Beasiswa

4 Mei 2010 pukul 13.57 | Ditulis dalam Uncategorized | 42 Komentar

“Ya ndak.. Di sini ndak ada lapangan, semuanya air. Lagian saya takut kalo lagi upacara tiba-tiba ada razia guru yang mencurangi UN gimana? Bisa masuk penjara saya..”

Demikian isi sms balasan seorang teman, sebut saja Si Mas, ketika saya tanyakan apakah sekolahan dia mengadakan atau ikut upacara peringatan hari pendidikan nasional 2 mei lalu.

Membaca sms tersebut, saya hanya bisa terkonclang terbahak-bahak dan mereply:

“Wak! Kalo ada razia gituan, semuanya ya di tangkap maaaass…”

***

Tapi itu cerita lain untuk saat ini. Kali ini saya ingin berkisah tentang beasiswa sahaja

***

Jadi begini ceritanya…

Dengan niat (seperti biasa) membahagiakan orang tua dan mengetes birokrasi, saya mengikuti tes calon penerima beasiswa S2 khusus guru ke luar daerah dari pemerintah provinsi hari itu.

Awalnya, sebelum mengikuti tes ini, sempat patah arang juga. Bayangpun, pengumuman adanya beasiswa dilakukan pada sabtu siang, dan senin berikutnya adalah penutupan pendaftaran dengan segala kerepotan yang menyertainya…

Belum lagi peserta tes yang awalnya dikatakan hanya berjumlah 200an orang, ketika hari tes melonjak menjadi hampir 600…

Tetapi (seperti biasa) saya ternyata dinyatakan lulus.

***

Jadilah senin itu, saya kalang kabut mencari pinjaman baju sasirangan untuk upacara hari pendidikan nasional di kantor gubernur.

Dan puji Tuhan, sebagai penerima beasiswa saya tidak harus berdiri di lapangan sana selama upacara, namun diberikan kehormatan duduk di bawah tenda khusus undangan, beserta dengan para pejabat dan undangan lainnya.

Sayangnya, kutukan saya memang mungkin begini, selalu saja berdekatan dengan ibu-ibu cerewet..

Dan senin itu, duduk di samping saya adalah seorang rekan kuliah lama, yang juga guru di salah satu kabupaten tetangga, berceloteh riang membandingkan besaran rupiah tunjangan para PNS di setiap daerah..

Jujur saja, meski pun pragmatis, saya kurang suka membandingkan gaji dan tunjangan dengan sesama rekan kerja. Karena bagi saya, gaji dan tunjangan tidak penting, yang penting adalah penghasilan…

Ah, kata Rezki itu kan tidak selalu identik dengan lembaran duit, kawan-kawan?

***

Panjang cerita, selepas upacara, kami para penerima beasiswa diminta berhadir di Aula Dinas Pendidikan, untuk mendapat penjelasan terkait beasiswa yang didapatkan.

Di situ, kami diterima oleh, sebut saja, Bapak Staf Dinas Pedidikan, yang menjadi penanggung jawab program beasiswa ini.

Beliau menjelaskan sistem beasiswa dari pemerintah memang cukup rumit, karena yang dipakai adalah duit rakyat.

Intinya adalah, beasiswa meliputi biaya perkuliahan, akomodasi, transportasi dan uang saku selama kuliah.

Saya awalnya mengira beasiswa hanya meliputi biaya kuliah, mengingat penerima beasiswa juga masih menerima gaji pokok selama kuliah, meskipun tidak bekerja.

Tentu saja saya bahagia mendengar beasiswa meliputi biaya perkuliahan, akomodasi, transportasi dan uang saku tersebut. Apalagi besarannya – bagi saya pribadi – sangat mencukupi.

Tapi ternyata, yang bahagia hanya saya…

***

Seorang bapak-bapak, medok, guru SMA, berdiri dan bertanya “jelasnya berapa nanti kami menerima total duitnya pak?”

suara hati saya: Noh, kan tadi dibilangin anggaran detail masih dihitung pak, karena di yang namanya Anggaran di APBD itu rada ribet, ndak dengerin orang ngomong seh…

Seorang ibu berkacamata, guru SMP, di belakang saya ikut berdiri “nantinya saya mungkin bawa anak saya pak, mana cukup duit segitu untuk hidup di sana, tolong dipertimbangkan”

suara hati saya: Heh?? sekalian aja bawa suaminya, mertuanya, tetangganya sama kucing anggoranya bu…

Satu bapak muda lagi usul “gimana kalo dosennya saja yang diminta datang ke sini pak, biaya lebih murah, kita juga ndak perlu kehilangan uang tunjangan dan sertifikasi”

suara hati saya: Weleh… Bapak ndak baca aturan ya? Perkuliahan jarak jauh sekarang dilarang pak, banyakan bohongnya daripada belajar buat tambah pinternya soalnya…

Dan banyak lagi komentar-komentar yang intinya adalah mempertanyakan detail mekanisme beasiswa, meminta kemudahan dan ‘berapa persis-nya’ beasiswa itu nantinya…

Bahkan seorang lagi berdiri, menyatakan dirinya mewakili peserta lain menyatakan sebaiknya proyek beasiswa ini dibatalkan saja kalau dananya kurang.

Seorang mengusulkan, dana studi untuk 5 semester itu dipotong saja 2 semester, lalu dibagi dua antara penerima beasiswa dan dosen, dengan syarat, dosen memudahkan perkuliahan agar dapat selesai dalam 3 semester sahaja.

Seorang teman lagi mengeluhkan, kenapa yang memberikan penjelasan hanya staf, bukan kepala dinas atau gubernur sekalian, padahal kami kan orang terpilih penerima beasiswa.

Satu lagi, seorang bapak guru di baris depan berbisik “kita jangan mau dibodohi, ini proyek soalnya…”

Saya?

Saya sudah keluar ruangan dan duduk di anak tangga depan aula, memikirkan sepertinya saya mulai mengerti kenapa pendidikan daerah saya susah sekali berkembang…

Dan hati saya berhenti bersuara…

Iklan

42 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Maap bro, ngakak dulu! ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† …. ๐Ÿ˜

    Yaya.. susah sekali ini kalo orientasinya bukan ke peningkatan kompetensi tapi ke peningkatan pemasukan. Sudah banyak maunya, harap gampang pula. Tak heran jadi guru bisa dibeli oleh murid2nya… ๐Ÿ‘ฟ

  2. @ jensen99
    Makanya saya heran Jens, ini bapak ibu guru niatnya apa seh.. Kalo ndak niat kuliah lagi ya jangan daftar harusnya, mending buat yang bener-bener niat saja…
    .
    soal dibeli murid itu, eerrr… ndak semuanya seh…

  3. hmmm…………… masih untung juga ada beasiswa gitu..
    *nasib yg ga dapet beasiswa, hiks*

  4. sistemnya yang membuat siapapun ikut kacau?
    Mudah-mudahan, mansup janganlah berubah seperti itu >:D<
    :mrgreen:

  5. hemmm beasiswa………..

  6. @ Hera
    Makanya, saya bilang juga pulang dulu, daftar pe en es dulu, baru nyari beasiswa..
    .
    @ Takodok
    Sungguh sumpah, saya merasa saya sedang terbawa ke arah sana…
    .
    @ iezul
    Napa zul? mau?

  7. you are lucky man ๐Ÿ˜€

  8. Bayangpun, pengumuman adanya beasiswa dilakukan pada sabtu siang, dan senin berikutnya adalah penutupan pendaftaran dengan segala kerepotan yang menyertainyaโ€ฆ

    Apaan ini…harusnya minimal 1 bulan! ๐Ÿ‘ฟ
     
    …ngakak baca bagian di bawah. ๐Ÿ˜†   ๐Ÿ˜†   ๐Ÿ˜† … ๐Ÿ˜
    Masak nawar waktu kuliah, terus minta malah minta dosennya ke sana. Enak banget noh. ๐Ÿ˜
     
    Tapi yah, selamat Bang Mansup atas beasiswanya. ๐Ÿ˜€
    Mau pergi kuliah di mana Bung?

  9. astaagaaaaaaaaaa….
    ada yg minta ‘asal kuliah dimudahkan’ astagaaaaaaaa ๐Ÿ˜ฎ ๐Ÿ˜ฎ ๐Ÿ˜ฎ
    speechless saya….

    aduh itu beneran deh, musti dilepas utk kuliah mandiri. trus dibandingin ama murid2 jenius tp ga punya biaya, yg musti kesana kemari cari biaya sendiri.

    dil, ntar kl jadi ke jogja, kasi bocoran siapa aja oknum yg disebutin di blog ini ya, kenalin. aku pengen observasi :mrgreen:

  10. Kamu mengikuti test beasiswa S2 untuk menguji bagaimana birokrasi di Dinas Pendidikan di daerah kamu. Hasilnya?

    Alih – alih selamat atas kemenangannya lolos sebagai penerima beasiswa. Rencana nanti kuliah S2 dimana?

    **hanya ini shadaqah yang bisa saya berikan**

  11. ih beneran geregeten ples gemes. itu oknum2 ga mau rugi bener ya…padahal namanya duit rakyat, piye sih. mereka pasti teriak2 protes kl ngomongin kelakuan pejabat korup, sendirinya…?

  12. @ hera
    Lucky and bloody gorgeous…
    .
    @ Lamb
    makanya saya bilang sekalian ngetest birokrasi masbro…
    .
    Dan yang ngomong begitu adalah guru. Entah apa yang diajarkannya ke siswanya..
    .
    @ memeth
    nanti kalo jadi semuanya ke sana, saya ajak keliling kelas ๐Ÿ˜›
    .
    Ya sebenarnya, saya juga ga bersih-bersih banget juga, tapi kok ya rasanya kelewatan mereka itu..
    .
    @ Jarwadi
    Hayah, beneran sedekah koment…

    • oh ke Jogja, entar aku dikenalin sama temen temen mu itu ya, mas

      hehehe

  13. itu bujuran terjadi kah dil….konyol banar lah….

  14. jadi gini…

    ‘mama’ gwa aktif di gereja yg concern dengan pendidikan. waktu itu dia bikin kegiatan sertifikasi sesuatu apaaa gitu sama badan pendidikan dari eropa yg isinya profesor2 emeritus. mereka ceritanya mau bikin safari sertifikasi itu buat guru2 SD di beberapa kota besar indonesia, mulai dari surabaya, medan, padang, dll.

    sertifikasi itu gratis, dan kalo pun bayar biasanya berjuta2 per orang karena standarnya internasional. mereka, guru2 itu, cuma harus duduk, dengerin seminar, dan ngisi kuesioner kecil2an selama 2-3 hari. semua makan dan akomodasi ditanggung.

    yg bikin shocking adalah:
    mereka komplen!!! iya, komplen ga mutu. mulai dari makanan, waktu, dan effort yg mereka keluarin buat jalan ke venue. yg bikin lebih mengejutkan lagi adalah beberapa diantara mereka bilang, “gimana kalo kita ambil aja sertifikatnya tapi ga usah ikut? kan sama aja”

    ampyuuuunnnn!!!

    kadang2 gwa ngerasa harusnya guru itu dikasi pelatihan tambahan gimana menggunakan otaknya untuk mikir secara logis kalo apa yg mereka emban itu menyangkut tanggungjawab yg guwede ngaujubilah: mendidik.

  15. prihatin berat dengan dunia pendidikan kita..Guru aja seperti ini. Bagaimana yang lain ?

    “dana studi untuk 5 semester itu dipotong saja 2 semester, lalu dibagi dua antara penerima beasiswa dan dosen, dengan syarat, dosen memudahkan perkuliahan agar dapat selesai dalam 3 semester sahaja”

    whuaaaaa ๐Ÿ˜ฅ

  16. Posting yang menarik, salam kompak dan semoga sukses.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru kami berjudul : โ€œPompa Turbin pertama di Kabupaten Sikkaโ€, serta artikel lain yang bermanfaat, dan mohon diberi komentar. Terima kasih.

  17. Seorang mengusulkan, dana studi untuk 5 semester itu dipotong saja 2 semester, lalu dibagi dua antara penerima beasiswa dan dosen, dengan syarat, dosen memudahkan perkuliahan agar dapat selesai dalam 3 semester sahaja.

    Gimana kalo studi untuk siswa yang selama 12 tahun (SD-SMA) itu dipotong saja jadi 6 tahun?
     
    Horee…wajib belajar 4,5 tahun…enak to? Mantep to? ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜†

  18. Duh…. repot ya… ๐Ÿ˜ฆ
    Tenang, beasiswa masih banyak kok di kampus saya. ๐Ÿ˜€

  19. Ah, kata Rezki itu kan tidak selalu identik dengan lembaran duit, kawan-kawan?

    Sementang sudah dapat Rezki sing ganalan pang lah… :mrgreen:

    Anyway, terlalu banyak kata “tapi” dalam dialog senin kemarin deh kayaknya, padahal katanya yang kebanyakan ngomong “tapi” itu tipikal orang malas loh…

    Makanya saya jadi bertanya-tanya, niat nggak sih ikut program beasiswa ini?

    Dan sepertinya nggak ada yang niat menghitung berapa biaya perbulan untuk beasiswa yang sudah dikeluarkan pemerintah buat guru-guru tersebut…

    *mo komen lagi tapi ntar ad hominem…*

  20. mantaffff…. semoga jadi guru yg mantafff jua hehehehe,,,….

  21. ini masalah mental y om?????

  22. jadi begini…. (deja vu).

    urusan beasiswa dari Pemerintah, aku sudah pernah dapat dua kali, dengan mekanisme yang berbeda dan dari proyek yang berbeda. buatku sih lebih dari cukup, padahal diriku ini suka berfoya-foya. yang berangkat sekolah hanya membawa satu koper, pulangnya tetep membawa 1 koper baju. tapi plus berkoli-koli barang lewat ekspedisi ๐Ÿ˜€ buku tentunya. memang cara pembayarannya suka aneh, beberapa bulan kosong, lalu dirapel, dsb dsb. sesuatu yang tidak pernah bisa kupahami. itulah gunanya gaji tetap jalan.

    tapi untuk orang berkeluarga, mungkin tidak cukup, karena rumah tangga jadi belah dua, kadang anak masih kecil, sehingga harus dibawa ibunya. kita harus memahami mereka, yang sudah mau kuliah aja sudah syukur. kalau mereka bertanya berapa, itu wajar.

    itu kalau sekolah di dalam negeri.
    kalau sekolah di luar negeri dengan biaya pemerintah? tanya bahri deh. gimana jatuh-bangunnya dia (yang nota bene bukan tipe pengeluh) kuliah di Sydney dengan biaya proyek pemerintah yang kadang beberapa bulan kosong, lalu dirapel. biaya kos di sana mingguan, dalam dolar pula. gaji sendiri mana menutupi. tabungan terkorek habis. sampai harus ngutang ke kampus. menanyakan kenapa belum ditransfer ke pemberi beasiswa? kena omel. kalau aku ya, pulang aja ke Indonesia.

    oya, tentang belajar jarak jauh itu, masih ada looooh. proyek resmi malahan kayaknya dari uni yang cukup besar.

  23. itu… itu…. kenapa avatarku berubah jadi gitu????
    mansup, bawel ikutan beasiswa juga?

    eh tau gak, pernah aku ditelpon temen, dia nanya, ada kenalan gak di Lab Bahasa. kubilang, ya, ada, Bu Nir. Oh, katanya, bisa gak ya dia bikinkan aku sertifikat lulus TOEFL dengan nilai 450 tapi gak usah tes? bayar berapa deh terserah.
    T_T

  24. Mun jadi tulak oleh-olehnya ja…

  25. wah…
    ini tergolong membocorkan aib rumah tangga, gak ,ya?

  26. kasusku: jangankan mo kuliah dengan dapet beasiswa, bea sendiri aja ijinnya harus “gantung diri” dulu kayaknya… itupun belum tentu diijinkan.. ๐Ÿ˜ฆ Jadi boro-boro mikirin kisaran duitnya dapet berapa

  27. beasiswa = tambahan pemasukan dan bukan tambahan ilmu kan..
    hmm.. *menatap nanar*

  28. lagi-lagi pakealasan beasiswa, 200 orang untuk satu Universitas.
    bukannya di indonesia ada banyak kampus menyediakan program pasca…, kenapa harus terpusat di satu universitas saja. Alasnya tidak lain dan tidak bukan, ini pasti untuk menjaga akreditasi, grade akan turun kalau tahun ini jumlah peserta program pasaca kurang dari target, hasilnya pemodal swasta enggan mengucurkan dana untuk kampus brsangkutan.

  29. susah duitnya ya om

  30. ga berani komen

    rencana komen saya sudah direbut eh didahului Amed

    guru2 skarang musti ditatar lagi soal pentingnya bersyukur rupanya ๐Ÿ˜

  31. Ah… seperti yang sudah kuduga……

  32. astaga… astaga… astaga…
    guru-nya saja punya pikiran-pikiran kayak gitu, bagaimana muridnya?
    ๐Ÿ˜ฏ ๐Ÿ˜ฏ

    duh makin untuk yakin meng-homeschooling-kan anak saya, ngga beres ini soalnya ๐Ÿ˜

    kamu mbok jadi guru-nya Vio saja sup! :mrgreen:

  33. discord itu namanya.

  34. Wakakak….
    Dulu saya kuliah di Unnes -(IKIP Semarang), drop out karena kekurangan biaya.
    Sekarang setelah kerja (bukan guru), atas dorongan istri kuliah lagi di IKIP Swasta. Kuliahnya bareng-bareng guru PNS yang belum S1.
    Lagi-lagi drop out karena nggak tahan lihat situasi perkuliahan. Sedih rasanya nggak lulus (lagi). Tapi saya akan lebih merasa sedih, jika lulus dari kampus begituan he…
    Istri sampai heran: kok sok idealis sih. Kompromi dikit napa? Ogah ah, kalau harus gitu-gitu amat.

  35. gurunya pada begitu mungkin karena gaji nya kecil kali hihihihihi
    ampuuun dech

    * selamat ya jadi manusia yg selain dapat beasiswa tapi juga manusia yg bersyukur nikmat….

  36. Entry yang cukup menghibur. ๐Ÿ™‚

  37. uy bang lam kenal lah… ulun fathan.. ulun ne handak umpat kayuh baimbai,tapi ulun ne lagi kuliah di solo,jadi jar harus ada yg merekomendasikan,jadi ulun minta tolong lawan pian direkomendasikan.. makasih sebelimnya bang ae.. blog ulun : atan-hacker.blogspot.com

  38. ngemeng-ngemeng, ini komen bejibun kok gak ditanggapi ya? :mrgreen:

    • lah, urusannya saja belum jelas ini, jadi nunggu perkembangan birokrasinya…

  39. ๐Ÿ˜

  40. jadi beasiswanya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: