Beruntung

2 Oktober 2006 pukul 16.59 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar


Awal Ramadhan ini, saya bertemu dengan dua orang teman, one comes from the present, and another one from the past. Tidak ada hubungan adapun dari kedua orang ini. Mereka datang dari dua wilayah pertemanan yang berbeda. Mereka tidak saling mengenal satu sama lain.

Tapi keduanya punya satu persamaan, yang saat ini sedang membuat saya berpikir. Persamaan mereka, MEREKA LAHIR DALAM KEBERUNTUNGAN, jika terminologi “beruntung” kita identikkan dengan “materi”.

Yap, si Beruntung 1, punya kakek yang luar biasa kaya. Saya tidak tahu seberapa kaya, tapi sebut saja dia memiliki seperdelapan uang yang beredar di Banjarmasin saat ini. Sementara si Beruntung 2, adalah anak dari seorang pengusaha yang mempunyai belasan unit usaha mulai dari perdagangan sampai car rental.

Si Beruntung 1 saya kenal baru-baru ini. Tanpa sebab yang jelas, dia lalu menjadi akrab dengan saya. Sementara si beruntung 2 adalah teman lama. Kami tidak berjumpa hampir 2 tahun. Ketika bertemu lagi awal Ramadhan tadi, dia cerita baru saja menyelesaikan pendidikan di Surabaya dan Jakarta.

Entah kenapa, pertemuan dengan kedua anak beruntung ini membuat saya berpikir keras.

Dengan segala permohonan ampun kepada Yang Maha Pemberi Rezki, saya sekarang menjadi sering berpikir, how could be someone has so much in this life while the other has less??

Sebagai anak dari orang tua yang kedua-duanya berprofesi sebagai guru SD, saya memang tidak pernah hidup dalam kekurangan. Dan juga tidak pernah mudah mendapat sesuatu yang saya inginkan.

Mengenang kembali masa-masa ketika sejak jaman SMP, SMA dan Kuliah, nyaris semua teman saya memiliki minimal motor kalau tidak mobil yang mereka pakai untuk sekolah, main dan aktivitas lainnya. Sementara saya, hingga tahun kedua di universitas, masih menggunakan angkot sebagai sarana transportasi. Penderitaan ini tidak dibantu dengan kondisi angkot Banjarmasin yang luar biasa bobrok, ditambah perilaku sopir yang mengharuskan penumpang wajib memiliki prinsip, MUSNAHKAN SOPIR ANGKOT DARI SELURUH DUNIA!

Keadaan memang sangat membaik saat ini, ketika saya sudah mulai bekerja sendiri sambil menjalani kuliah. Dengan rezki tak terduga yang diterima orang tua, meski pun rezki itu tidak datang dengan mudah.

Hanya saja, I still haven’t my own car…

Sementara si beruntung 1 dan 2 diatas hidup tanpa perlu memikirkan masalah keuangan. The naturally born rich…

Saya berpikir…

Dan terus berpikir…

Apakah dengan uang banyak saya akan tetap mensyukuri hidup seperti yang saya lakukan saat ini?

Apakah rumah mewah akan membuat saya mencintai orang-orang di dalamnya seperti saya mencintai mereka yang ada di rumah sederhana kami ini?

Apakah segala kemudahan materi dapat membuat saya mempunyai teman-teman luar biasa yang ada di samping saya sekarang?

Apakah ada jaminan saya tidak akan menghisap putau, menggauli anak gadis orang, meninggalkan sholat, atau bahkan melupakan Yang Maha Pemberi Rezki, jika Dia benar-benar memberikan rizki-Nya kepada saya seperti yang saya bayangkan?

Jawabannya adalah, SAYA TIDAK AKAN PERNAH TAHU…

Di tengah pemikiran ini, saya teringat dengan kenalan saya, sebut saja si Beruntung 3. Dia menjabat sebagai komisaris perusahaan terbesar ke tiga di Kalimantan, Berprofesi tambahan sebagai Pengacara terkenal, memiliki hotel berbintang, dan beberapa property lain. Dan dia juga teah dua kali mendapat serangan stroke di usia yang belum 50. Anak perempuannya terpaksa dinikahkan sebelum ulangan kenaikan kelas 2 SMU karena TKMN (Tidak Kuat Menahan Nafsu). Sementara saat ini si adik laki-lakinya sedang berjuang ditengah rasa malu karena tidak lulus ujian nasional SMU dan Paket C.

Well, sepertinya saya harus merubah arti kata beruntung dalam kamus otak saya.

Saya sampai pada kesimpulan yang sebenarnya telah ada sejak awal, karena selain Yang Maha Pemberi Rezki, Dia juga Yang Maha Tahu. Dia tahu apa yang terbaik untuk kita lebih dari yang kita sendiri pernah bayangkan…

Tapi, tetap saja tidak ada salahnya punya mobil keren, dan deposito sekitar 10 Milyar rupiah di BCA….

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. […] Tahun lalu, saya sempat jadi panitia di Pesantren Ramadhan anak SMA deket rumah, dan sukses memperoleh predikat Kakak Panitia Paling Cool, he.. Lagian aneh juga, pesantren ramadhan kok pake pemilihan panitia paling-paling segala ya?? […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: