Saya Naik Becak Hari Ini – Apakah Saya Berdosa?

21 Maret 2007 pukul 20.20 | Ditulis dalam Uncategorized | 24 Komentar

Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, saya naik becak…

Sepulang kantor hari ini, saya menyadari kalo saya masih punya waktu sekitar 1,5 jam sebelum magrib. Tanpa pikir panjang, saya langsung membelokkan motor ke warnet langganan yang penjaganya semok itu.

Sampai di warnet, iseng lah saya mengutak-atik blog dan mencari selingkuhan di Yahoo Messager. Ternyata, ada nick-nya si Amd yang juga lagi OL. Langsung kita ngobrol-ngobrol via YM, sambil tuker-tukeran tampilan di webcam yang di sorotin ke cewek seksi di box seberang🙂
*Padahal tadi juga sudah bosan ketemu di kantor… *

Eh, taunya dia juga nginet di warnet yang sama! Whuahaha, da tahan juga dia dengan godaan saya berbulan-bulan tentang kerennya warnet ini, plus bonus yang jaga sama yang datang semok bohay jijay semua…

Ngobrol ngalor ngidul, Amd akhirnya pulang duluan. Sementara saya masih betah menjelajah. Tiba-tiba, hujan turun. Cukup lebat. Sayapun memutuskan daripada bengong berteduh, lebih baik main inet saja, download file-file mubazir.

Singkat kisah, magrib datang, sementara unduh-an saya pas lagi di tengah jalan. Dasar manusia, sayapun menawar waktu sebentar sambil menunggu download selesai. Ah, baru juga berjanji, sudah diingkari…

Lewat 15 menitan dari adzan, download selesai. Sayapun bergegas membayar biaya inet, dan melompat ke masjid di seberang jalan untuk menunaikan kewajiban yang saya tunda-tunda.

Usai sholat, hujan masih turun, tambah deras malah. Saya lalu berniat melanjutkan surfing di warnet. Tapi ketika saya cek HP di tas saya, ternyata ada 12 missed calls!

Buset!! Siapa yang neror saya ya?

Ternyata Aris, wartawan Banjarmasin Post. Astaga! Saya lupa, tadi saya janji mau minjemin dia kaset wawancara gubernur hari ini. Bagaimana ini?? Mana hujan deras ini tidak mungkin bisa ditembus dengan motor semata wayang saya…

Tapi janji adalah janji, harus ditepati kalo saya masih mau diakui sebagai umat Rasul…

Sambil bengong di teras masjid, saya melihat ada becak dan tukangnya nongkrong di depan saya. Spontan, saya pun nekad mau naik becak.

Dialog singkat terjadi antara saya yang awam becak dengan si tukang becak. Tukang becak ini masih muda, mungkin hanya beberapa tahun di atas saya. Baju kaos putih lusuh, dan celana selutut.

Saya : Jalan bos?

Tube : Kamana?

Saya : Kantor B-Post, barapa? Kena bebulik lagi tapi lah, kendaraan unda parkir di sini.

Tube : 10.000

Saya : Larangnya?? *padahal sumpah, saya da tau berapa seh tarif becak di Banjarmasin?*

Tube : Standar to bos ae..

Saya : Yo wess, hayo lah…

Saya pun melangkah naik beca, untuk yang pertama kalinya dalam 10 tahun…

Bayangpun, saya, dengan jaket balap merek Y@m*ha, baju ketat junkies keluaran @-m*ld store, sepatu kets loreng hitam putih, dan celana jeans hitam, NAIK BECAK!

Tukang beca saya ini lalu menutup seluruh becanya dengan plastik lebar. Saya baru sadar, inikan sedang hujan lebat!!

Penyesalan mulai menampar-nampar hati dan otak saya. Menjerit-jerit. Tapi terlambat, tukang becak ini sudah memulai kayuhan pertama, becak bergerak pelan, menyusuri jalan pangeran samudera Banjarmasin yang basah oleh hujan.

Saya pun terdiam dalam becak ini. Memandangi cahaya-cahaya kabur kota yang menembus plastik pelindung hujan. Menyadari bahwa ada sosok manusia lain di belakang saya, yang sedang membiarkan tubuhnya diterpa hujan. Membayangkan betapa beratnya mengayuh pedal beca di malah hari yang dingin ini. Memikirkan betapa kejam saya…

Saya mengutuki perut saya buncit saya yang pasti semakin memperberat kayuhannya…

Beca ini terus melaju, menyusuri jalan sepanjang sekitar dua kilometer menuju tujuan saya. Ditengah derit beca, tetesan air hujan di rangka berkarat, dan bunyi hujan yang menghantam aspal, saya terus mengutuki keegoisan saya, memaksa tukang beca ini berhujan ria demi tujuan pribadi…

Tapi kamu sedang memenuhi janji… bantah saya mencari pembenaran.

Itu kan bisa ditunda! Bantah saya lagi Kamu bisa saja menunggu hujan reda…

Entahlah…

Sesampainya di kantor B-post, saya langsung menitipkan kaset ke satpam. Saya tidak mau menunggu Aris mengambilnya dulu, takut kelamaan membiarkan tukang becak menunggu di luar.

Dan becak pun kembali menyusuri jalan, pulang.

Kembali menyusuri jalan yang sama, hujan yang sama, penyesalan yang sama…

Setelah kembali di tempat semula, saya membayar si tukang beca, menambah sedikit dari kesepakatan semula, sambil tak lupa meminta maaf karena telah membuatnya kedinginan…

Berdosakah saya?

24 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Tidak. Kan udah bayar lebih dari kesepakatan semula dan udah minta maaf juga.

    Jangan dipikirrr

  2. Saya setuju dengan mbak leeloos…
    Mas super tidak bedosa, malahan bersyukurlah karena mas super telah dipilih Tuhan untuk menjadi jalan rejeki untuk Tube itu…
    Perasaan berdosa atau simpatik tersebut bisa ditebus dengan membayar sesuai dengan tarifnya
    Mengenai si tukang becak yang berhujan-hujan ria itu merupakan salah satu resiko pekerjaan, setiap pekerjaan tentu saja ada resiko dan konsekuensinya masing2…
    Makanya jangan terlalu nawar2 kalau sama yang kayak gitu itu😀
    BTW gimana kalau lain kali ajak tuch cewek penjaga warnet naik becak keliling kota😀

  3. ga dosa kok mas…
    malah bagus banget, jarang lho ada yang bisa nyampe kepikiran segitunya…
    eh, btw kepikiran gak buat bantuin si tukang becak?
    mungkin dengan sekali2 membahas dia di media tempat anda bekerja… seenggaknya dia akan terkenal, pernah di’naiki’ sama om super..
    eh ini maksud saya becaknya lho..bukan tukang becaknya yang di naiki om super…apa kata dunia nanti…

  4. Sampean pasti dapat paha-la karena kalau sampean gak naik becak itu si tube gak dapat rejeki yg dilewatkan sampean toh. jadi sama2 diuntungkan.

  5. Mudah2an hujan lagi kata si tube, biar rejeki ane lancar, anak ane bisa makan, penumpang aneh yg biasa naik motor milih ane, klo ga ujan ane sereeet dapet duit, anak ane lapar, udah nongkrong berjam2 perut ane kerucukan juga tapi ga ada yg nawar ecak ane…so sad, aku dulu klo anakku ulang tahun ke pangkalan becak anakku bagi2 rejeki. Thanks for sharing🙂, tetep rajin sholat ya, mosok cewe warnet itu ga termehek2 sih lihat superman?

  6. Cihuyyy, nyarter becak berhujan ria.
    Sudah ngasih order bang becak, sambil meluk-meluk dalam becak tertutup, … meluk lutut sendiri😀

  7. ya ndak donk mas, namaya juga kerja udah resiko dia kerja seperti mau ga mau harus mau hujan2an sambil mengayuh beca yang penting sampean bayar ya ndak?

  8. Masalah dosa ya tanya langsung sama tuhan dong🙂

    Masalah apakah itu menyiksa si tukang beca, sepertinya dia malah senang, dapet lebih banyak dari kesepakatan lagi. Biasanya tukang beca udah siap menghadapi hujan kok.

  9. Gila. Gue jd nyadar.
    Gue jg udah lama bgt ga naik becak -__- ada kali
    2 taunan mah. Yah.. asal mamang becaknya ikhlas (toh, dia jg gt bwt nyari duit), gpp la🙂

  10. Sepuluh tahun lalu, kita naik becak berempat kan?
    Hehe, jadi ingat masa-masa itu

  11. yang dosa itu, kalo naik becak terus nggak bayar! he..he…he…

    yang penting sama-sama diuntungkan!

  12. @ Semua
    Dosa ga dosa sebenarnya urusan Tuhan, benar kata dehel. Yang menjadi masalah sebenarnya adalah, kadang kita melupakan kenyataan kecil bahwa untuk memenuhi keinginan kita, ada orang-orang yang harus jungkir balik bekerja.

    Berdosakah kita jika kita melupakan jasa mereka? Atau memang ‘tidak apa-apa, karena dari dulu juga begitu’?

    @leelos
    saya da mikirin tukang becak itu lagi kok, mending mikirin kamu… (GLEPAK!!! Ada yang nonjok dari samping, siapa hoyy??)

    @deking
    ngapain saya naik beca bareng cewe yang jaga warnet? Mending saya naikin cewe yang jaga warnet *hmmmmffftt…*

    @antobilang
    membahas tukang beca di media? boleh juga usulnya… dari pada membahas anto yang ga lulus-lulus kuliah kan??

    @helgeduelbek
    pahala bisa didapat dari mana saja ya pak? Enak juga jadi manusia…

    @evy
    ulang tahun anaknya tahun depan, mending bagi-bagi rejeki lewat saya aja bu, sama kok pahalanya, he…

    @cakmoki
    iya neh, coba ada temennya pas naik beca itu, ga kepikiran kaya gini kali…

    @jokotaroeb
    siap!!

    @wadehel
    siap menghadapi hujan atau terpaksa menghadapi hujan bos?

    @kolor-terbang
    baru dua tahun, rekor 10 tahun saya belum terpecahkan..

    @amd
    justru sejak itu saya kapok naik beca ndul..

    @peyek
    siap!!

  13. Dosa dosa anda:SATU: anda ke warnet dengan niat yang tidak lagi suci dari hadas kecil dan hadas besar, yaitu untuk mencari ilmu dan berbagi dengan orang orang dari dunia lain.melainkan anda sudah mengotorinya dengan pikiran, maksud dan tujuan yaitu dengan ke warnet anda bisa sambil ngenet mencari selingkuhan wanita.KEDUA: Anda mengingkari JANJIâ„¢ anda sendiri masalah sholat berjamaah.KETIGA: “download file file mubazir”, itu pasti files yang mengandung ‘lemak babi’, hayo ngaku!.KEEMPAT: kalau memang file file itu benar benar mengandung ‘lemak babi’, dosa anda akan terus bertambah selama files itu belum saya copy, maka untuk penebusan dan pengakuan dosa, anda harus membiarkan saya untuk meng copy-nya dulu. Akan menjadi dosa bila anda mencap ini sebagai Pembunuhan Karakterâ„¢,apalagi sampai Menghapusâ„¢ atau Mengeditâ„¢ Komentarâ„¢ ini.

    Sekian, semoga anda cepat menebus dosa anda

  14. Lha, mungkin memang itu yang beliau harapkan: rejeki datang bersama hujan. Orang yang tadinya mau jalan kaki atau naik motor, jadi memilih naik becak. Kasihan buat kita, rejeki buat dia.

    Asal kau jangan membayarnya dengan tampang tak rela. Itu baru kasihan. Apa coba pikirnya? Sudah rejeki datang (maksudnya dirimu) hanya pas hujan, ngasih duitnya cembetut gak rela pula (padahal bukan karena itu wajahmu tertekuk gak sengaja).

    Kalem aja. Niatin lain kali kalo ujan naik becak lagi. Ntar gak merasa bersalah lagi deh hehehe…

  15. ya sama aja kyk pake jasa ojek payung. kamu enak, tapi yang punya payung kebasahan.

    kalo yang bikin kamu merasa berdosa adalah “untuk memenuhi keinginan kita, ada orang-orang yang harus jungkir balik bekerja”, applies juga buat orang tua kita kan, yang harus jungkir balik bekerja biar kita bisa makan, sekolah, dan ke warnet🙂.

    semua pekerjaan udah ada konsekuensinya kok. semoga aja tukang becanya pake ponco atau jas hujan. biar resiko sakit dll itu berkurang. dan kita sudah bayar sesuai kesepakatan. biasanya sih tarifnya sedikit lebih mahal dibanding kalo ga hujan🙂

  16. @ 49
    Brisik! Mangkanya ditinggal kawin… !😀

    @ Lita
    Saya sambil senyum kok mbayarnya, senyum najong menggoda, he…

    @ yanti
    Seep mba… Cuma kadang suka lupa itu lo, kalo kita sebenarnya perlu orang lain juga…

  17. naik becak ga tega…soalnya dijalankan ma tenaga manusia. ga naek becak, bisa seharian abang becaknya ga dapet muatan (berarti ga makan). Apa gw yg GR yak? eh, di banjarmasin ada becak ya?

  18. Hus, belum kejadian tauk

  19. Mas wartawan yang satu ini emang hebat.. Dosa enggaknya mah urusan Tuhan. Berdosa pada idealisme mah urusan pribadi hehehe..

    Jadi ingat seorang kawan yang sumpah mampus tidak akan mau nonton di 21, akhirnya jebol juga gara-gara Kevin Kostner hehehe

  20. sepertinya kecil menyetujui komentar 49 ajah…
    hehehe…

  21. Klo kasusna kek gini saya juga pasti akan merasa bersalah..dan bayar lebih dari yang udah disepakati hi3…-samaan biar dikatain kompak-

  22. @ Yati
    Dikira seprimitif apa seh Banjarmasin? Sampe dipikir beca pun da ada… Tega..

    @ 49
    Mangkanya, jangan sampai kejadian!

    @ JaF
    Temannya tukang beca pak??

    @ Super Kecil (apanya?)
    Setuju ditinggal kawin?

    @ Che
    Maunya kompakan mulu, naksir saya ya?

  23. Ya Tuhan berikan aku kekuatan dan ketabahan bila sampai kejadian. dan tolong kutuk manusiasuper menjadi kodok sebagai tumbalnya bila sampai kejadian. sekian do’a hari ini.

    (ga nyambung!)
    (biarin)

    (mudahan ga kejadian)

  24. Blogger banjar kah?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: