Register dan Variasi Bahasa

15 Januari 2013 pukul 23.41 | Ditulis dalam Uncategorized | 5 Komentar

Disadari atau tidak, ada beberapa berbedaan kita ketika menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Perbedaan di sini muncul ketika kondisi , situasi dan lawan komunikasi kita juga berbeda. Variasi dalam berbahasa ini oleh para linguis disebut dengan istilah “register”.

Secara mendasar, ada lima (5) hal yang mempengaruhi perubahan variasi berbahasa (register) kita tersebut:

  1. Apa yang kita bicarakan (tentang masalah hukum, pendidikan, politik, hobi, asmara, curhat, dll)
  2. Siapa lawan bicara kita (Guru, orang tua, teman, kekasih, bos, pengemis, pembantu, saat pidato di depan orang banyak, dll)
  3. Kenapa kita berbicara (untuk menceritakan sesuatu, merayu lawan jenis, untuk mencairkan suasana, untuk meminta tolong, dll)
  4. Jenis komunikasi apa yang kita gunakan (tertulis, lisan, email, telpon, dll)
  5. Perasaan kita saat berbicara (Terpaksa, konsentrasi, lelah, dll)

Bisa berbahasa dalam banyak variasi hingga bisa menentukan register yang tepat pada situasi yang benar adalah bagian penting dari skill komunikasi.

Salah satu teori yang banyak dikutip terkait register ini adalah teori Martin Joos dalam bukunya “The 5 Clocks” (1972).

Joos membagi variasi penggunaan bahasa dalam lima level:

  1. Frozen (Jenis bahasa yang digunakan dengan tujuan tidak ada perbedaan pemahaman dari si pembaca/pendengar. Biasanya digunakan pada bidang hukum (bahasa undang-undang dan sejenisnya) dan keagamaan (penerjemahan kitab suci, do’a, dll.)
  2. Formal (Jenis bahasa yang digunakan dalam kondisi formal dan cenderung satu arah dan tidak bersifat personal. Misalnya pengumuman, khotbah, pidato, dll. Ciri dari level ini adalah penggunaan grammar yang baik, langsung, informasi detail, terencana sebelumnya dan jika bersifat lisan dilafalkan dengan sempurna.)
  3. Consultative (Register ini banyak digunakan dalam komunikasi antara pihak-pihak yang tidak memiliki latar belakang yang sama namun karena alasan tertentu berada di situasi yang sama. Misalnya ketika rapat dengan rekan bisnis, bertemu calon mertua, dan sejenisnya. Dalam jenis komunikasi ini, pembicara harus memberikan informasi awal dari topik yang akan ia bicarakan. Asumsinya adalah pendengar tidak akan memahami pembicaraan jika tidak diberikan informasi awal sebelumnya. Dalam proses komunikasi, pendengar dapat memberikan tanggapan jika ternyata informasi awal sudah ia ketahui.)
  4. Casual (Jenis komunikasi antara pihak-pihak yang sudah saling mengenal dekat; kawan, tetangga, anggota lingkaran pergaulan yang sama. Register ini digunakan untuk menciptakan perasaan semua pihak yang berkomunikasi adalah bagian dari grup yang sama. Bentuk bahasanya biasanya banyak menggunakan istilah slang/gaul, grammar yang tidak mengikat dan cenderung minim vocabulary.)
  5. Intimate (jenis bahasa yang digunakan antara individu yang sudah sangat mengenal dekat seperti pasangan hidup, orang tua dan anak, atau teman akrab.)
Iklan

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Eh, tumben bahasannya serius. discourse analysis apa kabar yak? *pasang tampang lugu*

  2. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  3. akhir2 ini sering mendengar bahasa yang consultative tuh di kantor.. 😀 #konsulskripsimhs

  4. aset yang paling berharga dalam diri kita adalah karakter kita

  5. […] A Journal of A Not-Superman Human […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: