Alasan Apa Lagi?

17 Maret 2007 pukul 12.55 | Ditulis dalam Uncategorized | 10 Komentar

Malam itu, di rumah kena jadwal mati lampu. Resiko hidup di bumi kalimantan, yang padat batubara tapi miskin energi. Batubaranya pada dikirim ke Paiton, buat listrik wilayah jawa, he…

Karena bosan, selepas magrib saya mengeluarkan ‘kuda’ dan melanglang buana menembus pekatnya malam. Menyusuri jalan sambil memikirkan segala hal.

Setelah beberapa waktu, terdengar adzan berkumandang. Entah kena angin apa, saya langsung berbelok ke masjid terdekat. Mumpung ada waktu luang, saya pikir tidak ada salahnya berjamaah sekali-sekali.

Sampai masjid, sholat belum mulai. Ada beberapa orang yang bersama saya mengisi masjid ini. Beberapa diantaranya berdiri untuk menunaikan sholat sunat. Saya mikir, kenapa saya da sholat sunat? Saya jawab, jangan, dirumah saja kamu biasanya da sholat sunat juga, masa pas di masjid mau sholat sunat, mau riya ya? Saya pun duduk, mengambil posisi agak di belakang.

Di tengah pemikiran itu, mata saya menangkap sesosok bungkuk kurus berjalan tetatih-tatih memasuki masjid. Seorang kakek tua, yang berpakaian rapi lengkap dengan sarung bersih ini mulai menarik perhatian saya.

Kaki kanan si kakek tampaknya sedikit cacat. Kaki tersebut tidak bisa dibengkokkan, sehingga sangat menyulitkan baginyauntuk melangkah. Namun tanpa menunjukkan raut kesakitan, kekesalan bahkan sedikit kebanggaan, si kakek melangkah melintas di depan saya, berdiri sempurna, dan mengangkat tangannya untuk bertakbir menunaikan sholat sunat qabliatin Isya.

Dengan penuh perhatian saya mengamati sholat si kakek. Dengan penuh kesulitan dia meluruskan punggung saat ruku, kakinya sedikit mengejang ketika tunduk sujud, dan posisi duduknya kurang sempurna di sela-sela dua sujud karena kondisi kakinya yang memang tidak bisa diajak kompromi.

Lalu dengan upaya yang luar biasa, kakek berdiri setelah menyelesaikan rakaat pertama. Saya menatapnya, memikirkan betapa besar upayanya berjalan dari rumah menuju masjid ini, betapa melelahkan langkah-langkah kakinya, betapa kuat niatnya menghadap Yang Maha Sempurna dengan kondisinya yang sudah tidak muda, Betapa memalukan saya…

Dengan perlahan, saya berdiri, berniat dengan sepenuh hati yang saya bisa, dengan doa yang semoga diterima, mengangkat tangan, menunaikan sholat sebelum iqomat dilantunkan.

Ampuni saya ya Allah…

Setelah peristiwa ini, alasan apa lagi saya yang saya punya untuk menghindari sholat berjamaah?

Kesibukan kerja?

Tugas rumah?

Ketidak sukaan pada pengeras suara mushola yang terlalu keras?

Kurang khusyu?

Apalagi?

Pekerjaan saya sangat memberikan waktu luang yang lebih dari cukup dari sekedar meluangkan waktu untuk sholat berjamaah.

Saya tidak pernah melakukan apapun di rumah, selain bersantai dan membaca atau main komputer.

Pengeras suara? Luar biasa konyol alasan ini…

Tidak khusyu? Memangnya ketika saya sholat sendiri, saya pernah merasakan kekhusyu’an?

Lalu alasan apa lagi?

10 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. pertamax!!!!
    manusia itu emang makhluk yang perlu contoh!
    nah, gitu…mas super sudah di kasih contoh…
    ayo solat dulu sana…

    *saya sendiri suka blogging sampe lupa waktu*

    eit..udah jam 1 nih, sholat dzuhur dulu ahh…

  2. masa pas di masjid mau sholat sunat

    Gimana kalau sholat sunatnya sholat tahyatul masjid, itu kan memang hanya dilakukan i masjid (kayaknya).
    Semoga mas superman jadi rajin sholat berjamaah di masjid, siapa tahu bisa diangkat jadi takmir atau malahan imam😀
    *halah…sholat di masjid kok ada pamrihnya*
    Bercanda Oom…

  3. Alhamdulillah manusia super akhire jadi manusia shaleh, amiiin

  4. @ antobilang
    pertamax, pertamax, lu pikir ini blog seleb??

    @ deKing
    kadang mikir gitu lo pak, pas dirumah sholat sunat males banget, tapi mas di masjid yang banyak orang, wuiih…

    @ Evy
    Belum kok dok, cuma pas kebetulan mikir lurus aja, he…

  5. egh…
    *sedikit tertohok…kalo ndak mau dibilang banyak*

  6. Pengalaman menarik, thx mengingatkan saya, betapa malasnya saya melangkah. Betapa dunia ini sesungguhnya dipusakai oleh orang-orang shaleh, bahkan dalam kondisi yang begitu minimalnya si kakek datang kerumahNya.
    Subhanallah.
    thx pencerahannya.

  7. Makanya rajin-rajin ke mushalla selagi masih sehat…😀

    Wah, sentilannya kena, nih😀

  8. @ joe
    Ga maksud menohok, cuma menyenggol, he…

    @ Agor
    Sama-sama mas, saya juga banyak belajar dari bapak.

    @ Mr. Geddoe
    Mangkanya, jangan main Game mulu…

  9. waduh baca postingan ini walopun telat, tapi ko ya ngena banget gt mas…saya juga suka di telat2in tuh solatnya apalagi klo isya, musti tidur dulu trus bangun jam 11an dengan alasan menegakkan sunnah rasul yang suka solat isya di akhir waktu -blushy- duuuh bapak itu emang menampar kita pelan2 tapi pasti ya?🙂

  10. Da papa noy, telat daripada tidak…

    eh, emang ada sunah Rasul begitu?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: