Mudahan Saya Tidak Kualat Menulis Ini

7 Maret 2007 pukul 16.43 | Ditulis dalam Uncategorized | 6 Komentar

Dengan segala hormat kepada dua orang berprofesi guru yang merupakan sosok paling saya cintai dan hormati di dunia ini..

Dengan segala kekaguman kepada pak urip dan kawan-kawannya yang seperjuangan…

Dengan keprihatinan untuk para guru honorer, guru di tempat terpencil dan guru yang mengajar dengan sepenuh hati…

Cerita ini bukan tentang kalian…

Hari ini, ratusan (seratus lebih dikit) guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia – PGRI Kalimantan Selatan meninggalkan sekolah mereka untuk mengadakan aksi demo di Kantor Gubernur dan DPRD Kalsel.

Saya yang sedang asik menawar PDA bekas, ditelpon dan langsung dipaksa liputan.

Sampai di DPRD, para guru ini sudah diterima masuk gedung dewan yang terhormat, sambil berteiak-teriak persis demo FPI, mereka masuk tanpa beraturan ke dalam ruang rapat DPRD. Ketika diminta perwakilannya saja yang masuk, karena ruangan yang tidak cukup, para guru ini menyahut, “ini juga perwakilan!! Kalo kami ajak semua guru, bisa kami rubuhkan gedung gewan ini!! Ayo, ayo, masuk saja semua…”

Selanjutnya, mereka ditemui oleh 2 wakil ketua DPRD kalsel dan beberapa anggota dewan yang memang membidangi masalah pendidikan. Dialog pun terjadi…

Perwakilan guru dengan toa dan kaya persis Krisyanto membacakan tuntutan yang mereka cetak dalam selebaran kertas. Intinya, menuntut pemerintah dan DPRD merealisasikan anggaran 20 prsen dari APBD untuk sektor pendidikan. Para guru ini MENGAKU miris melihat pemerintah melanggar janji mereka sendiri yang ditetapkan dalam UUD 45, bahwa akan selalu memprioritaskan pendidikan dalam anggaran.

Itu awalnya…

Tuntutan ini dijawab DPRD, bahwa saat ini, mereka dan pemerintah memang tidak bisa menganggarkan dana 20 persen dari total APBD untuk pendidikan. Hal tersebut harus dilakukan secara bertahap. Para anggota dewan ini BERJANJI anggaran pendidikan 20 persen dari APBD akan diwujudkan pada tahun 2009 mendatang.

Saat ini, anggaran sektor pendidikan di APBD Kalsel baru mencapai 12 persen dari total keseluruhan anggaran. Itu pun, masih dibagi dengan anggaran untuk gaji para guru.

Cemoohan kembali terdengar dari para guru ini. Sebagian mengejek para anggota dewan dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas mereka utarakan di depan murid. Sebagian lagi bertepuk tangan, memotong pembicaraan, dan melakukan perbuatan yang sia-sia lainnya saat anggota DPRD mencoba menjelaskan.

Salah seorang guru lalu berkata, mereka tidak perlu janji, mereka ingin realisasi SEKARANG.

Anggota dewan menjawab, sebenarnya, DPRD sudah mendesak agar anggaran pendidikan ditingkatkan hingga 20 persen. Dana pun sebenarnya tidak masalah. Namun ternyata, pada saat pembahasan anggaran, jsutru dari pihak Pemerintah dalam hal DINAS PENDIDIKAN PROVINSI yang MENOLAK anggaran sebesar itu.

Dinas pendidikan provinsi beralasan mereka tidak memiliki kesanggupan untuk mengelola dana sebesar itu.

Sorakan kembali terdengar, mencemooh para pejabat di dinas pendidikan.

Lalu, seorang guru lain mulai mengambil mikrofon, dan mengambil alih pembicaraan. Nampak sedikit ketegangan dan kegembiraan ketika moment ini terjadi.

Inti dari pembicaraan guru tersebut adalah, para GURU yang ikut demo saat ini, MENUNTUT agar DPRD Kalsel MEMPERJUANGKAN KEINGINAN MEREKA MEMINTA UANG TUNJANGAN DI LUAR GAJI, PALING TIDAK 500 RIBU RUPIAH PERBULAN.

Mereka mengaku iri dengan guru-guru di daerah lain yang mampu mendapat dana hingga 600 – 700 ribu perbulan di luar gaji.

Sebagian dari peserta demo ini adalah guru yang berasal dari Banjarmasin, kota yang cukup modern, sudah ada bioskopnya, akses transportasi mudah, teknologi sudah menjangkau, dan mereka bisa pergi belanja ke pasar atau mall tiap kali jam istirahat atau jam kosong di sekolah.

Setelah pembicaraan ini dimulai, terlupakanlah tuntutan tentang anggaran 20 persen untuk sektor pendidikan di atas. Serabutan para guru ini mengutarakan keinginan mereka untuk minta naik tunjangan. Bahkan ada yang MINTA DIBELIKAN LAPTOP…

Sebelum pembicaraan antara dua pihak ini selesai, saya keluar dari ruangan, bingung…

Untuk kali ini, saya tidak tahu, kemana nurani saya harus saya letakkan…

Iklan

6 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. guru juga manusia, mas. saya rasa wajar aja kalo tuntutan mereka jadi macem2. tapi iya, sedih juga sih, kenapa malah esensi tujuan demo ( soal 20 persen anggaran pendidikan) jadi terlupa ya?

  2. Waduh…
    Guruku berubah, guruku berulah…
    Tapi setuju dengan mbokdhe Venus, guru juga manusia 😀

  3. […] Maret 20th, 2007 “Para guru itu hanya bisa ngiri dengan para dosen macam kami ini, mereka itu teriak teriak minta naik gaji, dan menganggap kerjaan kami para dosen ini lebih ringan dari mereka, sehingga tidak layak untuk […]

  4. saya mnyesalkan sekali sikap mereka yang rada urakan gitu, saya sepakat dengan perlawanan tapi ada jalur lain yang mesti di lalui. Kenapa ada permasalahan dispendik tidak mau menerima dana terlalu besar, ini yang harus mereka pertanyakan sebenarnya.
    Kalo guru saja seperti itu ya wajar saja anak muridnya …………………..

  5. Eh, kemaren demo lagi lho mas..
    Tapi kali ini cuma se Banjarmasin, da se-Kalsel. Metodenya sama, teriak2, nuntut tunjangan. Akhirnya seh disetujui walikota, dapat tambahan 200 ribu perbulan, ALhamdulillah…

    Semoga ngajarnya juga lebih baik, da suka ilang pas jam pelajaran lagi…

  6. […] oleh Neo Forty-Nine Para guru itu hanya bisa ngiri dengan para dosen macam kami ini, mereka itu teriak teriak minta naik gaji, dan menganggap kerjaan kami para dosen ini lebih ringan dari mereka, sehingga tidak layak untuk […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: