Berita

22 Mei 2011 pukul 09.31 | Ditulis dalam Uncategorized | 6 Komentar

Sempat menjadi wartawan selama bertahun-tahun, membuat saya sedikit banyak mengerti kenyataan yang ada di balik suatu berita. Mulai dari keyakinan pribadi, bahwa pada dasarnya, berita yang netral itu tidak ada. Sampai profesionalitas wartawan kita yang…sebut saja buah simalakama (saya kenal wartawan harian yang merupakan group dari kelompk media raksasa di Indonesia, dan dia digaji 300.000/perbulan).

Tapi kali ini saya hanya ingin memberikan gambaran betapa suatu berita yang kita baca itu bisa datang dari sumber yang sama, namun dipresentasikan dengan cara yang berbeda, sehingga menghasilkan efek yang bervariasi pula.

Ide tulisan datang ketika pagi tadi, seorang teman mengutuk Mahfud MD karena menyebutkan uang yang konon diterima (Mahkamah Konstitusi) MK dari bendahara partai pemenang Pemilu 2009 sebagai ‘gratifikasi’.

Tanpa bermaksud membela siapapun, saya tanyakan berita dari media mana yang ia baca sampai menyulut emosi sedemikian hingga. Dan ternyata benar saja, media online yang ia baca adalah media yang berafiliasi dengan salah satu TV swasta, yang pemiliknya juga salah satu tokoh utama dunia politik Indonesia.

Judul beritanya “Mahfud: tindakan Nazarudin HANYA pelanggaran etika” (catatan: cetak tebal dari saya)

Diksi ‘hanya’ di situ akan sangat mempengaruhi impresi pertama dari si penerima berita. Dan fungsi judul pada sebuah berita memang itu; mengarahkan pendengar/pembaca pada opini yang diharapkan penulis.

Berita yang sama, sumber yang sama, kutipan yang sama di media-media yang berbeda antara lain mencantumkan judul:

  • “Pemberian uang Nazaruddin itu bukan suap, tapi gratifikasi”
  • “Mahfud: Uang dari Nazaruddin ke MK Tergolong Gratifikasi”
  • “Mahfud: Pemberian Nazaruddin bukan Suap”

Pada contoh terakhir, judul tersebut justru akan mengarahkan opini ke tingkatan yang lebih ekstrim, semacam ‘apa?? bukan suap??’ yang memang menjadi tujuan dari si penulis judul.

Tapi berbicara berita politik memang sulit. Banyak kepentingan saling tarik menarik, bantah-membantah, pro dan kontra serta beragam hal yang mempengaruhi segala segi dari berita tersebut. Sebut saja kecenderungan politik wartawan/media, latar belakang berita ditulis, kondisi psikologis bangsa/target pembaca ketika berita ditulis, ekonomi, dan lainnya.

Mari kita lihat pada contoh lain yang tidak serumit politik. Olahraga misalnya.

Tidak, tidak, bukan PSSI, kan sudah saya tulis itu di atas, contoh lain yang tidak serumit politik.

Kali ini saya ingin mengambil contoh berita terkait pelatih tim sepakbola Manchester United – Sir Alex Ferguson.

Beberapa waktu yang lalu, Ferguson mendapat ancaman hukuman dari Federasi Sepakbola Inggris – FA karena dituduh mengeluarkan statement tentang wasit yang akan memimpin pertandingan MU, statement-nya dicurigai dapat mempengaruhi kenetralan wasit saat memimpin pertandingan tersebut.

Sebelumnya, Ferguson juga telah beberapa kali mendapat hukuman dari FA karena komentar-komentarnya yang dianggap menghina wasit.

Yang menjadi fokus kita adalah berita-berita ketika FA mengeluarkan keputusan terkait tuduhan terbaru terhadap Ferguson di atas.

Keputusannya adalah: Ferguson tidak dihukum namun mendapat peringatan agar berhati-hati dalam mengeluarkan statement sebelum pertandingan.

Dan…

Inilah judul-judul berita media lokal kita:

  1. “Ferguson hanya mendapat peringatan dari FA”
  2. “Ferguson mendapat peringatan Keras dari FA”
  3. “Ferguson mendapat teguran Keras dari FA”
  4. “Bebas Sanksi FA, Fergie Cuma Dapat Peringatan”
  5. “Fergie bebas dari sanksi FA “
  6. “Sir Alex Ferguson Lolos dari Hukuman FA”

Pemilihan kata-kata ‘hanya’, ‘bebas’, ‘cuma’, dan ‘sir’ pada judul-judul di atas membawa efek yang berbeda pada opini yang akan muncul dari penerima berita, padahal, inti beritanya sama.

Karena itu lah, di tengah meriahnya kemunculan media-media baik tradisional konvensional semacam koran maupun media baru semacam situs berita hingga jejaring sosial, adalah sangat penting menjadi penikmat berita yang cerdas, yang menghindarkan diri penggiringan opini tanpa harus kehilangan informasi.

6 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Pada dasarnya saya sependapat saja dengan apa yang dituliskan di atas, hanya sedikit tergelitik dengan sebuah kalimat yg membawa arti bahwa soal PSSI itu serumit politik. Hahaha…

  2. @ Wahyu
    Tuh kan, malah fokusnya ke situ😛

  3. soal menikmati berita dengan cerdas,
    ah saya tak paham,
    pokoknya kalo seru nikmati, kalo rusuh ya tinggalin
    beres😐

  4. Wah, gimanapun bentuk berita yang tersaji, saya terus percaya sama Pak Mahfud MD. Saya percaya beliau jujur. Sangat jujur dan bersih. Selama dia jujur dan bersih, saya akan selalu mendukung beliau. Tentunya ini berarti saya percaya bahwa Bendahara PD M. Nazaruddin benar2 menyuap setjen MK dan mungkin saja dia juga menyuap sekretaris menpora.😐

  5. @ Warm
    Nah, cerdas itu😛
    .
    @ Asop
    Salah satu cara menikmati berita dengan cerdas terkadang memang dengan memastikan posisi opini kita terlebih dahulu, lalu mencari tahu, apakah informasi tambahan dari berita itu menguatkan atau merubah pendapat kita

  6. soal media massa di indonesia yang tidak netral itu sudah lama saya tahu😀
    oleh karena itu saya lebih memilih membaca berita yang ringan-ringan saya… bye-bye PSSI apalagi politik😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: