Jin Alim, Markonah Angel dan Rencana Pindah Negara

7 Januari 2008 pukul 09.37 | Ditulis dalam Uncategorized | 30 Komentar

Seorang temannya teman saya tiba-tiba mendatangi saya pada hari itu.

“Saya mau pindah negara saja mas..” Ucapnya tanpa memakai preambule.

Beh, pikir saya. Kenapa tiba-tiba orang ini menyontek ide saya seenaknya? Saya sejak awal sudah mencanangkan diri telah berpikir-pikir untuk pindah dari negara ini.

“Kenapa?” Tanya saya demi kesopanan.

“Saya lelah”

“Lelah ya istirahat, kalo harus pindah negara ya malah tambah lelah” gumam saya.

“Saya lelah justru dengan negara ini, dengan sistemnya, dengan aparatnya, dengan hukumnya yang bisa diputar balik seenaknya, dengan omongan pejabatnya yang mengawang-awang menipu warganya, dengan pengadilannya yang tidak pernah adil, dengan masa depan yang tidak pernah jelas di sini…” Temannya teman saya ini seperti penis yang menemukan lubang toilet dimuka saya. Kata-katanya menyembur tanpa henti.

Woo, woo, tahan bos, kamu tidak sedang membaca pikiran saya kan? Tanya saya dalam hati. Kenapa yang kamu ucapkan sama dengan yang saya rasakan?

Tapi sekali lagi demi alasan kesopanan saya menyahut dengan santun, “Ah, tidak seperti itu mungkin kenyataannya. Hanya memang kadang ada yang tidak benar tapi tidak semua, mungkin”

“Biadap semua!” Tiba-tiba dia mengumpat.

“Ada apa sebenarnya?” Tanya saya akhirnya. Separuh penasaran separuh senang mendengarnya melontarkan caci maki yang sebenarnya juga ingin saya lontarkan.

“Begini mas, saya dapat warisan, lumayan”

“Selamat, makan-makan dunk!” Jawab saya dengan serakah, melupakan rencana pindah negara begitu saja.

“Mas dengar dulu…! Warisan ini sudah sah jadi milik saya, lengkap dengan surat menyuratnya. Saya tinggal menggunakannya atau menjualnya untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dan keluarga.”

“Lalu dimana masalahnya?”

“Lalu ada seorang kerabat jauh saya, yang seumur hidup tidak pernah saya kenal tiba-tiba muncul dan mengaku mempunyai hak atas warisan saya itu.”

“Ga masalah, kamu kan punya surat-suratnya?”

“Dia pejabat penting mas” Temannya teman saya menggumamkan kalimat ini sambil menunduk.

“Ah..” saya tidak bisa melanjutkan ucapan saya untuk sementara. Gambaran kelanjutan dari cerita ini sudah mulai terbentang.

“Dia minta bagian dari warisan itu, saya minta waktu untuk membicarakannya dengan keluarga saya sebelum setuju. Tapi ternyata kerabat saya ini bukan tipe orang sabar. Beberapa waktu lalu, saya mendapat panggilan dari aparat berseragam, diminta ke kantor mereka untuk memberikan penjelasan terkait laporan seorang pejabat yang menuduh saya mengambil hartanya.”

Saya masih belum menemukan kata-kata, dia melanjutkan, “Saya takut mas, seumur hidup jangankan harta orang lain, sandal ayah saya saja saya tidak berani memakai sebelum minta ijin. Tapi karena aparat berseragam ini membawa surat resmi, saya harus ikut ke kantor mereka. Di sana saya ditanyai beberapa jam lalu disuruh pulang, besoknya saya ditanya lagi, lalu pulang lagi. Hingga akhirnya satu aparat menyatakan saya memang tidak terbukti mengambil hak orang lain.”

“Nah aman berarti..” Kata saya akhirnya.

“Tapi aparat minta uang lelah karena sudah menanyai saya beberapa hari tanpa hasil, mereka minta 20 juta kalau tidak saya akan terus dipanggil ke kantor mereka…”

“Ah..” Kata-kata saya hilang lagi.

“Saya terpaksa bayar mas, saya tidak mengerti. Saya hanya ingin saya tidak diganggu dengan tuduhan maling. Tapi urusan ini ternyata tidak selesai. Saya dapat surat panggilan dari kantor meja hijau untuk menghadiri persidangan atas tuduhan mengambil hak orang lainlagi. Ternyata meski sudah dinyatakan tidak bersalah di penyidikan aparat berseragam, saya masih bisa dituduh bersalah di kantor meja hijau. Padahal mereka sama-sama penegak hukum kan mas?”

“Eh?” Saya tidak bisa menjawab, karena saya lulusan sekolah guru bukan sekolah hukum.

Tapi dia tampaknya tidak peduli. Dia meneruskan ceritanya “Di kantor meja hijau ini saya kembali ditanyai tentang tuduhan seorang pejabat kerabat saya itu yang menyebut saya mengambil haknya. Saya tunjukkan bukti-bukti surat warisan saya. Tapi ternyata kerabat saya itu sudah membuat surat keterangan dari kantor agama yang menyatakan dia juga KEMUNGKINAN mempunyai hak atas harta saya. Kantor meja hijau menyatakan bukti pejabat kerabat saya itu sebenarnya lemah, tapi dia pejabat. Petugas kantor meja hijau lalu mendekati saya dan mengatakan saya KEMUNGKINAN bisa menang dalam kasus ini, karena saya punya bukti. Tapi saya harus membayar mereka dulu, 30 juta…”

“Saya bayar mas, karena saya tidak mengerti. Lalu saya dinyatakan sebagai pemilik sah harta warisan itu. Saya tenang, tapi ternyata hanya untuk sementara…’

“Kenapa lagi?

“Saya dapat panggilan lagi, kali ini dari kantor meja hijau tingkat provinsi. Ternyata pengadilan kita itu bertingkat-tingkat ya mas? Rupanya kerabat saya mengajukan keberatan atas putusan meja hijau tingkat sebelumnya. Ternyata hukum itu ada tingkatannya ya? Saya kira sama, soalnya tetangga saya maling sepeda kemarin dihukum 6 bulan, sama dengan bekas gubernur kita yang korupsi 12 milyar yang juga dihukum 6 bulan. Sama maling sama hukuman kan mas? Adil kan itu seharusnya?”

“saya tidak tahu…” Gumam saya

“Proses yang sama terulang lagi mas, saya punya bukti tapi harus bayar lagi. 50 juta kali ini.”

“Lalu?”

“Lalu ternyata di atas kantor pengadilan yang bertingkat-tingkat ini, ada tingkatan yang paling atas, namanya Markonah Angel. Di sini tidak tanggung-tanggung, saya harus bayar 100 juta atau kalau tidak saya akan kehilangan warisan saya itu. Ga pake sidang lo mas, langsung diminta lewat telepon”

“Buset..”

“Iya mas..”

“Lalu?”

Saya ga tau mas, duit saya sudah habis. Warisan itu cuma warisan kecil, cuma bernilai beberapa juta. Saya ga tau lagi mesti bagaimana. Saya dengar, meskipun sudah lewat proses di Markonah Angel ini, ada lagi proses yang dinamakan Peninjaan Kembali. Jadi saya mungkin akan diminta duit lagi kan?

“Ya saya ga tau..”

“Makanya saya mau pindah negara saja mas…”

“Jangan ah, siapa tau kali ini lebih adil”

“Ga mungkin mas, saya orang ga kenal hukum. Musuh saya pejabat yang kenal dengan Ketua Markonah Angel itu”

“Yang sabar mas… Pengadilan dunia ini memang bertingkat-tingkat. Hukum bisa dibolak-balik kaya tempe. Tapi kita masih punya akhirat kan? Pengadilan AKhirat itu satu mas. Hakimnya Maha Adil. Ga bisa disuap. Kita yang tabah saja ya mas…” Saya tiba-tiba kerasukan jin bersorban yang berbicara tentang akhirat.

“Tapi mas…” Temannya teman saya itu tampak ragu.

“Tapi kenapa? Kamu percaya akhirat kan? Tidak meragukan keadilan di sana kan?”

“Saya percaya akhirat mas, tapi di akhirat kan saya tidak butuh harta warisan?”

Saya mingkem, jin alim saya tiba-tiba kabur entah kemana, mungkin sang jin justru sudah lebih dulu pindah negara…

Iklan

30 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. yaela. penyakit kronis negeri sakit jiwa. pindah aja yuk pindaaaahhhh….

  2. mau pindah ke mana ya….
    tapi kalo liat apa yang terjadi di sini memang suka bikin sesek napas.

  3. apa duit warisannya masih ada sisa buat dia pindah negara?

  4. saya juga mau pindah. tapi sampe sekarang rezeki itu belom dateng-dateng juga.. πŸ™„

  5. Ayo jinnya dipanggil lagi!! πŸ˜†
    Cerita serunya kepotong neh…

  6. @ venus
    Pindah Mbo, ke Hawaii… *membayangkan Mbo V nari hula-hula*

    @ itikkecil
    Perlu nafas buatan bu? πŸ˜‰

    @ calonorang
    Justru itu saya ga tau, curiganya dia cerita ke saya malah minta belikan tiket pula.. Padahal maskappai kita kan dilarang terbang ke eropa yak?

    @ cK
    Nanti kalo jadi bilang ya, biar bisa bareng

    @ Praditya
    Jin-nya ilang mas, ada yang manggil kali

  7. mhuahuahuahuahua…….
    jadi begini aja, mas mansuf dan temannya kabor aja keluar negeri, ke ethiopia kalo ndak ke kenya gitu?

  8. @ Praditya
    Jin-nya ilang mas, ada yang manggil kali

    Kebanyakan baca Barty…btw, akhirnya selesai juga itu Barty dan i cried all night long gara2 si Nat mati.. πŸ˜₯

  9. Busyet dah…

    Komplikasi semuanya… Hukum, ketidaktahuan, arogansi, pemanfaatan posisi, dll… πŸ˜•

    …tapi apa ini cuma terjadi di negara ini? Seandainya ia memilih negara yang lebih parah?

  10. Kasian banget yah tu orang…. diitung2 dia dah bayar tuh pengadilan de el el nya sekitar 50 juta.. mending dipenjara aja deh bentar,, uang tetep utuh, paling kepake separo hehehe..

    MUNGKIN juga seh… πŸ˜€

  11. @ Hoek
    Minimal Swiss, kalo ga Belgia Hoek

    @ calonorang
    Ssstttt! Malah spoiler di sini…

    @ rozenesia
    Mungkin ada yang lebih parah, tapi negara ini parah di tengah mewah yang melimpah

    @ anna
    Mending mana? Hak-nya diambil tapi damai atau diam tapi membiarkan hak-nya diambil?

  12. walah jin kok gitu….
    *elus2 botol ngarepin bang fadhil keluar*
    huahahaha…

  13. @ Moerz
    Elus-elos Moerz…

  14. Hik..hik..hik… Mas, di baris ke-11 harus disensor tuh mas! Nanti kena hukuman double loch… Sudah dibui gara-gara dituduh rebut warisan orang, dideportasi plus ganti rugi 5 triliun karena melanggar UU anti pornografi… πŸ™‚

  15. @ Ibnu Abdul Muis (Buset dah namanya)
    Baris ke-11 yang ada kata pen## itu ya? Ah, porno itu ada di masing-masing pikiran individu mas. Apa yang porno buat kita, belum tentu tidak porno bagi orang lain (Bingung kan? He..)

  16. ga usah pindah…
    memisahkan diri ajah….
    sumatra merdeka,
    kalimantan merdeka
    papua merdeka,..
    sulawesi merdeka…

    merdekaaa Semuaaaaah πŸ˜€

  17. β€œYang sabar mas… Pengadilan dunia ini memang bertingkat-tingkat. Hukum bisa dibolak-balik kaya tempe. Tapi kita masih punya akhirat kan? Pengadilan AKhirat itu satu mas. Hakimnya Maha Adil. Ga bisa disuap. Kita yang tabah saja ya mas…” Saya tiba-tiba kerasukan jin bersorban yang berbicara tentang akhirat.

    jin ini masuk di tempat yang nggak semestinya… bener bener harus dimasukkan neraka!
    πŸ˜†

  18. begitu lah nasib jadi rakyat kecil dinegera ini,jadi makanan yg besar..

  19. πŸ˜† postingan ini nggak mansup banget… well… di Indonesia yang berkuasa adalah yang memiliki banyak koneksi… makanya pindah ke kanada aja… bisa ketemu cameron bright lho 😳

  20. abiskan aja semua uangnya untuk beli buku. kalo orang-orang itu minta duit, tunjukkan kekosongan rekening bank, dan tawarkan buku sebagai pembayarnya. beres.

  21. *lirik atas* huaaaa ada spoiler!

  22. ini cerita ttg apaan sih? *bingung*

  23. Erhm.., ‘menyentil’ sistem hukum di Indonesia ya?
    Semoga saja, badan yudikatif di negara kita bisa segera membereskan segala masalah ketimpangan hukum di Indonesia.

  24. serba salah yaa…

  25. bingung juga …

    tapi apa iya mas ?? muka mas seperti lubang toilet ?? hahahaha

  26. Bujug dah Buset..Buset.. !!
    Tau kagEk kalo buset itu singkatan dari iBU SETan!

    Nyang ntu nama bokap gue mas. Sebagai tanda berbakti ke ortu, jadi gue nampilin nama beliau. Kalo orang salafye bilangnya ‘kunyah’… πŸ˜†

    Kalo nama asli gue …. πŸ˜• Hmm.. ntar ajeh.. tunggu tanggal mainnya…. *kabuur*

  27. @ leksa
    Huss, nanti dituding makar!

    @ stey

    Kaya di hutan

    @ celo

    Postingan ini justru mansup banget! Ke canada? Lalu bagaimana dengan ASmirandah? Kesian dia saya tinggal

    @ mina

    Doo, yang baru beli kamus (!) :mrgreen:
    Dia spoiler karena sebelumnya sudah jadi korban spoiler πŸ™‚

    @ warmorning

    Saya juga bingung, temannya teman saya itu juga bingung, mari kita sama-sama bingung

    @ StreetPunk

    Menendang saja sudah tidak berasa mas, apalagi cuma menyentil

    @ isez

    Serab salah tapi ga mesti terus salah

    @ suprie

    Hahaha… Itu majas mas, majas!

    @ Ibn Abd Muis

    Huehehe, maaf bos, saya ga tau itu nama bokap. Soalnya ditempat saya banyak yang namanya ibnu

  28. hah? kok tau siiih aku beli kamus? habis tu kamusnya super duper mengecewakan pula! minta duit dong buat beli KBBI πŸ˜€

  29. ah, ada beneran ya kayak gitu. ternyata dunia ini kadang kejam ya. di negara sendiri pula. liat pengalaman dimintain duit berseri gitu, saya juga ketipu ama pedagang china luar negeri gitu. barang gak dikirim malah minta duit terus. hhm.. saya percaya bahwa semua orang pny sisi baik, tapi entah kenapa, berbenturan dengan kenyataan bahwa sisi jahat seringkali lebih dominan…

  30. bilangin temen nya mas…pindah dunia ajah..hehhehe ke dunia saya ajah dunia mimpi ckckkc.

    ukh…bangsaku yang menyebalkan!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: