Aku Cinta Indonesia

25 September 2007 pukul 20.09 | Ditulis dalam Uncategorized | 40 Komentar

Beberapa saat lalu, saya baru saja selesai menyaksikan acara spesial Ramadhan Khazanah Reliji Nusantara di Metro TV. Selain dua host yaitu Ratih Sanggarwati dan siapa itu, saya lupa, episode Jum’at ini, juga menghadirkan tokoh betawi – Ridwan Saidi.

Sesuai dengan tema dan tamu yang ada, acara ini tentu saja membahas tentang afiliasi budaya betawi dengan Islam. Bagaimana warna Islam di Indonesia, segala pengaruhnya dan keunikannya. Karena walau bagaimana, TERNYATA kita tidak bisa membawa memaksa warna yang sama pada kanvas yang berbeda.

Saya jarang bisa memfokuskan diri pada acara berformat talkshow dengan pembicaraan serius seperti ini sebenarnya. Tapi kali ini, saya terpesona. Si bapak, Ridwan Saidi, begitu mendalami budayanya, memahami kenapa harus begitu tanpa terjebak dalam konteks pokoknya ini budaya saya. Beliau begitu mengenal segala tetek bengek keunikan, hingga unsur terkecil lainnya dalam budaya betawi.

Misalnya saja, tradisi roti buaya saat perkawinan betawi, ternyata berasal dari dari legenda adanya sepasang buaya yang selalu menjaga setiap pertemuan kali atau sungai.  Dengan roti buaya, diharapkan pasangan pengantin akan selalu serasi seperti pertemuan dua sungai, peduli banjir atau kemarau, pertemuan sungai akan selalu ada, iya kan?

Atau juga tradisi membakar petasan saat ada acara keramaian seperti perkawinan, selamatan, menyambut orang datang haji, atau pesta lainnya. Kita, anak-anak modern mungkin menilainya sebagai perlambangan sifat takabur, membuang uang, dan pandangan khas orang modern lainnya.

Ternyata, menurut Pak Ridwan Saidi, tradisi membakar petasan saat mengadakan acara di betawi dimulai pada suatu masa, ada perayaan pernikahan besar. Namun si tuan tumah lupa mengundang salah seorang tokoh paling disegani di kampungnya. Kejadian ini membuat suasana kampung tidak kondusif dan ada friksi ketersinggungan antar kedua belah pihak. Sejak kejadian ini, maka setiap ada pesta dibakarlah petasan sebagai tanda seluruh orang yang mendengar bunyinya berarti diundang ke perayaan tersebut.

Luhur sekali bukan? Sebuah tradisi yang berdasarkan pada keinginan untuk menghindari masalah.

Tapi saya bukan ingin membahas tentang budaya betawi. kita serahkan saja pada Pak Ridwan Saidi dan Sang ahli cilincing ini.

Saya hanya ingin mendeklarasikan perubahan mindset saya.

Saya, jujur saja, adalah orang yang memandang remeh budaya lokal. Lokal banjar maupun Indonesia. Saya cenderung kecewa dengan oknum pelaku yang mengaku budayawan namun selalu mengeluhkan kesulitan dana kepada pejabat korup. Dana didapat, festival budaya tak kunjung terlaksana.

Saya juga kerap marah, protes kenapa saya dilahirkan di negeri ini. Negeri dengan sejuta lupa, sejuta kebohongan, sejuta permakluman, sejuta kesalahan.

Namun saya ternyata lupa (tuh kan, lupa, orang indonesia seh!), Bukan budayanya yang salah, bukan tanah yang saya injak, bukan udara yang saya masukkan ke paru-paru saya, bukan air yang saya minum, tapi manusianya.

Saya yang salah.

Saya tidak memahami KENAPA. Saya hanya melihat APA, SIAPA dan BAGAIMANA.

Saya dengan ini berjanji, akan mencoba lagi memahami budaya negeri saya ini. Belajar mencintainya, dan seperti semua pencinta, saya akan melindunginya dengan segenap kemampuan saya.

Tertanda, manusiasuperkeren

40 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. hmmm…hmmm…

  2. budaya yang baik ya dilestarikan, budaya yang buruk ditinggalkan aja

  3. pasti mau hetrik!

  4. Saya tidak memahami KENAPA. Saya hanya melihat APA, SIAPA dan BAGAIMANA.

    Makanya kuliah psikologi..

  5. buset, keren banget, euy. menyentuh.
    aku jadi ga ada bahan buat nyela..bwahahaha…

  6. keseelllll ga bisa nyela dan ngejatohin si fadhil sampe terpuruk seperti biasa *sighs*

  7. #3
    *hehehe, gw ga biasa pertamax ato hetrik tuh:mrgreen:

  8. Ikuuuutt… saya juga mau cinta indonesia aah.

  9. @ resta
    Memang ada budaya yang buruk? culture sama habit itu beda lho ya..

    Eh iya, maaf sudah berprasangka buruk, viva MU! Forget Roma! *dirajam!*

    @ calonorang…

    Biayanya? Masa saya harus jual diri?

    @ venus

    Siyal! Jadi selama ini koment-komentmu memang bermaksut menerpurukkan (apa itu menerpurukkan??) saya ya mbo??

    Perasaan selama ini saya selalu keren kok, hanya memang kadang harus memuat sedikit cela biar tidak tinggi hati…

    @ Guh

    Indonesia said: “I love you too, my son..”

  10. ah…saya kadang lebih mencintai diri saya sendiri…

    apa namanya?
    egois ya?

    *akhir akhir ini sering denger kata2 berakhiran -is-*😕

  11. [OOT mode On]
    Penipuhhh!! Pembohong!!! Memangnya Indonesia itu perempuan??!! KALO CINTA PASTI KAMU SUDAH ‘NEMBAK’ UNTUK JADI PACAR!!!
    [OOT mode Off]

    *ditimpuk*

    Eh, bicara masalah tradisi biskuit roma itu, menarik lho untuk dicermati bahwa budaya-budaya di Indonesia itu belakangan ini jadi seperti nostalgia saja.

    Kenapa, ya? Globalisasi yang keterlaluan itukah?😕

  12. iya… kayaknya kita perlu budaya lagi.. sehingga betul2 kita tau makna budaya itu sendiri..
    selama ini kita (mungkin) mendapat budaya itu sedikit2 atau terpotong2 so kadang kita tidak menggubrisnya atau malah menyalahkan.. padahal ada sesuatu dibalik itu semua…

  13. sekarang budaya-budaya di Indonesia sudah mulai luntur dengan adanya budaya-budaya barat yang masuk. kalau datang ke kawinan saja, bukannya budaya Indonesia yang kental, melainkan budaya barat..

  14. “Namun saya ternyata lupa (tuh kan, lupa, orang indonesia seh!), Bukan budayanya yang salah, bukan tanah yang saya injak, bukan udara yang saya masukkan ke paru-paru saya, bukan air yang saya minum, tapi manusianya.”
    hmm..generalisasi? betul juga tuh, saia fun semfat lufa akan hal terbesud, untung diingatken sama mas mansup, hohoho^^

  15. konon, orang yang bermartabat adalah orang yang cita dan bangga akan bangsa dan negerinya sendiri
    yang sempet terlupa, insaplah..😀

  16. ralat om, cita = cinta🙂

  17. jadi boleh main petasan nih, bang?

  18. Saya juga cinta Indonesia:mrgreen:

  19. Budaya? Di acara nikahan masih keliatan kok, tapi sdh dipangkas sana sini, krn ribet katanya…

    Jadi inget omongannya Teh Joerig…

  20. @ Mrs. Neo 49
    *akhir akhir ini sering denger kata2 berakhiran -is-*

    PEN… ??? *GLEPAK!!*

    @ alex

    Golabalisasi tidak jadi masalah sebenarnya, kalau kita punya keyakinan tentang tujuan dan akar dari budaya kita. Masalahnya adalah, saya khususnya, sering mendapat info yang salah tentang budaya lokal. Dikit-dikit, budaya lokal saya di cap salah, bahkan harom. Yang benar itu cuma budaya arab, katanya.

    Jadinya ya, hasilnya seperti saya ini, lupa akan akar tapi juga tidak pernah mencapai langit.

    @ aRul

    Makna budaya perlu kita gali lagi bos, bener ituh! Apalagi kita dapatnya sepotong-sepotong seperti yang situ bilang, jadinya ya nanggung ilmunya. Ibarat bercinta, ga pernah orgasme! (?)

    @ cK

    Sebenarnya yang penting itu menurut saya tayangan televisi. Kalau soal pesta kawinan seh, yang penting ada budaya ijab qabulnya, he…

    YANG LEBIH PENTING, ADA MALAM PERTAMANYA

    @ hoek

    hohoho, untung saya sudah mengingatkan.

    @ warmorning

    insap, emangnya lupa budaya bedosa??

    @ caplang™

    Main petasan boleh, asal jangan dinyalain.

    @ itikkecil

    Selain itu, cinta siapa lagi?😉

  21. @ desti
    Soal acara pernikahan, justru itu yang saya maksut. Kita harus belajar lagi, kenapa kok pas kawinan itu begini atau begitu. Kenapa harus pake mecah telor, atau nginjek kodok, atau narik ayam atau macem-macem lagi, pasti ada tujuannya, minimal secara perlambang.

  22. Petasan….maendingan jangan dech../???

  23. @ dwi
    Sapa yang ngomongin petasan seh??

  24. Kalau soal petasan itu, saya (dulunya) meremehkan lho.😕

    Yang lainnya sih, saya maklumi.

  25. waduh ada roti buaya segala

  26. wah wah wah, emang bener² ManSup!!!

  27. @ Jack
    Saya juga begitu, sempet bingung, tapi akhirnya mengerti. Malah malu, he…

    @ harriansyah
    Wah ada buaya..?

    @ Ardy
    Bener-bener saya!

  28. @ dwi
    Sapa yang ngomongin petasan seh??…
    tu ada yang komentar😀

  29. bener juga segh, banyakan orang endonesa itu saking uda ngrasa “modern”nya jadi nganggap hal-hal kek geto tuh cuma buang-buang duid, ndak efektif nan efisien, fadahal mereka sendiri gaya hidupnya juga lebih ga efektif nan efisien…

  30. Sukurlah sampean sudah ingsap….

  31. …. Apalagi kita dapatnya sepotong-sepotong seperti yang situ bilang. Ibarat bercinta, ga pernah orgasme! (?)

    istilah kedokterannya coitus interruptus, hahaha…
    *mengingat masa SMA diajarin istilah itu sama guru biologiku😛 *

  32. @ hoek
    termasuk logatmu itu lo nak… “Modern” banget sungguh!

    @ mbelgedez

    insap sementara, mumpung Ramadhan, he…

    @ aRuL

    Huzz!! Ngomongnya nanti pas sudah buka saja bos!
    (jadi inget, guru biologi SMA saya yang seksi-nya Poll *ngelap iler*)

  33. pokoknya insap aja dah, soal dosa tanggung sendiri
    *kabur secepat kilat*

  34. @ warmorning
    Insap kok dosa?? Salah ustadz neh…

  35. ngopi artikelnya ah….
    bagus buat di repost…

    karena gw juga mau cinta indonesia.. beserta putri2nya… thx.

  36. indonesia bukan tanah air siapa siapa
    indonesia adalah tanah air beta !
    artinya .. belum fix … masih selalu uji coba …

    wakkakkakakaa …

  37. @ hidden
    Ow.. Ada yang bilang posting saya bagus? Mau di repost? Hohoho… *Di catet malaikat: sombong*

    @ rajaiblis (Selamat Datang Raja)
    JENIUZZ!!!:mrgreen:

  38. yeee … baru tau dia kalo aNe jeniuzzzz …

    wakkkakakkaaaa …

  39. hahahaha … bisa aja tuh Oom RaIb …😆

  40. @ RAIB
    Dasar, IBELIS SOMBONG!

    @ Joerigs
    Dia emang paling bisa bu, he..

    (ngomong-ngomong, yang koment ini dua-duanya dari golongan jin ya?😀 )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: