Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

9 September 2009 pukul 21.20 | Ditulis dalam Uncategorized | 34 Komentar

Seorang Bikhu muda bersama teman-temannya membangun tempat ibadah secara mandiri pada suatu waktu pada suatu masa. Si Bikhu muda ini kebagian tugas mendirikan sebuah dinding bata. Padahal sebelumnya, ia tidak memiliki pengalaman bertukang sama sekali .

Mendirikan dinding bata sepertinya terlihat mudah. Tinggal oleskan semen, lalu letakkan bata, oleskan semen lagi, letakkan bata lagi, sampai berdiri dinding kokoh rapi setinggi yang diinginkan.

Tapi ternyata tidak semudah kelihatannya bagi dia.

Meratakan posisi bata dan mengukur takaran semen yang pas perlu pengalaman dan ketelitian. Salah ukur, maka dinding akan miring, atau posisi bata akan tidak teratur.

Namun akhirnya, dengan ketekunan khas penganut Budha, dinding buatannya akhirnya berdiri. Sayanganya, setelah selesai dan diperhatikan, Bikhu muda menemukan ada 2 buah bata yang tidak pas penempatannya. Jelek sekali. Miring. Menonjol.

Bikhu muda ini terus menyesali keberadaan 2 buah bata yang merusak dinding karyanya tersebut. Setiap hari, setiap waktu ia menyayangkan cacat dindingnya. Hingga ia meminta pada Bikhu Senior, pimpinannya, agar diijinkan membongkar dinding tersebut dan membangunnya kembali dengan sempurna.

Namun Bikhu senior melarangnya.

Bikhu muda terus menyesali 2 bata tersebut.

Hingga suatu hari, ketika ia sedang menatap dan merutuki dinding batanya itu, seorang peziarah lewat dan memuji dinding tersebut sebagai dinding yang sangat indah.

Bikhu muda memandang peziarah dengan heran, “Indah? apa anda tidak melihat 2 buah bata cacat yang merusak dinding ini?”

Peziarah balik memandang bikhu muda dan berkata, “tentu saja saya melihat 2 bata tersebut, tapi saya juga melihat 9998 buah bata lain yang terpasang dengan rapi dan kokoh…”

***

Cover Si CacingCerita diatas saya kutip dan saya ceritakan dengan bahasa saya sendiri dari buku berjudul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.

Kenapa saya ceritakan dengan bahasa saya sendiri?
Karena saya hanya membaca buku tersebut di sudut sebuah toko buku di pusat perbelanjaan pada suatu siang tanpa sempat membelinya.

Buku ini merupakan kumpulan artikel dan ceramah yang ditulis oleh Ajahn Brahm, seorang bule London lulusan universitas terkemuka yang pada usia pertengahan 20-an memutuskan pergi ke Thailand dan mendalami Budha.

Kumpulan cerita dari Ajahn Brahm cukup menarik. Apalagi gaya penulisannya juga dipenuhi humor cerdas, dan terkadang menertawakan hidup dengan cara yang unik.

Seperti cerita 2 bata di atas. Si Bikhu muda itu adalah Ajahn Brahm sendiri.

Dan dinding bata itu, mungkin adalah hidup kita, pernikahan kita, pekerjaan kita.

Kita kadang memang terfokus pada ’2 bata’ kesalahan dan melupakan 9998 bata yang bagus di sekelilingnya. Lalu akhirnya justru ingin merobohkan keseluruhan dindingnya,

Kita kadang tenggelam dalam 1 – 2 masalah hidup, dan melupakan kenikmatan dan keindahannya yang tak berhingga. Lalu tiba-tiba saja ingin mati.

Kita kadang menyesali 1 -2 perilaku menyebalkan istri/suami kita, dan melupakan ribuan cerita cinta dan kelebihannya. Lalu tiba-tiba perceraian menjadi keputusan.

Kita kadang menyerah terhadap 1 – 2 aral dalam pekerjaan, melupakan perasaan luar biasa yang kerap didapatkan dari kesuksesan. Lalu tiba-tiba berhenti berusaha menjadi pilihan.

***

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya adalah buku yang cukup bagus untuk dibaca, minimal dihadiahkan kepada saya. Dan yang membuat saya semakin tertarik adalah buku ini ditulis oleh seorang Bikhu, yang meniti jalan Budha.

So what?

————————————————-
Gambar diambil dari blog testimoni tentang Si Cacing
more about Ajahn Brahm in Wiki

34 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

  1. Nice,

    Kadang kita memang selalu buta atas segala kebaikan dan malah hanya memperhatikan yang buruk.

    Inilah yang membuat hidup kita selalu suram, tidak produktif dan tidak bermakna. Ini adalah pelajaran berharga bagi saya (meski dengan latar belakang agama yang berbeda). :)

    Salam kenal..

    • Salam melathie,
      Selalu terbuka untuk melihat kebaikan, mungkin salah satu jalan menikmati hidup ya…

      Salam buat teman-teman di gereja HKBP… :mrgreen:

  2. Tak selamanya satu titik kecil yang jelek itu akan menodai keindahan suatu objek…* halaahhhh.!!!!.bingung mo koment apa..*

    • Ada titik-titik yang terkadang menggairahkan kan om? tergantung letak titiknya di mana… *siyul-siyul*

  3. harganya berapa, bung ?
    jadi pengen membelikannya buat ente :D

    • Jeh, buku yang ente pinjem saja da balik-balik lagi…
      Tapi harganya sekitar 50 ribuan kalo da salah ;)

      • harganya 40 ribu. baru saja beli… :)

      • Di gram*dia banjarmasin 50an ribu ko…

  4. hem .. saya juga mau kalau buku itu dikasihkan ke saya ( ada ga yang berbaik hati ) :)

    • Nanti kalo ada yang ngasih saya, nia saya pinjemin…

  5. Tidak sempat membeli atau tidak ada minat membeli?

    • sedang tidak sanggup membeli tepatnya…

  6. Wahh….jadi pengen beli juga dech buat adink di rumah,

    BTW beli di mana tuh bukunya??? kayaknya menarik! (^_~)

    • jiah si om, kan dibilang saya belum mampu beli… Di toko buku terdekat di kota anda juga ada biasanya…

  7. Kalo dindingnya datar sama aja hidup tak ada rasanya. sedikit gundukan itu membakar semangat hidu untuk terus tersenyum

  8. Waahh bukunya bagus nh…
    Cari ah di toko buku..

  9. pasti ada hikmah dibalik peristiwa … jer

    skalian ba elang ja … mayinggahi .. pina rami…. salam persaudaraan

  10. bikhu ataw bhiksu?

    • Dikutip dari wiki:
      Bhikkhu = Bhiksu = Monk
      Bhikkhu dari dialek bahasa Pali (India)
      Bhiksu dari Sansakerta

  11. Filosofi mengenai bagaimana kita menjalani kehidupan…mantap Ayah suka gaya bahasanya,….enak di baca…dan dicerna….siiiip…

    • Gaya bahasa buku aslinya memang mantab betul ayah, silahkan dibeli dan kalau sempat, beli dua… :mrgreen:

  12. ah jadi ingat,
    minjem heri poter terakhir ye haha
    kmaren ke gramedia padahal, tapi lupa soal tai cacing ini,
    ntar lain kali deh :D

  13. jadi penasaran neh buku apaan tuh ??

  14. Comot aja di gramedia…
    gw uda beli 3….
    yg 2 gw kasihkan keteman dekat saya…
    bener2 ga rugi keluar duit buat beli si cacing ini =D

  15. mau yg gratisan? :D

  16. Bagus, bagus. Salut atas semangat membacanya yang sangat tinggi. Sudah membaca buku Trilogi Natural Intelligence:(1) “Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk”, (2) “Ketika Kuda Semut dan Gajah Bekerja” dan (3) “Ternyata Semutnya Ada Di Sini”?

  17. selalu ada hikmah di balik masalah… makna itu yang dapat saya petik dari cerita ini…

    syukur, sabar, semangat, senyum dan slalu berusaha melakukan yang terbaik untuk hidup kita..

    sungguh plajaran hidup yang mengangumkan…

    ^_^

  18. Ah…gak lebay tuh si cacing.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | The Pool Theme.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: