Masalah Tanpa Solusi

9 Mei 2008 pukul 10.26 | Ditulis dalam Uncategorized | 29 Komentar

Pemerintah kembali berulah.

Setelah sebelumnya menunjukkan kekeras kepalaan mereka dengan menyatakan tidak akan menaikkan harga BBM, mereka akhirnya menunjukkan kapasitas sebagai pengambil kebijakan nomor wahid dengan pengumuman rencana kenaikan harga BBM sebelum waktu kenaikan dipastikan.

Dampaknya, di Banjarmasin saja, ratusan pembeli BBM berjirigen sudah antri di SPBU sejak hari pertama pengumuman itu. Belum lagi menghilangnya penjual bensin eceran. Lalu SPBU yang biasanya hanya kehabisan solar, sekarang mulai kehabisan Premium.

Itu tugas aparat tentu, untuk mencari dan membuktikan dugaan penimbunan.

Yang menjadi pertanyaan tentu sudah jelas, APAKAH HARGA BBM DI INDONESIA MEMANG HARUS NAIK?

Ibu Pengamat Ekonomi Aviliani dalam wawancara di TVONE menyatakan harga BBM memang harus naik. Keuangan negara sudah babak belur menahan terpaan subsidi yang terus membengkak. Untuk menyelamatkan ekonomi negara, menurut beliau,pemerintah harus tegas menaikkan BBM. Banyak pula pendapat-pendapat lain yang berseliwiran menanggapi masalah ini.

Warmorning, yang dengan jumawa mengaku bukan ahli ekonomi mempertanyakan kenapa Indonesia yang merupakan salah satu negara penghasil minyak, justru limbung dengan kenaikan harga minyak dunia. Bukankah kita seharusnya berpesta?

Hal senada mungkin dapat disimpulkan dari protes gubernur Kalimantan Tengah – Teras Narang. Mewakili kalimantan secara umum, Teras mengeluhkan krisis listrik dan energi parah yang dialami Kalimantan. Padahal 2/3 ekspor batu bara Indonesia berasal dari pulau ini.

Jawabannya mungkin sudah dilontarkan sang tetua. Indonesia bukan lagi negara Eksportir Minyak. Ah, Serigala tua yang terlalu baik hingga akhirnya mari kelaparan di kandang ayam…

Bang Eby, dengan analogi Bapak – Anak mengisyaratkan selama ini rakyat Indonesia memang sudah sangat tergantung pada Pemerintah. Seperti seorang anak yang begitu dimanja sang ayah sampai ketika si ayah wafat, si anak menjadi sosok tidak berguna yang tidak bisa apa-apa.

Mirip seperti protes almarhum hoek, yang menyayangkan betapa rakyat Indonesia sudah terlalu lama disusui pemerintah. Sehingga ketika sang pemberi susu sudah kurus kerontang kehabisan tenaga, rakyat menjadi ikut sekarat.

Ah, Bang Eby, Hoek, sepertinya melupakan satu hal sederhana. Bapak yang memanjakan anak, ibu yang menyusui, tidak pernah menarik pajak dari si anak. Bapak tidak pernah mengeluarkan peraturan daerah yang mengharuskan anaknya bayar retribusi parkir di kamar mereka sendiri. Bapak tidak akan menyuruh anak bayar sekolah sendiri. Ibu tidak pernah mengeluhkan air susu yang mereka berikan.

Jadi apakah BBM perlu dinaikkan?

Entahlah… Hanya saja, Indonesia selama ini memang masih tergolong negara boros energi. Terpukau pada pernyataan agama yang menyatakan manusia sebagai khalifah dan makhluk paling sempurna, Indonesia lupa pada ayat yang menyatakan sesungguhnya kerusakan di daratan dan di lautan itu tidak lain karena manusia juga.

Credit Photo: Bpost Online

Iklan

29 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Harga minyak naik karena negara tidak kuat menanggun subsidinya. Nah sekarang yang perlu adalah solusi bagaimana agar rakyat sanggup menghadapi minyak yang tidak disubsidi sekalipun.

  2. .. kata kolom opini di media : ‘sang ortu’ bisa bersenang-senang sedang ‘hak anaknya,’ di pangkas… ah negeriku

  3. Memang betul, seorang bapak tidak menarik pajak pada si anak. Tapi dia ‘menuntut’ si anak untuk ‘menyetor’ nilai ujian yang bagus. Jika nilai ujian tidak bagus, si bapak masih dapat memaafkan si anak. Malah melobi guru untuk mengampunkan.

    Memang betul, seorang bapak tidak menarik retribusi pada si anak. Tapi dia ‘menuntut’ si anak untuk ‘selalu rapi’ sehingga segala keperluan dibelikan, pembantu disediakan untuk membersikan kamar.

    Memang betul, seorang bapak tidak menyuruh anaknya bayar uang sekolah sendiri. Tapi dia ‘menuntut’ si anak untuk bekerja sebagai balas jasa. Jika tidak dapat pekerjaan, maka dicarikan kerja.

    Abang sadar .. untuk menggambarkan kondisi perekonomian Indonesia saat ini sangat kompleks. Oleh karena itu, abang mencoba menyederhanakan bukan bermaksud untuk menutup mata pada kenyataan yang ada.

    Ketika kita menentang kenaikan BBM pun, apakah akan menyelesaikan masalah? Katakanlah BBM tidak naik … apakah kemudian semua akan baik-baik saja, ketika harga BBM dalam negeri lebih rendah, sementara diluar negeri sangat tinggi??

    Apakah kita pura-pura tidak tahu, kalo kemudian BBM tersebut dilego ke LN karena memiliki nilai yang lebih menguntungkan? baik diseludupkan maupun yang resmi? .. tidak terlalu sederhana memang.

    Yang paling masuk akal .. jika pengeluaran meningkat, maka penghasilan harus ditingkatkan. Jika pemerintah akan menaikan BBM 20% maka penghasilan harus dinaikan oleh pemerintah 30% .. jadi moral ceritanya adalah : semua harus diperlakukan sesuai porsinya.

    Masalahnya adalah .. pemerintah belum mengoptimalkan peningkatan penghasilan masyarakat. Bukan belum ada program2 tersebut. Tapi masih belum optimal.

    Karena … apabila penghasilan masyarakat Indonesia sudah tinggi, maka harga naik berapa pun tidak masalah. Jadi, sejatinya harus dipikirkan bagaimana agar penghasilan rakyat kita bisa tinggi.

    Sama halnya orang tua yang memikirkan bagaimana anaknya bisa mandiri. Sehingga ketika ditinggal mati oleh orang tuanya tetap bisa berdiri tegak.

    Kurang lebih nya .. abang mohon maaf, jika pendapat abang melukai hati siapa pun. Abang cuma fokus pada bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan yang dapat memberikan penghasilan tinggi. Sehingga dikemudian hari bangsa ini tidak perlu lagi sengsara. Amin.

  4. [maki2 mode ON]
    Pemerintah negara ini memang 4nj!ng! membingungkan rakyatnya saja. Kalau belum dipastikan itu moncong ucapan yg belum pasti ya jangan dikeluarkan dulu. Minimal ngomongnya kasi penegasan bahwa harga belum naik dan penimbunan ditindak. Ini asal ngomong saja! Keparat memang!

    Saya bosen dituduh ndak patriot krn protes begini. Siapa yang patriot? Para bedebah berdasi pengambil kebijakan yang di pusat sana itu? Yang tiap pemilu selalu salah kita pilih? Bah cuih!

    Nih!

    A patriot must always be ready to defend his country against his government.
    Edward Abbey

    Tuh…
    Yang paling bahaya itu pemerintah benarnya. Penentu apa negara ini bakal bangkrut, bubar atau terjual itu ya mereka.

    Oh ya! Mesti ada yang bilang, “Ente ngomong saja!” 😆

    Ya… Ya… Ya… Saya memang banyak protes orangnya. Yang orang pemerintahan mau apa? Marah?!
    Saya juga bayar pajak, ndak idup gratis saya di negara ini.

    Biar gak asal maki-maki, IMHO nih, Mansup dan teman-teman:

    1.
    Keluar dari OPEC.
    Untuk apa di OPEC kalau negara dengan hasil minyak bumi cuma bisa manggut-manggut patuh mengikuti standarisasi minyak negara maju? Untuk apa di OPEC kalau kita tidak bisa menentukan harga minyak yang selalu diblokir dengan dalih “kestabilan global”??

    Pathetic 😦

    2.
    Nasionalisasi itu perusahaan-perusahaan asing yang pajaknya lebih rendah dari penguasaan saham dan keuntungan mereka jika itu perusahaan-perusahaan tak mau menaikkan setoran pajak ke negara. Freeport, Newmont, Chevron, layak untuk digertak, karena gila-gilaan eksplorasinya dan setorannya cuma macam uang rokok saja.

    Sampai kapan jadi kuli sih di rumah sendiri? 😡

    3.
    Mobil-mobil mewah itu tandai semua platnya dan kasi pajak tinggi. Jangan alesyan deh ‘ndak mampu’. Jangan alesyan ‘HAM’ lagi deh. Masa ente pada mampu beli mobil mewah, beli minyak non-subsidi ogah? Minggat ke negara lain sono, yakin ente bakal nangis juga.

    4.
    Naikin harga minyak untuk ekspor – dengan atau tanpa persetujuan sindikat bernama OPEC itu. Masa kita yang punya dapur tak berhak menentukan harga sendiri? Atau memang gak punya harga diri kali ya?

    Jari tengah deh saya buat pemerintah ini 😈
    [maki2 mode OFF]

    Yang pro kenaikan minyak dan penghapusan subsidi, sori kalo sudah menyinggung keyakinan kalian bahwa rakyat negara ini manja-manja sehingga pantas buat dicabut subsidinya. Sori, guys: angka kemiskinan di Indonesia ini sudah lebih dari 30 juta jiwa.

    Yang 30 juta jiwa itu apa mau dibunuh setengahnya?!
    😕

    Teori ekonomi macam Faisal Basri itu cuma pembenaran kepentingan minyak negara maju. Mirip (kalo memang tak bisa disebut) Teori Ekonomi neokapitalis. Dengan mempertahankan BLT pun tak akan berpengaruh apa-apa.

    *geram*

    @ mansup

    Jangan kuatirin rakyat, bro. Dimana-mana rakyat selalu survive. Dipijak. Diremas. Dibanting. Tetap saja rakyat selalu ada. Pemerintah itu yang nyusu sama ekonomi rakyat sebenarnya.

    Yang kuatir itu pengemplang uang negara dengan tameng nama rakyat selalu. Coba deh cari itung-itungan nilai BBM Indonesia. Pemerintah ini selalu ngaku rugi, padahal kenyataannya tidak demikian.

    Astaghfirullah… apa mereka ndak mikir itu para nelayan di laut pake BBM juga melautnya? Kalau katanya pake energi alternatif batubara atau kulit pisang yang diolah, suruh para pengambil kebijakan itu telan sendiri itu batubara sama kulit pisang 😈

  5. nah setiap bulan bertambah ribuan kendaraan baru di jalan,, bagaimana konsumsi bbm gak tambah berlebihan dan hasil nya kelangkaan bbm..

    makanya lebih baik jalan kaki kalo beraktivitas 🙂

  6. IMHO, bertambahnya kendaraan itu tidak bisa juga selalu dijadikan pembenaran bahwa “rakyat nih yang salah! beli kendaran, jadi pada boros deh!”

    Apa negara luar dan perusahan-perusahan – baik asing maupun dewek punya – tdk lebih boros lagi minum BBM itu? Sudah begitu pun masih nyusu pada subsidi yang jatahnya rakyat kecil itu. Jangankan perusahaan swasta, PLN saja tak becus dalam hal urusan BBM untuk pasokan listriknya itu.

    Lagipula negara-negara luar yang ngimpor minyak dari Indonesia, apa juga pada jalan kaki, bro?

    Jepang, bisa jadi penduduknya mau jalan kaki. Tapi pabrikan di sana bukan kulit pisang juga alternatif energinya kan? 😆

    Itu kendaraan bermotor bertambah banyak pemerintah gak pantes cuci-tangan. Tanyakan sama Ditlantas dan yang satu ranjang atap dibawah nama SAMSAT itu, kenapa bisa dipermudah dapat – sebut saja – SIM cukup dengan ‘uang rokok’?

    Regulasi demikian diperketat donk. Dari institusi negara dulu, baru ‘jitak’ rakyat kalo rakyatnya bengal.

    *minggat sbelum ditendang Mansup karena ngomel di sini*
    :mrgreen:

  7. ahem…. artalyta suryani bukannya diperiksa KPK ya?
    sejak kapan dia jadi pengamat ekonomi
    *binun*

  8. Sengaja dibikin masalah aja tuh, biar ada kerjaan. Kalo gak ada masalah, Mansup gak ada ide nulis semacam ini dan orang-orang hidup sangat damai. Gak asyikkan….hehehe

    *Penyuka masalah yang lengkap dengan solusinya. (Halah…)

  9. oh…..balada negeriku……..

    tunggu gebrakan 2009 dan presiden baru….

  10. aku link ya kawan

  11. 1. Indonesia ga bisa 100% mengolah(bukan menambang) kebutuhan minyaknya… ini salah satu faktor keterlambatan

    2. iklim lagi ga stabil, cukup wajar ada keterlambatan tanker

    3. Pemerintah bukan perusahaan negara, dan perusahaan negara bukan pemerintah. kalo mentang2 milik negara dibilang pemerintah berarti itu generalisasi tak beralasan loh…

  12. masih kaget dan ndak habis pikir juga, dab? bukannya seperti kata mas momon: “Ini Indonesia Bung! Tiap hari adalah kejutan.”

    Yah, memang beginilah negara kita terinta ini :mrgreen:

    *kepikiran buat jadi WN Inggris aja. sapa tau kepilih jadi kapten timnas sepakbolanya*

  13. @ Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji

    1. Indonesia ga bisa 100% mengolah(bukan menambang) kebutuhan minyaknya… ini salah satu faktor keterlambatan

    Benar.
    Itu juga yang setiap tahun menjadi alasan pemerintah setelah tiap pemilu kita memilih mereka. Wajah berganti, lagu masih lagu lama. Liriknya saja yang diubah.

    Mau berapa kali pemilu lagi kita terlambat?
    Nggak usah ikut pemilu lagi deh. Ini negara boleh dibikin sedikit collaps pemerintahannya 😆

    2. iklim lagi ga stabil, cukup wajar ada keterlambatan tanker

    Yang terlambat tanker yang masuk atau tanker yang keluar dgn tujuan negara-negara kaya tapi miskin minyak bumi? :mrgreen:

    3. Pemerintah bukan perusahaan negara, dan perusahaan negara bukan pemerintah. kalo mentang2 milik negara dibilang pemerintah berarti itu generalisasi tak beralasan loh…

    Beralasan.

    Itu perusahaan negara ndak akan bisa berdiri kalo ndak ada back-up dari negara. Dan bukannya penunjukkan siapa-siapa yang duduk di bangku perusahaan negara itu sendiri tak lepas dari pemerintahan? Sejak kapan jenis2 PLN itu lepas dari pemerintah? 😆

    Lagian yang perlu diprotes itu bukan perusahaan negara tok. Tapi utamanya perusahaan asing yang sudah rakus dan belum kenyang2 makan hasil bumi sini.

    Apalagi pemerintah tolol yang tak mau ambil sikap tegas. Entah karena terlalu santun atau takut dicap musuh ekonomi global seperti Bolivia, Chile dan Venezuela.

    Atau karena sikap tegas itu kiri?? 😆

    To government: makan itu ekonomi PencakSilat rakitan kalian!

  14. Kedepan ini setiap individu mesti juga sadar bahwa hemat energi adalah sebuah keharusan. Kalau bisa naik sepeda dan/atau berjalan kaki, kenapa harus pakai mobil/motor.

    Dimasa yang akan datang, setiap orang akan harus mempertanggungjawabkan “carbon-footprint”nya masing-masing 😀

    Have been energy efficient in living ouir life? Fuel cost will ALWAYs be increased from time to time.

  15. @ danalingga
    Karena itu saya sarankan agar manusia Indonesia berhenti bersikap seperti pemilik alam. Mulai efisiensi di semua hal. Mulai dari perusahaan negara, kantor pemerintah sampai rumah kita.

    @ warmorning

    Siapa juga yang mau punya ‘sang ortu’ seperti itu…

    @ Erander

    Bener bang, yang diperlukan adalah kesiapan negara dan rakyat dalam menghadapi masalah. Sekarang kita cenderung menunggu masalah baru heboh mencari solusi. Pemerintah sekarang sepertinya mau mudahnya saja. Tapi manusiawi juga seh, kalau ada yang mudah kenapa harus nyari yang rumit?

    @ alex

    Keren banget itu qoute dari Edwar Abbey. Siapa seh dia?

    @ cempluk

    Kendaraan pribadi yang terus bertambah juga karena kegagalan manajemen sistem transportasi masal kan?

    @ itikkecil

    :mrgreen: Khilaf bu. Sama-sama STW cantik soalnya

    @ harie

    Halah, kalau masalahnya datangnya wajar seh da papa. Tapi sekarang masalahnya dicari-cari sendiri, itu yang bikin ribet

    @ kabutorider

    Keterlambatan akibat cuaca itu sepertinya alesan saja pak. terlambat kok pas waktunya setiap kali ada kenaikan harga atau pencabutan subsidi.

    @ domba garut

    Saya juga sedang belajar menghemat energi, mulai dari belajar mengetik posting tanpa menyalakan layar komputer :mrgreen:

  16. Keren banget itu qoute dari Edwar Abbey. Siapa seh dia?

    Penulis Amerika. Saya juga bukan penggemar beratnya dia, apalagi pemujanya. Tapi quote itu kan ada benernya, bro :mrgreen:

    Ya… Ya… Dia memang Orang kafir™ dan subversif™
    🙄

  17. Sudahlah, jangan pada ngedumel. Ini adalah konsekuensi untuk kalian yang memilih Pancasila sebagai dasar negara. Kapitalis bukan, sosialis bukan. Negara agama bukan, sekuler bukan. Negara kok bukan-bukan.

    Nggak usah ngedumel. Yang konsekuen dong. Sudah milih Pancasila kok masih pada ngedumel hanya gara-gara BBM mau naik. Dijajah sebuah perusahaan dagang selama 350 tahun saja masih bisa menanggung kok. Dijajah Jepang 3,5 tahun dengan segala penderitaanya juga bisa menanggung. Apalagi menderita di tengah kemerdekaan, pasti kita lebih bisa menanggung.

    @erander:
    Manusia-manusia Pancasila mah tidak bisa mikir naikin pendapatan dulu 30 persen baru naikin harga BBM 30 persen. Lagipula multiplier effect dari kenaikan BBM itu apa tidak dihitung? Mestinya pendapatan naik minimal 50 persen baru BBM naik 30 persen supaya masih bisa menikmati sedikit kekuatan daya beli tambahan.

    @semua:
    Sekali lagi, terimalah konsekuensi dari berdasar negara Pancasila. Jangan ngedumel dong. Saya yang masih kritis sama Pancasila saja nggak ngedumel kok.

  18. […] perusahaan-perusahaan asing yang setoran pajaknya seperti uang rokok saja pada negara ini – seperti komentar saya di blog saudara saya si manusia super. Bisa-bisa dicap menghina […]

  19. @ MAW

    Sudahlah, jangan pada ngedumel. Ini adalah konsekuensi untuk kalian yang memilih Pancasila sebagai dasar negara.

    *batuk-batuk*

    Ehmm… Saya dipaksa nelan benarnya pikir ada benarnya juga, Mas…

    *tutup mulut*

  20. baru kali ini aku kuatir banget.
    gimana yah kalo dah bener2 dinaikin, hati ni susah ngebayanginnya

  21. hai, salam kenal dari borneo barat…..berkunjung

  22. Wah BBM bakal naik lagi, betis bisa tambah besar lagi nie,

    dan selalu ada isu sebelon atau sesudah kenaikan BBM, dari dukun santet sampai telpon berlayar merah.

    salam kenal.

  23. setuju bbm naik! indonesia ini penuh orang raja tega dan super ego drpd pemerintah susah mengawasi lbh baik subsidi dicabut saja. tapi kendaraan umum dan angkutan sembako tetap disubsidi menggunakan kartu kendali.

  24. tulisan saya juga menceritakan tentang BBM, mempertanyakan BBM Naik…
    sebuah langkah ironi dari pemerintah yang hanya mengorbankan sisi konsumen sedangkan sisi produksinya blum dimaksimalkan

  25. @ alex
    Saya suka JK Rowling sajah :mrgreen:

    @ MAW

    Iya juga ya? Siapa juga yang maksa tinggal di sini? Siapa juga yang milih pimpinan begitu?

    @ yudi

    Jangan dibayangin mas, mending ikut saya, numpuk bensin di gudang. Lumayan dapat 1 juta 10 hari…

    @ tanto

    salam lagi dari borneo belah bawah

    @ smileface

    Apa hubungannya isu klenik seperti itu dengan BBM ya?

    @ annmolly

    Kalau ga buat rakyatnya, pemerintah itu ada buat siapa??

    @ arul

    tulisan kita kayanya ga pernah bisa merubah kebijakan (bijak gundulnya) mereka…

  26. Saya suka JK Rowling sajah :mrgreen:

    ….

    childish… 🙄

    Yah, saya juga ndak suka sama dia sih. Tapi JK. Rowling? Fetish yang MILF? Belum sampe gitu deh kayanya… 😛

    *ctrl-w*

  27. […] perusahaan-perusahaan asing yang setoran pajaknya seperti uang rokok saja pada negara ini – seperti komentar saya di blog saudara saya si manusia super. Bah! Bisa-bisa dicap menghina […]

  28. @ Alex
    Yang penting kaya…

  29. […] saya terjebak dalam dilema yang sepele cukup membingungkan. – Apakah saya harus ikut antri di SPBU, yang berarti buang waktu […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: