The Words

29 September 2009 pukul 18.03 | Ditulis dalam Uncategorized | 14 Komentar

Membaca cerita Bang Aip tentang sang nyonyah yang kerepotan menghadapi sentimen beragama, dan setelah mengkhatamkan novel terbaru Dan Brown – The Lost Symbol, saya jadi kembali berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan utama manusia.

Apakah ‘jiwa’ manusia benar-benar ada?
Apa yang terjadi pada ‘kesadaran’ manusia jika jasad ini, a mortal flesh of human being, berhenti beroperasi?
Apa yang seharusnya kita lakukan sekarang, di saat jasad masih beroperasi di dunia?

dan tentu saja, saya, tidak bisa menjawabnya.

C’est Impossible…

Jika puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan benak yang jauh lebih mumpuni dari pada benak saya memikirkan hal yang sama dan juga tidak menemukan jawabannya, bagaimana mungkin saya bisa?

Secara pribadi, saya percaya pada keberadaan Dzat, the Great Architect of the Universe, yang mungkin disebut dengan nama yang berbeda oleh beragam manusia.

Saya menyebut-Nya Allah.

Sebagaimana orang tua saya mengajarkan saya seperti itu.

Pertanyaannya adalah, apa tujuan Allah menciptakan manusia, dan alam semesta?

Dan sekali lagi, itu pertanyaan terlalu besar untuk benak kecil terbatas saya.

Masalahnya adalah, ada beberapa orang yang saya kenal, baik secara langsung maupun tidak, mengklaim bahwa mereka mengetahui apa maunya Allah.

Dan lebih masalah lagi, mereka merasa mengetahui mereka ‘terpilih’ menjalankan maunya Allah.

Dan ini membawa kita ke sebuah kenangan pribadi…

***

Pada suatu ketika, saya mengikuti sebuah kegiatan yang mengharuskan saya menginap di semacam asrama selama beberapa waktu dengan rekan-rekan baru.

Pada sebuah diskusi, saya berdebat panjang dengan seorang rekan. Topiknya apalagi kalau bukan tentang Tuhan siapa yang paling hebat.

Eh, sebenarnya, topik awalnya adalah tentang wewenang negara mengatur ‘agama’ penduduknya.

Kami membicarakan beberapa peraturan daerah yang bernuansa agama. Semisal perda larangan membuka warung makan di siang hari selama bulan ramadhan, larangan makan dan minum di depan umum selama ramadhan, larangan diskotik, cafe, karaoke dan tempat bilyar buka sebulan penuh selama ramadhan, larangan melintas di depan masjid selama waktu sholat jumat, dan aturan semacam itu.

Saya berpendapat, beberapa aturan semacam itu sudah kebablasan.

Larangan makan dan minum di siang hari selama ramadhan itu misalnya. Pernah ketika sedang liputan mengikuti aparat satpol PP patroli, saya terkaget-kaget karena para aparat itu tiba-tiba menangkap seorang tukang bengkel yang merokok di dalam bengkelnya. Alasan mereka tentu saja perda daerah ini melarang makan, minum dan merokok di siang hari selama ramadhan.

Masalahnya, si tukang bengkel tadi merokok di dalam bengkelnya, dan dia, bukan muslim.

Kembali ke topik diskusi tadi.

Sang rekan saya ini, yang memang sejak di kampus dulu terkenal sebagai anggota AMBH – Angkatan Muda Baitul Hikmah (Baitul Hikmah itu nama masjid di kampus saya) terus mempertahankan pendapatnya bahwa di Indonesia, minoritas itu harus mengikuti mayoritas. Tidak boleh mengganggu ibadah muslim. Kenapa? Karena muslim itu selain banyak, juga yang paling benar.

Saya, yang juga anggota AMBH – Angkatan Muda Beverly Hills, protes.

Urusan seseorang agamanya apa, mau sholat atau tidak, puasa atau tidak, itu urusan dia dengan Tuhannya.

Setahu saya, Tuhan tidak akan berhenti jadi Tuhan jika ada 5-10 manusia yang tidak puasa.

Dan bagi saya, beberapa rekan seperti rekan debat saya ini, memuakkan, karena memiliki standar ganda.

Pada saat kuliah, dia berada di garis depan garda pejuang Khilafah dan menolak segala bentuk pemerintahan sekuler.
Lulus kuliah, eh, kerjanya jadi PNS…

Sebenarnya pula, tidak penting sekali bagi saya untuk memperpanjang debat ini, karena sesuai prinsip saya tadi, mau dia tidak berpuasa, mau dia merasa jadi wakil Tuhannya, mau dia merasa sudah sering ngobrol sama malaikat, itu urusan dia.

Tapi saya mengkhawatirkan jika rekan debat saya ini mewariskan cara berpikirnya itu kepada siswa-siswanya.

Ya, dia seorang guru.

Mau jadi apa para murid, jika gurunya adalah seseorang yang membenci orang lain hanya karena orang itu suka makan di Kentaki Pred Ciken?

Prejudis macam ini sangat berbahaya bagi otak muda.

Untungnya, waktu debat habis dan kami kembali ke apa yang kami yakini masing-masing…

***

Tak lama setelah debat tanpa hasil itu, seorang rekan lain, yang juga mengikuti kelas tadi mendekati saya, “I’m agree with you” katanya.

Rekan lain ini,  tentu saja seperti biasa, adalah seorang perempuan muda, manis, pinter, ada fotonya di facebook saya dan non muslim.

“Let me tell you a secret…”

Sumpah, saya tidak melakukan apa-apa, atau meminta dia bercerita, atau apapun tindakan yang menimbulkan efek dia mempercayakan rahasianya itu kepada saya..

“I was a moslem…”

Oke, lalu?

Lalu intinya rekan perempuan saya ini bercerita tentang dia yang dulunya muslim, lalu menikah dengan suaminya yang non-muslim. Setelah menikah dan mengikuti agama suaminya, dia lalu meninggalkan kampung halamannya. Suaminya ditugaskan ke daerah baru.

“Saya capek Dil…” katanya

Di daerah baru, entah kenapa para tetangga sepertinya menjauhinya gara-gara informasi dia berpindah agama telah tersebar pula. Belum lagi rasa bersalahnya karena bapaknya meninggal tak lama setelah ia menikah. Sebagian keluarga menyatakan bapaknya stres karena dia pindah agama. Belum lagi kalau ketemu orang-orang ‘fanatik’ yang menceramahinya agar bertobat dan kembali ke agamanya yang lama.

Termasuk dalam orang fanatik ini ternyata rekan debat saya tadi…

“Barusan saya diceramahi, diomeli, diminta mengajak suami dan anak saya pindah agama ke agama lama. Dan kalau dia tidak mau, saya harus meninggalkannya, begitu katanya Dil…”

Whew…

Saya tidak bisa berkomentar apa-apa…

Hanya ada perasaan kasihan…

dan malu….

Iklan

14 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. .
    Mungkin ada baeknya, temen diskusi situh suruh ikut pengajian di tempat sayah….

    http://mbelgedez.com/2009/04/24/tuhan-ndak-sama-dengan-kelamin/

  2. @ mbel
    Facebook saja dia ga punya mbel… bisa shock dia kalo baca diskusi begituan. Kalo dah kenal internet, mau saya ajak jalan-jalan ke blognya almarhum wadehel…

  3. Saya jadi inget cerita dimana supir angkot rame2 ngegebukin seseorang hanya karena kepergok gak puasa di daerah sepupu saya 😕

    Saya kadang bingung 😕

  4. @ andriano minami

    kalo gak puasanya pamer-pamer petantang petenteng di terminal pasar ya wajar kalo ada yang tersinggung. Tapi kalo sengaja dicari-cari ke dalam rumah yang da puasa.. Ya itu kelewatan..

  5. pinter skali ulasannya, sepupu siapa sih ente ? 😀

  6. @ warm
    *muntah kulit kerang*

  7. Sebentar, sebentar…

    seorang rekan tersebut sekarang sudah jadi PNS? waduh…

  8. @ Amd
    sebelumnya dia pejuang khilafah ndul…

  9. duh, saia tak memiliki kemampuan dan keberanian jika sudah tentang BELIAU.

    tapi saya meyakini, agama dan pemeluknya dijembatani oleh persepsi.
    Persepsi itulah yang kemudian diyakini sebagai sebuah kebenaran.
    namun, entahlah…
    😦

  10. @ pakacil
    “tidak tahu dan terus mencari tahu” itu prinsip saya soal agama dan tuhan..

  11. wah kayaknya udah mesti beli bukunya brown yang baru…biar updet.

  12. Ketika Mas Gentole menulis kata “updet” saya bertanya-tanya, apakah ini sentimen pro alay?

  13. @amd
    .
    Hehe… :mrgreen:

  14. @ Gentole – Amed
    Alay is may life!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: