Miftahul Ikhsan, Masjid atau Kerajaan?

30 Juni 2007 pukul 12.31 | Ditulis dalam Uncategorized | 32 Komentar

Sepertinya, sifat riya saya sedang dalam puncaknya saat posting ini ditulis. Jadi tolong bantu saya, doakan saya agar sifat ini dihapus dari hati, dan dosa saya diampuni.

Tadi malam, bawel minta tolong ditemani mengerjakan revisi skripsinya. Karenanya sekitar pukul 7.30 malam, saya sudah melintasi jalan menuju rumahnya. Sebelum tiba, ternyata waktu Isya telah terlebih dahulu menyapa. Seperti biasa, saya lalu membelokkan motor ke masjid terdekat.

Kali ini, saya dipilihkan masjid miftahul ikhsan. Sebuah masjid bertingkat yang menyandang beban kata ‘agung’ di antaranya. Jadilah nama lengkap masjid ini adalah MASJID AGUNG MIFTAHUL IKHSAN BANJARMASIN. Berlokasi di Jalan Pangeran Antasari, persis disamping pasar terbesar di kota ini.

Ketika saya memasuki halaman masjid yang full pagar ini, saya melihat sesosok kakek tua yang posisi badannya setengah bersandar di lantai luar masjid. Disampingnya, ada buntalan karung berisi beberapa kain, mungkin pakaian dan beberapa benda lainnya yang saya tidak tahu.

Lalu saya sholat. Ketika saya sholat ini, si kakek – yang memang masih dalam jangkauan panca indera saya – bergerak. Bergerak, bukan berjalan. Dia menggeser-geserkan badannya di selasar masjid, tepat disamping sata yang sedang sholat. Ternyata, kakek ini lumpuh.

Seusai sholat, saya mendekati si kakek. Dari dekat, tampaklah kedua kakinya yang jauh lebih kecil dibanding kaki orang normal. Saya juga sempat memperhatikan pakaian lusuh yang menutupi badan kurus kakek ini. Lalu terjadilah dialog antara saya dan si kakek.

Saya : Handak kemana kai?
Kakek : Handak umpat bemalam di sini, boleh lah yu?
Saya : Boleh ae pinanya kai… Napa pian jadi bemalam di sini?
Kakek : Tadi handak mendatangi kemenakanku di gang 21, sekalinya kedada lagi orangnya. Pindah jar.
Saya : Ooo… Pian datang di mana?
kakek : Mulai Anjir (Anjir, sekitar 4 jam perjalanan darat dari Banjarmasin)
Saya : Jauhnya?? Ni pang handak kemana lagi?
Kakek : Handak bulik ae ke anjir, tapi esok baisukan. Malam ini makanya handak bemalam di sini.
Saya : Mun kaya itu, naik haja pian ke masjid, jangan di luar sini, dingin, nyamuk.
Kakek : Handak bepadah dulu lawan kaum masjidnya.
Saya : Kena ulun haja yang memadahakan, pian sudah makan lah?
Kakek : Belum, handak mencari makan pang neh tadi.
Saya : Ulun haja gen yang menukarakan, hadangi ja pian di sini.
Kakek : Nah duitnya nak, tukarakan lah
Saya : Kada usah kai, ada haja ulun duitnya, pian hadangi haja.

Saya pun keluar masjid sejenak, mencari warung nasi dan membeli dua nasi bungkus serta air mineral botolan. Lalu saya kembali lagi ke beranda masjid agung miftahul ikhsan, di mana si kakek masih menunggu.

Setelah memberikan makanan tadi, serta menitipkan sedikit tambahan ongkos pulang buat si kakek, saya lalu mencari si kaum masjid. Kaum adalah istilah untuk orang yang ‘bertugas’ atau secara sukarela menjaga dan merawat masjid atau mushola.

Kebetulan, si kaum ternyata sedang berjalan menuju saya dan kakek yang lagi bersiap-siap makan. Kembali terjadi dialog singkat antara saya dan si kaum.

Saya : Pak, permisi. Ini ada kai handak umpat bemalam di sini jar, tolongi pak lah..
Kaum : Kada kawa! Kada kuijinkan bemalam di sini!
Saya : Kenapa pak? Di luar haja sidin guring, kada kedalam jua…
Kaum : Kada! Kada boleh pokoknya… Ini handak kukunci seberataan lawang lawan pagar masjid nah.
Saya : Masa kada boleh pak?
Kaum : Mun handak bemalam di pos polisi di muka tu haja. Di sini kada kawa, disariki pengelola.
Saya : Siapa pengelolanya pak?
Kaum : Haji Husein.
Saya : Haji Husein Na####n kah pak? Sini nah, ulun telpon sidin minta ijin, ulun kenal haja lawan sidin.
Kaum : Lain, Haji Huseinnya lagi ke jakarta jua. Pokoknya jangan bemalam di sini. Ke pos polisi haja.
Saya : Ayo ae tu pak ae, tapi tuntungkan kai-nya makan gen lah.
Kaum : Hiih, lajui.

Saya lalu mendekati si kakek yang selama pembicaraan saya dengan si kaum, hanya terdiam mendengarkan. Sedapat mungkin saya jelaskan, agar kakek itu makan saja dulu dengan tenang, lalu tidurnya jangan di masjid agung muftahul ikhsan ini. Saya menunjuk pos polisi yang Alhamdulillah terletak hanya sekitar 50 meter dari masjid.

Saya lalu melanjutkan perjalanan ke rumah bawel, sambil terngiang dibenak saya, penggalan puisi milik emha ainun nadjib…

“Aku ingin ikut sembahyang tetapi pakaianku satu-satunya ini sudah sangat kotor”, berkata pengemis tua itu di pintu gerbang masjid.


Orang-orang melewatinya saja


Ketika sembahyang jumat hendak dilangsungkan, seseorang datang dan menghardiknya : “Hendak mencuri sandal kamu ya..!!”
Pengemis tua itu pun pergi


Dan Tuhan Allah menyertai

(Mesjid II
Dari “Sesobek Buku Harian Indonesia”
Emha Ainun Nadjib)

Jadi,

Kalau kalian sempat ke Banjarmasin, jangan lupa mengunjungi MASJID AGUNG MIFTAHUL IKHSAN, di Jalan Pangeran Antasari No.1 Banjarmasin, telpon 0511 – 7512648. Tidak akan terlewat, karena masjid ini dikelilingi pagar besi tajam, dengan pintu yang dikunci rapat sebelum jam 9 malam. Mengurung Tuhan di dalamnya mungkin.

BTW: Janji Allah itu ternyata benar, sepulangnya dari rumah bawel, saya singgah sebentar mengunjungi tante saya. Dan tebak, tante saya baru mendapat gaji ke-13 PNS, dan saya ketiban rejeki sebesar 5 kali lipat dari jumlah yang tadi saya gunakan untuk membelikan makanan dan ongkos pulang si kakek. Sebelumnya, bawel juga bayar hutang, 10 kali lipat dari jumlah yang sama. Sama cewe sendiri kok hutang2an? Wohoho, cinta is cinta, duit is duit!

Glossary:
Handak – Mau / Ingin
Kai – Kakek
Umpat – Ikut / Menumpang
Pinanya – Sepertinya
Pian – Panggilan sopan kepada orang yang lebih tua atau dihormati.
Bulik – Pulang
Baisukan – Pagi
Haja – Saja
Mun kaya itu – Kalau begitu
Kaum – Istilah sebutan untuk orang yang mengelola masjid, atau bertanggung jawab terhadap rumah tangga masjid.
Bepadah – Bilang (antobepadah dunk, he..)
Ulun – Saya (sopan, digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau dihormati)
Menukarakan —> Tukar – beli
Hadangi – tunggu

Kada Kawa – Tidak bisa
Guring – Tidur
Seberataan – Semua
Lawang – Pintu
Sarik – Marah

Tuntung – Selesai
Lajui – Dipercepat

Iklan

32 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. no pertamax allowed

  2. suatu kisah tentang kaum beragama penjaga mesjid yang membaktikan dirinya untuk mencari surga … ๐Ÿ˜ฆ

    thanx for sharing …

  3. Padahal masjid itu sering jadi starting point para pendemo yang suka meneriakkan ditegakkan Syariat Islam itu lho?

    Padahal masjid itu sering mengadakan lomba dan festival bernafaskan Islam…

    Ternyata oh ternyata…

    Hey, jangan menyalahkan masjidnya, ia hanya bangunan, sejatinya fisiknya hanyalah benda mati yang dibangun manusia!

    *Jadi yang salah siapa dong?*

  4. @ joerig
    Surga ‘pemilik masjid’ itu tidak terima orang miskin, cacat, dan tidak berdaya…

    Surga ‘pemilik masjid’ itu hanya menerima yang pakaiannya bersih, yang suka menyumbang, dan yang enak dilihat…

    Mungkin…

  5. @ Amd

    BEGITU ENGKAU BERSUJUD

    Oleh :
    Emha Ainun Najib

    Begitu engkau bersujud, terbangunlah ruang
    yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid
    Setiap kali engkau bersujud, setiap kali
    pula telah engkau dirikan masjid
    Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid
    telah kau bengun selama hidupmu?
    Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu
    meninggi, menembus langit, memasuki
    alam makrifat

    Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika
    bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud
    Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada
    ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan
    Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan
    ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang
    Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk
    cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara adzan

    Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid
    Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang
    Allah, engkaulah kiblat
    Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang
    didengar Allah, engkaulah tilawah suci
    Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai
    Allah, engkaulah ayatullah

    Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud,
    karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi
    dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud
    menjadilah engkau masjid

  6. Teganya *miris*

    Kalau kalian sempat ke Banjarmasin, jangan lupa mengunjungi MASJID AGUNG MIFTAHUL IKHSAN, di Jalan Pangeran Antasari No.1 Banjarmasin, telpon 0511 – 7512648. Tidak akan terlewat, karena masjid ini dikelilingi pagar besi tajam, dengan pintu yang dikunci rapat sebelum jam 9 malam. Mengurung Tuhan di dalamnya mungkin.

    ckckck… sampai gak tahu mau bilang apa nih. Apa banyak ya koleksi `kerajaan` kita yang kaya begini? (-_-)

    Sepertinya, sifat riya saya sedang dalam puncaknya saat posting ini ditulis. Jadi tolong bantu saya, doakan saya agar sifat ini dihapus dari hati, dan dosa saya diampuni.

    Saya ikut bantu deh :P…

  7. @ jejakpena
    Mungkin banyak, mungkin hanya oknum masjid, he…

    Terima kasih doanya, kalau sampai 40 orang yang mendoakan, katanya pasti dikabulkan ya?

  8. Iya, mudah-mudahan hanya oknum…

    doa 40 orang ya? Pernah dengar kaya begitu, mitos kah?Ga tahu juga… Ah, yang penting ada yang sudah mendoakan saja sudah bagus ^^;

    btw Mas, cara nyampaikan kritik ke `oknum` yang seperti itu gimana ya? Jangan-jangan mereka malah ga sadar itu salah kalau ga dibilang langsung…

  9. Cil, di wadah (daerah) ulun, para “kaum” nang lawas ngurusi masjid “diumpatakan” haji lawan Walikota.

    maksudnya: *untuk yg gak ngarti bhs banjar* : om, di daerah (kota) kami, penjaga masjid yg sudah lama mengabdikan diri, diberikan penghargaan pergi Haji oleh Walikota.

  10. Jadi sufi, mas?

  11. wah fadil…kalau begitu kamu harus mentraktir kita para blogger. ntar dapet balesan 100 kali lipat deh :mrgreen:

    nice posting ๐Ÿ˜‰ . mengingatkan pada kondisi ke-agama-an saat ini…ckckck…miris dengerinnya…

    btw fad, ternyata elo cukup murah hati juga ๐Ÿ˜€

  12. Biasa aja Hung! Kan banyak manusia yang lebih hebat dan mahakuasa daripada tuhan……..

  13. tampak nya manusia super sudah tobat ๐Ÿ™‚

  14. Orang seperti itu kok bisa2nya jadi pengurus masjid yak..? gimana bisa maju tuh masjid…

    Seharusnys tuh di masjid tu ada ruangan khusus musafir yak…

  15. Tuhan…*nangis*

  16. Masjid kok ga ramah ya?
    Masa tuhan ga mau rumah-Nya diinepin orang walaupun cuma semalem??

  17. dikira ngunci mesjid trus bisa masuk surga kali…

  18. kalo diinepin orang sembarangan khan mesjidnya jadi kotor…
    makanya cuman orang kaya’ yg boleh masuk mesjit..

  19. ……..

    *gak bisa komen*

  20. *udah bisa komen*

    memang, orang yang kotor, dekil, gak boleh ada yang masuk masjid.
    Ntar, kalo diperbolehkan, wah…bisa2 jadi pengotor surga juga…

  21. masjid emang tempat ibadah..
    ntah apa maksudnya si pembuat masjid sampe dgn kondisi spt itu.. yg pagernya tinggi lah.. yg penjaga nya lah..
    mungkin maksutnya adalah biar masjid tersebut selalu terjaga bersih..
    jd alangkah lebih baik kalo pengurus masjid dapat bersikap lebih bijak dalam menghadapi kondisi spt ini..

    sedikit tambahan, tentang masjid:
    http://orido.wordpress.com/2007/05/15/doa-menuju-masuk-keluar-masjid/
    http://orido.wordpress.com/2006/12/21/hotd-mendirikan-masjid/
    tentang Riya:
    http://orido.wordpress.com/2006/07/03/hotd-riya/
    http://orido.wordpress.com/2006/06/27/hotd-dosa-besar/

    semoga berguna..

  22. percakapannya harusnya langsung diartikan…
    kan orang-orang seperti saya ini bisa langsung ngerti…

    tentang kisahnya, wuiiih… sereem…

  23. Bukankah masjid itu milik umatNya
    cuman bisa geleng kepala

  24. itu masjid yg mana lah aduh kalumpanan ulun nah, soalnya jarang jua pang ka masjid bahari. posting dunk gambarnya biar bisa malihat jua masjid yg sampai di pagari besi sebegitu tingginya.

  25. kalo nginap asal nginap sih mungkin perilaku penjaga bisa ditolerir tapi udah keadaannya kaya’ gitu dan dijelaskan sedemikian rupa kok masih gitu juga… ya kebangeten to yo…

  26. @ jejakpena
    1. Doa kan senjata juga mas, he…
    2. Katanya seh, saling menasihatilah kamu dengan lemah lembut…

    @ cakmoki
    Mudahan bukan kebijakan bernuansa politis ya cak, kalo buat pilkada, berapa masjid tuh yang bakalan jadi pendukung incumbent…

    Btw, bahasa banjarnya mantabs! He…

    @ Wahyu

    Buset, nuduh sembarang…

    @ Heri Setiawan
    Seharusnya kan pak, bukan senyatanya…

    @ venus
    *belai-belai*

    @ anung, eh, hana ya? Bener ya?
    Padahal tuhan minjemin se-alam sementa buat kita ya bos? Masa yang jaga masjid ga mau pinjemin pelataran masjidnya buat tidur…

    @ yati

    surganya disimpan di dalam masjid saja bu

    @ isez & chiw
    Masjid harus suci kan ya? Bener juga.. Tapi miskin kan bukan dosa??

    @ orido

    maaf mas, sempat kena akismet komentnya. Kebanyakan link kali, he..

    tapi thanks ilmunya. Pasti berguna kok!

    @ didats
    sekalian belajar bahasa banjar mas, biar dari kuwait langsung setel kalo tiba di Banjarmasin, he…

    Kalo saya seh, bukannya serem tapi sedih. Kalo ga ingat itu yang jaga masjid juga orang tua perlu dihormati, sudah saya ajak berantem…

    @ kangguru
    Milik pengelola kayanya pak…

    @ raida

    waduh pak, kalo saya pake gambar, ntar dikira menghina masjid-nyalagi. Padahal cuma sekedar intropeksi pribadi saja kok posting ini.

  27. speechless……
    tapi
    cinta is cinta, duit is duit!
    hadoh hadoh……

  28. ikutan speechless.
    dan perut jadi mual krn mau marah, entah sama siapa.

  29. @ itikkecil
    itu prinsip laki-laki sejati, cinta is cinta, duit is duit

    @ n0vri
    Jangan marah mas, berbuat saja.

  30. kayak gitu tuh kayaknya juga terjadi di tempat lain. kata si bebek, masjid raya Baiturrahman Aceh itu juga mempunyai kaum yang sama anehnya. jam 11 malam pintu dikunci, padahal mereka datang singgah di jalan mau shalat di mesjid itu (siapa yang ke Aceh tidak mau shalat di sana?), dilarang, coba, sama kaumnya. apa gak dosa tuh melarang orang shalat hanya karena aturan mesjid yang aneh?

  31. @manusia super

    @ jejakpena
    1. Doa kan senjata juga mas, heโ€ฆ

    Heh?! Mas?!! ๐Ÿ˜ฏ
    Salah tuh! Minta maaf! ๐Ÿ‘ฟ
    -sebegitu dengerless-nya kah nama itu? T_T –

  32. walaah, sampai salah ketik, maksudnya `genderless` ๐Ÿ˜›


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: