Kebebasan Kita, Cinta Kita

25 November 2007 pukul 13.50 | Ditulis dalam Uncategorized | 24 Komentar

Pertama-tama, saya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah permintaan.

Saya minta sekarang, coba anda buka situs terkenal Wikipedia, dan cari penjelasan mengenai “freedom of speech”.

Sudah? Jika benar anda sudah melakukannya, maka anda akan memasuki penjelasan tentang Freedom of speech, alias kebebasan berbicara dan berpendapat. Tidak menemukannya? Saya bantu, klik saja di sini.

Kalau halaman itu sudah terbuka, saya akan kembali meminta anda untuk mengamati, perhatikan, teliti baik-baik halaman tersebut.

Sudah?

Ada yang mengusik?

Tidak ada? Ada atau tidak? Yakin? Saya tunggu anda melakukannya.

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

Sudah menemukan sesuatu yang mengusik?

Well, yeah..

Di Halaman Wikipedia ini, ternyata tidak ada penjelasan tentang Kebebasan Berbicara dalam bahasa INDONESIA.

Paling tidak, penjelasan dalam bahasa INDONESIA tersebut tidak ada ketika saya mengaksesnya pada 25 November 2007, pukul 12 siang ini.

Silahkan lihat screenshot ini:

freedom.jpg

Klik gambar untuk memperbesar.

Jadi maksudmu apa monyong?

Sederhana saja sebenarnya, saya hanya ingin mempertanyakan apakah ada kebebasan berbicara di Indonesia?

Ada, buktinya sekarang kita dikelilingi dengan media, cetak, elektronik, tradisonal, modern, kita bebas mengutarakan apa saja. Iya kan?

Yakin?

Laporan dari Organisasi pemantau media internasional Reporter Tanpa Batas atau Reporters sans Frontieres RSF yang bermarkas di Prancis menyebutkan, Indonesia ada di peringkat ke-100 dari 169 negara yang diranking oleh RSF.

Beberapa kasus, sebut saja kasus Time vs Soeharto, penyadapan wartawan tempo, dan terakhir kasusnya Bersihar Lubis yang sekarang sedang diadili di Pengadilan Negeri Depok. Oh iya, saya juga pernah dipanggil dan ditelpon beberapa kali oleh seorang pejabat pemerintah provinsi Kalimantan Selatan.

Dia mempertanyakan berita tentang putusan bebas terhadap 3 tersangka korupsi di Kalsel yang melibatkan Gubernur Kalsel saat ini SEBAGAI SAKSI.

Berita media saya, mengutip pernyataan dosen hukum UNLAM, menyatakan putusan tersebut menyalahi rasa keadilan masyarakat. Itu saja, tapi si pejabat sepertinya ingin aktif bersikap, atau ingin melindungi sang bos, atau entah lah alasan apa, merasa tidak suka dengan berita tersebut.

Sudah lah, itu kasus kebebasan pers, lalu bagaimana dengan kebebasan pribadi?

Kita ambil contoh saja, blogger.

Saya kutib masih dari laporan RSF:

Sedikitnya 64 orang di dunia saat ini ditahan setelah apa yang mereka tulis di internet. China yang paling parah, dengan 50 orang yang ditahan, sementara di Vietnam delapan orang. Di Mesir, Kareem Amer mendapat hukuman empat tahun penjara setelah mengritik presiden Mesir lewat blognya.

Atau mahasiswa, yang masuk berita atau tidak, banyak yang diancam DO atau Skorsing karena berbicara tentang sesuatu yang tidak disukai pihak yang berkuasa.

Contohnya tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS Surabaya) di jatuhi hukuman ‘scorsing’ karena demonstrasi dan seminar jalanan yang mereka gelar bersama 22 mahasiswa lainnya di gedung rektorat ITS Surabaya pada 6 maret 2007.

Tentu saja, ada batasan dalam kebebasan berbicara ini. Saya ingin mengutip tulisan Bang Eby:

Merdeka bicara tidak berarti kita dapat berkata tanpa fakta karena dikawatirkan akan berubah wujud menjadi fitnah. Merdeka bicara tidak bermakna kita menjadi dewa karena bisa memerintah atau memaksa orang lain atas nama kebenaran (kebenaran hanya milik Allah). Merdeka bicara juga tidak harus dengan kata2 menusuk hati karena bisa menggores luka yang tak tersembuhkan.

Sekarang saya hanya ingin anda merenung, pertanyakan, adakah ketakutan di hati anda ketika berbicara, mengutarakan pendapat anda, atau ketika anda memprotes sesuatu yang salah menurut anda.

Karena saya, jujur saja sering merasa takut ketika melakukannya…

***

Untuk menutup tulisan ini, saya cantumkan salah satu kutipan favorit saya, yang saya dapat dari buku teenlit (!) yang pernah saya tawarkan kepada Bu Lita, dan hasilnya saya ditertawakan habis-habisan… (Bukunya yang ditertawakan, kutipannya seh, si Ibu tidak tau:mrgreen: )

“I disapprove of what you say, but I will defend to the death your right to say it.”
Evelyn Beatrice Hall, writing as S. G. Tallentyre in 1906.

Saya mungkin tidak setuju dengan apa yang anda ucapkan, tapi saya akan tetap mempertahankan hak anda untuk mengatakannya…

24 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. “I disapprove of what you say, but I will defend to the death your right to say it.”

    Evelyn Beatrice Hall, writing as S. G. Tallentyre in 1906.

    Yang benar itu dari Voltaire. A French Philosopher.

    Freedom of Speech itu relatif pada setiap negara, apa yang hukum internasional punya beda dengan hukum Amerika misalnya.

    Batasnya ini yang harus ada. Biasanya batasnya itu keamanan publik (kayak teriak2 enggak jelas kalau ada ‘bom’), penghinaan, dsb. Ribetnya, di Indonesia batasnya belum jelas.

  2. tumben serius…

    *males komen serius*

  3. kebebasan, apalagi tentang kebenaran memang memerlukan nyali seorang pemberani dalam menafasi hidup, so do not ever afraid to say it right, bro.. God keep on you !

  4. […] Kebebasan Kita, Cinta Kita […]

  5. hidup pemerintahan orde baru!!!

  6. ngobrol di warunge Yu Djoem di jamin merdeka utk bicara

  7. Kebebasan yang kumiliki, hanya berkhayal,
    tak seorangpun kan menduga, apa yang kupikir …
    *cuma sepenggal lirik lagu tua*

  8. Saya mungkin tidak setuju dengan apa yang anda ucapkan, tapi saya akan tetap mempertahankan hak anda untuk mengatakannya.

    Kutipan yang bagus sekali. Saya sependapat. Silakan anda bicara. Tapi jangan pernah memaksakan pendapat anda. Kira2 begitu ya Mansup?

  9. @ Nenda Fadhilah (kok nama kita mirip ya?)

    Sepengetahuan saya, banyak yang memang keliru mengira quote ini dari Voltaire.

    Sebab Evelyin Beatrice Hall adalah penulis BIOGRAFI dari Voltaire. Evelyn menggunakan nama alias S.G Tallentyre ketika ia menulis biografi tersebut.

    Qoute “I disapprove of what you say, but I will defend to the death your right to say it.” dituliskan oleh EVELYN dalam biografy tersebut sebagai ilustrasi dari idealisme Voltaire.

    Tapi kalimat tersebut tidak pernah diucapkan oleh Voltaire sendiri.

    Mungkin keterangan lengkap dibaca di sini.


    @ cK

    Kamu adalah apa yang kamu tulis, atau koment…😀


    @ warmorning

    Kalo saya di-munirkan bagaimana??


    @ Shelling Ford

    Hidup!!! (Sesama anak pejabat BUMN?)


    @ Yu Djoem

    Nanti saya mampir Yu, ada penganan apa aja neh? ceweknya semok-semok ga?


  10. @ NuDe

    Saya mengkhayalkan khayalanmu saya:mrgreen:

    @ erander

    Bener bang, berat sekali kan seperti itu, saya juga masih belajar untuk menerima perbedaan pendapat.

  11. yang di ITS, banyak deh, cuma sedikit yang kena ekspos.. *lirik mardun*

  12. So we protest about human rights
    Worship obesity as our birthright
    But freedom of speech won’t feed my children
    Just brings heart disease and bootleg clothing

    [Manic Street Preachers]

  13. kalo ngerasa takut sih kadang ada, bang…
    takut dikejar banyak fans:mrgreen:
    aku nulis sengaja atas nama pribadi
    ga mo bawa nama komunitasku
    supaya kalo ada khilaf dan jadi pitnah ato kesalahan jatohnya ke aku dan bukan ke komunitasku

    KIBODMU HARIMAUMU😆

  14. jika manusia membatasi dirinya,..
    maka terbatas lah iya…

    saya masih percaya quote itu…

  15. kenapa kamu ikut2an saya terus? mulai dari tanggal lahir juga…

  16. terlalu serius. males komen. huh!

  17. doooh kam ni mun terlalu serius kada cihuy dil ay wkwkwkwkwk

  18. @ vend
    Maksudnya? Mardun di DO, gitu?

    @ Amed

    Lagu itu Harom™

    @ Caplang™

    Kibodmu Harimaumu:mrgreen:
    Jadi Mulut sekarang jadi apa?

    @ leksa

    Kalau dipaksa terbatas, alias dibatasi oleh unsur diluar kita, bagaimana?

    @ Joe

    Twin by Nature… (Muntah-muntah)

    @ venus & Eko

    KENAPA PAS SAYA SERIUS, KALIAN MALAH KECEWA??!?!??!?!??!!

  19. Kebebasan Berpendapat ? Dari Blogosphere sini sudah terlihat. Hanya saja yang saya tidka mengerti mengapa tidak ada penjelasannya di Wikipedia Indonesia(Saya pernah mencarinya sekali waktu), apakah karena sifat malas orang Indonesia, atau..

  20. @ Jack
    Karena di Indonesia tidak ada kebebasan berpendapat, mungkin?

  21. errrr, gimana ya….

    sebenarnya dari orangnya sendiri sudah adea kesadaran untuk nggak berbicara terlalu banyak jika apa yang akan dibicarakan menyinggung keburukan pihak yang memiliki kuasa lebih…

    tapi kenapa nggak ada definisi kebebasan berbicara di wiki indonesia saya rasa hal lain… mungkin memang belum ada yang menuliskan saja… anda berminat menuliskannya…???😉

  22. @ Celo
    Malessss…

    Btw, kemana dirimu? Diculik anti-helm kah??

  23. Sama, kadang saya juga masih takut. Tapi gimana lagi. Nggak bisa nahan… hehehe…

    Tapi gini deh mas. Apakah bisa dibilang menulis di blog lebih baik dan lebih menguntungkan banyak orang daripada langsung mendatangi orang/organisasi yang dikritik?

    Sebenarnya sih, biasanya orang nulis karena orang/organisasi yang dikritik udah bebal betul. Tapi kan ya nggak tahu…

  24. *kesodok lirikan*

    enggak mas…. ITS aman-aman saja kok
    sumpah aman, terkendali bahkan😀

    kalau baik-baik saja atau enggak ya saya nggak tau😛


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: