Penanganan Bagi Pencandu Narkoba di Kalimantan Selatan (?)

22 September 2009 pukul 19.53 | Ditulis dalam Uncategorized | 17 Komentar

Seorang teman perempuan datang kepada saya siang itu.

Tujuannya seperti biasa para perempuan lainnya yang datang pada saya, curhat.

Tapi kali ini masalahnya tidak sekedar masalah hati. Teman saya ini membawa masalah keluarga.

Sejak beberapa bulan, ayahnya keluar masuk rumah sakit. Diagnosa penyakitnya banyak. Mulai dari hipertensi, gula darah, jantung, hingga lambung yang tidak bekerja benar.

Awalnya seperti itu.

Lalu teman ini menginformasikan bahwa sakit ayahnya ternyata lebih pada faktor penyebab psikis daripada fisik.

Ayahnya menemukan adik laki-laki teman saya ini kecanduan narkoba.

“saya harus bagaimana Dil? Ayah sakit, tidak mau makan, beliau kecewa, marah dan merasa gagal mendidik anak. Sementara adik di rumah juga sudah parah kecanduannya. Sudah berapa kali mencoba bunuh diri. Tiap ditegur, dia mengambil pisau dan mengancam siapa saja yang di dekatnya. Saya tidak berani pulang ke rumah. Dari seminggu lalu di rumah sakit saja menemani ayah… Di rumah cuma ada kakak sama adik..”

***

whew..!

Seperti biasa, setiap menanggapi curhat teman, saya tidak pernah berusaha memberi solusi. Saya hanya menceritakan apa yang saya lakukan jika saya ada di posisi mereka.

Namun kali ini cukup berat. Pertama, saya tidak punya banyak pengalaman dengan narkoba. Merokok pun tidak. Bukan karena saya idealis, hidup sehat atau alasan positif lain. Sederhana saja, saya tidak pernah punya uang cukup untuk itu semua. No need more reasons…

Karena itu, saya tidak tahu jelas kenapa seseorang bisa kecanduan dan bagaimana menghadapinya.

Saya juga tidak tahu apakah di banjarmasin ada panti rehabilitasi narkoba seperti yang ditanyakan teman tadi. Yang saya tahu, ada pesantren tradisional yang menerima santri pecandu dan mencoba mengobati mereka, dengan cara yang juga ‘tradisional’ tentu.

Saya juga dapat info bahwa ada layanan khusus untuk pecandu di rumah sakit jiwa Sambang Lihum Kalsel. Tapi bagaimana detailnya tidak jelas.

Saya juga tidak tahu, apakah tindakan menyilet lengan oleh pecandu merupakan percobaan bunuh diri atau dampak ‘normal’ dari kecanduan.

Saya tidak tahu beda antara kecanduan shabu, ekstasi, ganja atau lainnya.

Singkatnya, saya tidak bisa membantu banyak kali ini. Hanya memberikan prioritas yang perlu dilakukan untuk teman saya ini.

1. Memprioritaskan ayahnya, pastikan mendapat perawatan psikis dan fisik.

2. Menjaga kesehatannya sendiri.

3. Memastikan adiknya tidak merasa dikucilkan atau disalahkan. He made mistake, who hasn’t?

Sementara itu saja yang bisa saya katakan, lainnya saya perlu bantuan, khususnya soal penanganan pecandu narkoba dan rehabilitasinya di banjarmasin atau sekitarnya.

Ada yang bisa bantu?

Iklan

17 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya juga tidak tahu, apakah tindakan menyilet lengan oleh pecandu merupakan percobaan bunuh diri atau dampak β€˜normal’ dari kecanduan.

    Yang pernah saya dengar, bisa jadi darah yang keluar “diisep” lagi (atau digimanain saya juga ga ngerti sih, yang jelas dikonsumsi kembali). Katanya, khasiatnya mirip dengan kalau mengkonsumsi obatnya. CMIIW.

    Eee…pake cara kekerasan ga bisa? Ada orang kuat yang mencengkeram dan menjauhkannya dari benda tajam. Cuman ya sebaiknya dilanjutkan dengan ke rehabilitasi sih. Kalau di sono ga ada…masa ga ada sih? Di rumah sakit daerahnya? πŸ˜•

    • Beberapa kenalan yang pecandu memang punya bekas luka-luka sayatan di lengan mereka, tapi saya tidak bertanya kenapa mereka mempunyai luka itu… Sungkan…

      Saya tidak pernah mempercayai kekerasan akan menghasilkan kebaikan. Misalnya saja sudah dicengkram, ditahan, lalu selanjutnya apa? Tidak memperbaiki apa-apa…

      Itulah bingungnya, yang saya dengar soal narkoba di sini justeru besar pada anggaran razia-nya, sementara penanganan korban dan pencegahan sepertinya sedikit tersisih,,,

  2. Menurut saya, jika berada di posisi anda. maka saya akan menyuruh si ayah untuk pergi jauh-jauh.. sepertinya hanya perlu penyegaran saja buat si ayah.. nah kalo adiknya.. biarin aja, lama-lama juga bakalan mampus gara-gara kebodohannya

    • Beuh, si wawan… Menjadi tidak peduli itu gampang… Menjadi peduli itu yang jadi tantangan,,,,

      Kan sudah saya bilang, he made mistakes, who hasn’t? who hasn’t?

  3. Mungkin bisa tindak lanjuti informasi berikut:
    “Pemprov Kalsel membebaskan biaya pengobatan bagi korban narkoba di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum, sehingga pencandu narkoba bisa berobat secara gratis, sesuai SK Gubernur Kalsel”

    Selengkapnya:
    Pengobatan Korban Narkoba di Kalsel Digratiskan

    dan jika ingin sembuh, ada 2 hal utama, yakni motivasi yg bersangkutan + lingkungan pergaulannya.

    • Itu dia yang saya tidak berani menyarankan lebih banyak. Kalau anaknya sendiri belum niat sembuh, mau dipaksa bagaimana juga, saya pesimis akan membawa hasil..

      Tapi itu infonya menarik, perlu ditindak lanjuti.

  4. Sama haja, kada tapi tahu jua nah lawan nang ngarannya narkoba. Selamat hari raya haja nah, barilaan habis-habis.

  5. Ternyata berat juga situasi kayak gini. Saya pasti langsung megang kepala sambil teriak “Ahhhhh kenapa nanya ke sayaaaa????”

    Tapi tampaknya ini perkerjaannya yah… moga sukses selalu n lancar2 aja mas.

    • Kalau yang bertanya sama-sama anggar, ya saya cuekin juga mas,,, tapi karena perempuan, yahhh…

  6. Di Madrid ada sebuah klinik rehab yang bagus. (Maaf Mas Fadil sebelumnya, sebab saya tahu itu jauh dari Banjar). Di sana, metode penanganannya adalah dengan cara infus. Jadi selama tiga hari, si penderita akan menerima cairan infus sebagai asupan nutrisi tubuh sekaligus penetralisir racun narkobanya.

    Biasanya, setelah beberapa hari kemudian, penderita langsung tidak menyukai narkoba/alkohol yang dicandunya.

    Kalau dari Bunda Ifet mamanya Mas Bimbim, saya pernah dengar mereka dan anak-anak potlot lainnya pakai obat bernama Kin Yen untuk melawan racun narkoba. Saya sendiri tidak tahu beli obat itu dimana. Tapi setidaknya secara subyektif saya anggap Markas Slank lebih mudah dihubungi ketimbang klinik rehab di Madrid πŸ™‚

    Dari karakteristik pecandu, sepengtahuan saya lagi umumnya bari bisa berhenti setelah ada kemauan. Nah kemauan ini ada yang datang dari diri sendiri dan ada pula yang datang karena dipaksa atau distimulasi lingkungan tempat tinggalnya. Yang mengetahui bagaimana hidup si penderita adalah keluarga dan teman-teman dekatnya. Kalau mereka mengerti, pasti ada cara kreatif untuk membuat si penderita mempunyai kemauan untuk lepas dari narkoba.

    Semoga info ini berguna. Kalau tidak, maaf yaa pembaca πŸ™‚

  7. setahu saya, salah satu cara untuk mengatasi kecanduan narkoba adalah dengan cara terapi methadone. sayangnya saya tidak tahu apakah di Banjarmasin sudah ada program ini….

  8. Di Banten ada sebuah klinik rehab narkoba…….saya lupa namanya! Cara dan methodenya ya lewat agama dan obat2an herbal…….nanya om google deh…moga bisa ngebantu.

  9. Masalahmu sama ama masalhku teman.kita hrs tabah,sabar dan doa yg plg penting.caraku menanganinya : 1.mendekati si dia dgn sabar ajak dia utk mengingat sesuatu pertama kali dia mendpt brg tsbt. 2.ajak dia bicara tiap hari apa bl dia sdg menyendiri spst bercerita masa lalu yg menyenangkan.3.ajak dia mendekat sama Tuhan dgn cr bw dia kerumah TUHAN.Hanya ini yg kulakukan pd adikku agar dia punya semangat utk melawan penyakitnya.

  10. yang sabar yea……

  11. I do agree with all the concepts you have offered in your post. They are very convincing and will definitely work. Nonetheless, the posts are too brief for starters. May you please lengthen them a little from next time? Thank you for the post.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: