Pelentenan

14 Februari 2008 pukul 16.25 | Ditulis dalam Uncategorized | 46 Komentar

Malam itu, adik laki-laki saya yang sekolah di salah satu sekolah agama setingkat SMP bercerita.

“Ternyata pelenten itu haram ya? Katanya itu acara untuk menghormati orang sucinya kresten”

“Kata siapa?” Tanya saya

“Tadi ada yang bagi-bagi selebaran tentang sejarah pelenten di kelas. Dari Kelompok Studi Islam SMA tetangga”

“Jangan gampang percaya” Kata saya, “Apa yang tertulis itu belum tentu benar. Kita harus memikirkan sesuatu sebelum memutuskan percaya atau tidak”

“Iya seh, tapi kata anak-anak masjid itu, kita harus melarang teman-teman kita merayakan palenten. Orang Islam ga punya perayaan pelenten.”

“Trus apa katanya?”

“Pokoknya gitu, ada ayat-ayat Qur’an juga. Pokoknya pelentenan, ngucapin selamat hari raya bagi teman yang bukan satu agama, itu haram. Kata pak guru juga gitu”

Saya lalu teringat dengan spanduk besar yang dipasang Angkatan Muda Baitul Hikmah – Perkumpulan Mahasiswa Masjid Kampus saya pada setiap akhir tahun lalu. Isi spanduknya “Kami menolak perayaan natal di KAMPUS ini! Menolak perayaan natal BERSAMA”. Spanduk itu dipasang di depan gerbang pintu masuk Kampus, tepat di tepi jalan utama kota. Di baca semua orang yang beragam agama dan tingkat pendidikannya.

Saya lalu mencoba mengajari adik saya membandingkan

“Gini, misalnya ada orang kresten yang bilang, orang Islam itu kejam, kamu tersinggung ga?”

“Tersinggung lah, apa alasannya mereka bilang kita kejam? Gara-gara bom bali? Itu kan oknum”

“Bukan, bukan gara-gara bom bali atau terorisme jihad. Tapi gara-gara ibadah qurban.”

“Maksutnya”

“Gimana kalo tiba-tiba mereka bilang Kambing itu haram karena merupakan perlambang kekejaman ayah kepada anak. Sejarahnya, qurban itu kan awalnya diminta Nabi Ibrahim meyembelih Ismail, baru kemudian diganti Domba”

“Iya ya…”

“Begitu juga mungkin perasaan penganut agama lain kalau tiba-tiba kita nuduh sembarangan pada mereka. Gimana perasaanmu kalau tiba-tiba di depan gereja ada tulisan DILARANG MENGUCAPKAN SELAMAT IDUL FITRI DI KAWASAN INI?”

“Tersinggung juga”

“Jadi?”

Adik saya lalu terdiam lama. Saya mengharapkannya dapat memahami pembicaraan kali ini dengan baik. Tidak perlu menyetujui apa kata saya tadi. Cukup sekedar mengerti, kebenaran terkadang hanyalah pendapat pihak mayoritas. Sejarah selalu adalah cerita satu sisi.

Qoute of the valentine day:

Jadi saya sungguh heran kalau ada yang menajiskan CINTA, tapi lebih senang MEMBUNUH atas nama kepercayaannya. Saya juga sungguh heran ketika cinta pada sesama dianggap bukanlah cinta karena lebih menjurus pada nafsu. Dan lebih prefer pada cinta pada Tuhan belaka. Kenapa nggak sekalian hidup asketis ?

Apakah Tuhan yang sudah salah menurunkan cinta dimuka bumi ini ?

46 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. cuma pelenten ini…. masak diributin sampe segitunya. saya gak setuju pelenten bukan soal agama…. saya gak suka pelenten ini dikomersialisasikan oleh para kapitalis

    *dilempar sandal*

  2. Saya juga ga pernah pelentenan, buang-buang duwit!:mrgreen:

  3. Btw, sudah berapa postingan ini, si ibu koment pertama terus ya? *kegeeran sendiri*

  4. demi dirimu wahai anakku, begitu ada yang terbaru langsung menuju tekape *halah*

  5. *terharu*

    Ada coklat buat saya kalau begitu?😳

  6. saya gak ngerayain pelenten

    *timpuk mansup pake coklat ayam*

  7. Paleintine yang menjadi dilema ya mister😉

  8. hmm, valentine? saya ga merayakannya. kalau cinta? saya agak skeptis sama masalah cinta, saya masih trauma dengan pengkhianatan…

  9. Jadi pelenten itu harom karena dari agama kristen?
    Kalo misalnya pelenten itu dijadikan hari resmi negara jadi haram g?

    btw, pelenten kan harinya tukang bunga dan tukang coklat, sama kayak natal itu harinya tukang bikin maenan, ato tahun baru harinya tukang terompet.

  10. saya no komeng. tapi kalau ada yang ngasih coklat, monggo…:mrgreen:

  11. Setahu saya Pelentenan itu ‘kan bukan perayaan umat Kristiani— wong eksistensi Santonya sendiri masih jadi perdebatan. Jadi ya sebenarnya sama saja dengan perayaan Hari Ibu, Hari Ayah, Hari Anak, Hari Buruh, dan hari-hari aneh lainnya.😕

  12. Wah, quote yang mengena..

    Menajiskan CINTA dan membunuh atas dasar kepercayaannya..

    Mantap!

  13. […] buka google, ternyata google pun merayakan valentine. Berhubung lucu jadi saya simpan saya […]

  14. ouh…parker…
    tumben kamu waras…

  15. beberapa minggu ini saya dan pacar marahan, walau kami sama-sama sayang, tapi permasalahan tetap ada, jadi berantam. tapi pas tgl 14 saya ingat hari valentine, hari kasih sayang, jadi saya ambil moment valentine ini untuk ekspresikan perasaan saya ke dia, dan saya ucapkan ke dia :

    “selamat hari velentine …you are my rose flower, I love you, only you, forever …”

    dia bilang : “wah ini hari valentine ya, kok aku lupa ….” dst ….

    dan akhirnya hubungan kami dekat kembali mulai hari ini. Jadi saya rasa, ada juga bagusnya di ‘hari valentine’ ini …he..he…

    kalau ada yang merayakan valentine di luar etika moral, itu saya pikir tergantung pribadinya. Gak usah nunggu hari valentine, hari lain pun kalau udah niat jelek, pasti melakukan yang jelek (kalau ada kesempatan).

    Contohnya : “nafsu birahi” … nafsu birahi ini di ciptakan Tuhan sebenarnya untuk tujuan yang baik, yaitu dalam koridor “pernikahan suci”. artinya hanya orang yang sudah menikah yang seharusnya dan selayaknya mengekspresikan cinta mereka dalam nafsu birahi yang suci.

    Tapi manusia zaman sekarang (juga dari zaman dulu dan bahkan dari zaman ke zaman), banyak yang menyahgunakan “nafsu birahi” itu …alias mengumbar nafsu ….bukan dengan pasangannya, atau mengumbar nafsu bukan dalam koridor “pernikahan” yang sudah syah secara agama dan negara.

    Kembali ke topik valentine, saya rasa tergantung insan masing-masing sesuai dengan apa yang dirasakan saat valentine. bagi saya pribadi, moment valentine (walau tidak setiap tahun), selalu berlalu dengan indah dan berkesan, terutama valentine pertama sejak saya dan pacar jadian, dimana saya berikan dia bunga mawar merah yang saya potong dari pot pekarangan rumah ….pacar saya sangat terkesan dan sering mengingat mawar pertama saya itu …

    padahal, besoknya di rumah saya di tanyai emak saya, karena mawar merah hilang dari pot …saya cuma ketawa cengengesan ….

    salam jabat erat, dan selamat hari valentine untuk semua

    partisimon partogi

  16. Hehehehe… kalimat “asal-asalan” saya dipakai.

    Masalahnya, saya nggak merayakan valentin, tapi saya merayakan hari kasih sayang sebagai PENGINGAT bahwa begitu banyak orang disekitar kita yang butuh cinta dan kasih sayang. Bukan cuma pacar atau lawan jenis, tapi juga dengan adik/kakak, sahabat, orangtua, bahkan dengan orang-orang yang kurang beruntung.

    Dan itu juga CINTA kan namanya ?😉 Dan kasih sayang itu tidak mengenal hari atau waktu karena selalu ada setiap saat. Tapi kita butuh hari tertentu sebagai pengingat bahwa kita punya anugerah yg terindah berupa cinta dan kasih sayang.

    *tumben gw bijaksanan kali ini, biasanya brutal*:mrgreen:

  17. ah no koment

  18. @maxbreaker

    hmm, valentine? saya ga merayakannya. kalau cinta? saya agak skeptis sama masalah cinta, saya masih trauma dengan pengkhianatan…

    Jangan dibawa trauma, Bro..Bunuh aja orangnya atas nama agama, pasti ga ada nyalahin.:mrgreen:

    @mansup
    Pelenten? Ada ga masalah, ga ada ya ga masalah.

    Tuhan sih ga pernah salah menurunkan cinta, kalo salah berarti Dia bukan Tuhan donk. Tapi saya ga ngerti kenapa Tuhan menciptakan pikiran yg begitu sempit bagi beberapa orang.

  19. hepi palentin Dil…

    betewe, itu avatar anak gambut juga kan?
    :mrgreen:

  20. Ah saya jadi komentar di sini…. Kurang lebih sama.
    Perayaan Valentine itu spt memakai pisau….bisa buat membunuh, menyakiti dsbnya. Tapi bisa buat ibu bikin sayur yg enak…..
    Kalo persoalan maksiatnya, foya-foyanya ya yg dilarang maksiat sama foya-foyanya ya nggak?
    Saya yakin anak muda Islam yg lebih cerdas itu banyak, tapi kira-kira mereka berani pasang spanduk atau selebaran sebagai “counter attack” nggak ya? Mungkin sih nggak – takut di bilang kafir ‘kali ya?🙂

  21. saiia nyontek caranya menerangkan palentenan ke adik saya yaa,, terimakasihhh,,:mrgreen:

  22. nuMpang Lwt

  23. Saya setuju.😀

    Susah juga kalau sekali dengar yang berbau kristen dan gereja langsung dicap haram..😆

  24. posting yg mencerahkan

  25. Ini namanya khan Islam keblinger…udah paranoid duluan. ada artikel menarik disini..

  26. valentine, gak perlu dirayain. toh setiap hari kita bisa mencurahkan kasih sayang ke orang lain. tapi untuk orng yang merayakannya, ya hormati aja.

  27. Setuju. Hidup ini realistis.Soal keyakinan masing-masing aja. yang penting seperti kata SLANK PEACE.

  28. saya hanya merayakan cinta🙂
    *tersenyum-senyum kangen*

  29. Kalo orang beriman, ikut apa kata agamanya. Kalo Allah & Rosul melarang, jangan dikerjakan. Kalo dikerjakan juga (dengan segala kilah/alasan pembenaran), berarti keimanannya diragukan alias nantang sama Allah & Rosul.

  30. ini valentine yah? heboh bener sih, kasih sayang itu ga salah, cuma emang kadang qt suka kebablasan mengartikannya.bukan mslh merayakan atau engga’,tp sikap qt aja, klo mencurahkan sayang ke anak yatim misalnya atau anak fakir miskin ga’ masalah mskpun di hari valn.jadi drpd ngerayainnya kearah perzinahan, mending ajak aja pacar lo ke rumah penampungan anak yatim ‘n trus membagi kasih sayang dgn mrka. klo langsung di larang emang susah tau sendiri lah remaja sekarang.
    Eh, eni manusia super, tapi qo’ cewe'(supergirl,ye..)asli ga tuh foto jgn2x foto orang lagi (eemmm, tampang sih lumayan…he..3x).

  31. saya ga pernah palentinan..karena kasih sayang ada setiap hari..selamat merayakan cinta..

  32. jah…
    kasih sayang…

    muak…

  33. maish palentinan ya?😕 komeng terbengkalai nih…🙄

  34. ralat: masih.

    *mengutuki kibor butut*

  35. “Tadi ada yang bagi-bagi selebaran tentang sejarah pelenten di kelas. Dari Kelompok Studi Islam SMA tetangga”

    sudah saiyah duga tradisi ini masih ada… *besok ngecheck ke bekas sma ahh…masi ada atau nggak*

  36. salam kenal………

  37. […] yang rutin setiap tahun ini tak hanya membuat orang bingung, tapi juga memicu gelak tawa. Setiap tahun perdebatan yang sama selalu berulang, topik yang masih […]

  38. gini Dil, pelenten itu sebenernya memang ri ry na non-muslim, so kita yang muslim kalo handak dianggap jadi pengikutnya Habibullah Ya Rasulullah ya memang kudu nurutin apa kata bliau. Standarnya, pernahkah Rasul mengajak umat-Nya natalan bareng lintas agama ? trus..hari raya yahudi apa ya ? ngerayain hari rayanya yahudi bareng** ? kita udh punya hari masing** kok, emang idul fitri n idul adha masih kurang ? yah pokokna hal ** yang berkaitan dengan aqidah, we cant’ compromise it. Gituloh. Hapal aja lo surat Al-kafiirun ?! ( dariku nang parak kipas angin di rumah harie waktu kopdar)

  39. wakakakk..
    akhirnya sayah nemu kalimat kalimat sakti membantah yang begituan..
    tengkyuh..
    **tercerahkan**

  40. @ diarypuan :
    masalahnya gini.
    kalo nurut sayah, itu hari pelenten kan kayak hari guru. hari pahlawan.
    lha urusannya masing2 mo ngerayain apa ndak..
    bukan berarti harus pasang spanduk gedhe gedhe tho..
    untung di bawahnya ndak ada tulisan : “DISCOUNT 50%..!!”

  41. palentin = gak penting !

  42. @ Goop
    Dilema? Ah, tidak juga. Ini hal remeh kok

    @ maxbreaker

    Brokenhearted? Selamat, itu jalan untuk menemukan hati yang baru.

    @ dnial

    Oh? Haram ya?:mrgreen:
    Saya setuju. Sebagian perayaan hari-hari apapun saat ini tidak lebih dari penyemaian bibit konsumerisme oleh kaum kapitalis.

    @ cK

    Sayangnya tidak ada yang ngasih kan? Kesiyan…

    @ Kopral Geddoe

    Mangkanya itu tuan, saya ingin menjelaskan itu kepada adik saya. Bahwa tidak semua yang tertulis itu adalah kebenaran.

    @ Nazieb

    Itu tulisan yang kata penulisnya sendiri ‘ditulis secara asal-asalan’. Jangan dijadikan dalil mas, he..

    @ Joesatch yang legendaris

    Saya? Waras?

    @ partisimon

    Ya ampun, bapak ini malah posting di sini…

    @ Pyrrho

    Pinjem kata-kata ga pake ijin ya om? Maaph, he
    Iya, saya juga sempat terkagum-kagum, tumben Fertob kalem, biasanya separo kanibal

    @ calonorang…

    Aduh, saya sedang tidak dalam posisi menjelaskan kebijakan Tuhan non.

    @ siwi

    Hepi juga neng, itu avatar nemu di warnet.

    @ bsw

    Sebenarnya tidak ada pertentangan dalam Islam mas, hanya saja masing-masing memiliki pendapat dan jalan yang berbeda dalam upayanya memperoleh Ridho Tuhan.

    @ raddtuww tebbu

    silahken, saya tidak jamin ini penjelasan yang benar lo

    @ Jack

    Teman saya SMA separonya non-muslim, bisa kacau sekolah kalau dikit-dikit bilang kafir, he…

    @ ‘K

    Koment yang mencerahkan:mrgreen:

    @ Iman Brotoseno

    Paranoid, itu kata yang tepat sepertinya. Beban kejayaan masa lalu, mungkin.

    @ ayaelectro

    The coolest comment so far!

    @ Ghira

    Wah, saya sukanya KANGEN BAND tuh mba

    @ mina

    Yaiks… *mumpung lagi seneng, minta buku ah*

    @ batubaranews

    Bener banget om, siapa juga yang bisa menantang Allah? Mau hidup dimana kita kalau menempatkan posisi opisisi terhadap Tuhan? Wong HIDUP itu saja punya-Nya kok…

    @ assajjad

    Usulannya boleh tuh mas, kemaren juga ada temen-temen di bandung yang ngerayain valentin dengan bagi-bagi makan sama pakaian buat anak jalanan. Haram ga tuh?

    @ stey

    Selamat merayakan dan menemukan cinta

    @ Moerz, anak siapa seh?

    Anak yang kurang kasih sayang memang suka skepti dengan cinta:mrgreen:

    @ celo

    Malah tambah beringas mungkin, bagi-bagi selebaran yang dicetak dengan komputer ciptaan orang kafir:mrgreen:

    @ Somba Mual

    Salam

    @ diarypuan

    Yang deket kipas angin ya mba? Saya malah lupa apa ada kipas angin waktu itu? He..

    Ah, sepanjang posting ini hingga beberapa komentar tambahan diatas saya tidak pernah menyatakan saya MERAYAKAN valentin kok mba. Silahkan tanya teman-teman saya, para perempuan saya, apa pernah saya merayakan valentin? Tidak pernah.

    Ini hanya penjelasan mengenai sudut pandang sejarah. Dalam Islam pun sejarah tidak disepakati semua pihak kan? Karena itu ada Sunni dan Syiah.

    Bahkan penafsiran Al-Qur’an pun masih banyak yang berbeda.

    Karena itu menurut saya kita tidak boleh mempercayai begitu saja segala sesuatu yang diutarakan orang lain. Lebih baik mengumpulkan data sebanyak-banyaknya lalu mempercayakan pilihan pada nurani yang sudah diberikan Tuhan pada kita.

    Sementara masalah spanduk penolakan Natal itu, lebih banyak mana seh mudarat sama manfaatnya? Apa pernyataan terang-terangan seperti itu justru semakin memperburuk citra Islam? Lalu mana Rahmatan Lil Alamin-nya kalau belum apa-apa kita sudah ngajak perang tanpa alasan?

    Kalau soal aqidah, saya (ngakunya seh) Muslim luar dalam. Dan Alhamdulillah, tidak pernah malu mengakuinya.

    @ tikabanget

    Mana kalimat-kalimat saktinya jeng? Saya malah ga nemu-nemu

    @ warmorning

    Cinta + duit = penting

  43. weits. saya dapet coklat donk. 8) sayangnya dari murid saya, bukan gebetan

  44. @ cK
    Tetep prihatin…

  45. intinya, pelajari ajaran agama dengan benar (baik muslim, kristen atau apapaun). jangan jadi orang yang dungu dengan agama.
    segala tulisan di sini karena sipenulis hanya menulis dengan otaknya tanpa landasan iman yang memadai. menulis karena kita dungu dengan agama kita malah menggelikan dan membuat orang lain bingung. apalagi kalau berhasil mematahkan argumen lawan, terasa semakin huebat! padahal itu semu belaka. bagi muslim: banyak ngaji, banyak dzikir, banyak belajar islam (yang bener), pasti mata hati akan berbicara dengan lebih jujur

  46. @ Wahyu

    intinya, pelajari ajaran agama dengan benar (baik muslim, kristen atau apapun). jangan jadi orang yang dungu dengan agama

    Setuju! Sayangnya, kategori dan pengertian BENAR itu berbeda-beda di setiap pemahaman. Benar untuk saya, mungkin kurang benar buat sampeyan, kalau sudah begini, mungkin jalan terbaiknya adalah mengerti kalau memang kita berbeda.

    segala tulisan di sini karena sipenulis hanya menulis dengan otaknya

    Saya nulis dengan jari, plus keyboard komputer bos.

    menulis karena kita dungu dengan agama kita malah menggelikan dan membuat orang lain bingung. apalagi kalau berhasil mematahkan argumen lawan, terasa semakin huebat! padahal itu semu belaka. bagi muslim: banyak ngaji, banyak dzikir, banyak belajar islam (yang bener), pasti mata hati akan berbicara dengan lebih jujur

    Benar, iman saya masih cetek, masih suka goyah. Untungnya, saya masih punya niat belajar. Saya masih mau mengaku kalo saya kurang ngaji, kurang dzikir,,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: