Hasil Pemilihan Gubernur Kalimantan Selatan 2010

31 Mei 2010 pukul 19.40 | Ditulis dalam Uncategorized | 21 Komentar

Ya ndak adaaaaa…

Jangankan hasilnya, pencoblosannya saja belum mulai ketika saya menulis postingan ini.😛

Saya cuma ingin menanggapi agenda Debat Antar Calon Gubernur yang ditayangkan langsung di tipi-tipi lokal dan satu tipi nasional itu.

Sedikit banyak, tulisan ini juga hadir setelah terinspirasi tulisan Tetuha kita bersama, Pak Ben.

***

KPU Kalimantan Selatan memang menjadwalkan beberapa kali acara debat antar calon Gubernur dan Wakil Gubernur sebagai bagian dari agenda Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Kalimantan Selatan 2010 – 2015 pada 2 juni ini.

Semua acara debat disiarkan secara langsung melalui televisi, dan puncaknya adalah debat terakhir yang disiarkan oleh salah satu televisi siaran nasional tadi.

Membaca komentar-komentar teman-teman baik melalui situs jejaring sosial maupun tulisan di blog, saya menangkap ada kekecewaan terkait performa masing-masing kandidat dalam debat-debat tersebut.

Ada yang merasa marah karena salah satu kandidat (dalam rangka menegaskan keberhasilannya sebagai pemimpin) menyatakan orang-orang miskin yang ada di kabupaten yang dia pimpin sebelum menjadi calon gubernur, berasal dari daerah lain yang dipimpin oleh kandidat saingan.

Ada yang merasa bingung karena omongan para kandidat tidak memiliki konsep dan ide dasar yang jelas.

Ada pula yang merasa debat itu buang-buang duit karena konon tidak mempengaruhi pemilih secara signifikan.

Entahlah…

Soal pengaruhnya terhadap pemilih, saya tidak berani memastikan apakah ada warga Kalimantan Selatan yang memilih calon Gubernurnya karena melihat sisi positif si calon saat debat.

Tapi membaca tulisan Pak Ben dan beberapa netter tentang betapa debat antar calon gubernur itu serupa benang kusut berbumbu opera van Borneo yang tidak begitu lucu, saya jadi tertarik membahasnya.

Pertama mungkin masalah mental.

Percayalah, bagi yang tidak terbiasa, menghadapi kamera televisi apalagi dalam siaran langsung, dapat membuat keringat dingin mengalir deras dan perut kejang tanpa sit-up.

Bahkan bagi yang sudah terbiasa pun, niscaya akan terpengaruh juga mentalnya jika penampilannya di siaran TV itu -sedikit banyak- berpengaruh pada masa depannya, semisal apakah modal kampanyenya bisa balik atau tidak.

Yang kedua, mungkin masalah budaya.

Kultur (maaf, saya tidak menemukan padanan yang tepat, jadi terpaksa menggunakan bahasa jawa) Ewuh Pakewuh memang sangat kental di Kalimantan Selatan, dan juga Indonesia. Ewuh Pakewuh – atau mungkin bisa disinonimkan dengan kata Sungkan – saya artikan sebagai keengganan berkonfrontasi secara terbuka dengan orang lain.

Mengadakan debat dengan kultur Ewuh Pakewuh sama dengan mengadakan balapan motor di tengah pembatasan BBM. Bisa berlangsung tapi tidak menarik.

Saya yakin, diadakannya debat antar calon pemimpin di Indonesia ini pasti dipengaruhi acara yang sama saat pemilihan Presiden Amerika Serikat.

Dan tentu saja, kultur USA sangat berbeda dengan kita. Hasilnya seperti yang saya sebutkan tadi, debat di sini berjalan tanpa greget.

Ketiga, mungkin adalah masalah penggunakan bahasa.

Bahasa Indonesia (juga melayu, banjar) terkenal dengan ketidak-efektifannya untuk menyampaikan pesan secara jelas dan singkat. Lihat saja bahasa pada Undang-undang kita, panjang lebar dan tetap saja sering dipelintirkan maknanya.

Penggunaan Bahasa Indonesia juga penuh dengan atribut sampingan atau lebih dikenal dengan basa-basi. Namanya juga basi, mau dibawa ke forum yang diharapkan panas seperti debat, ya akhirnya tetap saja dingin.

Keempat dan terakhir, menurut saya dalam masalah debat antar calon Gubernur ini adalah sistem debat itu sendiri.

Hampir semua kandidat mengeluhkan waktu yang diberikan untuk mereka mengungkapkan ide-ide mereka. 3 menit. Bisa apa dalam 3 menit? Apalagi ketika harus memaparkan visi dan misi sekaligus meyakinkan masyarakat tentang kapasitas kepemimpinan. Secara teori pun, menyampaikan pesan secara jelas dalam waktu 3 menit apalagi menanggapi pertanyaan yang tidak diprediksi sebelumnya adalah sulit kalau tidak mau disebut mustahil.

Namun apa mau dikata. Pembatasan waktu adalah konsekuensi wajib ketika berhadapan dengan media bernama Televisi. Mahalnya biaya siaran yang dihitung permenit pun bisa sampai jutaan rupiah, membuat setiap detik tayangan (diharapkan) membaca bobot yang sepadan dengan biaya produksinya.

Sayangnya, sekali lagi bagi yang tidak terbiasa dengan itu, akan jadi suatu hal yang sulit sekali dilakukan. Apalagi dengan jumlah peserta debat yang mencapai 10 orang itu. Padahal debat ideal itu seharusnya hanya diikuti 2 kubu.

Jadi ya begitulah hasilnya…

Ah, saya dari tadi sok tau menganal-isis dan mengritik, punya solusinya ndak? Ada ide tentang mekanisme debat berbobot?

Tentu saja ada, tapi tidak gratis:mrgreen:

Saya menunggu KPU menawarkan saya jadi konsultan debat berikutnya dengan bayaran yang sepadan tentu saja.

Jadi kesimpulannya tunggu saja 5 tahun lagi, kalau kita panjang umur, Insya Allah..

Atau kalau masyarakat Kalimantan Selatan masih ada, tidak eksodus ke Malaysia mengingat betapa parah kualitas hidup sekarang di provinsi ini, yang listrik padam 12 jam sehari dan antri BBM 2 jam baru bisa terisi…

21 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. ini pasti postingan untuk meningkatkan pengunjung :p

  2. *masih saja tercengang dengan avatar berwarna ijo ini* -serasa di plurk-

  3. @ mina
    Itu buat SEO😛
    .
    Coba cek dashboard WPmu itu, jangan-jangan avatarmu ilang…

  4. sebagai seorang pemimpin … 4 (empat) hal di atas sudah seharusnya dapat mereka kelola dan atasi, apalagi calon2 yang sudah berpangalaman menjadi kepala daerah (terlepas apakah gagal atau berhasil) bahkan 2 periode dan lebih (bupati 2 periode 1 periode gubernur) … mereka bisa langsung mengajukan contoh yang pernah mereka lakukan (tidak harus berteori, sehingga harus lihat contekan).

    tapi benar juga … untuk mengatasi 4 hal di atas perlu banyak latihan.

  5. betul pak Ben, saya mau menulis soal itu tapi takutnya bias karena niat awalnya ingin membahas soal teknis saja.
    .
    seharusnya kalau berani mencalonkan diri, minimal kualitasnya harus sdikit di atas rakyat biasa…
    .
    kalau pendapat pribadi, saya tidak mendapat kesan positif dari satu calonpun saat debat itu..

  6. nda liat debatnya kemarin di tipi..
    etapi, salah satu calonnya bapaknya tmen saya dikampus..
    etapi, dia juga ga gitu koar2 sih soal pencalonan bapaknya itu…
    dan berhubung saya juga besok kamis ga bisa milih, jadinya hasilnya ngikut suara terbesar aja deh:mrgreen:

  7. Debat-debatan…

  8. @ hera
    golput harom!
    .
    @ amet
    ndak ada unsur enterteimennya ya ndul…

  9. Listrik padam 12 jam sehari? Ya ampun…parah bnget!
    Bisa gak gubernur bru mengatasi kinerja pasokan listrik di Kal-Sel? *belum pernah merasakan tnp listrik selama itu di sini* ^^

  10. @ Ivon
    trust me, it happened here…
    .
    Malah pernah 2 x 24 jam… berasa apa coba kalau begitu…

  11. Ah… debat… ?… bagi saya itu hanya ajang NARSIS nya para calon….

  12. jadi pemimpin itu berat sekali,pertanggung jawabannya nanti diakhirat kelak……dari apa yang dipimpinnya.. salam action aja deh

  13. yah. kirain udah coblosan

    *mendadak merubah bahasa undang2 biar gak basi*😛

  14. Betul bang, semoga dengan adanya hasil pemilihan gubernur nanti, permasalahan pada paragraf terakhir tersebut segera ditemukan solusinya agar antara pemerintah dan masyarakat tercipta suatu win – win solution.🙂

    btw, udah nembak keyword dulu nih…😀

  15. lhoo kmaren katanya udah malu ama anak Belangian itu,
    kok buntut2nya tersirat ngeluh soal listrik lagi :p

    dan soal judul,
    saya setuju dengan @Mina😀

  16. @ Om Yul
    Narsis yang tidak ada satupun yang pantas dinarsiskan
    .
    @ majikan uang
    Salan anti MLM!
    .
    @ Zulhaq
    coba undang-undang macam Tweet begitu, dibatasi 160 karakter biar efektif 😛
    @ Blog Bisnis
    Amin, sudah merdeka 60 tahun tapi masalah tetap sama apa artinya coba..
    .
    @ Warm
    Manusia kan berubah, he…
    Eh, itu di Gugel sudah halaman satu dengan keyword judul tersebut😛

  17. […] menentukan pilihan, dan sekarang yang tengah ditunggu adalah hasil dari proses penghitungannya. Hasil hitung cepat beberapa lembaga survei menempatkan beberapa calon sebagai pemenang tentatif pemilu […]

  18. selamat bagi yang terpilih sebagai pemimpin kalimantan selatan yang baru

    siapa pun yang terpilih saya tetap mendukung

    *TAPI 1 HARAPAN SAYA JANGAN TAMBAH LAGI LOBANG-LOBANG LUKA BUMI KALIMANTAN SELATAN INI DENGAN LUBANG-LUBANG TAMBANG YANG MEMBUAT MIRIS HATI KITA SEMUA

    Galakkan peduli lingkungan, jaga kebersihan “KOTA KITA”
    mulailah dari lingkungan sekitar kita tuk menjadikan BANJAR BUNGAS !!!!!!!

  19. “SELAMAT BOZZ”

  20. ,.,,..,.,.,.,.,.,.,.,.,.,.,.?????????????

  21. Ah… debat… ?… bagi saya itu hanya ajang NARSIS nya para calon….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: