Pilihan

18 Agustus 2006 pukul 17.48 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Saya harus belajar menghargai pilihan orang lain…

Yap, itu yang saat ini ada di pikiran saya dan telah mengendap selama beberapa hari terakhir.

Penyebabnya sepele sebenarnya. Hanya terkait perbedaan keinginan dengan adik perempuan saya tentang kuliahnya. Adik saya itu baru lulus SMA di tengah gonjang-ganjing kontroversi Standarisasi Ujian Nasional. Alhamdulillah, dia berhasil menjadi salah satu lulusan terbaik di SMA-nya.

Sayangnya, dia memilih kuliah HANYA di jurusan Analis Kesehatan yang note bene adalah pendidikan setingkat D3. Padahal, dia juga berhasil lulus di Universitas Negeri jurusan Arsitek (ARSITEK!).
Menurut pertimbangan saya, Arsitek jauh lebih baik karena berbagai alasan.

Pertama, biayanya jauh lebih murah. Dengan uang pangkal dan SPP persemester yang hanya 1/4-nya dari D3 Analis Kesehatan.

Kedua, tanpa bermaksud mendikte masa depan, prospek seorang asrsitek saya pikir lebih baik dari pada seorang Analis Kesehatan. Arsitek akan dapat mandiri dalam bekerja, dia bisa bekerja di perusahaan, pegawai negeri, atau bahkan bekerja mandiri. Sementara Analis Kesehatan? Harapannya hanya menjadi seorang pegawai di Puskesmas!

Ketiga, Lokasi Kampus Arsitek lebih mudah dicapai dari pada Kampus Analis Kesehatan. Kampus Arsitek juga terletak di tengah lingkungan dengan sarana-prasarana yang lengkap. Sementara, Kampus Analis Kesehatan ada di pinggiran kota kecil.

Keempat, Arsitek adalah salah satu cita-cita saya yang gagal saya capai….

Ah, itu masalahnya ternyata..

Adik saya tetaplah adik saya, dia bukan saya. Pertimbangan saya seharusnya bersifat masukan, bukan paksaan seperti yang selama ini saya terapkan. Dalam beberapa hal, pertimbangan saya mungkin benar, jika saya yang menjalaninya. Tapi adik saya pasti punya pertimbangan lain yang tidak saya ketahui. Lagi pula, saya memang betul-betul tidak mengetahui apa itu Analis Kesehatan.

Selama ini, ketidak sukaan saya hanya didasari pada prasangka negatif yang telah terlebih dulu terpatri dibenak saya setiap kali memikirkan profesi seorang tenaga kesehatan. Mulai dari dokter yang ceroboh dan mata duitan, perawat pemalas, apotik kapitalis, serta perusahaan obat penipu yang sering saya temukan dalam pekerjaan saya sebagai seorang reporter.

Menghargai pilihan orang lain memang terkadang sangat sulit dilakukan, mungkin ini yang dirasakan orang-orang yang berperang nun jauh di sana…….

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: