Cari Suami Yang Sama Islam, Minimal Muh***adiyah…

30 Juni 2008 pukul 21.08 | Ditulis dalam Uncategorized | 24 Komentar

Disclaimer: Tulisan ini tidak bertujuan merendahkan, atau membandingkan, atau mengungkit masalah. Permintaan maaf terlebih dahulu diajukan atas segala kemungkinan munculnya masalah dikemudian hari. Tulisan dapat direvisi jika ada permintaan yang masuk akal.

***

Malam itu perbincangan berjalan santai antara dua teman yang tidak begitu akrab. Pembicara pertama menceritakan pengalamannya bekerja di suatu daerah di Kalimantan.

Satu : Ceweknya bro, wuuiihhh, mantabs! Tiap sore lo tinggal nangkring di tepi jalan, puas dah liat paha mulus seliweran…

Dua : Di tipi juga banyak mas kalo cuma paha, kalo mau lebih tinggal ke bb17 dot info pula…

Satu : Beda lah bro, paha yang ini bisa didekatin trus bisa dipacarin.. Gue aja sempet pacaran sama 3 orang selama dua bulan di situ… Slllrrppp

Dua : Ah, di sini juga saya bisa pacaran sama 4 orang dalam minggu yang sama mas…

Satu : Payah lo, nyela aja.. Tapi di situ susah nyari masjid bro.

Dua : Ah, perasaan banyak ko di situ masjid

Satu : Ga bro, pas gue sholat di situ, sholatnya aneh, ga biasa. Ternyata itu bukan masjid orang kita Islam bro, Masjid Muhammadiyah.. Terpaksa deh gue pindah masjid nyari yang masjid kita

Dua : Heh? Muhammadiyah kan Islam juga mas?

Satu : Bukan begitu, tapi kan memang beda.

Dua : Bedanya dikit, banyakan samanya mas..

Satu : Tetep aja beda, rasanya ga afdol…

Dua : Trus jadinya gimana? Nemu masjid KITA-nya?

Satu : Ga ada juga

Dua : Jadi?

Satu : Ya saya batal sholat…

Dua : …

***

Pembicaraan tersebut mengingatkan saya pada satu tulisan milik Ayahnya Vokalis Letto, tentang petuah orang madura kepada anak perempuannya. Menurut Cak Nun, dulu, orang madura yang terkenal kuat beragama sangat ketat dalam memilih calon suami anak perempuannya.

Pernikahan harus dilakukan dengan pria seagama, sealiran, seguru, semahzab, dan se-ormas.

Namun beberapa tahun belakangan, ketatnya aturan itu mulai sedikit berkurang. Cak Nun menulis, petuah mereka sekarang berubah jadi:

“Kalo cari suami harus yang sama Islam, minimal Muhammadiyah…”

Walah, saya langsung nyengir ketika membaca tulisan Cak Nun yang terdapat pada bukunya Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997) yang sampai sekarang masih dipinjam warmorning itu. (Buku saya apa lagi yang ada ditempatmu bos??)

Saya jadi berpikir, sebesar dan sepenting apa perbedaan dalam suatu keyakinan itu berpengaruh, dan kenapa perbedaan itu ada?

Saya dibesarkan dalam kultur Nahdlatul Ulama, namun untungnya orang tua saya tidak pernah menjelaskan kepada saya bahwa keluarga kami keluarga NU. Orang tua saya tidak pernah mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang kerap terjadi antara beberapa aliran dalam agama saya ini. Ayah saya hanya kerap menyatakan, yang paling penting adalah saya harus memilih yang saya rasa benar tanpa perlu menyalahkan orang lain.

Karena itu, saya menjadi seseorang yang berpikir cukup terbuka. Tidak ada masalah bagi saya apakah seseorang itu NU, Muhammadiyah, Syiah, Sunni, Katolik, Budha, Atheis, atau …

Dua mantan perempuan saya Muhammadiyah:mrgreen:
Dua lagi nasrani
Beberapa lainnya kemungkinan atheis atau penganut Flying Spaghetti Monster
Dan tidak ada masalah untuk itu

Sekolah saya dulu separuh siswanya memiliki nenek moyang dari daratan peking sana. Hasilnya? Hampir setiap hari saya makan siang ditraktir teman yang berbeda. Karena rata-rata orang tua teman saya memiliki restoran, toko CD dan kaset, distributor buku, dealer mobil motor, dan lain sebagainya. Mungkin ini juga yang memupuk jiwa CDG (Cowo Doyan Gratisan) saya tumbuh subur.

Sayangnya, sama seperti apapun di dunia ini, tidak semua berpikiran sama.

Entah berapa juta nyawa yang hilang karena alasan perbedaan sedikit dalam keyakinan.

Entah berapa dada yang dipenuhi dendam karena latar belakang perang paling berpengaruh dalam sejarah dunia; Perang Salib.

Entah berapa cinta yang cabik binasa karena perbedaan opini siapa yang seharusnya menjadi Khalifah Pertama.

Sampai sekarang saya tidak mengerti, masa iya sih, ada orang normal yang lebih menyenangi kondisi konflik daripada damai??

“Differences…are nothing at all if our aims are identical and our hearts are open” – Albus Dumbledore

24 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. maaf, saya sungguh-sungguh tidak pernah berminat untuk mencari seorang suami.

    Nikmati saja perbedaan itu…🙂

  2. itu normal menurut siapa??

  3. @ Pakacil
    Saya juga tidak akan pernah berniat mencari suami masbro:mrgreen:

    @taliguci

    Normal menurut saya mas, bukankah sudah jelas, saya bertanya:

    Sampai sekarang saya tidak mengerti, masa iya sih, ada orang normal yang lebih menyenangi kondisi konflik daripada damai??

  4. hmmmm…. ?? kok bisa gitu ?? why ?

  5. kakakakkakakka…
    *fokus ter-arah*
    jadi anak kaskus juga om??

  6. Sampai sekarang saya tidak mengerti, masa iya sih, ada orang normal yang lebih menyenangi kondisi konflik daripada damai??

    karena merasa dirinya paling benar dan yang lain salah?

  7. @ Ari
    Apanya yang bisa gitu mas? *garuk-garuk bingung*

    @ ulan

    Kaskus who? apa hubungannya postingan ini dengan kaskus bu?

    @ itikkecil

    Kalau diri kita benar, kenapa kita harus konflik?

  8. kamu nyari istri yg berpayudara paling besar, bukannya gitu, Dil?😛

  9. @mansup
    karena yang lain salah harusnya diluruskan… either you with us or against us (bener gak grammarnya?)

  10. @ Mbo V
    Wakakak,,, Dendam banget sama koment saya yang itu.. Just a joke mom, just a bloody sarcastic joke…😎

    @ itikkecil

    Berarti mereka yang begitu ga normal menurut saya… Membagi dunia dalam dua sisi putih dan hitam tanpa mengijinkan proses pemahaman dan area abu-abu…

    Padahal era tipi hitam putih sudah lewat kan?

  11. Wah saya pasti menjadi suami yang pantas. Saya kan Muh*** NU

  12. Waahh…
    Gimanapun aku tetap suka yang seiman
    lagian buat apa cari yang lain, yang seiman aja masih banyak nganggur. hehehehe

  13. Dil, bukankah Madura itu lebih kental NU-nya, jadi nasihat bapak ke anak gadisnya itu sptnya “…minimal NU” deh…..
    BTW, I got your point…

  14. waktu masih kos, kalo tarawih, selalu mencari tempat shalat di mesjid Muhammadiyah :p
    -yang penting komen-

  15. thx linknya mas aris…. babe17 dot info dulu…..

  16. @ adipati kademangan
    Baguslah kalau adipati percaya diri seperti ini, minimal diri sendiri dulu yang yakin

    @ Shaleh

    apalagi yang seiman mengijinkan batas maksimal 4 ya Leh?:mrgreen:

    @ bsw

    Justru karena begitu kuatnya pengaruh NU di madura Mas, maka anekdot Cak Nun itu muncul. Dulu, di madura ‘konon’ kalau bukan NU ya bukan Islam. Tapi sekarang standarnya berubah, minimal muhammadiyah juga sudah ok, begitu menurut Cak Nun.

    @ mina

    Karena cepat kelar dan bisa langsung jalan-jalan Min? Hah, saya juga, tapi karena alesan yang berbeda. Karena si perempuan itu dulu juga tarawihnya di Masjid Muhammadiyah..

    @ ekowanz

    Astaga?? Belum tau kah anda akan situs itu Eko??

  17. saya pikir ada, orang normal yang suka konflik
    satu: pengusaha senjata, dua: tukang gali kubur, tiga: penjual peti mati, empat: tentara …

  18. saya gak peduli islamnya apa, yang penting rajin sholat..:mrgreen:

  19. *sambil nginget-nginget : buku ente ditaroh dimana ye ? lagian auki gak begitu yakin kalo itu beneran punya entem, pasti dapet nilep dimanaa gitu hehehe* soal keyakinan auk angkat tangan > bukan ahlinya !😀

  20. hmmm… ga cuman muslim yang menuntut persamaan. dalam beribadah aja kadang banyak yang membeda-bedakan antara tempat ibadah yang satu dengan lainnya (masih dalam 1 agama). itu uda permasalahan klasik yang seharusnya dikubur dalam-dalam… tapi rupanya masyarakat kita memang sukanya begini, menumpuk masalah dan memperbesar masalah kecil😀

  21. Sampai sekarang saya tidak mengerti, masa iya sih, ada orang normal yang lebih menyenangi kondisi konflik daripada damai??

    tapi … orang normal yang sama lebih menyukai untuk berkuasa daripada dikuasai.

  22. Dua mantan perempuan saya Muhammadiyah:mrgreen:
    Dua lagi nasrani
    Beberapa lainnya kemungkinan atheis atau penganut Flying Spaghetti Monster
    Dan tidak ada masalah untuk itu

    Hahaha…mantan pertama saya NU, kedua Muhammadiyah. Yang lagi jalan sekarang, Kristen.😀 Nice post. Udah lama gak ngeliat persinggungan NU dan MD.

  23. kalo pacaran sama orang HTI boleh nggak😀

  24. @ diksi
    tentara suka perang? sapa bilang? mungkin JENDERALnya yang suka, tentaranya mana ada

    @ cK

    Ahmad Musadeq, mau?

    @ warmorning

    BALIKIIINNN

    @ fenny

    Mendebatkan perbedaan itu memang kadang bikin kecanduan, perasaan bahwa kita benar itu memabukkan,,, Celakanya, itu membutuhkan orang lain untuk disalahkan

    @ watonist

    Bener juga…

    @ gentole

    jangan-jangan mereka mantan saya:mrgreen:

    @ Fajar

    HTI itu apa?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: