Belangian dan Kebodohan Saya…

20 Mei 2010 pukul 13.55 | Ditulis dalam Uncategorized | 60 Komentar

Baiklah…

Saya hanya ingin meminta maaf..

Saya ingin meminta maaf pada orang-orang di pulau Jawa sana.

Saya ingin meminta maaf pada seseorang-orang di Jakarta yang kerap saya caci maki membabi buta.

Saya memang bodoh. Dan untuk itu, saya meminta maaf.

Saya memang egois. Dan untuk itu saya meminta maaf

Dan bukannya belajar menjadi lebih baik, saya justru mempertontonkan kebodohan dan keegoisan saya pada semua orang, setiap hari, dengan segala cara.

Saya terutama harus meminta maaf pada Firman Hadi dan seluruh penduduk desa Belangian Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar.

***

Ini, sekali lagi, adalah soal listrik.

Tentang perasaan diperlakukan tidak adil yang kerap melanda dada saya, dada kami, penghuni pulau kaya bahan tambang sumber energi yang justru harus kekurangan energi. Harus merasakan pemadaman listrik hampir setiap waktu, tak kenal waktu tak kenal situasi.

Tidak hanya kami di Borneo, tapi juga teman-teman di Papua, di Sumatra yang kerap mencibir sinis pada penduduk pulau Jawa, yang terang bederang sementara kami gelap gulita.

Ini tentang kegeraman yang melahirkan mulai dari sekedar hastag #nasipluarjawa di Twitter hingga ajakan deklarasi kemerdekaan Borneo Raya.

Yang untuk segala kemarahan itu semua, saya meminta maaf…

.
.
.

Dan percayalah, saya tidak sering mengucap kata maaf, bahkan ketika saya sadar saya salah pun, saya jarang meminta maaf.

Tapi kali ini, dengan perasaan malu yang luar biasa, sekali lagi, menggenapi jumlah kata tersebut pas sepuluh kali, saya mohon maaf, pada semua.

***

Dan kenalkan, Firman Hadi, pemuda lulusan SMA dari desa Belangian, 4 jam perjalanan dari kota Banjarmasin. 2 Jam lewat jalan darat, dan ditambah dua jam lagi dengan menggunakan perahu mesin sederhana.

Belangian adalah sebuah desa yang jumlah rumahnya kurang dari 100 buah.

Dan Belangian, belum pernah merasakan aliran Listrik dari negara sejak negara bernama Indonesia ini menyatakan kemerdekaannya. Pun bahkan sejak jaman sebelum merdeka.

Dan Belangian, terletak tepat di tengah-tengah Danau Riam Kanan, dimana PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR – PLTA RIAM KANAN – sumber listrik utama Kalimantan Selatan – beroperasi.

Percayalah..

Hampir 5 menit saya kehilangan suara saat itu. Ketika Firman Hadi menceritakan keadaan desanya – sambil tersenyum – di siaran live dialog interaktif yang saya pandu di TVRI Kalimantan Selatan, beberapa malam yang lalu.

“Iya mas, jadi saya bersama-sama dengan beberapa teman akhirnya mencoba membuat pembangkit listrik sederhana dengan tenaga air terjun yang kebetulan ada di dekat desa kami. Yaah, ada semacam rasa iri juga kan mas, melihat orang lain nonton TV, liat DVD, rumahnya terang kalau malam hari… Sementara kami yang desanya persis di tengah-tengah PLTA malah ndak pernah kenal listrik.. Padahal untuk PLTA itu, sebagian desa kami ditenggelamkan loh mas, jadi danau karena bendungan”

“Cuma karena namanya juga dana sendiri mas, jadi listrik yang kami hasilkan kecil, apalagi jarak dari air terjun sumber tenaganya juga lumayan jauh dari desa, jadi cuma sekitar 15 rumah yang bisa dapat aliran listrik. Yaah, kalau bisa, kami mau minta bantuan bupati atau gubernur biar dapat generator gitu mas..”

Setelah mendengar itu, bisa apa saya, selain merutuki kebodohan dan keegoisan saya selama ini. Yang mengumbar keluh kesah kalau listrik rumah saya padam 5 atau 6 jam… Sementara Firman dan desanya, tak tersentuh listrik puluhan tahun lamanya..

Saya minta maaf..

About these ads

60 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

  1. itu desa belangian yang kita datangin 2003 lalu itu ya? yang dilarang sama bapak ibu dosen?

  2. @ Amed
    Betul ndul, saya lagi scan foto-fotonya ini, mau upload…

  3. Sup, I’ve told you what happens to all investors on power plant. Beberapa bulan yang lalu, kantor saya kedatangan seorang bupati sebuah daerah yang tiap hari kena pemadaman bergilir. Yang kantor-kantornya harus merelakan diri libur seminggu dua atau tiga hari karena tidak adanya listrik. Beliau, yang kebetulan kenal bos saya dan tau bahwa perusahaan kami bergerak di bidang energi dan sudah punya beberapa power plant sebagai independent power produsen, serta merta mengajukan permohonan untuk membuat power plant di daerahnya.

    Dua hari setelah pertemuan dengan di bapak Bupati itu, saya dan dua orang teman ditugaskan mengunjungi PLN untuk meminta keterangan. Tau jawaban PLN? “oooh daerah itu menurut catatan tidak kekurangan kapasitas tuh”. Dan gagal lah usaha kami untuk membuat power plant di sana.

    Believe me Sup, investor di bidang listrik ini banyak. Banyak yang bersedia menamamkan modal. Teknologi juga sudah ada. Di kantor saya sendiri sedang mengembangkan power plant dengan teknologi arus laut dan microhydro.

    Apa yang membuat kami terganjal? Birokrasi. Silahkan kamu maki-maki bagian itu… ;)

    • Oh, gitu ternyata, Mbak Chic?
      Wah wah…. mari kita caci maki birokrasinya. :)

  4. @ Chic
    Agree..
    .
    Masalahnya di Birokrasi.. Tak terhitung berapa kali saya mendengar Gubernur saya, plus pejabat terkait di daerah, mengeluh soal ‘buta tuli’nya pejabat PLN.
    .
    Bayangkan, dikasih dana bantuan buat beli generator, mereka menolak. Lalu tiba-tiba departemen dalam negeri menganulir anggaran di APBD buat bangun pembangkit sendiri, katanya menyalahi undang-undang.. F#ck the rule!
    .
    Belum lagi kasiannya pada petugas tekhnis PLN di lapangan, yang siang malam kerja memperbaiki mesin-mesin PLN yang tuanya lebih tua dari Gesang…

    • Tinggal gimana aja nih Pak Dahlan Iskan merubah PLN ya… :(
      Saya suka kinerjanya waktu masih menjabat CEO Jawa Pos. Selama dia megang jabatan itu, grup Jawa Pos berkembang dengan pesat. Saya suka produk koran-koran dan majalahnya. CUman, saya khawatir beliau gagal merubah PLN… :( Tapi, saya tetap mengaguminya. :)

  5. Hmm… saya gak berpikir kalo marah2 karena listrik sering padam itu egois karena ada yang malah gak pernah kebagian listrik. :?

    Selalu ada yang lebih menderita, dan saya tidak heran kalo lokasinya di desa. Tapi tetap saja patokan kita adalah kota/daerah yang listriknya bisa 24 jam. Mereka bisa terang terus, maka disini juga harusnya bisa. (dan begitu juga ditempat2 yang masih diterangi cahaya bulan, lentera dan generator itu). :evil:

    Tetep #nasibluarjawa

  6. @ Chic
    Ah, betul itu. Pemda seringkali gak keberatan investasi pembangkit listrik, tapi PLN adalah “negara” otonom yang apa2 sentralistik dari pusatnya di Jakarta sana, gak bisa dicampuri pemerintah daerah. Kalo menterinya beda ya gitu…

  7. @ JenSen
    Ah, saya masih akan menyumpahi para pelaku ketidak adilan itu kok.. hanya saja, juga melihat ke ‘bawah’ sekali sekali… :P

  8. eh, masalah listrik ini, udah sampai tahun 2010 juga masih belum kelar-kelar yak :|

    padahal -katanya- mulai 10 juni 2010, dicanangkan indonesia sudah bebas dari blackout, apa cuma janji politis doang ya?? (:|

    *prihatin*

  9. Wah, ada yg minta maaf :mrgreen:
    Hal yg sama juga ada di sini: kreativitas yg sama. Tapi itu tdk akan membuatku meminta maaf sepertimu, justru bikin makin semangat utk masturbasi federasi. Untuk apa bernegara jika cuma satu pulau saja yg bercah’ya dan kita padam bertahun-tahun? Yeah, I’m an agent provocateur, tapi sakit jadi WNI daerah itu gak hilang, cuma krn ada yg kreatif di daerah. Berarti daerah bisa mandiri tanpa PULAU JAWA dan Jakarta yg congkak itu. Equality? Nonsense :))

  10. @ Topan
    JJP kalau kata temen saya, Janji Janji Palsu
    .
    @ Alex
    Cih, dasar bujangan propokator!
    .
    Sepakat soal ketidakadilan itu Lex, tapi sekarang emosinya diarahkan lebih fokus, tidak pada penduduk Jawa, tapi pak boss pak boss yang ada di Pulau itu…

  11. sy sedih setelah membaca postingan ini …

  12. yeah… berarti PLN yang harus dirombak. dulu sempat terdengar kabar kalau PLN akan didesentralisasi. kalau seperti itu berarti PLN di masing-masing daerah akan punya kebijakan sendiri-sendiri. tapi sepertinya soal itu tidak terdengar lagi.
    di Palembang sini, pemadaman listrik relatif amat sangat jarang.

  13. been there on Belangian, beberapa tahun lalu. sampenya ke sana aja susah, pas malam banget, karena gak ada listrik, kelotoknya tersesat :) yah, jadi ikutan malu karena berkeluh-kesah mati lampu di kantor seharian :(

  14. @ nia
    saya malah malu Nia, dan tetap juga marah sama para pengambil kebijakan di pulau sebelah selatan sana…
    .
    @ Ibu Ira
    Kalau kawasan Jawa dan Pulau Sumatera bagian Selatannya memang lumayan bagus bu, tapi sisanya, ya begini ini..
    .
    @ Mina
    Kami di English dept juga pernah ke sana, tapi karena waktu itu memang niatnya camping di gunung, ya ndak terasa kalau ternyata di desanya itu ndak ada listrik…
    .
    Tapi sumpah mampus, alamnya keren sangadh!

  15. Saya ngusul, gimana kalau gubernur kita ajak Camping (blogger) ke desa itu, biar merasakan……serasa..rasanya….

  16. terharu baca postingan ini…

  17. Mantap Gan.

    Btw, itu infonya Mbak Chic tampaknya lezat dan bisa didalami.

  18. @Amed:

    itu desa belangian yang kita datangin 2003 lalu itu ya? yang dilarang sama bapak ibu dosen?

    SALAH! Tahun 2003 kunjungan bakti sosialEnglish Department FKIP Unlam yang dicekal itu nama desanya adalah Rantau Bujur, desa paling ujung dari barisan desa desa di daerah danau Riam Kanan. Desa yang tidak termasuk desa yang ditenggelamkan alias masih asli.

    Betul ndul,

    Betal betul!!

    saya lagi scan foto-fotonya ini, mau upload…

    Saya tunggu hasil upload fotonya

    ***********

    Dan kenalkan, Firman Hadi, pemuda lulusan SMA dari desa Belangian

    Lulusan SMA Belangian? Belangian cuma punya SD, itupun keadaannya menyedihkan!

    Belangian adalah sebuah desa yang jumlah rumahnya kurang dari 100 buah.

    Ada yang pernah menghitung? Karena selupa saya, jumlah 100 rumah itu tercapai kok…..

    Dan Belangian, terletak tepat di tengah-tengah Danau Riam Kanan

    Di tengah apa di ujung Pak? Silakan buka peta onlen kalau tak percaya……

    apalagi jarak dari air terjun sumber tenaganya juga lumayan jauh dari desa, jadi cuma sekitar 15 rumah yang bisa dapat aliran listrik. Yaah, kalau bisa, kami mau minta bantuan bupati atau gubernur biar dapat generator gitu mas..”

    Lagi lagi selupa saya, jarak air terjun itu bukan lumayan jauh lagi. Tapi jauuuuuh sekali, mungkin bisa satu setengah hari perjalanan dari desa menuju ke sana. Atau yang paling dekat adalah setengah hari perjalanan.

    Perlu berapa puluh kilometer kabel untuk mengulurkannya kalau begitu?

    Maaf, dari beberapa hasil di atas, saya malah meragukan sesuatu, entah itu fakta dalam tulisan ini, atau itu fakta tentang narasumber. Semoga saja saya salah.

    And honestly,this post make me feel like I smell its scene again. I do miss those situation!

    ***********
    @Jensen: Seandainya Hasan Basri tidak berikrar bahwasanya Kalimantan adalah bagian Indonesia, atau seandainya Indonesia tidak pernah mengakuisisi Kalimantan (yang jelas salah satu diantara dua adalah fakta), maka mungkin warga Kalimantan akan tetap “memandang ke bawah” sambil berkata; Kasian mereka di Indonesia….batubara saja harus mengimpor dari kita….
    -If you know what I mean Mister President of Papua… :D-

    ***********

    Tapi sumpah mampus, alamnya keren sangadh!

    Keren mana dengan gadis berkacamata….???

    • gwa paling suka bagian gadis berkacamatanya!
      eh, fyi. gwa udah lepas kacamata. mungkin ntar bakal pake lagi kalo silindris gwa nambah. euh… bukan gwa yes?

      *fuck you, dil. fuck you to make this kinda post. i hate being in this white-lighted-yet-god-damned-forsaken place called jakarta. FUCK YOU!!! there. said it*

  19. Oh iya, cerita soal brengseknya oknum oknum dosen dan pencekalan kegiatan 2003 itu,selengkapnya bisa dibaca di tulisan INI

  20. Berarti daerah bisa mandiri tanpa PULAU JAWA dan Jakarta yg congkak itu

    Hail HITLER!!!!

    Tau jawaban PLN? “oooh daerah itu menurut catatan tidak kekurangan kapasitas tuh”. Dan gagal lah usaha kami untuk membuat power plant di sana.

    Cerminan brengseknya perlakuan orang Indonesia terhadap daerah jajahannya? Cerminan bobroknya oknum oknum yang menyetir negara republik indonesia?

    power plant dengan teknologi arus laut dan microhydro.

    IMHO,we do not need that,here we have all kind of energy. We just need Indonesia to stop robbing our nature,our wealth and fooling us with its rotten system called bureaucracy!!!!!!!!.

    *printscreendemimenjagakemungkinanmutilasidanmodikikasikomentar*

  21. @ Mansup

    tapi sekarang emosinya diarahkan lebih fokus, tidak pada penduduk Jawa, tapi pak boss pak boss yang ada di Pulau itu…

    Memang dari dulu begitu yang kuarahkan, seinsafku. Menyalahkan penduduk di Pulau Jawa adalah tidak masuk akal sama sekali. Mereka tak punya peranan apa-apa dengan PLN dan birokrasi ular beludak di kantor-kantor pusat Jakarta sialan itu. Tidak, aku tidak menyalahkan penduduk di sana, seperti halnya aku tidak menyalahkan suku bangsa sama sekali (bahkan itu si Mustafa Abu Bakar adalah orang Aceh yang pikun dengan daerah asalnya sendiri!). Tidak ke penduduknya, tapi…

    Aku malah menyalahkan negara ini sekalian: Sistem yang sentralistik dengan bingkai retak bernama NKRI sialan itu. Yeah right, Negara Kesatuan eh, semua disatukan di Pulau Jawa belaka, bukan begitu? Lihat rencana pembangunan PLTU Batang di Jawa sana dengan anggaran berkali lipat dari yang pernah diminta Aceh cuma untuk sekedar energi panas bumi. Adil? Tidak. Alasan karena penduduk di sana lebih banyak? Oh, jadi di daerah apa? WNI kelas ternak yang cukup hidup dengan petromak dan sesekali dimanusiawikan dengan cahaya listrik?

    Jika ada warga negara Republik Indonesia di Pulau sana tidak suka dengan ucapanku, so be it! Tapi cobalah surfing, googling lah, layari internet dan cari seberapa banyak tulisan wal artikel dari saudara-saudara di Pulau Utama itu yang benar-benar paham sakit hati orang daerah, bukan sekedar ber-apologia dengan pemaafan pada “Negara kita ini sedang krisis…. kami juga sulit… kasihan PLN… oh, dalam sistem bernegara ada skala prioritas… Jakarta kota utama… Jawa sentra informasi dan ekonomi-politik… Jawa adalah kunci seperti kata PKI… tralalalalatrilili…”

    Hiduplah di daerah barang beberapa bulan, talk is cheap, memaafkan mudah, melupakan tidak. Orang yang hidup dalam terang biasanya memang paling enak bilang: mari hormati pemerintah… hargai negara… blablabla… Cobalah hidup di sini macam kami. Sakit hati yang ada. Si Meneg BUMN itu kalo pulang ke kampung nenek moyangnya di pesisir utara sana juga pasti bengek dalam gelap dan baru insap betapa timpang kebrengsekan perlakuan di negara ini.

    Semoga ada penguasa yang membaca ini, dan semoga rekan-rekan di Pulau Jawa sana sudi menyampaikan ini, jangan cuma nasionalisme sana-sini dan sibuk dengan jargon NKRI harga mati kalau orang daerah sudah marah-marah.

    • Hiduplah di daerah barang beberapa bulan,

      LIKE THIS!!!!! One thing me and Carbon should always say to “Indonesian” people

    • Si Meneg BUMN itu kalo pulang ke kampung nenek moyangnya di pesisir utara sana juga pasti bengek dalam gelap dan baru insap betapa timpang kebrengsekan perlakuan di negara ini.

      Sewaktu beberapa bulan yang lalu saya menginjak tanah di luar Jawa selama 2 minggu juga sempat mengalami mati lampu beberapa kali. Tapi yang saya dengar dari penduduk sekitar situ, kalau rumah pejabat yang mati lampu sih, mereka tinggal telpon PLN dan lampunya menyala dalam sekejap. Jadi sepertinya harapan anda akan agak sulit terkabul :-|

  22. @ Syafwan
    Ndak usahlah camping segala, beliau seebook, cukuplah meninjau setengah hari, lalu anggarkan dana untuk apa saja yang perlu dibangun di tempat-tempat seperti itu
    .
    @ Hera
    Memang gampang digombali tersentuh..
    .
    @ Guh
    Niatnya mau ada pembangkut swasta untuk umum, ndak usah lewat PLN, mahaldikit ndak papa, biar kita juga bisa belajar hemat energi..
    .
    Jadi bagaimana masbro?
    .
    @ Farid

    SALAH! Tahun 2003 kunjungan bakti sosialEnglish Department FKIP Unlam yang dicekal itu nama desanya adalah Rantau Bujur, desa paling ujung dari barisan desa desa di daerah danau Riam Kanan. Desa yang tidak termasuk desa yang ditenggelamkan alias masih asli.

    .
    My mistake.
    .
    Iya, keliru, maklum sudah lama. Lagi pula kami kan tidak punya kenangan menyakitkan khusus di sana, jadi gampang lupa..
    .

    Maaf, dari beberapa hasil di atas, saya malah meragukan sesuatu, entah itu fakta dalam tulisan ini, atau itu fakta tentang narasumber. Semoga saja saya salah.

    .
    My mistake
    .
    Banyak detail keterangan Firman Hadi yang saya lupa, yang jelas dia SMA-nya di Martapura dan memberi keterangan atas rekomendasi Dinas Kepemudaan Provinsi Kalsel, jadi sepertinya CVnya Valid.
    .

    *printscreendemimenjagakemungkinanmutilasidanmodikikasikomentar*

    .
    Ah, saya bukan blogger yang menghapus tulisan/mengedit komentar/memproteksi blog karena tekanan pihak keparat…

  23. Ah, saya bukan blogger yang menghapus tulisan/mengedit komentar/memproteksi blog karena tekanan pihak keparat…

    Need some prove…??

    • salah ketik, antar kata kerja dan kata benda. Silakan dihapus oleh sang admin blog jika dinilai tak berkenan :mrgreen:

  24. Ah, saya bukan blogger yang menghapus tulisan/mengedit komentar/memproteksi blog karena tekanan pihak keparat…

    Need some proof…??

    • Please..
      .
      dengan catatan tekanan pihak keparatnya ditekankan.. :P

      • ijinkan saya untuk tertawa sepuasnya kawan…… :mrgreen:

      • Ahahahaha… Mari kita teruskan menghujat keparat itu.. *mudahan sekolahan auk kada didatanginya…*

    • paling mun sekiolahan imak didatangi,yang abut kepala wan bendahara…

      Jadi jar urang tuha bahari tu; tanang ha Tuh ay…

  25. @ Alex
    Intinya begini Lex, saya tidak membenarkan apa yang selama ini telah terjadi. Ketidak adilan dan kebijakan sembarangan itu. Itu semua perlu diperbaiki. Entah dengan cara halus atau ekstrim, kita pikirkan nanti.
    .
    Ini lebih pada kontemplasi pribadi.
    .
    Sumpah saya malu, selalu menganggap betapa enak manusia-manusia yang ada di pulau sebelah selatan sana, yang segala apa tersedia, listriknya dijamin sejahtera. Lalu saya dipertemukan dengan Firman, yang menganggap betapa enaknya penduduk di sebelah luar danau PLTA-nya, yang menikmati listrik hasil penenggelaman desanya, sementara mereka tetap dalam jaman prasejarah.
    .
    Lalu apa bedanya saya dengan mereka yang saya anggap egois itu?

    • Bedanya Firman ga perlu blogging kaya kita hung,firman firman lainnya juga ge perlu ngecharge hape,atau ribut nyari colokan ketika baterai laptop mau knock out. Mereka sampai sejauh ini cuma perlu ladang, kapal,solar,dan pasangan hidup….

      • Sempat berpikir seperti itu juga, mungkin karena Firman sempat sekolah di Martapura maka kebutuhannya lebih banyak dibandingkan penduduk desanya yang lain, lalu dia buat perubahan dengan pembangkit swadaya itu.
        .
        Tapi bukankah ‘kebangkitan’ sebuah bangsa biasanya diawali oleh mereka yang sekolah di luar daerah?
        STOVIA-nya Budi Utomo, Soekarno, siapa itu Pejuang kemerdekaan kalimantan yang dianggap pemberontak sama Indonesia, juga pernah ke mesir kalau tidak salah..

      • Kalaubegitu, pada anda dan Amed lah kami turut berharap agar Kalimantan bisa lekas merdeka. Anda dan Amed lah yang bakalan jadi salah satu tokok pejuang kemerdekaan Kalimantan. Karena anda dan Amed akan sekolah ke luar negeri…..

      • pembangkit listrik itu gak begitu jauh dari Belangian, masbro. jalan kaki 20 menit aja sampai, soalnya mereka bikin bendungan bukan di air terjun Kahung itu, tapi di pokoknya parak ja, soalnya auk pernah kesana langsung mellihat pembangkit listrik yanag waktu peresmiannya, bupati pun enggan hadir :|

  26. ASyem.

  27. Saya selaku penduduk Jawa juga mohon maaf pada saudara-saudara sekalian yang ada di luar pulau Jawa, terutama pada daerah-daerah yang sama sekali belum mendapat pasokan listrik seperti Desa Belangian ini. ^:)^
    Seringkali kami menggangap ketersediaan listrik sebagai sesuatu yang wajar dan memang sudah hak kami karena sudah bayar PLN.
    Maafkan anak-anak Jawa yang manja ini >.<

  28. Wah, kaget juga membaca ceritanya. Eh, gak kaget juga, sebab kisah seperti ini terjadi di banyak desa lainnya di negeri kita. Jadinya malah tambah miris :(

    Salam kenal dari blogger Depok

  29. @ Hera :mrgreen:
    .
    @ Felicia
    Tidak tidak tidak…
    Maafkan kami anak-anak daerah ini yang menumpahkan kekesalan tanpa pandang bulu..
    .
    Tapi memang akan sangat membantu jika kita semua, jawa, papua, sumatra, borneo, saling membantu mendesak pemerintah yang *%&$*($& itu agar bisa menjadi semakin baik..
    .
    @ Indobrad
    Saya saja kaget mas, bukannya tidak tau tapi lebih pada lupa… jadi ya diingatkan saja..

  30. apapun keadaan nya…. itu lah Indonesia.
    n Belangian semoga bisa jadi daerah yang damai dan tidak terkontaminasi teknologi yang carut marut pembagiannya ini.
    sikap mandiri kamu (Belangian) sangat membanggakan. ^_^ gud luck!

  31. @ nuansa
    Ah, menyenangkan sepertinya kalau seperti itu ya.. Mau tinggal di sana barang sepekan dua pekan bos? :P

    • dah siap mau tinggal disana? :-)

      • saya nanya sampean, mau coba tinggal di sana?

        tempat yang sampean bilang damai dan tidak terkontaminasi teknologi dan mandiri..

  32. saya pernah tinggal di sukamara, perbatasan kalteng-kalbar. tiap hari selalluuuu mati lampu. hebatnya, semua orang tetep santai, kek bukan masalah besar gitu. nyalain jenset, dan lampu menyala lagi. sukur2 nanti pln nyala lagi. kalo enggak, ya gak papa. sungguh nrimo ing pandum, orang2 kalimantan itu…

  33. @ Ika
    Duluuuu, jaman-jamannya sebelum ada gerakan yang dipelopori pendeta Martin Luther King di Amerika Serikat negara dewanya demokrasi sana, orang kulit hitam ndak boleh masuk kafe itu dianggap wajar, mereka santai-santai saja.. Orang kulit hitam ndak boleh masuk rumah kulit putih lewat pintu depan tapi harus lewat pintu dapur itu dianggap wajar-wajar saja… Orang kulit hitam ndak boleh naik angkutan umum itu jadi aturan yang disepakati..
    .
    Tapi itu tidak menjadikan hal tersebut benar kan?
    .
    Dan ‘nrimo’ adalah kata yang tidak ingin saya pakai untuk menjelaskan situasi ini…

  34. di aceh mati lampu gak brenti-brenti juga, byar-pet byar-pet sampe semua alat rusak, waktu tahun-tahun lalu saya ke sana. medan juga byar pet berkali-kali sehari. palu juga tuh, si B barusan dari sana minggu lalu, selama minggu, tiap hari mati lampu. something wrong dengan perusahaan yang kita kenal bersama?

  35. ..: intinya, masuk TV, hehee..,. :)

  36. udcc br4p4 k4Li saya m4u Lht (4p4sich BeLgiA itoe) pdhL saya punya banyakk tem4n d`s4n4………………

    k4t4` or4ng2 sich desa beLangian itoe s4ngat lch sepi,,,,,
    tet4pi kesepien takkan ber4rti biLa 4d4 kebers4m4`N

    K4P4N Kch SAYA PERGI KE BELGIA…….

  37. KAPAN Kch saya pergi ke BeLgia…….

    kata org2 Desa BeLangian itoe sepiiiii, tetapi rasa sepi ito takkan terasa p4biLa Kebers4m4`an tLah Tiba !!!!!!!!!!

    ECKO,HUSNUL,RICKA,IDA,DLL (k4p4n k!ta pergi Bers4m4) hee”…..

    HIDUP BELGIA

  38. intinya, masuk TV, hehee..,.

  39. kNpa pemerintah tidak memperhatikan rakyatkecil……
    padahal masyarakat yang terpencil itu sangat membutuhkan perhatian dan dantuan….

    ada apa dengan negri ini….?????????
    alangkah kejamnya nengri ini……

  40. Salam kenal mas..
    mungkin agak OOT, Sekedar sharing pengalaman tinggal di Kalsel.. :D
    Udah 8 bulan saya dimutasi dan bekerja di Kotabaru, Pulau Laut.. Alhamdulillah sejak Januari nggak pernah pemadaman.. Tapi tegangan gak stabil, UPS kantor pada jebol :mrgreen: sebelumnya saya bekerja di Kendari, Sulawesi Tenggara. Meski statusnya ibukota provinsi, tapi Lebih parah di sana, 2 hari sekali mati, 4-5 jam :( jadi kangen kampung ndeso saya di Jawa, yang gak pernah mati lampu :)

  41. janji xa semu’a palsuuuuuuu,,,,,.,

  42. pembangkit listrik itu gak begitu jauh dari Belangian, masbro. jalan kaki 20 menit aja sampai, soalnya mereka bikin bendungan bukan di air terjun Kahung itu, tapi di pokoknya parak ja, soalnya auk pernah kesana langsung mellihat pembangkit listrik yang waktu peresmiannya, bupati pun enggan hadir

    Tahun 2011 saya rutin ke sana, tak pernah nemu tuh yang namanya pembangkit listrik selain jenset hasil swadaya dan swasembada masyarakat.

    20 menit dari Belangian itu adalah Shelter Sungai Besar dimana shelternya sendiri sudah hancur, tak ada bendungan di sana, yang ada adalah jembatan yang juga hancur! Semoga saja saya salah.

    Apa bendungan itu sudah rusak setelah diremsmikan? Atau memang tak pernah diresmikan, atau sekedar dongeng para pemerintah Kabupaten Banjar guna pencitraan? Saya tunggu kejelasan dari Pemerintah Kab. Banjar dan yang berkompeten

    Pula, di Belangian itu listrik siang tak nyala, malam juga paling lama sampai jam 11 atau 12 malam, semuanya tentu saja dengan alasan penghematan biaya bahan bakar jenset dan guna menyayangi umur jenset

    • alhamdulillah sekarang BELANGIAN sudah ada listriknya walaupun nyalanya cuma dari jam 17:00 s/d 06:00


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | The Pool Theme.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: