si calon sudah mualaf karena perkawinan. Maka ini adalah pemaparan fakta yang tidak utuh.

3. Di mana (Where)
Ini termasuk poin penting yang terkadang dilupakan dalam memahami latar belakang berita. Di mana kejadiannya atau di mana si sumber berita mengatakan kutipannya. Apakah di forum publik atau privat? Di depan siapa ia berkata itu? Karena orang cenderung memiliki tutur bahasa yang berbeda di lingkungan yang berbeda. Omongan di depan orang banyak akan berbeda dengan omongan di lingkungan terbatas. Omongan di depan anggota FPI akan berbeda dengan omongan di depan dewan gereja, dst.

4. Kapan (When)
Ini juga penting dan kadang terlupakan. Kapan kejadiannya. Apakah di saat konflik? Di saat damai? Di saat kampanye? Di saat santai sehingga ada kemungkinan itu kutipan tidak serius?

5. Kenapa (Why)
Kenapa si narasumber berkata sesuatu, atau kenapa berita ada? Apakah karena dia memang bertugas sebagai juru kampanye? Atau karena dipaksa? Atau karena ada perintah atasan? Semua ini harus jadi pertimbangan.

6. Bagaimana (How)
Pertimbangkan juga bagaimana kejadiannya. Apakah si pengucap sedang marah? Sedang sedih? Sedang lelah? Apakah sumber beritanya dari ucapan lisan, atau tertulis? Dari bocoran dokumen militer atau fatwa ulama tidak jelas? Dll.

 

***

Catatan tambahan, dengan maraknya situs-situs (yang mengaku sebagai situs) berita serta dengan kemudahan mendirikan perusahaan pers sejak jaman reformasi, kita juga perlu kritis terhadap media penyampai berita itu sendiri. Kita perlu mengetahui SIAPA DI BELAKANG MEDIA YANG BERITANYA KITA BACA/DENGAR ITU.

Misalnya, pemilik media A ternyata adalah ketua partai pendukung calon presiden B, maka tentu perlu dipikirkan netralitas media tersebut dalam memberitakan topik calon presiden dukungannya dan calon presiden yang tidak ia dukung.

Atau yang lebih perlu dipikiran, yang mengaku media ini apakah memang pantas disebut media? Apakah ada dewan redaksinya? Profesionalkan yang mengaku wartawannya? Sudahkah isi beritanya menerapkan standar cover both side?

Di jaman informasi digital saat ini, memang terjadi pergeseran makna dari sumber berita.

Menurut Michael Schudson, profesor dari Columbia University Graduate School of Journalism, ada setidaknya 6 perubahan paradigma berita saat ini.

  • Semakin kaburnya batasan antara penulis dan pembaca, karena setiap orang bisa menuliskan apa yang sedang terjadi/dirasa melalui media sosial, blog atau forum internet.
  • Semakin kaburnya batasan definisi dari tweet, status facebook, posting blog, opini, artikel, dan berita.
  • Semakin tidak jelasnya batasan profesional dan amatir.
  • Semakin campur aduknya status organisasi media sebagai media pers murni, atau media non-profit, atau publik, atau media simpatisan.
  • Semakin banyaknya campur tangan pemilik pebisnis sebagai pemilik media pada independensi redaksi.
  • Mulai banyaknya media klasik semacam koran yang membuka diri terhadap ide media baru seperti situs internet.

Hal ini kerap membuat kebingungan karena misalnya, seorang wartawan profesional yang bekerja pada media bonafide, sekaligus juga adalah pemilik blog yang tema tulisannya mirip dengan tema tulisannya di koran tempat dia bekerja. Lalu apakah tulisan blognya bisa dianggap sebagai berita?

Atau ketika media resmi membuka portal untuk individu-individu menuliskan ide pribadi mereka. Misalnya Kompas yang punya Kompasiana. Banyak yang tidak menyadari bahwa Kompasiana bukanlah media standar seperti Kompas. Kompasiana adalah wadah individu-individu menuliskan opininya. Isi Kompasiana bukanlah berita.

Hal-hal seperti inilah yang perlu dipelajari agar menjadikan kita pembaca berita yang cerdas. Bukan sebagai target pasar yang gampang dibodoh-bodohi.

——-

Penulis adalah blogger, lulusan jurusan Linguistik Terapan pada Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta, guru dan dosen bahasa Inggris, dan pernah menjadi wartawan radio jejaring nasional Smart FM selama 4 tahun dan penyiar berita serta host dialog pada TVRI Kalimantan Selatan selama 2 tahun.

Iklan

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Wou… masih hidup toh blog ini hihihi (Y)

  2. […] A Journal of A Not-Superman Human […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: