Cerita Lucu

20 Oktober 2009 pukul 10.30 | Ditulis dalam Uncategorized | 33 Komentar

Saya mau bercerita sebuah cerita lucu…

***

Sore kemaren, selepas memberi kuliah saya berniat ke rumah Pakacil. Sekedar menumpang istirahat setelah lelah bolak-balik di jalan. Di depan komplek rumah Pakacil, saya berpapasan dengan om Warmorning. Setelah berunding tanpa meja bundar kami sepakat bersama-sama melanjutkan perjalanan ke rumah Pakacil.

Di rumah Pakacil, kami sukses membangunkan tuan rumah yang tertidur sejak pagi dengan alasan tidak ada kerjaan karena listrik padam sejak pagi.

Alasan itu bisa saya terima, karena ketika di kampus tadi saya juga kesulitan mengajar karena alasan yang sama. Bayangkan saja kelas berisi 100 mahasiswa/mahasiswi yang sudah kelelahan belajar dari pagi, tanpa AC atau sekedar kipas angin. Belum lagi bahan kuliah yang tidak bisa ditampilkan di slide.

Singkat cerita, saya , Pakacil dan Om Warm menghabiskan sore itu sambil berbincang. Sebagian besar pembicaraan diisi cekakakan Om Warm yang membaca buku beracun Pidi Baiq.

Selesai.

Bagaimana? Lucu tidak?

Tidak?

Baiklah, ini cerita lucu satu lagi…

###

Akhir pekan lalu, status Facebook seorang teman sesama guru membuat saya tertawa sambil menangis. Benar-benar TERTAWA SAMBIL MENANGIS.

Statusnya begini: “baru kali ini menemukan ada atap seng dimaling…”

Benar saudara-saudara,

Atap bangunan sekolahan yang menjadi satu-satunya penahan sengatan terik mentari dan terpaan hujan angin itu DICOLONG MALING.

atapatap2

Kejadian ini menjadi puncak beberapa masalah yang terjadi terkait sekolah dan bangunan sekolah di daerah tempat saya mengajar.

  • Masalah pertama adalah jumlah bangunan sekolah.

Hingga sebulan yang lalu, hanya ada 1 (SATU) ruangan yang menjadi properti sekolah tempat saya mengajar. Padahal, secara logika saja, seharusnya ada minimal 4 ruangan untuk sebuah sekolah. 3 untuk kelas dan 1 untuk ruang guru.

Jangan dibayangkan bagaimana sulitnya mengajar di satu ruangan ukuran 5 x 6 meter dibagi empat itu…

Sebenarnya sesuai janji dari pejabat terkait, bangunan sekolah akan ditambah setiap tahun. Namun entah kenapa, 2 tahun berturut-turut beberapa sekolah di kawasan saya lolos dari janji tersebut. Konon karena ada sekolah lain yang sebenarnya tidak mendapat jatah bangunan baru, tapi berani menjanjikan setoran persenan proyek lebih besar yang akhirnya ‘beruntung’ mendapatkan bangunan baru itu.

  • Masalah kedua, adalah lokasi bangunan sekolah yang sangat tidak wajar.

Sekolah yang atapnya hilang tadi lokasinya ada di tengah-tengah hutan karet. Menyendiri.

Sementara sekolah tempat saya mengajar lebih beruntung karena terletak di tengah desa. Namun masalahnya sama, kami kekurangan murid.

Teori pembangunan sekolah menyatakan, keberadaan sekolah lanjutan minimal harus ditunjang 5 sekolah penyuplai.

Jadi sederhananya begini, jika ingin membangun satu SMP, maka harus dipastikan minimal ada 5 SD di sekitar SMP
tersebut sebagai penyuplai siswa.

Celakanya, di sekitar sekolahan saya mengajar, hanya ada 1 SD. Itu pun tidak semua siswa lulusannya masuk ke Sekolah saya.

Akibatnya bisa ditebak, tahun ini, murid baru kami hanya 4 orang….

Saya pribadi sebenarnya tidak ada masalah dengan ini. 1 saja pun murid yang ada, saya akan tetap mengajar. Namun kalau dipikirkan dari sisi efisiensi entah kenapa terasa ada yang salah. Bayangkan saja, berapa gaji dan tunjangan para guru dan biaya operasional sebuah sekolah. Hanya karena kesalahan letak sekolah, semua dana dan tenaga terasa terhambur begitu saja.

Siapa yang salah?

Entahlah…

Seharusnya lokasi pendirian sekolah memang di survei terlebih dahulu oleh pejabat terkait.

Konon, kontraktor pembangunan sekolah kami adalah Bapak Camat yang terhormat, yang memang perusahaan kontraktornya diatasnamakan orang lain tapi empu sebenarnya memang beliau. Dan pejabat berwenang yang menetapkan lokasi pendirian sekolah adalah Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan yang sama yang dijabat oleh… Istri Pak Camat kontraktor di atas….

Harga tanah tempat sekolahan kami dibangun itu memang paling murah dibanding lokasi lainnya. Wajar, karena letaknya yang naudjubillah terpencil dan terlantar. Entah, berapa yang dilaporkan ke pimpinan tentang harga tanah itu…

  • Masalah ketiga dan terakhir yang saya tulis di sini karena saya tidak ingin ini posting jadi posting penuh keluhan, adalah kultur masyarakat.

Saya saja yang merasa atau memang seperti itu adanya, masyarakat sekarang lepas tangan dalam sektor pendidikan. Efek dari koar-koar Pendidikan Gratis Pak Boss itu?

Lihat saja, berapa banyak konflik antara sekolah dan masyarakat terkait hal sensitif seperti dana dan wewenang guru dalam mendidik. Atau, ingat kepala sekolah yang dipolisikan karena menegur siswanya yang bandel?

Nah, ditempat saya mengajar, tidak hanya cuek dalam hal pendidikan (saya dan teman-teman guru harus keliling dari rumah ke rumah pada tahun ajaran baru, menemui orang tua agar mengijinkan anaknya melanjutkan sekolah, dengan janji pasti tidak akan dipungut bayaran apapun, dapat seragam gratis, kostum olahraga gratis, dan plus beasiswa), masyarakatnya cenderung… ‘destruktif’.

Tidak terhitung berapa kali jendela bangunan sekolah saya dibobol dan terjadi kehilangan properti. Yang hilang pun tidak penting, sekedar penghapus kain, sekotak kapur tulis dan spidol, atau sekardus air mineral.

Tidak terhitung pula berapa kali siswa tidak bisa masuk ruangan karena kunci pintu tiba-tiba rusak. Atau tiba-tiba ada (maaf) kotoran sapi dilemparkan ke dalam kelas. Daerah tempat saya mengajar memang didominasi warga pendatang yang gemar beternak sapi.

Puncaknya ya itu tadi, atap yang sudah dipasang dengan rapi, hilang 20 lembar.

Oh iya, ada lanjutannya.

Hari yang sama juga, kehilangan atap itu dilaporkan ke polisi.
Guru pelapor: “mau laporan kehilangan atap seng sekolah pak, 20 lembar”
Polisi: ” hilang di mana?”
Guru: “ya diatap pak!”
Polisi: “Hah!? Kurang ajar sekali malingnya??!!”

Tak lama, kepala sekolah mendapat sms dari nomer tidak dikenal: ‘jangan laporkan kemalingan sekolah bapak ke polisi, demi keselamatan kita bersama termasuk guru-guru’

***

Bagaimana? lucu kan?

Iklan

33 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. sumpah! lucu banget sup! 😆 *tertawa satir*

  2. @ chic
    persis ketawa saya berarti…

  3. Lha.. Saya malah binggung bos.. mau ketawa apa mau nangis.. zaman sekarang, atap seng aja ilang? atap sekolahan pula? *akhirnyasayageleng-gelengkepalasaja* :mrgreen:

  4. @ ahyari
    buka gugel ketik define:satire + enter

  5. berusaha untuk tidak tertawa..dan menangis…walau terasa berat…

  6. ckkkckkKkkk…

  7. pengen ketawa tp sedih juga .. kok tega ya malingnya itu .. masa anak² dan gurunya disuruh belajar dibawah bangunan tanpa atap??? kalau hujan gimana???? kalau panas gimana?? hiks

    mudah²an tar langsung dibangunkan sekolah yang atapnya ga bisa dicuri lagi ya sup ..

  8. baca ini mau marah tapi gak tahu marah ke mana. *sedih*
    btw, kampus mana sih itu yang mati melulu lampunya? 😀 3 hari mati melulu rasa di sauna. gak bisa kerja juga.

  9. Di sekolah saya pernah ada kejadian, kayu galam untuk pembangunan sekolah hilang dicolong. Sebagai gantinya, penjaga sekolah saat itu menawari kayu galam baru ke kepsek. Transaksi terjadi, tak lama kayu itu dicek sama guru urusan sarana, ternyata ada stempel yang PERSIS SAMA dengan kayu yang hilang dulu… Ya, kayu yang hilang itu dijual lagi ke sekolah yang kehilangan…

    Sekarang penjaga sekolah yang bersangkutan sudah tak jelas lagi di mana rimbanya…

  10. Tak lama, kepala sekolah mendapat sms dari nomer tidak dikenal: ‘jangan laporkan kemalingan sekolah bapak ke polisi, demi keselamatan kita bersama termasuk guru-guru’

    😯

  11. Daerah tempat saya mengajar memang didominasi warga pendatang yang gemar beternak sapi.

    kiaukan buhan bahasa patah patah! nyaman disate pulang! atau suruh bejauh, bulikakan ke kampungnya nang tandus sana!

  12. ketawa sambil menangis nah … whahahahaha …. T_T ……..

  13. sampeyan memang lucu lhoh, mas
    lah kok saya malah manggil mas toh
    pokoknya mari kita nikmati kelucuan-demi-kelucuan hari ini dan besok hari dan entah kapan nanti,
    merdeka !

  14. eh, nambah komen supaya gak lucu ah…
    soal maling seng, tetanus dah ntu maling ..
    soal pejabat merangkap kontraktor itu, go to hell !
    soal pengancam via sms itu, smoga bisulan seumur hidup
    soal janji penambahan kelas yg basi itu, ..ah kehabisan bahan kutukan saya ..
    😦

  15. hahaha, malingnya keren, udah punya HP, ketahuan gobloknya lagi…..

  16. “baru kali ini menemukan ada atap seng dimaling”

    gak ada yang lain apa? 😕 iya, baru kali ini..

    Tak lama, kepala sekolah mendapat sms dari nomer tidak dikenal: ‘jangan laporkan kemalingan sekolah bapak ke polisi, demi keselamatan kita bersama termasuk guru-guru’

    😯 what???!

  17. Kuaaakakakakak…lucu bro..

    .Laptop Murah .Lowongan Kerja di Bali

  18. speechless…..

  19. lu cu *nyari tisu*

  20. glodak,
    *jatuh dari kursi*

  21. heheh salam kenal, tulisan kamu lucu…

  22. kayak sekolahnya laskar pelangi ini.. tapi sebenernya saya masih bingung lucunya dimana.. huaha *kabur* 😀

  23. bwahahahahaha parah banget… masa atap seng juga diembat. Zaman udah berubah cuy.. 😀

    bakalan hati-hati nih ama rumah sendiri.. :O

    dimana kejadiannya itu Om ??

  24. Saya coba menebak apa isi kepala sang maling itu. Mungkin begini: “…daripada kandang ayam gua belum ada atapnya, kasian tuh ayam kehujanan dan kepanasan. mending atap sekolah aja gua ambil…” 🙂

  25. Lucu abis ceritanya…..
    sampe ketawa ngakak saya.

  26. kalau memang penempatan posisi sekolah itu didasari oleh sesuatu yang tidak benar, kalau bisa sih pemerintah daerah merger saja itu sekolah-sekolah. tapi itu ya kalau bisa.

    untuk soal tindak kriminalnya, tentu tinggal urusan pak pulisi bagaimana mengusut dan mengatasinya.

    tapi, kenapa tidak ditulis lebih bagus sih, soal saya itu. kan lebih elok kalau saya dikatakan lagi sibuk nyapu halaman atau beberes rumah. kesannya jauh lebih produktif dari pada ditulis tidur begitu.
    🙄

  27. Pencurian properti sekolah memang nggak bisa ditolerir (tidak ada plafon ruangan, bro?), tapi, saya sependapat dengan pakacil, kalau memang ada ketidakefisienan dalam eksistensi sekolah, tak ada salahnya ditinjau ulang. Saya menyayangkan guru selevelmu kalo ilmunya hanya turun ke 1-4 murid… 🙄

  28. Tertawa gak tega.. Mang gak ada lagi yg bisa di curi? sampai seng gtu yg di curi. Dah di paku di atap kan?? niat bgtt tu maling.

  29. Sekolahan tempat ibu saya mengajar juga pernah di maling dulu. SDN 09 Cilincing. Waktu itu hujan. Hari minggu. Sekitar jam empat sore.

    Jam lima sore, penjaga sekolah datang ke rumah, “Bu.. Bu! Sekolah kita kemalingan”

    Ibu saya kaget, “Apa yang diambil Pak Wandi?”

    “Komputer Bu. Di kantor kepala sekolah”

    “Malingnya siapa Pak?”

    Saya yang kebetulan sedang membersihkan got yang penuh sampah, menyela, “Lah Ibu. Yang bener aja. Kan malingnya udah kabur”

    Pak Wandi menoleh, “Nggak mas arip. Malingnya masih ada. Dia masuk lewat atap. Tapi nggak bisa manjat kabur. Komputernya juga masih ada”

    Saya kaget. Ibu mengulang pertanyaannya, “Malingnya siapa Pak?”

    Sambil mengusap keringat campur air hujan Pak Wandi jawab “Temennya mas arip, Bu. Mangkanya saya kesini dulu sebelum ke kantor polisi”

    (*Nampaknya maling sekolah Mansup lebih cerdas daripada maling Cilincing*)

  30. rumit..aduhai rumit

  31. itu enggak lucu…sama sekali eggak lucu!!!!*sambil teriak*
    (Sabar non..). Ternyata masih banyak hal-hal miris seperti ini terjadi di negara kita tercinta ini……menyedihkan. Tapi ya udahlah…percuma mencak-mencak cuma menghabiskan energi aja. mending dukung perjuangan pak guru kita ini..karena mereka lah yang bakalan menciptakan generasi yang lebih baik yang suatu saat akan memimpin bangsa ini*semoga*

  32. begadang di temani cerita lucu yang menghibur jadi tambah nggak bisa tidur.. terima kasih sobat

  33. ih luuuuuuuuuuuuuuuuuuuccccccccccccccccccccccccccccccccuuuuuuuuuuuuuuuuuuu bbbbbbbbbbbbbbbbbggggggggggggttttttttttttttttt………………..:d


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: