Kerikil

6 November 2009 pukul 13.56 | Ditulis dalam Uncategorized | 16 Komentar

Sudah jadi kebiasaan saya, setiap kali menjadi bagian dari lingkungan baru, yang pertama saya ajak berteman adalah tukang parkirnya. Atau kalau tidak ada tukang parkir, satpamnya. Atau Office Boy-nya. Pokoknya mereka yang kadang terlupakan di lingkungan mereka sendiri.

Misalnya ketika pertama kali masuk kuliah, lokasi nongkrong paporit adalah parkiran.

Ketika pertama kali ngajar di kedokteran itu, yang pertama kali saya bawakan Roti Boy ya si ibu parkir.

Atau ketika jadi wartawan dulu, narasumber paporit saya juga satpam, bukan para pejabat yang necis berdasi itu.

Menjadi teman para sosok yang kadang terlupakan itu menyenangkan.

Mereka justru menjadi sumber informasi dan inspirasi yang tidak terbayangkan.

Di kampus dulu, kalau mau tau siapa saja mahasiswi yang bisa diajak dugem, siapa saja pasangan yang ribut mencari dukun buat menggugurkan kandungan, siapa saja dosen yang ketauan minta duit buat menaikkan nilai, tanya saja tukang parkir kampus.

Mereka mengetahui semuanya, karena rata-rata orang menganggap para tukang parkir, satpam, pembantu rumah tangga, dan sosok-sosok semacam mereka ini invisible. Tidak ada. Seperti kerikil yang hadir tapi tidak berbahaya.

Akibatnya, banyak rahasia yang terungkap tanpa sengaja di sekitar mereka.

Siapa pula yang menyangka kerikil ini juga punya telinga?

Selain itu, berteman dengan para tukang parkir, satpam dan sosok-sosok invisible ini berarti juga kita akan selalu akan mempunyai tempat singgah.

Misalnya ketika setelah lulus kuliah bertahun lalu dan sekarang kita kembali berkunjung ke kampus, siapa yang akan kita temui? Para teman seangkatan tentu sudah tidak ada lagi. Dosen-dosen mungkin ada yang pensiun, ada yang sibuk, ada menganggap tidak level menemui mantan mahasiswanya. Rektor, dekan, pejabat akan berotasi, berganti.

Yang akan ada selalu tentu saja para tukang parkir bukan?

Selain itu, nongkrong di parkiran kampus berarti anda ada di tempat duduk VIP catwalk mahasiswi. Keindahan dunia kawan… keindahan dunia…

Karena itu saran saya, ketika memasuki tempat baru, jangan dekati bosnya, tapi berkawanlah dulu dengan para kerikil itu, dan belajarlah untuk juga menjadi bagian dari mereka…

Iklan

16 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Tukang satpam di ITS dirotasi setiap bulan. Nggak ada lagi kedekatan tukang satpam dengan mahasiswa. šŸ˜¦

  2. ini mendoakan mereka seumur hidup jadi tukang parkir yah šŸ˜€

    dan apakah kami di kampus harus jadi tukang parkir dulu baru dibawakan rotiboy? hah? hah?

  3. @ Dnial
    Ga ada tukang parkir juga ya? kesian.. padahal info cewek-cewek tergres ada di mereka boi…

    @ Mina
    Bukaaannn… Tapi ya begitu, berdasarkan pengalaman, yang ada ya mereka-mereka itu… no koment soal roti boi

  4. hemm .. kalau dekat dan kenal satpamnya, pasti jadi lebih mudah masuk dan keluar lingkungan itu kan Sup????

  5. Jiwa wartawannya menyeruak, hi..hi

  6. @ nia
    betul nia.. Pinter.. Dulu jaman masih sekolah juga yang dideketin itu satpam, dibeliin rokok lah, biar kalo terlambat ga dilaporkan, huhuhu…

    @ syafwan
    jiwa ngawurnya wan..

  7. Semenjak kantor saya berpindah dari Ahmad yani ke pangeran Samudera, yang saya temani adalah para marketing dan resepsionist hotel sebelah kantor saya

  8. Huh, gak lepel ah!

  9. @ Chandra
    Doeloe, waktu kantor saya di hotel, temen saya para OB dan Cleaning service, lumayan, jadi tau lokasi-lokasi pengintipan kamar hotel yang strategis!

    @ Amet
    ente kan batu kali…

  10. dasar pliboi
    alasan utamamu nongkrong bersama tukang parkir sebenarnya adalah untuk ngecengi para mahasiswi itu kan…

  11. @ ibu ira
    kok tau?

    Ah, saya ini kan memang down to earth….

  12. selaen tukang parkir tu bnyk informasi, biasa na sieh mang mereka yg paling bersahabat… n suka guyon… šŸ™‚

    tp kalo di kmpz wid, paling akrab ma bapak kantin n tukang sapu na… mereka yg slalu nemenin mbil guyon2 kalo nungguin kuliah mlm…

    jd kangen kmpz…. šŸ™‚

  13. Teringat kembali seseorang yang mencak-mencak curhat ke Bibi Pencok karena dikhianati sahabatnya…

  14. @ Widiya
    Menyenangkan kan wid, berteman dengan mereka.. da perlu berpura-pura, apa adanya kita aja…

    @ Amet
    Dan dengan bijakknya bibi pencok mengklaim, “ga papa, bibi berani taruhan, paling setengah tahun mereka udah putusan…”

  15. Iyaaa, berteman dengan ibu-ibu yang jualan di depan kelas. Bisa nitip catatan/jas lab/diktat ke teman yg beda jam kuliah, nitip tas pas sdh telat trus nyelonong masuk, info dosen, ato sekedar nongkrong pas ngantuk di jam kuliah. Gosip senior galak jg dapet šŸ˜†

    Tapi kalo satpamnya, euh… Sering agak arogan. šŸ˜

  16. @ desti
    kalau untuk satpam macam itu, dibeliin rokok aja biasanya. Tapi jangan kelewat dekat juga..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: