Universitas Lambung Mangkurat Jakarta

8 Februari 2010 pukul 14.06 | Ditulis dalam Uncategorized | 7 Komentar

Beberapa hari terakhir, kalangan pemerhati dan pelaku kegiatan di Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) diganggu dengan berita seputar dibatalkannya pemilihan Rektor UNLAM oleh Kementerian Pendidikan Nasional.

Kabar ini tidak mengejutkan, meskipun tentu, mengganggu.

Sejak awal tahapannya, pemilihan rektor UNLAM memang dipenuhi beragam isu dan konflik kepentingan.

Berdasarkan informasi yang beredar, didapat alur cerita seperti berikut:

Ada delapan orang calon Rektor yang pada pertengahan 2009 lalu dipilih oleh Senat Universitas. Dari delapan nama itu, muncul dua nama yang meraih suara terbanyak, yaitu Profesor Ruslan dan Profesor Muhammad Hatta.

Senat akhirnya merekomendasikan nama Profesor Ruslan sebagai kandidat utama Rektor UNLAM 2009-2013 kepada Menteri Pendidikan Nasional.

Namun rekomendasi senat berdasar suara terbanyak ini mendapat beberapa komentar miring. Konon ada kecurangan, konon ada kesalahan prosedur, konon dan konon yang saya mohon jangan dibalik membacanya.

Hingga sekian waktu berselang, Kementerian Pendidikan Nasional tidak kunjung mengeluarkan SK pengangkatan Rektor baru. Alih-alih, Mendiknas justru memperpanjang masa jabatan Rektor Lama.

Status Quo ini tentu menimbulkan semacam ketidaknyamanan bagi penghuni UNLAM.

Dan bukannya semakin jelas, awal bulan Februari 2010 ini, Kementerian tempat para orang bijak bestari itu justru mengeluarkan keputusan baru, PEMILIHAN REKTOR HARUS DIULANG.

Lalu apa peran saya di sini?

Tidak ada apa-apa, demi Tuhan.

Saya tidak lagi kuliah di UNLAM. Saya tidak bekerja di UNLAM. Saya hanya seorang alumnus, yang sekali-sekali datang ke kampus untuk melegalisir ijazah atau menggosib dengan para tukang parkir dan satpam di UNLAM. Itu saja.

Hanya saja, saya kebetulan mengenal Profesor Ruslan.

Sebentar, tidak lama perkenalan kami. Jadi tidak bisa pula disebut kenal baik tentu.

Saya kebetulan pernah mengajar di lembaga kursus tidak jelas pada suatu masa yang kekurangan honornya masih belum dibayar hingga sekarang. Dan salah satu peserta kursus Conversation itu adalah profesor Ruslan.

Yang saya tangkap dari beliau adalah betapa semangat ingin tahu beliau memang sangat tinggi. Keinginan untuk terus maju dan belajar tercermin dari tidak pernahnya beliau bolos kursus. Tidak segan pula bertanya jika ada hal yang tidak beliau mengerti. pun tidak malu dengan peserta lain yang usianya jauh di bawah beliau. Kalau saya tidak salah ingat, ada peserta yang masih usia SMP waktu itu.

Itu saja.

Namun saya kesal, jika untuk hal sepele seperti pemilihan rektor saja, Jakarta dapat dengan mudah memporak-porandakan keputusan yang sudah di ambil di sini, bagaimana dengan hal-hal besar?

Kebijakan pertambangan misalnya. Atau kelistrikan.

Selanjutnya, saya juga menyayangkan betapa tidak pedulinya para mahasiswa UNLAM dengan kondisi kampus mereka sendiri. Mungkin benar, faktor terpisahnya beberapa fakultas di dua kota (Banjarmasin – Banjarbaru) mempengaruhi pola pikir mahasiswa UNLAM. Para pemikir dan ahli teori di Fakultas-fakultas sosial tidak bisa melakukan konsolidasi dengan para pelaku dan ahli praktik di fakultas-fakultas ilmu terapan.

Terakhir, saya juga ingin mengatakan pendapat pribadi saya. Sekali-sekali, saya ingin melihat UNLAM dipimpin seseorang yang tidak bermental cari proyek dan penjilat penguasa….

Itu saja…

***

Tembusan 1

Tembusan 2

Tembusan 3

7 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. saya sangat setuju kalau seorang pemimpin itu tidak bermental cari proyek dan dan penjilat penguasa.

  2. Kembalikan pada aturan yg ada saja, seingat saya untuk PTN (non-PTBH) memang hanya menyerahkan 3 kandidat untuk dipilih 1 orang dan ditetapkan oleh Mendiknas sebagai rektor. Ada pemahaman yang keliru pada sebagian pihak, yang menganggap kemarin itu pemilihan rektor, padahal pemilihan calon rektor. Keliru memahami, maka akan keliru mengapresiasi.
    * C M I W *

    dengan kejadian ini, justru membuat saya bertanya-tanya tentang sebuah hal, bukan soal kisruhnya, tapi bagaimana sebenarnya kualitas komunikasi pihak UNLAM dengan kementrian pendidikan nasional?

  3. saya juga semakin bingung..! apalagi beritanya dikoran sdh mengalahkan pilkada. harapan saya semoga unlam semakin maju.itu saja..

  4. yang kekurangan honornya masih belum dibayar hingga sekarang

    Senasib… hiks! Makanya pilih calon gub yang dokter itu saja…

  5. Hehehe, nampaknya perlu dibuat sitkom baru berjudul ‘Jakarta Knows Best’. Dagelan Departemen Pendidikan nampaknya sebentar lagi akan menyaingi karibnya, DEPAG.

    *Saya selalu kagum terhadap ketabahan teman-teman di luar sana untuk tetap tidak mengangkat senjata karena kecewa*

  6. ini dia alumnus yang potensial.

    mungkin saya cuma numpang lulus saja, sehingga juga tak pernah bisa memberikan apa-apa buat kampus unlam banjarbaru tercintah.

    smoga mimpimu terdengar oleh-Nya, nak

  7. Mengapa harus Terjadi Pemilihan Rektor Ulang ini
    Menurut Saya Bukti-bukti otentik atas kecurangan2 yang diduga tersebut
    harus di buktikan terlebih dahulu sebelum di adakan pemilihan ulang.
    Mungkin itu solusi dari saya……….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: