Kembali ke Masa Pra-Literasi

7 Desember 2016 pukul 08.43 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Jumat, 2 Desember 2016 kemarin media harian The Guardian menuliskan berita tentang munculnya kekhawatiran para politisi di Jerman terhadap semakin maraknya kemunculan fake news alias berita bohong atau hoax. Kekhawatiran ini terutama disebabkan penyebaran berita-berita bohong tersebut diyakini akan berdampak sangat negatif menjelang pemilihan umum di Jerman yang akan dilaksanakan beberapa bulan ke depan.

Di antara berita-berita terbebut di antaranya adalah rumor bahwa Angela Merkel, Kanselir German saat ini, adalah anak dari Hitler. Atau bahwa dia adalah mantan anggota agen rahasia Jerman Timur.

Salah satu contoh lain berita bohong yang dampaknya sangat luas dan berbahaya di Jerman adalah kabar tentang adanya pemerkosaan anak gadis keturunan Rusia usia 13 tahun oleh beberapa orang pengungsi asal timur tengah. Menurut The Guardian, berita tersebut menyebar sejak awal tahun ini bahkan di kalangan media-media besar di Jerman dan Rusia. Akibatnya, muncul banyak aksi demo dan anti Islam di kedua negara. Bahkan sempat membuat hubungan Jerman dan Rusia memanas karena para politikus kedua negara tersebut menjadi saling menuduh.

Padahal, berita tersebut sudah terbukti hoax. Dicurigai, berita bohong ini dibuat oleh intelijen Rusia sendiri untuk menyerang Merkel yang selama ini dinilai memang pro pengungsi. Merkel sendiri tidak disukai Rusia karena dia ada di posisi yang berseberangan dengan Putin pada konflik di Ukraina.

Di Amerika Serikat juga terjadi hal yang sama. Penyebaran berita bohong diyakini berperan besar terhadap kemenangan Donald Trump pada pemilu presiden tahun ini.

Di Indonesia? Malah sudah lebih dulu kita. Mulai dari isu agama dan ras para calon presiden pada pemilu 2014 lalu. Hingga kabar gempa di beberapa tempat di pulau Jawa yang konon sudah bisa diprediksi jauh-jauh hari.
Kekhawatiran terhadap penyebaran berita bohong yang semakin tidak terkendali ini muncul di mana-mana di hampir semua negara. Politisi, jurnalis, akademisi, semuanya merasa ada ancaman besar yang akan muncul jika masalah ini tidak teratasi.

Kemunculan flatform media sosial semacam Facebook dan Twitter diyakini menjadi penyebab utama dari masalah ini. Media sosial membuat kita kembali ke budaya lisan dan meninggalkan kultur baca tulis yang seharusnya lebih maju.

 

orality-and-literacy-by-walter-j-ong
Walter J. Ong, profesor literatur dan budaya yang juga presiden dari the Modern Language Association dalam bukunya Orality and Literacy membagi perkembangan budaya dan kesadaran masyarakat dalam dua tahapan besar. Budaya lisan, dan budaya tulisan. Menurut Ong, berkembangnya kebiasaan baca tulis membuat perkembangan pola pemikiran manusia/masyarakat menjadi berbeda dan mungkin, juga menjadi lebih baik.

Menurut Ong, tulisan bukan hanya sekedar perpanjangan medium dari lisan. Kebiasaan menulis dan membaca juga mengubah cara berpikir manusia dibanding dengan ketika mereka mempraktekkan budaya lisan. Perbedaan paling mendasar antara budaya lisan dan budaya tulisan adalah; pada budaya lisan hampir tidak ada cara untuk melakukan cek dan ricek.

Sebelum perkembangan tulisan, informasi hanya dapat berpindah dari satu orang ke orang lainnya dalam bentuk dialog langsung. Ketika informasi tersebut terlupakan, maka ia akan hilang selamanya. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan bentuk informasi dan ide yang ingin disampaikan harus dalam bentuk yang gampang diingat, dan gampang diulang-ulang (dengan kata lain; viral). Prasyarat informasi yang harus sederhana, gampang diingat dan gampang diulang pada budaya lisan ini membuat ide-ide kompleks dan abstrak sulit berkembang. Kultur lisan memunculkan tokoh-tokoh sumber informasi yang bisa menyederhanakan pesan.

Dan di sinilah anomali muncul. Keberadaan sosial media membuat kita kembali ke kultur lisan, tapi dalam bentuk tulisan. Facebook, twitter, Instagram, Snapchat, Grup Watsapp dan sejenisnya menempatkan prioritas informasi yang paling mungkin menyebar adalah yang ringkas, mudah diingat dan mudah disampaikan ulang. Entah dalam bentuk 140 karakter twitter, satu dua paragraf status facebook, atau yang gampang disebarkan dengan klik share di grup-grup whatsapp. Sementara ide-ide rumit, panjang, penuh referensi akan ditinggalkan dan jauh dari popularitas. Thus, senjakala blogger.

Celakanya, kultur lisan yang berkembang melalui tulisan di social media ini juga membawa efek yang sama. Miskin kemampuan cek dan ricek. Dan akibatnya, masifnya penyebaran berita bohong.

Sekarang semuanya kembali ke kita semua. Ingin jadi apa. Kembali ke kultur lisan yang mengagungkan simplisitas dan repetisi informasi, atau mencoba mempersulit diri sendiri dengan belajar cek dan ricek sebelum menerima dan menyampaikan kembali informasi.

Jangan Menerapkan Toleransi Kepada Mereka Yang Tidak Toleran

7 Desember 2016 pukul 08.25 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pernahkah kalian, sebagai seseorang yang berpikiran terbuka, toleran, atau sebut saja, liberal, mengalami dilema ketika menghadapi orang lain atau aktivitas yang tidak toleran. Kalau dibiarkan, tidak mengenakkan. Kalau dicegah, kita justru menjadi pihak yang dituduh intoleran.

Misalnya, demokrasi menyatakan semua pihak, pendapat, dan ideologi berhak hidup dan berkembang. Iklim demokrasi ini juga akhirnya membuat ideologi-ideologi yang anti-demokrasi berkembang dan mendapat semakin banyak pengikut.

karl-popper

Terkait kasus ini, almarhum filsuf Karl Popper memerkenalkan istilah “Paradox of Tolerance”. Paradoks Toleransi adalah ketika sikap toleran yang berlebihan, justru akan mematikan toleransi itu sendiri.

Ketika jangkauan toleransi merangkul bahkan hingga kepada mereka yang tidak toleran, kita justru akan kesulitan melindungi kultur dan sistem masyarakat yang toleran. Sikap toleran akan dihancurkan oleh mereka yang tidak toleran dan masyarakat tersebut, saking tolerannya, justru menoleransi kehancuran tersebut.

Bingung? Namanya juga paradoks.

Intinya, menurut Karl, jika masyarakat terus toleran terhadap mereka yang tidak toleran, mereka ini akan semakin berkembang. Memanfaatkan sifat toleran publik dan akhirnya, menang. Mengubah masyarakat toleran menjadi masyarakan intoleran justru karena masyarakat tersebut terlalu toleran.

Tentu saja tidak disarankan untuk menekan mereka yang intoleran tanpa kecuali. Yang diperlukan adalah argumen rasional dan kemampuan publik untuk terus mengawasi perkembangan ide-ide intoleransi tersebut.

Tapi Karl juga mengatakatan masyarakat berhak untuk menggunakan tekanan bahkan dengan power hingga batasan tertentu ketika pelaku intoleransi ini tidak bersedia untuk beradu argumen dengan cara beradab, atau ketika mereka menolak dan menyalahkan semua argumen yang berbeda, atau ketika mereka melarang para pengikut ide-idenya untuk mendengarkan argumen lain dengan tuduhan bid’ah, haram, antek asing, dan sejenisnya, atau ketika mereka dan pengikutnya mulai menjawab argumen dengan tinju, atau senjata.

Untuk itu, ketika kasus di atas terjadi, atas nama toleransi, publik berhak untuk tidak menoleransi aksi tidak toleran tersebut. Masyarakat harus menyatakan setiap gerakan yang mencoba membenarkan dan menyebarkan ajaran intoleransi adalah pelanggaran hukum. Pelaku intoleransi harus diperlakukan sama dengan kriminal lainnya. Seperti mereka yang membunuh, mencuri, pelaku perdagangan manusia.
Kenapa?

Karena menurut Karl, kita menjalankan toleransi bukan demi toleransi itu sendiri. Kita tidak toleran agar disebut toleran. Tujuan akhir kita mengajarkan toleransi bukan untuk membuat masyarakat toleran. Tujuan akhir toleransi adalah MENCIPTAKAN MASYARAKAT YANG LEBIH BAIK.

Memaksakan sikap toleran hanya demi disebut orang yang penuh toleransi justru membuat paradoks toleransi muncul. Para pelaku intoleransi akan memanfaatkan paradoks ini untuk menyerang ideologi toleransi dan menyebarkan ajaran intoleran mereka.

Jangan naif.

Tolerasi perlu diajarkan, didukung dan disebarkan karena terbukti bagus untuk masyarakat. Intoleransi perlu dicegah karena terbukti membawa keburukan pada masyarakat.

Karena kita mempraktekkan toleransi demi kebaikan masyarakat, maka akan menjadi tidak logis jika kita membiarkan intoleransi berkembang karena sikap itu akan membawa keburukan pada masyarakat.

Singkatnya, jangan terpengaruh pada para pelaku intoleransi yang menyerang kita yang toleran dengan alasan kita harus menoleransi sikap dan aksi intoleran mereka. Mereka salah. Sesalah sikap intoleran mereka.

Itu, kata Karl Popper.

Kenapa Anies

28 Juli 2016 pukul 09.16 | Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar

Presiden Joko Widodo pada Rabu 27 Juli 2016 kemarin kembali menata ulang susunan para menteri pembantunya di Kabinet Kerja.  Reshuffle jilid dua ini memunculkan beberapa nama baru dan menggeser beberapa pejabat lama. Selain kemunculan kembali Sri Mulyani yang menjadi pembicaraan di banyak forum media, salah satu nama yang banyak disebut-sebut adalah Anies Baswedan.

 

Anies Baswedan menjadi salah satu menteri yang tergusur dari posisinya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Keputusan presiden Jokowi menggantikan Anies dengan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Muhadjir Effendi dirasa sebagian pihak cukup mengagetkan. Dalam beberapa hasil survey kepuasan kinerja kabinet, nama Anies kerap ada di posisi teratas, bersama-sama dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan Menteri ESDM Sudirman Said.

 

Lalu kenapa Anies tergusur?

 

Ada beberapa alasan yang mungkin dijadikan dasar oleh presiden Jokowi dalam mengambil keputusannya di reshuffle kali ini.

 

Pertama, alasan politis. Saat ini ada beberapa partai politik baru di gerbong pendukung pemerintahan Jokowi-JK. Sebut saja Golkar, PAN dan (mungkin) PKS. Dukungan ini tidak gratis. Imbalannya seperti biasa adalah pos pimpinan kementerian. Untuk dapat memberikan kursi menteri pada partai pendukung baru ini, presiden mau tidak mau harus mengurangi kursi menteri dari kalangan profesional. Anies Baswedan adalah pilihan paling logis untuk dilengserkan, karena Anies tidak mewakili kalangan apa-apa. Tidak seperti misalnya Yohana Yembisa yang kalau dicopot mungkin akan menimbulkan protes dari kawan-kawan dari Papua.

 

Alasan politis lain adalah kemungkinan masih berambisinya Anies Baswedan untuk mencalonkan diri jadi presiden pada 2019. Seperti diketahui sebelumnya Anies sempat mengikuti konvensi partai Demokrat menjelang pemilihan presiden 2014 lalu. Situs pribadi resminya aniesbaswedan.com malah masih memuat beberapa artikel terkait pencalonannya sebagai bakal calon presiden tersebut. Selain itu, salah satu kebijakan pertama Anies ketika menjabat sebagai mendiknas adalah membuat divisi khusus untuk mempromosikan kegiatan-kegiatannya ke berbagai media cetak dan online nasional. Adanya menteri yang membawa visi misi pribadi tentu ditakutkan akan membuat kerja pemerintahan secara keseluruhan akan terganggu. Bahkan salah satu ucapan pertama Jokowi saat pelantikan menteri hasil reshusffle jilid dua ini adalah “Jangan gaduh. Menteri jangan jalan sendiri-sendiri. Tidak ada yang namanya visi misi mentri. Yang ada itu visi misi presiden.”

 

Alasan berikut yang tidak kalah penting adalah masalah kinerja dan hasil kerja Anies Baswedan sebagai menteri. Terlepas dari posisi Anies yang popular dalam berbagai hasil survey, kinerja Anies disebut-sebut tidak sesuai harapan. Ia dinilai lamban dan terlalu banyak megeluarkan retorika yang sebenarnya tidak penting.

 

Anies terkesan terlalu sibuk mengurusi hal remeh seperti keharusan memutar lagu nasional dan lagu daerah sebelum masuk kelas, mengurusi ospek yang sebenarnya sudah ada aturannya sejak dulu, instruksi orang tua mengantar anak ke sekolah dan semacamnya dibanding membenahi isu-isu besar pendidikan.

 

Isu paling besar adalah kesan ragu-ragunya Anies dalam membabat Kurikulum 2013. Bukannya langsung membatalkan kurikulum kontroversial tersebut, Anies justru terlihat ragu-ragu dan malah sekedar mengganti nama K13 menjadi K13 Revisi. Alasannya bahwa dana anggaran yang keluar dalam persiapan K13 sudah terlalu besar justru menjadi kontradiktif ketika K13 versi revisi juga mengharuskan pemerintah memberikan pelatihan-pelatihan dan pembuatan modul-modul serta buku pegangan baru bagi guru dan sekolah.

 

Contoh lain dari yang mungkin menjadi dasar kementerian pendidikan dinilai lamban dalam bekerja adalah ketika sang menteri di mana-mana memasang statement sekolah tidak boleh menentukan buku pegangan sendiri, siswa jangan disuruh beli buku, sementara itu buku pelajaran resmi dari pemerintah justru belum naik cetak sama sekali. Akhirnya para guru di lapangan menjadi kesulitan memutuskan harus mengajar siswa dengan buku pegangan yang bagaimana.

Belum lagi masalah UN yang masih menjadi kebijakan mercu suar. Tidak terlihat ada perubahan signifikan. Masalah utama UN sebenarnya bukanlah kecurangan guru dan siswa ketika menjalani ujian, tapi praktik tekanan secara halus dari kepala daerah agar hasil UN daerahnya sempurna untuk bisa dijadikan modal kampanye pencitraan politis. Solusi paling tepat dari masalah ini seharusnya adalah pemisahan urusan pendidikan dari kepentingan politik.

Isu lainnya yang tidak disentuh Anies adalah pemborosan (dan kemungkinan penyelewengan) anggaran pendidikan. Masalah ini memang ada di setiap kementerian dan level pemerintahan. Tidak hanya kementrian pendidikan. Tapi karena kementrian pendidikan termasuk yang mendapat anggaran paling besar, maka pemborosannya juga terkesan sangat masif.

Lalu terakhir masalah sertifikasi dan kerepotan guru-guru terkait tetek bengek administrasi birokrasi kepegawaian. Keharusan guru melakukan beragam hal yang tidak terkait dengan kewajibannya mengajar justru mengganggu tujuan dasar pendidikan itu sendiri.

Hal-hal di atas menjadi PR besar yang seharusnya bisa diselesaikan secepatnya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Jika memang 20 bulan terakhir Anies Baswedan belum bisa membenahinya secara keseluruhan, setidaknya ia sudah membuat landasan yang cukup kokoh untuk penerusnya untuk bisa bekerja dengan cepat dan taktis. Karena pendidikan di Indonesia memang bidang yang luar biasa luas untuk diurusi. Karena itu, untuk menatanya juga diperlukan sosok yang tidak biasa.

Remember the Name: Faraaz Hossain

5 Juli 2016 pukul 23.32 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

faraz

 

Namanya Faraaz Hossain. Usianya 19 tahun. Faraaz adalah mahasiswa muslim asal Emory University, Atlanta yang sedang ada di Dhaka, Bangladesh untuk mengikuti program internship bersama teman-temannya.

Hari itu, 27 Ramadan 1437 H, Faraaz bersama dua orang temannya bertemu di sebuah kafe. Hari yang sama ketika sekelompok orang bersenjata menyerbu dan menyandera pengunjung kafe tersebut. Faraaz dan 20 orang lainnya tewas dalam penyanderaan ini. Namun Faraaz Hossain bukan sekedar korban terorisme. Karena saat kejadian para teroris ini sebenarnya sudah memperbolehkan Faraaz pergi menjauh dari kafe. Mereka memang hanya mengincar target orang asing non-muslim di kawasan tempat berkumpulnya ekspatriat di Dhaka ini. Faraaz menolak untuk meninggalkan kedua temannya yang memang bukan beragama Islam. “What about them?” katanya.

Akhirnya, Faraaz yang muslim menjadi salah satu korban di peristiwa ini karena ia menolak meninggalkan teman-temannya yang berbeda agama dengannya.

Ada dua pesan yang hadir di sini.
Pertama, pesan dari para teroris pada Faraaz. “Kamu seperti kami. Kamu boleh tetap hidup.”
Kedua, pesan Faraaz pada kepada dunia lewat responnya terhadap pada teroris. “Aku lebih baik mati daripada disamakan dengan kalian.”

Selamat mengakhiri Ramadan.

Kenapa Gay Identik Dengan HIV/AIDS

6 Maret 2016 pukul 20.47 | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

Masih rame bicara soal LGBT ya. Ikutan lagi ah.

Warning: beberapa diksi dalam tulisan ini memerlukan parental advisory untuk pembaca di bawah 13 tahun.

Kali ini mau membicarakan spesifik soal klaim bahwa LGBT itu identik dengan penularan HIV/AIDS. Mereka yang anti LGBT percaya bahwa salah satu alasan kenapa prilaku seksual sesama jenis perlu dilarang adalah karena rentan dengan penularan penyakit seksual khususnya HIV/AIDS.

Sementara yang pro-LGBT menolak asumsi tersebut karena menurut mereka pengidap HIV/AIDS justru lebih banyak terdapat pada pasangan straight.

Mana yang benar? Entahlah, saya jujur saja hampir tidak lulus mata kuliah statistik, di S1 maupun di S2. Jadi soal data silakan googling sendiri atau bisa yang lebih mengerti menjelaskan nanti.

Sekarang pertama mari kita bicara soal HIV/AIDS itu sendiri.

Mungkin banyak yang sudah tahu, HIV dan AIDS itu walau sering ditulis bersama-sama, sebenarnya adalah dua hal yang berbeda. Sederhananya, HIV itu nama virusnya, AIDS itu nama penyakitnya. Orang bisa saja sudah memiliki virus HIV di tubuhnya tapi belum menderita AIDS karena satu lain sebab. Karena daya tahan tubuhnya masih kuat, misalnya. Atau karena cepat terdeteksi dan ia segera mendapat perawatan untuk mengontrol dampak virusnya secara efektif.

HIV jadi momok menakutkan karena obatnya belum ditemukan hingga sekarang walaupun ilmu kesehatan sejauh ini terus mencari terobosan-terobosan untuk menyembuhkan penderitanya. Dan seperti yang sudah ditulis di atas, saat ini sudah ditemukan pengobatan guna mengendalikan virus ini secara efektif.

Lalu sejarahnya HIV ini dari mana?

Menurut penelitian ilmiah yang dipercaya, HIV diyakini berasal dari virus yang awalnya ada pada sejenis simpanse afrika.

Kenapa bisa pindah ke manusia?

Belum bisa dipastikan kenapa, namun diperkirakan perpindahan virus dari monyet ke manusia ini terjadi karena perburuan dan kebiasaan menjadikan hewan liar tersebut menjadi santapan. Bushmeat istilahnya. Selain itu, penyebab lain penularan virus cikal bakal HIV ini diduga juga karena belum higenisnya praktik kesehatan di Afrika jaman dulu.

Lalu dari sinilah terjadi penularan lanjutan antara manusia ke manusia lain disertai dengan evolusi dari virus yang sebelumnya dari monyet tersebut menjadi HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

Ada teori konspirasi yang bilang kalau HIV sebenarnya dikembangkan oleh CIA sebagai alat genosida untuk kaum kulit hitam dan gay di Amerika. Teori tersebut sejauh ini masih tidak didukung bukti yang kuat. Penelitian genetika bahkan menunjukkan awal mutasi virus dari monyet ke manusia tersebut kemungkinan besar terjadi sekitar tahun 1910an. Dokumentasi paling awal HIV pada manusia tercatat pada tahun 1959 di negara Kongo. Di Amerika Serikat,penyebaran HIV diteliti secara ilmiah sejak 1981. Di Indonesia sendiri, HIV ditemukan dan mulai diteliti secara keilmuan sejak tahun 1983.

Pertanyaan besarnya sekarang adalah, kenapa HIV/AIDS diidentikkan dengan LGBT?

Sebenarnya asumsi di atas salah. HIV/AIDS tidak identik dengan LGBT. Tapi HIV/AIDS identik dengan dengan PRIA GAY.

Kenapa? Karena sejarahnya memang begitu. HIV/AIDS awalnya memang menular di kalangan komunitas gay. Penyakit ini bahkan pada mulanya disebut GRID (gay-related immune deficiency) sebelum akhirnya menjadi AIDS.

Banyak negara melarang mereka yang gay menjadi donor darah juga karena asumsi tersebut. Walaupun saat ini di beberapa negara larangan tersebut sudah dicabut. Menteri Kesehatan RI tahun 1980an – Dr. Soewandjono Soerjaningrat bahkan pernah menyatakan pencegahan AIDS terbaik adalah tidak ikut-ikutan jadi homoseks.

Jadi ya begitulah. HIV/AIDS identik dengan gay karena sejarahnya.

Lalu sekarang bagaimana? Sekali lagi saya tidak begitu mengerti data statistiknya. Yang jelas penderita HIV/AIDS sekarang sudah menjadi pandemik yang menyebar di berbagai rentang usia, gender, orientasi seksual dan kawasan.

Tapi kenapa masih ada asumsi bahwa gay lebih mudah tertular dan menularkan HIV?

Ada beberapa alasan.

Anal Sex
Penelitiannya memang begitu. Hubungan seks secara anal lebih beresiko menularkan penyakit seksual karena anus tidak punya proteksi terhadap resiko penularan penyakit karena hubungan seksual seperti vagina karena memang fungsi aslinya bukan itu. Selain itu, struktur anus juga menjadikannya rentan sobek/terluka ketika terkena gesekan secara masif. Sementara kita tahu, HIV menular melalui cairan tubuh termasuk darah. Dan sebagaimana kita mahfum, anal seks jadi adalah aktifitas yang lebih sering didapati pada pasangan gay dibandingkan pasangan heteroseksual.

Seks Tanpa Kondom
Pasangan gay (diduga) lebih abai terhadap penggunaan kondom karena ketiadaan resiko kehamilan. Karenanya, resiko penularan penyakit seksual termasuk HIV/AIDS juga menjadi lebih rentan. Misalnya ketika pasangan menyatakan dirinya sehat dan aman dari penyakit seksual, maka yang gay akan lebih gampang percaya dan tidak menggunakan kondom, padahal bisa saja klaim pasangannya tersebut tidak benar. Sementara untuk pasangan heteroseksual, meskipun diyakini sehat dan aman, penggunakan kondom tetap acap ada karena menghindari atau menunda kemungkinan kehamilan.

Gonta-ganti Pasangan
Ini mungkin stereotif (saya, contohnya, tidak seperti itu), tapi laki-laki dianggap lebih mudah gonta-ganti pasangan. Bayangkan pasangan yang terdiri dari 2 orang laki-laki? Maka kemungkinan gonta-gonta pasangannya juga menjad dua kali lipat. Dus, resiko penyebaran penyakit juga menjadi berlipat.

Sejarah
Seperti paparan sebelumnya di atas, HIV menyebar secara masif lebih dulu di komunitas gay jauh sebelum penelitian dan penanganan secara medisnya dilakukan. Akibatnya sedari awal, resiko penyebaran di kalangan pasangan gay lebih tinggi karena populasi sumbernya juga telah lebih dulu banyak. Ibarat tanaman, bibitnya sudah tertanam di situ duluan, jadi sudah berakar lama. Memang sekarang menyebar ke mana-mana, tapi akarnya ya di situ.

Nah, sudah ya. Sekilas tentang kenapa HIV/AIDS diidentikkan dengan LGBT (khususnya gay) sudah bisa sedkit banyak difahami. Tidak ada salahnya mengetahui sesuatu sebelum memutuskan pendapat pribadi terkait hal-hal yang menjadi kontroversi.

Salah dan khilaf mohon maaf, wabilllahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat Kepada Walikota Terpilih

6 Maret 2016 pukul 20.41 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Kota tetangganya Banjarmasin baru saja mendapat walikota baru hasil pilkada kemarin. Alhamdulillah, seperti biasa pada umumnya di Kalimantan Selatan prosesi pemilihan mulai dari pencalonan, kampanye hingga pelantikan tidak ada masalah yang berarti.

 

Tapi setelah dilantik justru ada satu hal yang menganggu benak.

Di mana-mana mulai dari pusat kota hingga sudut-sudutnya, betebaran spanduk, baliho, poster ucapan selamat kepada walikota baru yang hampir semuanya berasal dari pengusaha, bisnis dan organisasi-organisasi/LSM/paguyupan something-something.

 

Ada yang salah kah?

Semoga tidak. Tapi ini tentang politik. Dan di politik tidak ada makan siang gratis. Pemasangan baliho dan sejenisnya itu tidak murah. Biaya sewa reklame di tengah jalan raya saja bisa mencapai belasan juta.

 

Lalu buat apa?

Ucapan selamat oleh pengusaha/bisnis/organisasi itu bukan sekedar doa. Itu pengingat. Towelan-towelan halus kepada yang dituju. Hei, hei, jangan lupa sama saya ya. Situ sudah menang, sudah jadi walikota, jangan lupa kemaren pas masih mau calon janjinya apa. Jangan lupa kemaren sebelum maju sowannya juga sekalian ada yang diminta. Begitu.

 

Belum lagi sepertinya kewajiban instansi pemerintah setempat memasang spanduk serupa di depan kantor mereka masing-masing.  Yang memprihatinkan, spanduk-spanduk ini juga dipajang di depan sekolah-sekolah dasar. Mengerti apa anak-anak SD itu tentang politik? Selama ini institusi kesehatan dan pendidikan masih tidak terjamah aksi politik pencitraan tapi sekarang semuanya berubah.

 

Tapi semoga saja ini sekedar kekhawatiran belaka. Semoga pemimpin yang terpilih setidaknya tidak lupa klien utama mereka yang mana. Bukan yang ketika kampanye jadi pemodal penggerak massa. Klien utama mereka adalah rakyat yang berhak untuk bahagia.

Mengatasi Kesulitan Menggunakan Chrome Pada Layar Touchscreen Windows 10

6 Maret 2016 pukul 20.32 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Setelah sekitar dua hari mencari penyebab kenapa browser Google Chrome tidak bisa digunakan dengan baik di touchscreennya laptop. Ternyata masalahnya ada pada kompabilitas Chrome di Windows 10 yang masih belum sempurna.

Solusinya, pada laman Chrome ketikkan chrome://flags

Lalu cari opsi Enable Touch Events flag.

Ganti opsi Automatic jadi Enable.

Restart Chrome.

Jokowi dan The Trans-Pacific Partnership (TPP)

6 November 2015 pukul 19.42 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Beberapa minggu lalu, ramai kabar soal Presiden Jokowi yang berniat bergabung dengan The Trans-Pacific Partnership (TPP). Heboh karena sebelumnya dikabarkan bahwa Presiden SBY justru menolak ikut dalam perjanjian tersebut. Lalu seperti biasa, banyak para pengamat dadakan yang pro dan kontra dibumbui dendam lama pasca pilpres.

Tapi tumben sih memang, pro-kontra TPP ini kurang heboh di level muggles. Sebagian besar akun-akun yang biasanya nyinyir seliweran di socmed nampak kurang gencar kali ini. Mungkin, karena memang urusan TPP ini sedikit lebih sulit difahami dan sukar dijadikan bahan perang terbuka.

Jadi, sebagai bekal untuk kalian para muggles yang ingin sedikit banyak ikut dalam debat ini, mari kita sama-sama pelajari apa itu TPP dan kenapa ia jadi kontroversi.

TPP alias The Trans-Pacific Partnership adalah sebuah sebuah perjanjian dagang dan ekonomi yang sedang dirancang oleh beberapa negara termasuk Amerika Serikat. Selama beberapa lama, draft perjanjian dalam TPP ini terkesan dirahasiakan dan hanya dibahas dalam forum-forum tertutup. Akibatnya, muncul banyak rumor yang akhirnya menimbulkan kontroversi.

Di antara rumor terkait isi TPP ini adalah bahwa perjanjian tersebut hanya akan menguntungkan perusahaan besar dan mengabaikan hak individu warga negara pesertanya. TPP juga diisukan berpihak pada korporasi besar multinasional dan merugikan pengusaha kecil.
Juga ada isu pasal yang membuat korporat akan dapat menuntut suatu negara jika kebijakan negara tersebut dianggap merugikan usaha mereka. Dan yang termasuk menjadi isu penting dari TPP di kalangan pengguna internet adalah perjanjian terkait hak cipta dan pembajakan serta privasi di dunia maya.

Sudah. Itu saja sebenarnya. Mereka yang koar-koar pro kontra itu haqul yakin saja juga belum membaca draft lengkapnya.

Masalah muncul karena pembahasan yang tertutup tadi. Kenapa dirahasiakan? Ada apa sebenarnya? Jangan-jangan ada jangan-jangan nih. Begitu.

Nah, draft lengkap TPP baru saja dirilis untuk publik beberapa hari lalu. Isinya ampun panjang sangat. Membaca daftar isinya saja bisa memakan waktu 10-15 menit. Belum lagi bahasa yang dipakainya berbelit-belit sebagaimana bahasa hukum biasanya.

Silakan dibaca kalau merasa perlu. Kalau merasa tidak perlu baca, ya silakan juga. Muggles memang begitu. Dimengerti saja. Iya kan?

View story at Medium.com

Beberapa yang Tersisa dari L.A. Lights Meet the Labels 2014 Regional Banjarmasin

17 September 2014 pukul 09.21 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

“Ngapain mabuk ? Musisi top itu terkenal dulu baru mabuk, Lu terkenal aja belum udah mabuk-mabukan.”

Entah kenapa kalimat itu terus yang teringat di kepala selama beberapa saat ketika menyaksikan L.A Lights Meet the Labels 2014 regional Banjarmasin hari minggu 7 September kemarin. Itu kalimat diucapkan kawannya Abdee Negara yang kesal melihat kelakuan si Abdee sebelum terkenal dan jadi gitarisnya Slank.

Kenapa malah kalimat itu yang terngiang? Sekali lagi entahlah. Mungkin karena melihat para peserta program offline L.A Lights Meet the Labels yang keluyuran tanpa lepas kacamata hitam padahal pagi itu cuaca sedang mendung-mendungnya. Atau karena menyaksikan para mbak-mbak muda kelayapan ke sana kemari ngintilin mas-mas yang bawa gitar atau stik drum macam groupie-wanna-be. Atau sederhana saja, karena iri😛

Lalu mendadak teringat, kalimat di atas pertama terbaca adalah pada medio akhir 90-an. Di sebuah majalah yang sedang khusus mengulas Slank. Ah iya, mungkin rasa tidak nyaman ini juga karena faktor usia. Ada yang sudah tua, dan terperangkap di tengah-tengah mereka yang masih (merasa) muda.

Jadi sudahlah. Terlepas dari niatan para peserta L.A Lights Meet the Labels Banjarmasin ini, entah mau terkenal, entah mau kaya, entah mau punya banyak pacar dan lain sebagainya, yang jelas acara ini sungguh membuka banyak jalan bagi para musisi lokal luar Jawa untuk bisa mengejar mimpi mereka. Seperti yang sejak awal diutarakan, Meet the Labels diadakan karena disadari, ada kesenjangan di Indonesia. Antara Jawa dan luar Jawa, di mana yang satu berlimpah kesempatan dan sarana prasarana, sementara yang lain cenderung dipandang sebelah mata bahkan kadang dianggap tidak ada. Jadi acara ini dimaksudkan untuk menjadi jembatan bagi perusahan rekaman menjemput bola, mendatangi kota-kota di sudut kanan dan kiri Indonesia, dan melihat bahwa mungkin saja ada di sini bakat-bakat musik yang luar biasa.

Dan benar saja, dari sekitar 50-an band, duo dan musisi solo yang tampil di depan juri perwakilan label-label ternama Indonesia hari itu, banyak yang skill musik mereka cukup mumpuni. Para juri yang terdiri dari mas Iman (Universal), mas Ali (AlfaRecords) & dan Richard (267Musikindo) berulang kali sempat memuji para musisi yang tampil. Contoh salah satunya adalah mbak Putri, drummernya The Pabo yang sempat diminta tampil solo memperlihatkan skill menggebuk drumnya.

DSCF5249 aAda juga band yang isinya bidadari semua, Calysta, yang dibilang secara visual sudah cukup menjual. Tinggal perlu peningkatan skill musik masing-masing personil serta memilih genre yang tepat. Soalnya waktu tampil di panggung, mbak-mbak ini bawain lagu yang lumayan keras. Padahal menurut mas Iman, cocoknya mereka membawakan lagu-lagu yang kesannya manis.

calistaTapi ya itu tadi. Kelemahan musisi lokal biasanya ada dua; kurang pengalaman tampil di panggung dan kurang percaya diri. Selain itu, menurut mas Ali, yang penting diperhatikan calon pemusik profesional adalah soal hati. Jaman sekarang, kalau ada kelemahan tekhnis itu gampang diperbaiki. Peralatan studio musik sudah digital semua. Suara miring-miring dikit, autotune ada. Muka rada kucel tinggal make-up sama kostum maksimal sudah bisa. Tapi soal hati, ini yang tidak bisa pura-pura. Mau pas perform, mau pas bikin lagu, kalau tidak pakai hati, ya tidak bisa dinikmati.

Soal hati ini juga yang banyak dibahas waktu Sharing Season L.A Lights Meet the Labels Banjarmasin ini. Selain tiga orang juri dari perwakilan labels, sharing season yang dilaksanakan malam hari sebelum pengumuman Golden Tickets ini juga diisi oleh 3 orang bintang tamu; Kiki the Potters, Steven dari Steven Jam sama Firza Idol. Hampir semuanya menekankan pentingnya main musik pake hati.

sharing season

Selain itu, disinggung juga soal pentingnya sabar. Ada cerita tentang Sheila on 7 yang kaset demo mereka mengendap selama dua tahun di gudang label sebelum akhirnya ada satu produser yang iseng bongkar-bongkar dan akhirnya tertarik merekrut mereka rekaman. Juga Kiki the Potters yang menceritakan, bahkan setelah resmi dikontrak, mereka masih harus menunggu 1,5 tahun sebelum master album pertama mereka selesai direkam, dan setelahnya, harus menunggu 1 tahun lagi sampai single promo pertama mereka dilempar ke pasaran.

Dari sisi tekhnis, calon musisi yang ingin mengirimkan sample musik mereka ke label diingatkan untuk serius dalam packaging. Jangan cuma mengirimkan CD dan data band. Tapi juga cantumkan hal-hal lain yang dirasa bisa menarik.

Juga perbedaan-perbedaan jenis kontrak antara artis dan perusahaan rekaman. Diantaranya tipe Direct Signing dimana semuanya dihandel label, mulai dari rekaman, hak cipta, promosi sampai akomodasi konsumsi. Lalu ada tipe kontrak Master licence, yaitu ketika copyright lagu dimiliki artis tapi biaya produksi lagu juga ditanggung artis yang bersangkutan sementara label menangani urusan promosi. Serta tipe Join venture yang membagi biaya yang serta keuntungan yang ada secara persentasi.

Diingatkan pula, sekarang jamannya media sosial berpengaruh besar. Perusahaan rekaman juga sedang aktif memantau internet. Karenanya mereka yang ingin punya kesempatan lebih besar untuk menjadi profesional harus rajin upload video dan rekaman mereka di media-media yang tersedia.

Setelah Sharing Season selesai, akhirnya diumumkan 3 band yang berhak menerima Golden Ticket rekomendasi untuk maju ke 50 besar nasional L.A Lights Meet the Labels. Mereka adalah Querty, The Mafia dan LOL. The Mafia sejak awal sudah saya prediksi sih, dibuktikan dengan twit saya pagi ketika mereka tampil. Keren soalnya.

winnerAkhirnya L.A Lights Meet the Labels regional Banjarmasin ditutup dengan penampilan Steven dari Steven Jam yang reggae abis, dan Virza Idol yang membawakan lagu Somebody That I Used to Know dan Kangennya Dewa 19. Sial memang. Mana acara ini diadakan di Kawasan Wisata Kuliner Kayutangi Banjarmasin yang dekeeeet banget sama kampus jaman S1 dulu. Lalu lah memori membuncah mendera hati… Halah…

Oh iya, satu lagi, kalau dari obrolan dengan kawan-kawan dari kota lain yang juga mengadakan L.A Lights Meet the Labels, salah satu keluhannya adalah kurangnya peserta cewek. Kalau di Banjarmasin, separo lebih band yang tampil ada anggota perempuannya. Bahkan ada duo dan band yang isinya cewek semua. Jadi soal cewek dan pemandangan sepertinya tidak ada keluhan. Paling yang dipermasalahkan adalah panggung yang kelewat sempit dan tidak beratap, panas brai *_*

PicsArt_1410920649594

 

Untuk lebih lengkapnya sekalian aja ke http://meetthelabels.com gih. Banyak videonya juga di sana, lumayan buat ngayal😛

Cara Kenalan Dengan Mahasiswi Baru di Saat Ospek

3 September 2014 pukul 18.48 | Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar

Sudah musim ospek mahasiswi baru ya?

Baiklah, sepertinya sudah saatnya juga saya kembali menurunkan satu ilmu lagi kepada para pria yang merasa kesulitan mendekati wanita dan takut menderita jomblo permanen.

Masalah utama para pria dalam mencari (minimal) kawan perempuan biasanya adalah momentum. Dan pun ketika momentumnya didapat, malah bingung harus diapain.

Adik-adik dan kakak-kakak sekalian, momentum itu jangan dtunggu. Ciptakan!

Dan sekarang di saat-saat ospek seperti ini adalah salah satu saat yang tepat. Ospek adalah saat ketika mahasiswi-mahasiswi baru (yang kebanyakan ngekost) itu sedang labil dan mengalami banyak tekanan. Mereka akan selalu diburu-buru waktu. Diharuskan mencari ini itu di tempat yang mereka sendiri belum tau banyak. Lalu setiap hari harus mendesak-desak diri agar tidak terlambat mengikuti upacara pagi sambil menghadapi panitia-panitia yang sok terlihat tidak pakai hati.

Makanya kalau mau dapat cewek pas ospek, jangan jadi panitia.

Lalu?

Gampang. Pagi-pagi, menjelang waktunya mereka para mahasiswi baru ini harus tiba secepatnya di kampus. Kamu seliwiran aja di sekitaran kampus dan kawasan kos-kosan. Terserah, pake mobil atau motor. Cuma kalau bawa motor, ingat bawa helm tambahan.

Nanti, menjelang waktu masuk ospek itu akan ada banyak mahasiswi baru yang nyaris terlambat. Mereka biasanya juga belum sempat minta kirimi motor dari daerah asal jadi mesti jalan kaki. Nah, di sini lah kamu ceritanya pura-pura lewat dan menawarkan tumpangan biar tidak terlambat mengikuti ospek. Percayalah, mereka tidak akan menolak.

Kalau sudah mau nebeng kamu, ya tinggal ajak bicara tentang kampus barunya. Tanya-tanya. Lalu terakhir bilang aja kalau perlu bantuan diantar-antar lagi, hubungi kamu. Kasihkan nomermu. JANGAN MINTA NOMER DIA. Kasihkan aja nomer HPmu, tunggu dia yang menghubungi duluan.

Kalau sudah dilaksanakan begitu, selanjutnya ya terserah. Mau temenan aja atau dijadikan gebetan. Tergantung rencanamu menatap masa depan…

😛

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.