Beberapa Catatan Setelah Membaca The Lost Symbol

29 September 2009 pukul 17.13 | Ditulis dalam Uncategorized | 19 Komentar

Beberapa catatan setelah membaca Dan Brown – The Lost Symbol

1. Isaak atau Ismail?

Menarik memikirkan bagaimana penerjemah novel ini akan menerjemahkan bagian cerita tentang pengurbanan Ibrahim/Abraham pada versi bahasa Indonesianya.

Pada versi Inggrisnya, sama seperti versi Al-kitab, putra yang dikurbankan Ibrahim adalah Isaak. Isaak, adalah kakek moyangnya bangsa Yahudi. Sementara di Indonesia, sebagai negara mayoritas muslim, mempercayai bahwa yang dikurbankan dan menerima dengan ikhlas hati adalah Ismail, bapaknya bangsa Arab.

Apakah pengarang akan tetap mempertahankan versi aslinya, bahwa yang ditempatkan di atas altar persembahan dan akan dipenggal lehernya dengan pisau bergagang tulang dan dibuat dari meteorit yang jatuh di gunung Sinai itu adalah Isaak? Dan (mungkin saja) mengambil resiko akan menimbulkan kontroversi di negara penyuka protes ini. Atau berdamai dan menggantikan cerita versi Brown dengan Isaak diganti Ismail?

Tunggu saja dengan sabar.

Saya seh manut Gus Dur, “mau Isaak, mau Ibrahim, tokh dua-duanya selamatkan? Ga jadi disembelih?”

2. God spot

Pada beberapa Bab, saya teringat kembali ketika mengikuti training ESQ. Menangis merasa Tuhan begitu dekat, ketika dijelaskan tentang titik pada otak yang menghubungkan langsung manusia pada Tuhan. Entah, apakah saya menangis pada saat training itu memang karena tobat, atau faktor kaget dengan musik latar training yang… gothic..

Yang jelas, menarik mencari tahu tentang kepala manusia ternyata ketika lahir ternyata ada bagian yang tidak tertutup terngkorak, tepat di puncak. Bagian ini konon akan tertutup tulang sejalan dengan usia. Simbol manusia masih berhubungan langsung dengan Tuhannya ketika bayi?

Entah.

3. Mau sholat berjamaah lebih sering

Dengan inti cerita bahwa pikiran manusia (human mind) mempunyai massa, dan massa itu akan bertambah berkali lipat jika pikiran dibagi dengan manusia lain, mengingatkan pada pahala sholat berjamaah yang katanya 27 derajat lebih tinggi dibandingkan jika sendirian.

4. Mau mempelajari Al-Qur’an lebih dalam

Disebut beberapa kali di buku ini, berdampingan dengan Taurat, Weda dan tentu saja Al-Kitab, Al-Qur’an sebagai salah satu kitab yang bertahan dalam berbagai jaman, memang menarik. Kenapa Al-Qur’an bertahan? Simply because God promise to protect the Holy Script? Or because there’re some hidden wisdom more than words inside?

5. Kita dewa bagi orang jaman dulu

Bayangkan, seandainya orang jaman dulu melihat kita sekarang. Terbang dengan besi. Menginjak bulan. Berbicara lewat udara. Sementara mereka bahkan masih meyakini bumi itu datar. Akan bagaimana mereka memandang kita selain… Gods?

Iklan

19 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Jangan lupa, ini adalah novel fiksi. Semua kesamaan dengan kenyataan adalah kebetulan.

    • tapi di awalnya ada tulisan, ritual-ritual, tempat, dan organisasi-organisasinya adalah fakta

  2. 8-|

    • apakah linda baru saja menuliskan semacam symbol rahasia??

  3. Saya nyomot ini ” atau faktor kaget dengan musik latar training” .. ya itu sebabnya .. dalam ilmu otak, untuk menurunkan gelombang beta yang ribut ke gelombang alfa yang mudah mengakses ke alam bawah sadar diperlukan musik, bebunyian tertentu .. saya punya beberapa contoh kalo mau .. 🙂

  4. @ dr. Agus
    Berarti kalau mau pake sinis-sinisan, untuk jadi ‘tobat’ tidak perlu sampai menghitamkan jidat segala pak? cukup mendengarkan… enya atau kitaro mungkin? :mrgreen:

    It’s a joke.. Saya hanya merasa tidak begitu nyaman dengan ‘tobat instan’ setelah pelatihan semacam itu, padahal menurut saya, itu hanya terbawa suasana…

    Arrrggghhh, sesat kamu fadil!!

    • Sudah on the right track kok .. jangan merasa salah .. karena memang menurunkan gelombang otak (ESQ, MindFocus pada Quantum Ikhlas) dan mengelola bahasa hati (HeartFocus pada Quantum Ikhlas) seharusnya memang bukan bermaksud bertemu Allah. Atau menjalani proses pertaubatan. Itu sekedar alat. ESQ emang agak kebangetan masuk ke wilayah yang tak menentu, masa’ titik spiritual sa’emprit bisa mewadahi Allah yang Al Wasii. Jadi titik sambungnyapun rasanya mustahil. Pengetahuannya saja yang diambil, karena itu hasil pikir Ari Ginanjar yang harus kita hargai.
      Di MindFocus, gambaran seorang yang bermeditasi seperti pertapa di tempat sepi dekat dengan alam (bunyi hujan, kicau burung, gel alfa) dibandingkan dengan orang yang mendengarkan CD entranchmentnya mas Nunu (RB Sentanu), ternyata ngga banyak beda. Tapi tentu saja waktu yang dipakai merenungi alam semestanya yg jauh lebih sedikit. Mungkin disana perbedaannya. Saya juga ngga melihat ini lebih jauh.
      BTW, hitam jidat itu bukan tanda rajin shalat lho, tapi pertanda sajadahnya mutunya jelek .. hehehe

  5. […] cerita Bang Aip tentang sang nyonyah yang kerepotan menghadapi sentimen beragama, dan setelah mengkhatamkan novel terbaru Dan Brown – The Lost Symbol, saya jadi kembali berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan utama […]

  6. Disebut beberapa kali di buku ini, berdampingan dengan Taurat, Weda dan tentu saja Al-Kitab, Al-Qur’an sebagai salah satu kitab yang bertahan dalam berbagai jaman, memang menarik. Kenapa Al-Qur’an bertahan?

    Setahu saya, salah satu alasan pendukung bertahannya Al-Qur’an adalah karena banyak yang menghafal. 😛 Jadi, jikapun semua mushaf mendadak musnah, masih banyak yg bisa menulis ulang.
     
    Mekanisme ini juga meminimalkan kemungkinan distorsi/perubahan isi Qur’an. Banyak hafidz = banyak korektor; kalau ada konten yang menyempal bisa langsung ketahuan dan diperbaiki.
     
    /kalau dipandang secara sekuler sih begitu
    //CMIIW though

  7. Setahu saya, salah satu alasan pendukung bertahannya Al-Qur’an adalah karena banyak yang menghafal. 😛 Jadi, jikapun semua mushaf mendadak musnah, masih banyak yg bisa menulis ulang.

    Iya, pernah baca…
    Nah, lalu kenapa sampai ada ribuan hafidz? Kenapa para manusia luar biasa itu mampu menghafal berjuta huruf? Pasti karena ada sesuatu yang menarik bagi otak pada rangkaian huruf itu bukan?

  8. sudah terbit, toh..

  9. @ Warm
    Versi pdf englishnya pak…

  10. Kirimkan ke e-mail saia ndul…

  11. @ amed
    komputer da ada saya upload di mana? Pinjem laptop!

  12. Yaudah minta link-nya aja, nemu di mana?

  13. @ amd
    sudah.. Ke amd.smart@gmail

    • 1.Biasanya sih di footnotes penerjemah akan menerangkan bahwa terkait kepercayaan Kristiani demikian…sementara terkait kepercayaan Islami demikian… Dalam beberapa buku terjemahan yang menuliskan hal ini saya menemukan footnote semacam itu.

      Yap baru saja menamatkan pdf-nya Lost Symbol, nuansa thrillernya tidak semencekam dua seri Robert Langdon sebelumnya, tapi lebih spirituil…in some moments it feels like “Celestine”-nya James Redfield ^^

      *setelah menamatkan buku ini, lagu BeeGees lama “Word” kembali saya setel ,siapa tahu ada kode di liriknya juga 😀

  14. @ Odi
    Mungkin akan ada footnote, tapi tetap saja akan mengurangi esensi cerita. Lagi pula, notenya akan panjang :mrgreen:

    Pesan spiritualnya memang cukup menyita isi novel keseluruhan, apalagi endingnya, benar-benar tidak seperti buku-buku yang lalu.

    Nanti saya cari lagunya BeeGees 😛

  15. klo mnurut gw di pertahanin aj versi aslinya
    org Indonesia tw kq klo ini novel terjemahan yg notabene pngarangnya bkan seorang muslim
    klo di ubah entar bkan DAN BROWN nya marah loh….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: