Diskriminasi Sekolah Terhadap Anak Dari Ibu Penderita HIV

3 September 2007 pukul 20.50 | Ditulis dalam Uncategorized | 26 Komentar

Tidak ada angin tidak ada hujan, hati saya tergerak untuk menengok rumah lama saya. Padahal sudah berbulan-bulan saya tidak mengunjungi apalagi membereskannya.

Tidak ada perubahan apapun, karena memang jarang ada orang bertamu ke rumah yang tidak ada tuan rumahnya kan?

Hanya saja, di shoutbox yang terletak di sisi rumah ini, ada sesuatu yang menerpa nurani saya, dan membuat terdiam cukup lama. Sangat jarang saya kesulitan menempatkan diri ketika ada kejadian, atau apapun yang ada di dunia ini. Biasanya, saya selalu bisa memilih dan menempatkan diri…

Di shoutbox rumah saya ini, tertulis dua pesan dari seorang ibu bernama Dina dengan alamat emailnya. Begini pesannya:

HI, saat ini anak saya di diskriminasi oleh pihak sekolah dikarenakan saya selaku ibunya mempunyai masa lalu pengguna narkoba dan terinfeksi virus HIV, padahal sudah 5 tahun ini saya sudah berhenti.

apakah hal ini bisa dilakukan pihak sekolah, padahal anak saya negative. saya tunggu jawabannya. thanks

Demi Tuhan, saya tidak tahu kenapa Ibu Dina menanyakan ini di blog lama saya. Entah, mungkin sekedar pemberitahuan dari Yang Bikin Skenario, bahwa masih banyak masalah yang ada di dunia saya ini. Jauh lebih besar dibandingkan sekedar kebingungan apakah saya harus meneruskan S2 atau mengejar karir dulu. Jauh lebih rumit dari pertanyaan dengan jawaban maybe yes maybe not itu.

Mungkin pula, ini sebuah anugerah bagi pikiran kalut saya. Agar bisa membandingkan masalah yang sedang saya hadapi dengan masalah orang lain yang ternyata sangat berat. Membuat kebingungan saya selama ini terasa seperti kekonyolan ABG biasa.

Apapun itu, saya tetap terdiam lama. Memandang isi pesan Ibu Dina, huruf demi huruf. Mencoba mencari jawaban yang ternyata saya tidak punya. Tapi saya yakin, ada jawabannya diantara komentar yang ada di bawah ini….

26 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. mungkin Tuhan bermaksud mengingatkan kamu untuk menghentikan KEMESUMANMU dan mulai menolong sesama, entah gimana caranya. think about it. now go call that woman, tawarkan apa yg kamu bisa lakukan…

  2. maap lahir batin. mau puasa😀

  3. saran gue, minta foto anaknya. kali aja elo mau adopsi jadi anak.:mrgreen:

  4. (*Apabila saya mansup mode ON*)

    1. Apabila masih satu kota, atau di kota tetangga yang masih bisa dijangkau. Saya samperin. Bantu ibu tersebut dengan bicara ke kepala sekolahnya. Sambil ngancem “Bapak jangan maen nindas orang sembarangan yaa. Saya ini wartawan loh!”.

    2. Kalau susah dijangkau, meminta teman-teman saya yang satu kota dengan ibu tersebut, untuk membantu sang ibu. Jelas teman saya juga yang bijaksana. Bukannya yang kaya Udin Petot. Lebih baik lagi, kalo temen saya wartawan. Jadi bisa meneruskan ancaman saya ke kepala sekolah, yaitu, “Bapak jangan maen nindas orang sembarangan yaa. Saya ini wartawan loh!”.

    3. Memberitahu ibu tersebut untuk mencari bantuan hukum terdekat. Minimal LBH, deh. Atau secara online, membantu ke blog bantuan hukum seperti hukumonline.com, mencari kasus yang sama. Apabila tidak ada, ke blog-blog pengacara lainnya yang membuka jasa konsultasi gratis. Andai bayar, juga ga mahal.

    4. Membantu ibu tersebut agar menulis pengalamannya di surat pembaca media tempat saya bekerja. Jadi dapat memberitahu publik lokal, bahwa telah terjadi diskriminasi terhadap penyandang HIV (negatif).

    (*Apabila saya mansup mode OFF. Balik lagi jadi orang biasa. Yang bukan pekerja media. Yang ga punya kekuatan buat ngancem kepala sekolah durjana dengan jabatan yang saya miliku*)

  5. Eh iya, maap lahir batin. Mau puasa.(*kopipes, ngikutin Ibu Venus. hehe*)

  6. tidakkah kau melihatnya sebagai suatu dorongan lebih untuk S2 psikologi? memahami lebih banyak apa yang melatarbelakangi sikap pihak sekolah yang mendiskriminasi murid (yang mungkin tidak hanya diskriminasi karena penyakit, tapi jangan2 juga kekayaan, posisi bapak, ras, agama, dsb?). dan menggunakan ilmu yang kau dapat untuk mendaftar di LSM internasional yang bergerak di bidang yang relevan? HIV/AIDS atau persamaan hak dsb dsb. mungkin terlambat untuk mengatasi masalah si ibu dan anak ini, tapi kau bisa menolong orang-orang serupa dalam jumlah lebih banyak di masa depan (yang tentu akan semakin parah keadaannya).

  7. Mansup… kalau misalnya di kota ibu Dina itu ada Komisi Penanggulangan AIDS bisa minta tolong ke sana. Atau minta bantuan ke Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Coba saja buka situs ini http://www.aidsindonesia.or.id/ . mungkin mereka bisa bantu cari kontak person di kota ibu Dina itu…

  8. Mungkin si ibu search dengan menggunakan kata kunci manusia super. Berharap mendapatkan pertolongan. Ya .. mungkin saatnya untuk bertindak sesuatu yang baik. Saran2 teman2 di atas sudah bagus2 tuh.

  9. @ Venus

    mungkin Tuhan bermaksud mengingatkan kamu untuk menghentikan KEMESUMANMU dan mulai menolong sesama, entah gimana caranya.

    Lah, emangnya mansup mesum ya mBok? Baru tau saya…

  10. eh, kamu bisa ngelacak si Ibu via IP ga?

    yang kayak gitu emang di Indo masih marak banget…
    dosa warisan…😦

  11. Mungkin apa yang dilakukan itu adalah benar!
    Mereka tidak tahu apakah anak si ibu positif HIV atau tidak.
    Kalau melakukan pemeriksaan, memangnya ada dana?
    Daripada menyebarkan virus HIV pada anak2 lainnya yang bisa menuntut biaya ganti rugi bagi pihak sekolah, dan sekolah tidak tahu harus berbuat apa apabila itu terjadi.
    Tapi dariposisi lain sebenernya itu memang nggak adil.
    Masalahnya kita tidak ada hukum yang jelas, apakah orang2 yg terkena virus HIV bisa sekolah seperti biasa disekolah umum, atau harus disekolah khusus.
    Nasi sudah jadi bubur, mending daripada sakit hati dan meski sudah berusaha berulang kali namun pihak sekolah tak menggubris, bagaimana kalau sang ibu melakukan tugasnya layaknya sang ibu.
    Ajari sang anak sekolah dirumah.
    Ada internet
    Jadi kenapa takut tidak mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan?

  12. @Evelyn pratiwi yusuf
    “Daripada menyebarkan virus HIV pada anak2 lainnya yang bisa menuntut biaya ganti rugi bagi pihak sekolah, dan sekolah tidak tahu harus berbuat apa apabila itu terjadi…”

    bukannya virus HIV itu ditularkan cuma melalui hubungan seksual, oral, injeksi dan turunan?

    emang anak-anak lainnya sama si anak ibu tadi pada suka sex party yah?lha wong ciuman sama penderita HIV aja engga bakal ketularan ko’. liat aja di tante wiki.

    buat saia tindakan iang dilakuin sekolah itu ENGGA BENER!, sekolahna goblog kurang layak disebut sekolah, yang seharusna tempat mendidik yang baik, malah ngajarin diskriminasi…

    whuaa…saia emosi negh, emang di kota mana segh? masupin ke koran aja tuh!

  13. suruh gugat aja sekolahnya

  14. tuch sekolah pasti ada di INDONESIA, makanya terjadi diskriminasi kayak githu…korupsi,kemiskinan, penganguran membludak,diskriminasi(ras..de el..el) adalah bentuk nasionalisme di negeri ini…hu..uh

  15. do what we can.

    bs cari tau ibunya di mana?
    kita hubungin pihak sekolahnya. aku bantu deh. ayo..kalo bukan kita yg bantuin siapa lg..

  16. @ venus
    call that woman, tawarkan apa yg kamu bisa lakukan…
    “Kepuasan Batin”??

    @ cK

    Ibunya sapa ntar?

    @ Bang Aip

    Aaarrrrggghh….
    Iya! Iya! Saya lakukan!

    @ mina

    Iya bu, saya coba…
    Kapan kamu ngasih saya duit buat kuliah lagi?

    @ itikkecil

    Trims infonya, saya segera mengirim email ke ibu dina.

    @ erander

    Skenario Maha Dahsyat ya Bang Eby ya?

    @ Amd

    Saya memang JARANG mesum denganmu

    @ chiw

    Dosa warisan, emang ada??

    @ evelyn

    Satu sudut pandang, mungkin kamu betul. Mungkin ada keinginan dari pihak sekolah menjaga kepentingan yang lebih besar. Menjauhkan siswa-siswa lain dari hal negatif. Makanya itu, saya perlu mencari tau lebih banyak, mau bantu saya?

    @ hoek & anggara

    Sabar mas-mas, satu satu dulu. Kita beresin masalah si ibu, baru nentuin langkah selanjutnya. Mohon dukungannya…

    @ dhe

    Kita perbaiki mulai dari diri sendiri aja, gimana?

    @ Hana

    Oke, sedang diusahakan. Kamu juga bantu ya?

  17. iya, aku bantu. kabarin terus ya..

  18. mansup, mungkin masalahnya adalah masih kurangnya pemahaman orang soal HIV jadi masih ada kekhawatiran kalau-kalau bisa tertular hanya dengan duduk berdekatan ataupun bersalaman. Di satu sisi, ini juga kesalahan pencegahan di masa lalu dan sekarang juga yang dalam sosialisasinya memberi kesan kalau HIV itu memang penyakit yang mematikan dan harus dijauhi. Itulah sebabnya, saya kasih nomor kontak KPA biar orang KPA juga lihat kalau masalah yang dihadapi sekarang itu bukan cuma soal penularan HIV yang memang tambah parah. Tapi juga soal stigma dan diskriminasi di masyarakat terhadap orang dengan HIV.
    saya sering kumpul dengan orang yang terinfeksi HIV dan hasil tes HIV saya yang terakhir kali masih negatif tuh. Jadi kalau misalnya ada kekhawatiran kalau anak itu menularkan HIV ke teman-teman sekolahnya menurut saya agak berlebihan. Apalagi kalau yang dilakukan cuma belajar dan bermain bersama.

  19. that’s my boy. ayo2, bantu ibu dina….

    *nunggu kabar selanjutnya dari mansup*

    @amd : emang gak tau kalo ini bocah SUPER DUPER MESUM??? mau dibuktiin sekali lagi??? huahahah…

  20. Wah… rumit untuk ukuran saya om mansup… ‘N bantu doanya saja… Harus tahu akar permasalahannya baik dr pihak sekolah maupun Ibu Dina sendiri *bukannya masalahnya dah jelas?* Maksudnya dirundingin antara pihak sekolah n Ibu Dina.
    Dilanjutin deh om mansup kontak-kontaknya dengan Bu Dina…

  21. Wah, urusan ini tergolong sulit. Tapi Bang Mansup, haruskah menjawab ini ?😕

  22. Mmmm… turut prihatin atas kasusnya. bisanya baru sebatas itu…

  23. itu artinya, blog ManSup yg lama ituh lebih ngetop dibanding yg sekarang

  24. ga ada kabar lg itu ibunya gmn?

  25. Saya kira disini belum adanya pemahaman yang benar tentang resiko HIV. Masalah diskriminasi dan stigma memang tantangan berat kita sekarang. Saya pernah menulis tentang ‘Public Disclosure of HIV status in Indonesia’. Meskipun efek jangka panjangnya sangat baik, pengungkapan status penderita HIV + tidak segampang membalikkan telapak tangan. Kurangnya informasi pada masyarakat, ketidakpastian di masyarakat perlu segera mendapat perhatian pemerintah. Penderita HIV positif juga manusia, dan sekarang jumlah ibu RT yg menderita HIV+ juga bertambah, nah semakin kompleks kan??

  26. @ calonorang…
    Ini kabar terakhirnya: Saya sudah menjawab email ibu dina beberapa waktu lalu dengan menyertakan beberapa saran dari komentar yang ada di blog ini. Namun hingga sekarang belum ada tanggapan.

    @ itik kecil

    Seperti kata Dumbledore bu, adalah ketidak-tahuan yang kita takuti, bukan yang lain.

    @ venus

    kabar terkahirnya ya itu bu, yang saya ceritakan di atas itu.
    Jangan diposting lagi msm atau YM kita yang parental advisory itu!

    @ endahrezeki

    Ga dijawab email saya bu… Yang pasti memang kalau ingin membantu, ya harus tau data lengkap dulu.

    @ Jack

    Ya kalo bukan kita, siapa lagi jack?

    @ Rapidity

    Prihatin itu juga membantu mas, daripada ga sama sekali.

    @ Ardy

    Bisa juga begitu🙂

    @ Dr Ady

    Upload PDF tulisannya pak! Biar bisa dibaca orang sedunia. Sebenarnya masalahnya klasik mungkin, pemerintah kita jarang antisipatif dan aktif. Biasanya reaktif, ada kasus, ada berita baru heboh. Celakanya, rakyatnya, alias kita, masih sangat tergantung dengan pemerintah ini…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: