Hak Anak dan Narsisme Saya

25 Februari 2007 pukul 18.31 | Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar

Sebenarnya sudah lama saya ingin menceritakan hal ini. Pengalaman saya mengikuti Trainer of Trainee (TOT) Hak-hak Anak di Banjarmasin beberapa waktu lalu.

Ceritanya, saya dan bawel bertemu dengan seorang dosen saya di kampus. Beliau dikenal aktif dalam LSM yang berhubungan dengan anak. Lalu bapak dosen ini mengajak kami mengikuti sebuah seminar yang diadakan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Wanita Pemprov Kalsel selama dua hari.

Kebetulan saya ada waktu kosong di sela-sela kesibukan liputan. Saya pun bersedia ikut, hitung-hitung ngabisin waktu sama bawel dengan hal yang bermanfaat, daripada maksiat, he..

Awalnya seh, saya sempat kecewa dengan acara TOT ini. PROYEK BANGET!!

Diikuti oleh beberapa anggota LSM anak, dua mahasiswa dan puluhan PNS, bisa ditebak, acara yang seharusnya berlangsung dua hari dipaksa – oleh para bapak-bapak dan ibu-ibu PNS itu – agar diselesaikan dalam satu, DENGAN UANG SAKU TETAP DIHITUNG UNTUK DUA HARI…

Kecewa, karena semula saya pikir acara ini murni untuk memikirkan nasib anak…


Tapi untunglah, pengisi acara bukan berasal dari kalangan birokrat. Acara ini di-handle oleh Mas Andi Akbar, aktivis Lembaga Advokasi Hak Anak Bandung.

Mas Andi cukup memahami hak anak berdasarkan Konvensi Hak Anak Internasional.

Awalnya, kami diperkenalkan pemahaman terkait anak. Menurut yang saya fahami, Anak adalah Individu yang belum matang baik secara fisik, mental maupun sosial.

Jadi ada batasan untuk pengertian bagi seorang anak itu.Karena kondisinya yang belum matang dari berbagai segi itu, maka anak menjadi tergantung dengan orang yang lebih dewasa. Akibatnya, anak lebih beresiko terhadap tindak kekerasan, eksploitasi, penelantaran dan lain-lain.

Sementara Konvensi Hak Anak menyebutkan Anak sebagai individu yang berusia di bawah 18 tahun, namun dapat berbeda sesuai ketentuan negara per negara.

Lalu apa Konvensi Hak Anak itu?

Konvensi Hak Anak (KHA) adalah perjanjian yang mengikat secara yuridis dan politis di antara berbagai negara yang mengatur hal-hal yang berhubungan dengan hak anak.

Indonesia sejak tahun 1990 mengakui KHA melalui Keppres No.36 tahun 1990 tertanggal 25 Agustus 1990. Karenanya, kita wajib mengakui dan memenuhi hak-hak anak seperti yang dirumuskan dalam KHA.

Lalu, apa saja hak-hak anak itu?

Banyak, sangat banyak. Bahkan salah satunya adalah hak untuk memilih agamanya sendiri (!)

Teman saya langsung berdesis “Pasti yang nyusun KHA ini Yahudi!!”

He…

Tapi terlepas dari beberapa point kontoversial, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui terkait hak-hak anak. Untuk sebuah negara dengan sejuta kesalahan dan kebodohan serta gampang lupa, memang sulit menerapkan semuanya secara sempurna. Tapi tidak ada salahnya untuk mengetahui kan?

Secara umum, Prinsip-Prinsip KHA adalah:
Non diskriminasi, semua hak yang diakui dan terkandung dalam KHA harus diberlakukan kepada setiap anak tanpa perbedan apapun

Kepentingan terbaik bagi anak, dalam setiap tindakan yang menyangkut anak, kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama

Kelangsungan Hidup dan Perkembangan Anak, hak hidup yang melekat pada diri setiap anak harus diakui dan perkembangannya harus dijamin

Penghargaan Terhadap Pendapat Anak, pendapat anak, terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupannya, perlu diperhatikan dalam setiap pengambilan keputusan

Sementara itu, Indonesia juga telah mempunyai UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIANOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK

HAK DAN KEWAJIBAN ANAK menurut UU adalah:

Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan.

Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua.

Setiap anak berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri.

Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial.

Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. Khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus.

Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan.

Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri.

Setiap anak yang menyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial.

Anak wajib dilindungi dari diskriminasi; eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual; penelantaran; kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;

Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir.

Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari: penyalahgunaan dalam kegiatan politik; pelibatan dalam sengketa bersenjata; pelibatan dalam kerusuhan sosial; pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan; dan pelibatan dalam peperangan.

Pusing?

Saya juga, ternyata masih banyak yang tidak kita sadari terkait anak dan hak-hak mereka.

Tapi terlepas dari semua tetek bengek hukum itu. Saya menyadari satu hal, bahwa anak, seberapa pun sulitnya kita mengerti mereka, adalah tetap individu hidup yang mempunyai pikiran, perasaan, pilihan, dan kekurangan.

Adalah salah besar jika kita memperlakukan anak hanya sebagai objek. Orang tua seharusnya bisa mengerti anak karena semua oang tua pasti pernah melalui masa anak-anak. Tapi orang tua tidak bisa memaksa anak mengerti cara berpikir orang tua, karena anak memang tidak belum pernah menjadi tua.

Terlepas dari minimnya hasil TOT karena paksaan para PNS malas itu, saya tetap mengambil satu sisi positifnya;
Paling tidak, anak saya nanti akan mendapatkan hak-haknya secara benar, semoga…

Download UU Perlindungan Anak di sini
Download Konvensi Hak-hak Anak di sini

Alamat Lembaga Advokasi Hak Anak (LAHA)

Jl. Depok VI No. 2 Antapani Bandung
Telp/Fax: 022 – 7203160
Email: lahabdg@indosat.net.id

Keterangan gambar: Saya sedang sok-sokan jadi trainer hak anak…

Iklan

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. PNS, “project oriented” ? Hehehe, sebagian besar gitu pak.
    Berbahagialah yang dapat mengambil manfaatnya.
    Jujur saja, di negeri ini mungkin banyak yang tidak peduli anak di sekelilingnya.
    Contoh kecil:
    Saat anak berangkat sekolah, bisa kita amati senin s/d sabtu. Ada saja yang sepatunya menganga, buku tulis kusam, baju tidak ganti dll.
    Misalkan 1 orang mapan di 1 RT membelikan 1 lusin buku, atau sepasang sepatu baru atau sekotak alat tulis setiap semester kepada 1 anak tak mampu. Itu sudah sangat luar biasa. Bukan perhatian saja yang kita berikan, tetapi anak tersebut merasa setara, ini penting dalam perkembangan psikologi dan sosial si anak tersebut.

    Panitia TOT kepikir gak ya yang beginian ?
    Salut pak, mari kita bantu anak-anak sekeliling kita dengan hal-hal kecil yang berguna. Selamat 🙂

  2. Mudah2an bukan cuman menjadi teori, dan ga ada realisasinya, anak terlantar banyak sekali yg tidak mendapat pendidikan dan perlindungan yang layak. Ada teorinya sejak kemerdekaan 1945, tapi realisasinya mana? Mereka harus berjuang di kekejaman dunia…hiks

  3. ada hal penting yg harus disadari bersama yaitu sosialisasi tentang hak-hak anak ini kepada seluruh masyarakat.
    mungkin media massa bisa lebih berperan…
    karena banyak (terutama di daerah2) yang masih menganggap anak sebagai komoditas,
    sebagai contoh : di daerah asal saya anak usia lulus SD harus bekerja, dan tak sempat merasakan pendidikan lebih tinggi apalagi mau ngeblog?

    ah, saya harus banyak2 bersyukur nih..

  4. hhmm…sudut pandang yang bagus dari seorang guru. nanti kalau sudah punya anak, dirawat baik-baik ya fad. jangan diterlantarin dan cari bini lagi. sayang anak…sayang anak… :mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: