Ya Akhi, Kenapa Akhi Mengkafirkan Kami

28 Mei 2007 pukul 09.24 | Ditulis dalam Uncategorized | 35 Komentar

Iseng, googling, browsing dan blogwalking, sejenak saya singgah di blognya mantan bapak blogger Indonesia – Enda Nasution. Baca-baca posting-posting lamanya. Ketika membaca posting ‘tentang freewill’-nya, saya menemukan 2 komentar dari seseorang bernama Donny Kurnia.

Koment pertama:
Bang Enda punya Al Quran + tafsirnya khan? Silahkan lihat surat dan ayat berikut di Al Quran. Sengaja saya urutkan sesuai dengan urutan surat dan ayat.

Q.S. Al Baqarah:20
Q.S. An Nisaa’:133
Q.S. Al An’aam:35
Q.S. Al An’aam:41
Q.S. Al An’aam:107
Q.S. Al An’aam:137
Q.S. Al An’aam:149
Q.S. Ibrahim:19
Q.S. An Nahl:9
Q.S. An Nahl:35
Q.S. An Nahl:93
Q.S. Asy Syuura:8

Koment kedua:
Assalamu’alaikum wr wb
Pada ayat2 yang saya berikan tercantum dengan jelas, dengan kata kalau. Di ayat2 tersebut, para ulama sepakat mentafsirkannya dengan kata “kalau Allah berkehendak”. Allah memang memiliki kuasa penuh, dengan “Kun” maka apa yang diinginkan oleh Allah akan terjadi.

Tetapi pada ayat-ayat tersebut Allah mengatakan bahwa dia tidak hendak menjadikan umat manusia umat yang satu. Allah secara implisit menjelaskan bahwa hidup manusia ini adalah pilihan2. Mau jadi kafir, beriman, munafik, itu adalah pilihan manusia. Allah tidak menginterferensi keebasan menjalani hidup. Allah hanya memberikan panduan2 dalam menjalani hidup ini melalui Al Quran dan perilaku Nabi terakhirnya, Nabi Muhamad SAW yang dirangkum menjadi hadits.

Jadi, yang hendak saya sampaikan adalah, Allah telah memberikan kebebasan bagi manusia untuk hidup di dunia, menjalankan pilihan hidupnya, dan bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut kelak di akhirat.
Wassalamu’alaikum wr wb.

Terkesima, saya pun mencoba membuka Qur’an, mencari ayat-ayat yang dimaksud si beliau.

Berikut saya rangkumkan hasilnya:
(catatan: terjemahan diambil dari AL-Qur’an format chm versi DEPAG RI. Cetak tebal dari saya.)

Q.S. Al Baqarah:20
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Q.S. An Nisaa’:133
Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian.

Q.S. Al An’aam:35
Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah)[470]. Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil.

Q.S. Al An’aam:41
(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadaNya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah).

Q.S. Al An’aam:107
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak memperkutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.

Q.S. Al An’aam:137
Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya[509]. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Q.S. Al An’aam:149
Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya.”

Q.S. Ibrahim:19
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru.

Q.S. An Nahl:9
Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).

Q.S. An Nahl:35
Dan berkatalah orang-orang musyrik: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin)-Nya.” Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

Q.S. An Nahl:93
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.

Q.S. Asy Syuura:8
Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong.

Wew! Kesimpulan pertama adalah:
SAYA IRI LUAR BIASA, Irrriiiiii sekali, dengan si abang Donny yang telah mendalami Al-Qur’an dengan begitu mantabs. Mampu menyatukan ayat-ayat firman dengan memahami makna secara keseluruhan. Sementara saya, wah, mau nangis rasanya…

Ketika membuka-buka file mencari ayat-ayat di atas saja, saya beberapa kali ketukar antara surat As-Syuura dengan As-Syu’araa’. Bingung membedakan An-Nahl, An-Naml, dan An-Najm. Mirip-mirip seh! Payah, payah…

Kesimpulan kedua:
Saya sepakat dengan Bapak Donny *yah, bisa apa lagi saya?*. Allah memang punya wewenang penuh dan absolut. Namun Dia memutuskan untuk memberikan kebebasan manusia memilih. Memilih tentu membawa konsekuensi, resiko sebuah pilihan.

Kesimpulan ketiga:
Jika Allah saja memberikan kebebasan untuk memilih, kenapa kita, manusia, malah memaksakan kehendak pada sesama manusia?? Menentukan kebenaran versi masing-masing yang tidak jelas alasannya. Memberikan stempel kafir, bodoh, haram, bid’ah dan pantas mati kepada yang tidak mau menuruti pilihan kita…

Kesimpulan keempat:
Meskipun ada pilihan, sepertinya ada juga ketentuan-ketentuan absolut dari Allah. Absolutivitas dalam hal nilai-nilai kebajikan dan kejahatan. Nilai-nilai seperti; Mencuri adalah jahat, memberi adalah baik. Memberikan sumpah serapah adalah buruk, menyenangkan hati adalah baik. Dan banyak lagi nilai-nilai universal lainnya, silahkan cari sendiri.

Jika begitu, kenapa kita malah mempersoalkan perbedaan pilihan? Padahal ada kesamaan nilai di dalam diri setiap kita. Kita ingin damai, kita ingin aman, kita ingin dicintai, kita ingin mencintai. Lalu kenapa kita tidak menemukan dan mewujudkan nilai-nilai yang sama-sama kita punya ini?

Saya sholat ya akhi, saya percaya tuhan dan takdir, saya percaya akhirat, saya ingin jadi orang baik. Lalu kenapa akhi mengkafirkan saya?

Saya usul, Bagaimana kalau kita sepakat saja untuk tidak sepakat pada hal-hal tertentu sambil menjalani bersama hal-hal yang kita sepakat untuk kita sepakat…

Kesimpulan kelima:
Ga penting seh, tapi besok HARI BURUNG SAYA lho!

Iklan

35 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. pertamaaaaaaaaaaaaaxxxxxxxxxxxxxxxxxx
    hebat Fadil… bravo…

  2. kesimpulan kelima: GUBRAK!!!!
    tiwas serius2 je

  3. Kesimpulan ke 3,, banget,,!!

    harusnya mereka lebih sering baca Al Qu’an pake artinya deh kayanya,,

    kalo kata guru agama Ma di SMA, Allah ngasih kita pilihan buat apapun yang kita pengen lakukan, walaupun dia tau apa yang akan kita pilih, Allah cuma ngasih panduan ajah,, seru banget ya,, 🙂

    Hmm,, Allah itu keren banget ya,,

  4. besok juga hari burung saya

  5. wih … mansup emang super deh … 😀

  6. Kesimpulan ke enam: Tulisan ini adalah yang kedua yang terbaca setelah terbangun dari tidur panjangku, dan semakin menyadarkanku, bahwa aku masih butuh ngeblog lagi, 🙂

  7. Hari burung?? Ulang tahun maksudnya???
    Makan-makan™…

  8. Kampret, gagal jadi yang pertama

  9. ahsanta…!!!
    kesimpulan pertama : somehow saya juga jadi iri sama manusia super-kun *maksa*, yg msh bisa peka dgn hal2 bgini..
    insya Allah, saya juga akan jd lebih baik dr hari ke hari… amin…

  10. btw, slm kenal… 🙂

  11. Ooooo…. begitu ya?
    *Mengangguk-angguk*

  12. kaya dipengajian t4 temen saya…
    memecahkan masalah dengan kembali ke Al Quran, semua jawaban ada disana…

  13. Saya usul, Bagaimana kalau kita sepakat saja untuk tidak sepakat pada hal-hal tertentu sambil menjalani bersama hal-hal yang kita sepakat untuk kita sepakat…

    ya betul, ahmadiyah kan sholat juga? syiah kan sholat juga?

    Hal yang beda untuk sementara dipending dulu, gimana umat islam bersatu??? Setahu saya kristen katolik dan protestan dahulunya musuhan dan bunuh-bunuhan, sekarang mereka berdamai, cari persamaan masing-masing…

    btw, masak gak bisa membedakan mana “semut mana lebah”?

    salam
    http://www.bangsabodoh.co.nr/

  14. aku ditanya sama tetanggaku, kenapa kok sunny dan syiah itu tembak2an? Mereka sama2 Islam dan sama2 mengakui Allah serta nabi Muhammad khan? Aku bingung ga bisa jawab…

    aku juga mau posting ttg ini ntar tak link…

  15. thanks Fadhil jadi mau buka Quran lagi neeh

  16. wah…… islam itu damai loh…

  17. bikin opini baru?

  18. @ Antosalafy
    Itu ayat Al-Qur’an mas, masa dibilang opini?

  19. bukan, maksudku kesimpulannya itu lho…

  20. Saya usul, Bagaimana kalau kita sepakat saja untuk tidak sepakat pada hal-hal tertentu sambil menjalani bersama hal-hal yang kita sepakat untuk kita sepakat…

    Sudah tahu konsepnya ikhwani sebelum mengetahui ikhwani.

  21. maka pandai²lah memanfaatkan free will

  22. Tetapi pada ayat-ayat tersebut Allah mengatakan bahwa dia tidak hendak menjadikan umat manusia umat yang satu.—> kalimat ini agak sedikit rancu. Yang membuat terjadinya perpecahan/perselisihan adalah manusia itu sendiri.

    QS 10. Yunus 19. Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

    Yang lain, oke saja sih… Jadi, menurut agor, jangan disalahpahami dengan Allah pernyataan :bahwa Dia tidak menghendaki “ummat” yang satu dan karenanya dibiarkan bercerai berai (karena itu kehendaknya). Ini logis yang fatalis.

    Dan karena pilihan-pilihan bebas yang diberikan, maka Allah “biarkan” pada pilihan-pilihan manusia sampai waktu yang telah ditetapkan.

  23. Kesimpulan Pertama : Hmm..itu bisa jadi ‘pelecut’ utk lebih belajar. (aduh, saya jadi miris liat keadaan sendiri 😦 )

    Kesimpulan Kedua-Keempat: Setuju. Tapi yang

    Saya usul, Bagaimana kalau kita sepakat saja untuk tidak sepakat pada hal-hal tertentu sambil menjalani bersama hal-hal yang kita sepakat untuk kita sepakat…

    Wah..bisa ada perdebatan yg timbul mengenai ini. Tak semua bisa sepakat utk tdk sepakat. Kebiasaan buruk atau sifat dasar mns, eh?

    Kesimpulan kelima : Oke. Saya doakan smoga panjang umur yang tak sia-sia, murah rejeki yang halal, enteng jodoh!
    Yang terakhir perlu gak ya? 😀

  24. Nah..hal2 semacam itulah yang sering membingungkan saya jika mengaitkannya dengan konsep takdir…
    Sudah tanya kesana kemari (beberapa ustadz) tetapi saya belum menemukan jawaban yang memuaskan…
    BTW tulisan Mas Fadil mantapz…

  25. Saya setuju banget mas dengan kesimpulan-kesimpulan anda itu…bagus. Hanya orang-orang yang berpikiran picik saja yang hanya melihat dirinya paling bener. Mereka akan kena getahnya ketika dibilang sesat oleh kelompok lain. Ibarat bumerang, menyerang eh malah kena serang sendiri…

  26. […] fenomena yang ia ciptakan, ketika cita-cita bersama memperbaiki dunia ini belum selesai. Sebuah pilihan yang mungkin membingungkan, namun tetap perlu […]

  27. Dari ayat2 tsb, bagaimana kalau sedikit lebih menuju ke hati (hati saya tentunya) menurut saya Allah sajalah yang Maha Berkendak…. sementara manusia mesti menuruti kehendak Allah. salah satu dari sekian kehendak ALlah adalah: “LA ‘ALLAKUM TATTAQUUN” …. 🙂

    aplikasinya ya jangan menkafirkan orang lain sebab mengkkafirkan orang lain itu bisa mengarah kepada diri sendiri.. (itu hadits kalau tidak salah)

  28. Hmmm,
    Saya tertarik dengan kalimat ini:

    Allah telah memberikan kebebasan bagi manusia untuk hidup di dunia, menjalankan pilihan hidupnya, dan bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut kelak di akhirat.

    Hidup adalah sebuah pilihan…
    Setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban…

  29. […] dengan sesuatu yang kita sebut dengan “kehendak bebas” yang juga dibahas habis oleh seorang kawan disini dengan teori non-fatalismenya. Gerak hati untuk melakukan perbuatan jahat atau gerak hati untuk […]

  30. Maaf, izin pingback, he..he..he…dah nglink baru minta izin.
    [**kabur sebelum mansup nyadar**] 😆

  31. “manusia bebas dalam ketidakbebasan.”

    hehehehehe,,,,kutipan favorit tuh!

  32. salut utk tulisan ini, mulai dari enda, donny, dan kamu yg membahas nya dan mencari di Quran, memberi tambahan pengetahuan buatku.

  33. mantap kali blog ini. bermanfaat dan menghibur..

  34. hmm yang mengkafirkan adalah seorang akhi? wew… punya kuasa apa? hehehe faham kok maksudnya. yah…. kata eyang eyang yang sudah beruban pernah berkata, “bila ingin memahami sesuatu, maka kajilah dengan seksama dan terus-menerus”

    sekilas saja masih belum cukup. silahkan pahami secara lebih mendalam lagi. niscaya ada jawaban yang lebih puas. jangan kata si akhi lagi yah! memangnya dia apaan? hehehe ^ ^ (ngga kok, becanda ini)

    peace ^ ^

  35. semua itu sudah diatur….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: