Korupsi dan Engkong Plato

30 November 2006 pukul 13.17 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Dasar hukum:
Undang-undang no 28 tahun 1999.
Undang-undang no 31 tahun 1999.
Undang-undang no 20 tahun 2001.
Undang-undang no 30 tahun 2002.
Peraturan Pemerintah no 71 tahun 2000.

Asal Kata:
Corruptio, corruptus (latin) dari istilah yang lebih kuno corrumpere.
Diturunkan ke bahasa Inggris: Corruption, corupt; Prancis: Corruption; Belanda: corroptie, korruptie.

Lalu di Indonesiakan menjadi KORUPSI
Korup: busuk, palsu, suap (Kamus Besar Bahasa Indonesia) buruk, rusak;
Suka menerima uang sogok, menyelewengkan uang atau barang milik perusahaan atau negara.
Menerima uang dengan menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi (kamus hukum 2002).

Korupsi: kebejatan, ketidak jujuran, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian (Lexicon Webster Dictionary)
Penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan untuk keuntungan pribadi atau orang lain.

Undang-undang no 20 tahun 2001:
Korupsi adalah perbuatan secara melawan hukum dengan dimaksud memperkaya diri sendiri atau orang lain yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Unsur-unsur:
1. Secara melawan hukum
2. Memperkaya diri sendiri atau orang lain
3. “dapat” merugikan keuangan atau perekonomian negara

Terminologi “dapat” disini berarti tidak perlu ada akibat dari tindakannya tersebut. Ada kemungkinan “akan” merugikan pun berarti telah masuk tindakan korupsi.

Kenapa saya ribut-ribut mempermasalahkan ini? Padahal Thamrin (lagi-lagi) sudah membahasnya dengan sangat lengkap.

Sejujurnya, ini hanya potret kekesalan karena gagal mengikuti seminar korupsi KPK di Universitas Lambung Mangkurat senin kemarin. Cuma sempat dapat stiker. Padahal anak-anak yang lain dapat stiker, pin dan kaos keren! Hiks…

Beidewei, saya sejak lama selalu berpikir, jika korupsi adalah perbuatan yang melanggar hukum, lalu bagaimana dengan perbuatan merugikan yang justru memiliki dasar hukum?

Kita ambil contoh, PNS. Sebagai seorang reporter, sudah jadi kutukan untuk saya untuk selalu berhubungan dengan yang namanya PNS di instansi pemerintah. PNS dalam bahasa Inggris disebut civil servant alian pelayan masyarakat. Mereka digaji untuk melayani.

Dari pengalaman saya di lapangan, kita ambil saja contoh PNS yang bekerja sebagai sopir. Dia di gaji untuk pekerjaannya sebagai sopir, iya kan? Nah, kenapa setiap kali dia melakukan tugasnya itu, dia juga mendapat dana tambahan lain alias uang jalan. Ga tanggung-tanggung,dihitung berdasarkan jarak. Dalam kota segini,di luar kota segitu, kalo nginap segibang.LALU GAJINYA BUAT APA???

Apa hanya untuk bernafas mereka kita juga yang harus menggaji??

Lalu staf pembuatan KTP kelurahan. Mereka kan digaji untuk melayani warga yang membuat KTP? LALU KENAPA SETIAP KALI SAYA MEMBUAT KTP DIMINTA DUIT LAGI SAMPAI 150 REBU PERAK??

Ah jadi ingat engkong Plato (yang hidup 427 – 347 SM)… Beliau pernah bilang begini:
“Para pelayan bangsa harus memberikan pelayanan mereka tanpa hadiah-hadiah. Mereka yang membangkang HARUS, kalau terbukti, dibunuh tanpa upacara”

Shall we??

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: