THT

12 November 2006 pukul 13.41 | Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar

Akhirnya saya menyerah…

 

Setelah lebih seminggu mencoba mengabaikan rasa sakit di tenggorokan ini, meskipun harus mengernyit setiap kali makan, minum, atau bahkan sekedar menelan ludah ketika melihat cewek seksi. Saya menganggap sakit ini hanya cidera biasa, akibat kebanyakan berbicara.

 

Namun, setelah anti biotic F. G. Troches dan penahan rasa sakit Asam Mefetamat saran bawel (Begitu-begitu, kekasih saya itu lulusan Sekolah Menengah Farmasi!) tidak mempan, saya menyerah. Saya singkirkan jiwa pelit yang sudah mendarah daging ini, dan pergi mengunjungi seorang Dokter Spesialis THT.

 

Hal ini harus saya lakukan, sebagai seorang naturally born preacher, saya sangat tersiksa dengan sakit tenggorokan ini. Sepertinya, kabut asap ini memang sudah terlalu berat untuk Saluran Pernafasan saya…

 

Malam ini, dengan ditemani mami tercinta (Begini-begini, saya anak mami!) saya berangkat. Sempat beradu pendapat dengan mami mengenai dokter mana yang harus dikunjungi. Saya (atas saran Bawel) mau ke dokter THT yang ada di jalan S. Parman, tapi mami berkeras ke dokter yang ada di jalan Anambas. Setelah ditelusuri, ternyata dokter yang kami maksud itu sosok yang sama! Di jalan S. Parman ada gang kecil bernama Jalan Anambas, di mana sang dokter yang jadi perdebatan praktek, dr. Soekirman Spesialis THT tercinta…

 

Meneketehe, wong saya tidak pernah mendengar nama jalan Anambas sebelumnya…

 

Dokter yang ternyata sudah naik haji dua kali dan mau menunaikan kali yang ketiga tahun depan itu cukup ramah (Da ada hubungannya seh, tapi kalo hajinya sering kan, biasanya orangnya baik…). Saya pun duduk di depan dr. Soekirman Spesialis THT.

 

“Sakit di mana de?”

 

“Di tenggorokan dok.”

 

“Sejak kapan?”

 

“Lebih seminggu.”

 

“Walah! Kenapa baru datang…?? Hayo, berbaring sana, saya periksa”

 

Saya pun berbaring…

 

“Diapain aja seminggu ini?”

 

“Saya kasih obat anti biotic F. G. Troches dan penahan rasa sakit Asam Mefetamat dok”

 

“Wah, da bagus itu, pantesan da sembuh-sembuh” (BAWEEEEEEL……!!!!) “Em, merah memang tenggorokannya.. Selain sakit ini, batuk juga?”

 

“Kadang-kadang dok”

 

“Flu?”

 

“Kalo pagi dok, alergi dingin soalnya.”

 

“Tapi ga maag kan?

 

(Sambil mulai menunjukkan gejala kesal, banyak tanya neh dokter!) “Gejalanya dok..”

 

“Sakit kok borongan…”

 

He… Untung ga saya ceritakan semua sakit saya pada ini dokter, saya ga bilang kalo umur 6 bulan sudah masuk rumah sakit kena paru-paru basah, kena gejala diabetes pas SMU, alergi udang, kepiting dan cumi, kurang serat, panu, ambien, wasir, hernia… (He, gak, dink… berlebihan banget… Doakan saya sehat saja deh!).

 

Selesai saya diperiksa, dikasih resep, obat-obat biasa sebenarnya, obat kumur antiseptic, obat batuk, flu dan maag, serta satu obat yang saya ga tau fungsinya.

 

“Ini ada obat kumur, jangan diminum, pahit! Caranya kamu ambil setengah gelas air hangat, gelasnya gelas belimbing saja, tau kan? Yang biasanya transparan itu, setengah gelas apa tadi?”

 

(Ngetes saya ini dokter…) “Setengah gelas belimbing, dok”

 

“Setengah gelas air hangat…!”

 

(Mulai bertanduk) “iya dok, setengah gelas air hangat”

 

“Kamu masukin obatnya 3 – 4 sendok, trus diapain?”

 

(MENEKETEHE!! Yang dokter kan situ…!?!) “Diminum dok…?”

 

“Dibilangin jangan diminum…! Dikumur-kumur, sedikit-sedikit saja, sampai air digelas habis.. ngerti ya…?”

 

(HO-OH!)

 

Selesai periksa, Saya dan mami pun beli obat di apotik sebelah, seharga Rp. 87 rebu!! Padahal di luaran harganya paling cuma separonya (musnahkan apotik dari seluruh dunia!!). Ditambah biaya dokter, hampir Rp. 250 rebu ludes dari jatah bulan ini…

 

TERKUTUKLAH SEMUA PEMBAKAR LAHAN DI INDONESIA!!!

 

Saya juga dilarang memakan makanan berminyak alias goreng-gorengan, yang bersantan, yang bergetah, serta jangan minum es… Lalu saya makan apa???? Saya makan masakan padang saja kalo begitu!!

 

Ya Tuhan… Seandainya saya boleh memohon, kalo memang pembakar lahan ini perlu dimasukkan ke neraka-Mu, jangan yang ada apinya, cukup isolasi mereka di ruang yang penuh asap pembakaran ban bekas saja, amin…

 

Additional note:

Kalau ada yang menderita gejala sama karena ISPA akibat Kabut Asap, tidak perlulah ke dr. spesialis. Berikut saya sertakan resepnya, beli di toko obat saja, jangan di apotik!

 

1. Obat Kumur merek Isodine (Jangan ditelan, pahit banget!),

 

2. Sanpicillin 500 mg (4 kali sehari)

 

3. Celestone (2 kali sehari)

 

4. Decolsin – kalau batuk (3 kali sehari)

 

5. Obat maag jika diperlukan (2 kali sehari).

 

Sekedar klarifikasi, dr. Soekirman Spesialis THT sebenarnya cukup baik, sangat baik malah… Dia ternyata teman almarhum kakek saya, kalo mau kesana, lewat jalan S. Parman, belok kiri seberang kantor dinas pendidikan provinsi, ada gang namanya Anambas, masuk aja, langsung nemu deh rumah sang dokter kita itu…

Iklan

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Mahal ga ya buat bersihin telinga?

  2. kalo ada orang lain yang sakit gejalanya sama trus setelah baca ini beli obat yang sama ternyata ada reaksi atau alergi obat yang tanggung jawab siapa ya???????

  3. Sekarang lagi praktek di RS Awal Bros Pekanbaru


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: