Analisa Pemilu dan Pilkada Kalimantan Selatan 2009-2010

3 November 2008 pukul 09.09 | Ditulis dalam Uncategorized | 51 Komentar

Versi saya tentu.

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Pemilihan Anggota DPR dan MPR dan DPRD, Pemilihan Gubernur dan Bupati/Walikota, atau singkatnya Pemilu dan Pilkada, dicerca atau tidak harus diakui merupakan salah satu penentu penting dalam perkembangan kondisi negara, daerah dan masyarakat dalam tahun-tahun ke depan.

Dapat dimengerti ada beberapa benak yang pesimis dengan pemilu dan pilkada. Pembodohan politik selama lebih dari 30 tahun dan fluktuasi kondisi kehidupan rakyat yang terkadang membuat prihatin memang menggiring sebagian kita kepada sikap apatis dan mencela terhadap proses politik di negara ini.

Demokrasi kita memang sudah berlangsung lama dalam nama, namun baru dalam praktek. Meski demikian, demokrasi negara ini telah memberikan beberapa hasil yang melebihi bahkan dedengkot demokrasi seperti Amerika Serikat. Misalnya pada sisi gender, Indonesia merupakan satu dari sedikit negara yang pernah memiliki pemimpin wanita (walau bukan dari hasil pemilihan langsung). Indonesia juga pernah dipimpin sosok yang difabel secara fisik namun tetap brilian (menurut sebagian pemilihnya) secara batin.

Tapi memang, demokrasi bukan tujuan, demokrasi adalah cara. Tujuannya tetap sama dengan tujuan utama adanya sebuah negara. Yaitu kemakmuran rakyatnya. Itu, mungkin belum sepenuhnya terjadi di sini.

***

Kembali ke awal pembicaraan, yaitu Pemilu dan Pilkada 2009.

Saya kebetulan menjadi warga negara Indonesia yang hidup dengan air, udara dan tanah Kalimantan Selatan. Sementara KTP saya menyatakan saya berdomisili di Kabupaten Banjar. Ketiganya akan mengadakan pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah pada rentang waktu 2009 – 2010.

Pada 2004 lalu, saya masih berprofesi sebagai jurnalis, akibatnya, saya tidak mengikuti Pemilihan Presiden putaran kedua karena kesibukan liputan. Namun saya masih memilih saat putaran pertama dan juga pemilihan anggota legislatif. Saya HARUS memilih waktu itu karena itu merupakan momen pertama saya mengambil hak saya sebagai warga negara yang memiliki hak pilih.

Lalu bagaimana dengan 2009?

Mari kita mulai dengan membahas kemungkinan pilihan saya pada partai politik. Sebagai manusia Indonesia angkatan 80-an, saya menikmati pendidikan pada rentang tahun 90an hingga 2000an sekarang. Sama seperti sebagian angkatan saya, pada awal-awal reformasi, saya sempat terpesona pada Partai Keadilan Sejahtera. Dengan citra mereka yang muda, bersih, dan pembaharu.

Namun selama ini, saya melihat PKS masih belum dapat berbuat banyak. Kecenderungan ekslusivitas mereka justru menghambat mereka membuat perubahan itu sendiri (jika memang perubahan yang mereka inginkan). Kader-kader PKS di legislatif maupun di eksekutif (terpilih pada pilkada) cenderung dikucilkan karena kesan ‘kami bersih ente kotor’ yang mereka tampilkan. Siapa pula yang rela dipandang jelek meskipun mungkin benar jelek?

Akibatnya, agenda perbaikan yang dibawa PKS sulit berjalan karena tidak mendapat dukungan dari rekan-rekan mereka dari partai lain di legisatif ataupun eksekutif. Sulitnya, jika PKS berkompromi dan berkoalisi dengan mereka, citra mereka yang bersih, baik, dapat dipercaya selama ini juga akan rusak di mata pemilihnya. Simalakama, namun biarkan itu jadi masalah PKS.

Seperti kata AntoBilang: Koalisi partai adalah penghianatan pertama Partai Politik terhadap Pemilihnya.

Sekarang Partai Golkar. Sebagai partai yang awalnya hancur lebur bersama dengan ambruknya orde baru, Partai ini harus mendapat penghargaan tertinggi dalam politik Indonesia karena berhasil bangkit dan bahkan meraih suara terbanyak pada pemilu 2004. Kader-kader golkar, harus saya akui memang politikus ulung.

Partai Golkar, dengan modalnya sebagai organisasi politik tua, memiliki akar yang kuat hingga ke daerah. Kader mereka beragam, mulai dari angkatan baru yang berasal dari kampus, maupun organisasi kepemudaan, praktisi hukum, pengusaha mapan, hingga tokoh masyarakat setempat.

Karena itu, Golkar termasuk solid sebagai sebuah partai. Mereka memiliki susunan organisasi yang jelas. Tidak seperti partai politik lain yang bahkan kantornya sulit ditemukan.

Namun berdasarkan penilaian saya, Golkar terlalu dekat dengan pelaku usaha. Memang dari sisi partai ini menguntungkan. Pengusaha dapat menjadi sumber daya yang tidak terbatas bagi ekspansi politis. Di sisi sebaliknya, mau tidak mau akan muncul semacam keharusan berterima kasih. Caranya? Tentu melalui kebijakan politik.

Akibatnya arah politik Partai Golkar saya nilai cenderung pada kepentingan ekonomi pemodal besar. Itu, terkadang menyulitkan bagi yang bukan pengusaha besar.

Kemudian kita ke Partai berbasis agama. Sebut saja PPP, PKB, PBR, PDS, dan beberapa pecahan mereka lainnya. Saya cenderung menilai rendah penggunaan agama sebagai alat tawar politik. Entahlah, ada semacam perasaan tidak etis melihat para umat taat yang dibimbing para ulama, kyai, para sosok berjubah dan berjenggot untuk memilih posisi politik dengan tawaran surga.

Lagipula, saya melihat para kader partai agama ini, khususnya yang duduk di Dewan Perwakilan, juga tidak mencerminkan pesan agama yang mereka gembar-gemborkan. Mereka masih menjadi pendukung keputusan yang merusak alam, masih sering bertengkar dengan sesama kader mereka sendiri, masih suka mengklaim kebenaran sebagai monopoli mereka, ah sudahlah…

Lalu PDIP, partai besar, potret oposisi mulai dari masa lalu di orde baru hingga saat ini saat ketua umum mereka hanya jadi pemenang kedua pada pemilihan presiden. Dan celakanya, tidak ada trofi untuk pemenang kedua di sini.

PDIP juga belum mendapat simpati saya. Masih tenggelam dalam bayang-bayang citra Soekarno. Menjadi oposisi dengan prinsip ‘asal mengkritik pemerintah’ juga bukan sikap yang bagus. Sementara ketika ketua umum mereka mendapat kesempatan menjadi pemimpin, tokh tidak banyak yang bisa dibanggakan.

Lalu bagaimana dengan Partai para mantan Jendral? itu kita bahas nanti, bersamaan dengan topik calon presiden. tunggu saja.

***

Baiklah, sekarang kita ke topik Memilih Presiden.

Sudah belasan manusia Indonesia yang sekarang menyatakan diri SIAP menjadi presiden, itu belum termasuk pejabat pemerintahan saat ini yang masih memiliki etika untuk tidak menyatakan terang-terangan ingin menjabat kembali.

Kita sebut saja, SBY, (mungkin) Jusuf Kalla, Megawati, Sultan Hamengkubowono, Wiranto, Prabowo, Hidayat Nurwahid, dan banyak lagi.

Lalu saya pilih siapa?

Sekali lagi, ini pendapat pribadi. Untuk SBY, saya mengagumi integritas beliau, meski kekurangan beliau adalah kompromi terlalu banyak. Akibatnya muncul kesan tidak tegas, kesan yang sebenarnya jarang ditemui pada pemimpin dari kalangan militer.

Megawati, ah, sama seperti penilaian saya terhadap PDIP, maka seperti itu pendapat saya tentang si Ibu.

Yusuf Kalla, sama dengan golkar.

Sultan Hamengkubowono, yang baru saja mengumumkan kesiapannya. Banyak teman saya memandang positif majunya sultan. Mengambil contoh kepemimpinan jogja yang dianggap bagus, menyenangkan rakyat banyak dan sebut saja, bijaksana, Sultan dianggap tepat sebagai pemimpin negara.

Mungkin bagus, mungkin pula tidak. Jangan lupa, masyarakat jogja adalah masyarakat tradisional yang memang mematuhi apa kata sultan tanpa kecuali. Namun Indonesia secara keseluruhan bukan hanya tidak sama, tapi juga sama sekali berbeda dengan Joghaj yang mungil dan gampang diatur. Saya tidak bisa membanyakkan Sultan Jogja mampu mengatasi kesemrawutan di kawasan Kelayan Banjarmasin, apalagi Indonesia.

Para mantan Jedral lainnya. Buat para mantan jendral ini, saya cenderung berpikir ini hanya semacam kerinduan pada masa kekuasaan dulu. Mereka rasa mereka masih bisa. Itu saja. Mereka sudah diberi senjata dan kesempatan menembak sasaran yang benar, dulu. Entah mereka terlalu malas menembak, atau membidik sasaran yang salah, saya merasa tidaklah bijaksana memberikan mereka senjata lagi, apalagi yang lebih besar…

Lalu siapa yang kamu pilih Dil?

Kalau berpikir secara ideal, mau tidak mau saya akan mengambil keputusan Golput. Saya mengakui saya termasuk golongan yang pesimis dengan kondisi politik indonesia saat ini.

Kamu tidak bisa menjadi wartawan politik selama 4 tahun tanpa menjadi manusia pesimis, atau lebih parah, mati rasa dan hati.

Saya tidak ingin membebani moral saya dengan pertanggungjawaban jika memilih orang yang salah dan menyakiti keluarga, teman, dan tetangga-tetangga saya sebagai bagian dari rakyat ketika orang yang saya pilih duduk di posisi penentu kebijakan baik dari Istana Negara, Kantor Gubernur, Bupati, Walikota ataupun gedung yang menamakan dirinya Kantor pada wakil rakyat.

Sama seperti ketika kamu bersentuhan dengan dunia hukum Indonesia dan harus menjadi manusia yang meyakini keadilan belum ada di negara ini, maka seperti itulah perasaan saya terhadap politik saat ini.

Jadi kamu tidak memilih?

Belum tentu.

Saya bisa menjadi manusia pragmatis.

saya bisa berpikir, entah saya memilih atau tidak, proses ini akan tetap berjalan. Pasti akan ada anggota DPR/D baru, pasti akan ada presiden yang terpilih, gubernur, walikota dan bupati.

Saya bisa menjadi manusia dengan pertimbangan moral dikesampingkan dan pertimbangan untung rugi dikedepankan.

Kalau begitu, saya mungkin akan memilih SBY lagi, karena SBY selama masa pemerintahannya telah menaikkan gaji guru hingga berjuta-juta rupiah. Belum termasuk rencana kenaikan-kenaikan lainnya. Kenapa mesti guru? tentu saja, Orang tua saya keduanya guru, saya (baru jadi) guru, calon istri saya (saya harap) guru, beh, alasan apa lagi?

Bagaimana dengan anggota DPR?

Ada tetangga saya mencalonkan diri jadi anggota legislatif. Saya akan memilih dia (partainya). Menyenangkan tentu memiliki tetangga dekat yang dapat menjadi sumber informasi dari dalam mengenai APBN dan APBD. Mengajukan usulan perbaikan jalan komplek perumahan saya dan perbaikan gedung sekolah saya tentu tidak sulit lagi.

Lalu gubernur dan bupati?

Nah, ini jujur saja saya belum menentukan pilihan, ada tawaran yang menarik buat saya?

Note: Image dari photofunia dengan editing semaunya

51 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. […] Read the rest of the bullshit […]

  2. “Kalau begitu, saya mungkin akan memilih SBY lagi, karena SBY selama masa pemerintahannya telah menaikkan gaji guru hingga berjuta-juta rupiah. Belum termasuk rencana kenaikan-kenaikan lainnya. Kenapa mesti guru?”

    sama deh pak guru, sy juga dibesarkan dilingkungan guru .. semoga kedepannya guru mendapatkan kesejahteraan yg semakin .. semakin .. semakin .. ( dengan catatan pak sby masih jd presidn RI ya )

    [i] tapi sy bukan guru [/i]

  3. pantes aja muka calegnya mesum😆
    saya gak tahu mau milih siapa tahun depan… yang jelas yang tidak rasis dan mesum….

    Posting Terakhirnya itikkecil Berjudul What I really want…..

  4. Milih siapa ya? Nga tau ah! Demokrasi di Indonesia tidak bermutu. Saya baru menemukan fakta baru. Ada salah satu caleg dari partai baru yang berprofesi sebagai buruh angkut. Bukan profesi yang saya permasalahkan, tapi partainya itu loh. Kebetulan saya akrab dengan caleg itu, bisa di bikang teman sepermainan. Iseng-iseng saya tanya “Min, kok fotomu nga dipajang di jalan-jalan, seperti caleg lain?” Nah itu dia! Seru Parmin (bukan nama sebenarnya), sebenarnya pengen pasang wan, tapi nga ada biaya! Belakangan saya ketahui, konon partai yang mengusung teman saya itu sedang tidak punya modal. Boleh pasang foto atau sejenisnya tapi harus di tombokin pake duit pribadi masing-masing caleg dulu. Katanya sih, apabila sudah terpilih baru uangnya di ganti partai. Lalu saya nanya lagi; kamu kok yakin benar min? Sambil menyeka keringat Parmin menjawab; soalnya yang bilang ketua partai langsung wan, pake jubah dan berjenggot lagi. Insya Allah, terpilih, tegasnya.

  5. caleg… malessssssss :devil:

    Posting Terakhirnya awym Berjudul Pergi

  6. saya bisa berpikir, entah saya memilih atau tidak, proses ini akan tetap berjalan.

    Lalu, buat apa susah-susah milih, toh Pemilunya juga gak akan batal gara-gara kita nggak milih..

    *setan Golput*👿

    Betewe, baru tau muka yang punya blog..😳

  7. kalo gak koalisi, mana bisa menang.
    tapi begitu jadi presiden, terikat kaki-tangan karena harus menyenangkan hati teman-teman dalam koalisi.

    di duniaku yang utopis:
    partai maksimal 2 atau 3 saja.
    lalu, partai semua harus bersih dan calon presiden dari partai hanya membuat janji yang bisa ditepati.
    wakil rakyat di badan legislatif dinilai kinerjanya tiap tahun dengan menerbitkan pendapat mereka untuk setiap masalah yang dirapatkan di badan legislatif (kabarnya di AS gitu ya?) dalam sebuah buku, jadi rakyat tahu, siapa yang harus ditendang keluar dari badan legislatif itu. wakil rakyat ini tidak terikat partainya begitu memberikan suara untuk sebuah topik dalam rapat.
    lalu rakyat harus benar-benar memilih yang terbaik versi mereka, bukannya golput (*menatap tajam*) atau umpat kambing tumbur.
    lalu yang terpilih jadi Presiden akan mengganti semua orang di sekitarnya dan kabinet sesuai dengan visinya (yang tentu saja luhur), dengan orang-orang yang dia tahu tepat untuk menduduki kursi-kursi jabatan itu. terus semua orang yang korupsi dan bermental leyeh-leyeh di-PHK, diturunkan dari jabatan, atau dibunuh saja. biar melekat di benak semua orang, termasuk generasi muda, untuk jangan berani-berani berbuat serupa. *yang bersalah, harus dihukum*

    Posting Terakhirnya mina Berjudul [Blog Action Day 2008]: Kemiskinan dan Tuberkulosis

  8. @ Nia

    Yah, pragmatis ya begitu… Kalau sudah sulit menentukan point-point positif dan negatif dari sebuah pilihan, maka kembali pada point paling mendasar “apa manfaatnya buat SAYA?” :8

    @ itikkecil
    Saya tidak rasis, saya jamin saya tidak rasis! Pilih, coblos saya atau saya coblos!? Saya tidak rasis, saya jamin…!

    @ syafwan
    Polos sekali engkau nak:mrgreen:

    Saya tidak pernah mendengar ada Partai Politik yang memberi dana pada anggotanya…

    @ awym
    Iya wym, usiamu memang belum cukup untuk masalah ini

    @ Nazieb

    Lalu, buat apa susah-susah milih, toh Pemilunya juga gak akan batal gara-gara kita nggak milih..

    Berarti kita berpikir secara bertolak belakang. Saya mikirnya Kita milih apa da, pemilu tetap jalan. Lalu kenapa tidak mencari keuntungan dari hak suara kita itu?

    Betewe, baru tau muka yang punya blog..

    Yang mana??

    @ Mina

    Polos sekali anda Bu dokter…:mrgreen:

    Tapi ya da papa, itu juga mimpi saya ko…

    Posting Terakhirnya Manusiasuper Berjudul Analisa Pemilu dan Pilkada Kalimantan Selatan 2009-2010

  9. saya akan memilih SBY… (karena mengingatkan dengan bapak saya dirumah)… 😉

    Posting Terakhirnya hera Berjudul (lagi-lagi curhat) Laskar Pelangi..

  10. @ Hera

    :oo: Bapak??

  11. Analisa apa analisis hayoooo…

  12. @ Amed
    Salah ya ndul? Jadi saya ganti apa ga neh? Yang kata benda yang mana?

  13. abah deh,abah…

  14. sampe saat ini belum ada yang bikin hati Saya yakin mau pilih siapa… fffiiiuuuhhhh…

    apalagi foto yang di atas…:mrgreen:

    Posting Terakhirnya alveean Berjudul senyum para caleg

  15. @ Hera
    :mrgreen: Bukan maksutnya mempertanyakan jenis panggilan, tapi masa abah disamakan SBY??

    @ Al
    Milih jangan pake hati, sekarang aturannya sudah berubah, pake tanda conteng…

  16. :oo: iya bang saya memang masih polos. (Polos banget) Tapi partainya lebih polos bang. Wakakak.

  17. iye bang, tapi yang menggerakkan tangan buat menconteng khan hati juga…😉

    Posting Terakhirnya alveean Berjudul senyum para caleg

  18. Lalu kenapa tidak mencari keuntungan dari hak suara kita itu?

    Nah, apakah bila kita bersuara, maka hasil pemilihan itu akan berubah menguntungkan kita? Keuntungan yang bisa diperoleh itu masih belum jelas, dan belum tentu..

    Dan kalaupun ternyata pilihan kita terpilih, belum tentu juga dia akan membuat keputusan-keputusan yang menguntungkan kita.

    Jadi peluang untuk memperoleh keuntungan dari pemilihan macam itu terlalu kecil.. Dan sepertinya suara kita tidak akan terlalu berpengaruh terhadap kemungkinan tersebut..

  19. Yang mana??

    Eh iya,
    Lha foto caleg mesum di atas itu?

  20. @ Syafwan
    Polos malah bangga

    @ Al
    Yang menggerakkan tangan itu otot

    @ Nazieb
    Bukan keuntungan dari hak suara bro, tapi memastikan orang yang kita pilih tau kalo kita milih dia, itu yang penting. Itu juga kalo mau milih, kalo ga mau milih, ya juga oke…

    Ah, gambar itu ya? Belum tentu pemilik blog kan?

  21. Bukan keuntungan dari hak suara bro, tapi memastikan orang yang kita pilih tau kalo kita milih dia, itu yang penting.

    Ah, masak iya si dia bakal tahu satu per satu siapa saja yang memilih dia? Atau saya saja yang terlalu skeptis? 🙄 Good luck with it then..😉

    Ah, gambar itu ya? Belum tentu pemilik blog kan?

    Hoo bukan yah? Sayang sekali, padahal ganteng juga lho..😀

  22. @ Nazieb
    Lalu buat apa saya menulis posting ini? :devil:

    Sayang sekali, padahal ganteng juga lho..

    *mundur perlahan-lahan*

  23. asli kalau foto-foto diatas benar adanya dan asli, saya bakal nyoblos sampeyan !!!

    Posting Terakhirnya warmorning Berjudul with style, beibeh !

  24. @ Warmorning
    Mungkin setelah saya pensiun, baru foto diatas beredar seasli-aslinya 😀

  25. makasih ide fotofunia-nya, langsung saya aplikasikan😀 , eh kenapa harus menunggu pensiun, anak muda ?😀

    Posting Terakhirnya warmorning Berjudul with style, beibeh !

  26. hm… terserah saya dunk mau nyamain abah ma SBY??!! 😛

    btw, ngerasa mirip ma vokalisnya ST 12 ya????hahhaaa.. yupz,, bener banget tuh! :mrgreen:

    Posting Terakhirnya hera Berjudul (lagi-lagi curhat) Laskar Pelangi..

  27. damn! fotonya nyakitin mata! :devil:

  28. loo aku bilang kan di negaraku. jadikan aku presiden dong, hihihi. bisa banyak yang dihukum mati (loh?)

    Posting Terakhirnya mina Berjudul [Blog Action Day 2008]: Kemiskinan dan Tuberkulosis

  29. Gunakan suara anda sebaik mungkin, jangan sampai tesalah cucuk, tapi kalau pina sarik cucuk ja dimatanya…!!! tapi sah jua nangae,,,,

    Posting Terakhirnya eko lee Berjudul The best desain Lambang, Kelas XII IPA

  30. coblos KUMISnya!
    ah, saya belum cukup umur utk nyoblos :8

    eniwei, poto om mansup kok mirip (calon) mantan suaminya Maudy Wilhemina ya? 😛 *nyegat ojek ke timbuktu*

  31. dulu saya sempet nge-fans sama PAN. Ntah karena sosok Amien Rais yang sudah sanagat saya kenal di Kampus atau bukan, yang jelas misi dan visi PAN dulu yang paling pas saya rasa. Tapi makin ke sini, kok makin ngga banget ya…

    *indikasi golput* 👿

    btw, kapan ya ada caleg yang muka nya kayak di photo itu? nampaknya kok saya akan semakin golput saja 😀
    *kabur pulang ke Jakarta*

    Posting Terakhirnya Chic Berjudul coffee et cetera

  32. karna baru pertama kali milih, mungkin ntar milih yang mukanya cakep 😛 bukan mesum

    Posting Terakhirnya Azwar Berjudul Kagak usah mikir ?

  33. Ini ngomongin pilih-meilih di Negara yang mana dil?

    Menurut hemat saya: (walaupun sebenarnya saya agak boros)
    memang, kita punya sebuah Negara tapi partai-nya masih banyak yang Primordial. Negara ini masih perlu banyak latihan mental agar manjadi sebuah Negara yang berjiwa besar dan mempersatukan golongan-golongan ras (suku) di Negara ini menjadi sebuah Bangsa yang benar-benar bersatu dulu, baru bisa berdemokrasi dengan adil dan benar-benar jujur.
    Apapun partainya dan siapapun presidennya, mereka harus benar-benar kekerja dari kepentingan golongan demi kepentingan Bangsa-nya.

    Kapan kita merdeka ya?!
    Sekali Merdeka Tetap Merdeka, Meeerdeka…!

    Posting Terakhirnya Co²+Co=Carbonized Berjudul Acyclovir

  34. hal inilah yang sellau berusaha saya hindari untuk dipikirkan. Saya-jujur- bingung apa yang harus saya pilih. Pemilu sebelumnya aja saya lupa memilih siapa. Untuk tahun depan,, entahlah… ta pikir dulu yaa…

    Posting Terakhirnya anna Berjudul The Spellman Files

  35. Dari semua calon diatas…, saya hanya tertarik dengan nama SBY, TAPI apakah SBY mampu membuktikan dalam segi keamanan negara dulu (yang pertama), apakah mampu membendung dari ancaman teror setelah eksekusi Amrozi cs, yang kedua, bagaimana strategi SBY dalam hal krisis global sekarang ini…,? / memanfaatkan peluang yang ada?

    Posting Terakhirnya only R Berjudul Musik Indonesia Semakin Tidak Berkualitas

  36. mansuuuuuuup .. 😛 😛 😛 😛 kamu emang manusia super deh, kapan mendaftar jadi caleg ???? ga usah nunggu pensiun .. xixixixixixi

    Posting Terakhirnya nia Berjudul pagi ceria

  37. hahaha, liat fotonya saya langsung ketawa.
    sebenernya kalo dibandingkan ma presiden2 sebelumnya, secara pribadi sby lumayan. tapi malah banyak musibah dan masalah di masa beliau.
    semoga saja ke depannya akan lebih baik
    salam kenal mas superman. hehe…

  38. Kalau menurut saya sih Mati Aja Loe

  39. jadi kapan ikut nebar poster ? saya ikut ngebantu deh😀

  40. caleg b’wajah mesum?
    siapakah gerangan?
    masa’ pokalis ST12 banting setir jadi caleg?

    gak jadi “cari pacar lagi” donk?
    he he he😀

  41. baru ptama dateng ke blog ini….. :oo:

    yah…pribadi sih lebih milih SBY lagi….seenggaknya g seneng punya presiden yang doyan nyanyi….ampe bikin album sgala…..

    golput kalo kata guru tata negara g lg SMA…. golput= bukan WN yang baik…. 😀

    Posting Terakhirnya oepil-kok-asin? Berjudul

  42. mas manusia super salam kenal….

    Posting Terakhirnya budiluwung Berjudul Insiden Pasuruan bukti kegagalan Pemerintah…

  43. :*: milih SBY ah kan sekarang BBm udah diturunin. n juga milih SBY ah kan naikin BBM buat bagi2 BLT mirip Robin hood dah pokokya SBY

    Posting Terakhirnya IKRAR Berjudul Praktek Industri YANG MENYEBALKAN….!!!!

  44. terimakasih atas postingannya dan mohon izin tuk saya tampilkan dan saya jadikan salah satu tulisan mendadak saya. yang jelas separa apapun demokrasi kita, sebagai manusia, jangan hendak berputus asa dan terbenam dalam skeptisme yang hanya akan memperkeruh sausana.
    Hidup itu terlalu Indah tuk disia2kan dalam kubangan keputus asaan
    salaam Blogging for Society

    Posting Terakhirnya Ivan Berjudul One Of Messenger From Allah

  45. Demokrasi kita memang sudah berlangsung lama dalam nama, namun baru dalam praktek.

    Jadi .. sebaiknya gimana Dil? apa perlu kita menciptakan pengertian Demokrasi ala Indonesia:mrgreen: .. karena kalo dulu kita juga ga ngerti siapa yang memimpin kita. Sekarang pun, walau sudah pake sistem coblos, kita juga ga paham dengan pemimpin kita. Piye toh hehehe:mrgreen:

    Ah .. mending saya pilih kamu aja Dil .. minimal bisa memperjuangkan akses internet yang secepat kilat dan murah meriah. Gimana Dil.

    *senyum² simpul*

    Posting Terakhirnya erander Berjudul 11.11

  46. wahahaaa… pokalis ST12 sekalinya sidin 😀
    klo saya pokalis ESTEH 11 :8 wkwkkwkw

  47. beeeh…narsis abis nih anak 😀

    Posting Terakhirnya Mas Koko Berjudul Bete…

  48. manusiasuper emang super.
    mau aja dicoblos 🙂

    Posting Terakhirnya budi Berjudul search engine list

  49. pemilu nanti saya masih ingin membuktikan partai yang terkenal karena bersihnya…

    kalo memang annti terbukti membawa keberhasilan… i will be loyal…

    kalo ngga? hidup GOLPUt…. hahahaah

    Posting Terakhirnya bakhrian Berjudul Happy Sunday

  50. :oo: :oo: :oo:

    banyak sekali pilihannya …

    saya akan pilih Sandiaga Uno saja,

    udah nggak mesum, cakep,

    tahu cara mengatur uang. Mungkin dia bisa mensejahterakan

    TNI dan membuat anggaran negara jadi stabilo.

    Posting Terakhirnya iaksz Berjudul hotspot vs hotplate

  51. wah tentang pemilu dan caleg nih ya, mang bikin ribet aja…………
    Tolong donk ada yang bilang klo cerita saya ini terlalu bagaimana gitu, nih link-nya http://dhani22yadi.blogspot.com/2008/11/diantara-perang-pamor-pak-tua-penjual.html

    Posting Terakhirnya Dhani_Yadi (“Pengagguran Menulis Mimpi”) Berjudul Puisi Inspirasi Dan . . .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: