Bakumpulan Di Murjani Malam Minggu Ini

Juli 17, 2008 at 7:15 pm | In Uncategorized | 32 Comments

*buru-buru*

Malam minggu ini, tanggal 19 Juli 2008, segerombolan blogger yang mengaku keren dan cantik merencanakan berkumpul di Lapangan Murjani mulai sekitar pukul 7 ba’da magrib. Tidak ada agenda khusus, hanya sekedar bersilaturahmi menjelang Ramadhan (masih lama ya?)

Kalau bapak ibu sekalian berkenan untuk bergabung, silahkan. Tidak ada persyaratan khusus. Hanya saja, makan malam tidak dijamin :mrgreen: Tapi tenang, di sekitar Murjani banyak yang jual makanan, minimal ada 3 tukang jual pentol bakso di sana…

Konfirmasi bisa dilakukan melalui komentar di bawah, atau ke fadil_parker@yahoo.com, siapa tau ada yang tidak tau letak Lapangan Murjani *lirik qonieta*

Foto Murjani diambil dari Pakacil

Berhenti Mencaci Indonesia

Juli 11, 2008 at 11:53 pm | In Uncategorized | 47 Comments

Hampir setiap hari, setiap orang, mencaci maki Indonesia.

Merapalkan serapah benci, kutukan penuh isi dan penyesalan tiada terperi.

Mempertanyakan betapa sial diri terlahir di negeri ini. Negeri di mana demokrasi masih sekedar basa basi. Negeri yang menjungkir balikkan akal sehat, menipiskan iman, mendewakan penampilan kasat mata, dan negeri yang kebodohan dan kesombongan pemimpinnya jadi hiasan.

Di Indonesia, karunia yang ada di dalam tanahnya justru menjadi kutukan bagi manusia di atasnya. Dan kembali cacian terlontar untuk itu.

Di Indonesia, warga mati diisi peluru yang mereka beli dari uang pajak mereka sendiri, dan kembali tangisan darah mengiringi serapah.

Di Indonesia, sejak kecil anak diajar menilai diri sendiri melalui angka-angka tak berarti, dan dipaksa melupakan fitrah nurani imajinasi. Dan untuk itu, kembali penyesalan terlahir di negeri ini.

Di Indonesia, Hampir setiap hari, setiap orang, mencaci maki.

Tapi…

Sudahkah kita mendoakan Indonesia?

Seberapa sering dalam sujud kita terbersit Indonesia?

Setinggi apa tadahan tangan kita di tahajud malam yang dikhususkan untuk Indonesia?

Masuki Masjidmu, Gerejamu, Puramu, Wiharamu, Kuilmu, Hatimu, dan tanyakan, doa apa yang pernah ada di sana untuk Indonesia?

Tidak malukah kita, mencaci Indonesia, yang dititipkan kepada kita, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, namun tetap setia membiarkan kaki-kaki kotor kita menginjak tanahnya, paru-paru kita diisi udaranya, bahkan dua pertiga tubuh kita dibangun dari airnya.

Maka malam ini, saya ingin berdoa, untuk Indonesia…

Ya Allah, tuhan pencipta Indonesia
Ampuni saya, yang alpa mengingat, betapa Engkau membenci caci maki
Ampuni saya, yang lupa janji-Mu untuk selalu mendengar Do’a kami

Ya Allah, berilah Indonesia kedamaian sebenarnya
Lindungi manusianya dari segala bencana, bencana dari alam, maupun dari mereka sendiri

Ya Allah, berilah Indonesia keadilan sebenarnya
Jadikan Indonesia tempat semua lidah berani mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah

Ya Allah, berilah Indonesia pemimpin yang bijaksana
Jauhkan Indonesia dari pemimpin yang hanya bermodal pesona.
Turunkan hambamu yang mewarisi kebijakan Sulaiman, kearifan Ibrahim, cinta kasih Isa, keteguhan Musa, kesabaran Ayub, dan menteladani Muhammad sebagai pemimpin Indonesia.

Ya Allah, hindarkan anak-anak Indonesia dari segala kebodohan dan kebencian, jauhkan dari pengaruh buruk para tua, namun biarkan mereka belajar menjadi dewasa dalam arti sesungguhnya.

Ya Allah, berikan saya petunjuk, untuk menjadikan Indonesia, lebih baik…

Amin

Caci maki, sumpah serapah dan umpatan yang kita lontarkan setiap hari, akan menyatu di udara, menuju langit, menjadi doa yang buruk bagi Indonesia. Karena itu, mulai saat ini, mari belajar untuk berhenti mencaci Indonesia.

Update:

Sebenarnya tidak diniatkan, tapi karena kebetulan momentnya pas, posting ini saya ikutkan saja pada Kontes Blogging HUT RI ke-63 yang diadakan Masbro Iwan. Menang syukur, kalah ya serapah :mrgreen:

Let Me Be

Juli 9, 2008 at 9:02 pm | In Uncategorized | 18 Comments

Let me be a poet tonight
Let me make your heart alight
Let me shine you so bright
Let me take you first class flight
Let me treat you right
Let me have your sight

Let me stare at your eyes
Let me be so wise
Let me see you smile, so nice
Let me watch the sun set and rise
Let me melt the ice
Let me crown you your prize

I somehow know
Things you really wanna show
that for you I’m not that low
That for you I have that glow
That for you I’ll be your prow
That we’ll have what people grow

Punyanya AMED, saya comot semena-mena karena sedang cucok dengan suasana…

Nomer Telpon Asmirandah?

Juli 7, 2008 at 10:12 am | In Uncategorized | 40 Comments

Tau ah, pokoknya dia cuantik banget!!

Update:
Sudah saya SMS, dan DIBALAS!!!
Begini katanya:
Duhh kamu, kok Cuma sms doang yaa. gak mau sms an ahh, telpon dong. biar aku yakin itu kamuu.. Muachh

Serius, saya ga becanda, emang begitu sms balasannya. Hebat ya strategi promosi sekarang. Tapi apa tujuannya, entahlah. Pas saya telpon nomernya, ga aktif terus…

Oh, Andah…

Musuh Terakhir

Juli 5, 2008 at 12:43 pm | In Uncategorized | 25 Comments

Menjalani sebuah petualangan penuh tantangan. Satu kemenangan yang terus disusul perjalanan berikutnya yang lebih menyulitkan.

Melawan musuh-musuh tak terbayangkan.

Mulai dari sekedar jamur berkaki yang harus dilompati, hingga monster berkepala calon mertua.

Semua sudah dilewati.

Hingga tiba pada musuh terakhir, yang ternyata…

Saya sendiri…

dan ramalannya menyebutkan: “neither can live while the other survives”.

Yang Saya Baca Hari Ini

Juli 3, 2008 at 3:14 pm | In Uncategorized | 20 Comments

The great question… which I have not been able to answer… is, “What does a woman want?”
- Freud

The most happy marriage I can picture would be the union of a deaf man to a blind woman.
- Coleridge

The husband who wants a happy marriage should learn to keep his mouth shut and his checkbook open.
- Groucho Marx

Marriage is like a cage; one sees the birds outside desperate to get in, and those inside desperate to get out.
- Montaigne

If you never want to see a man again, say, “I love you, I want to marry you, I want to have children…” - they leave skid marks.
- Rita Rudner

Yang lainnya:

A man is not complete until he is married — then he is finished.

Marriage is not a word. It is a sentence (a life sentence!).

Marriage is the sole cause of divorce.

All marriages are happy - it’s the living together afterward that causes all the problems.

There was a man who said, “I never knew what happiness was until I got married…. and then it was too late!”

***

Walah, saya tidak bisa berkomentar apa-apa hari ini..

Bagaimana kalau, ANDA yang berkomentar, minimal pilih quote yang mana yang paling ANDA suka…

Semua quotes diambil dari sini

Ya Kamu…

Juli 2, 2008 at 12:38 am | In Uncategorized | 22 Comments

Aduh, mata kamu itu…
Saya rela melakukan apa saja asal bisa memandang mata itu setiap malam sebelum terlelap…
Dan untuk semua air mata yang pernah menciptakan pelangi di sana, saya meminta maaf…

Cari Suami Yang Sama Islam, Minimal Muh***adiyah…

Juni 30, 2008 at 9:08 pm | In Uncategorized | 22 Comments

Disclaimer: Tulisan ini tidak bertujuan merendahkan, atau membandingkan, atau mengungkit masalah. Permintaan maaf terlebih dahulu diajukan atas segala kemungkinan munculnya masalah dikemudian hari. Tulisan dapat direvisi jika ada permintaan yang masuk akal.

***

Malam itu perbincangan berjalan santai antara dua teman yang tidak begitu akrab. Pembicara pertama menceritakan pengalamannya bekerja di suatu daerah di Kalimantan.

Satu : Ceweknya bro, wuuiihhh, mantabs! Tiap sore lo tinggal nangkring di tepi jalan, puas dah liat paha mulus seliweran…

Dua : Di tipi juga banyak mas kalo cuma paha, kalo mau lebih tinggal ke bb17 dot info pula…

Satu : Beda lah bro, paha yang ini bisa didekatin trus bisa dipacarin.. Gue aja sempet pacaran sama 3 orang selama dua bulan di situ… Slllrrppp

Dua : Ah, di sini juga saya bisa pacaran sama 4 orang dalam minggu yang sama mas…

Satu : Payah lo, nyela aja.. Tapi di situ susah nyari masjid bro.

Dua : Ah, perasaan banyak ko di situ masjid

Satu : Ga bro, pas gue sholat di situ, sholatnya aneh, ga biasa. Ternyata itu bukan masjid orang kita Islam bro, Masjid Muhammadiyah.. Terpaksa deh gue pindah masjid nyari yang masjid kita

Dua : Heh? Muhammadiyah kan Islam juga mas?

Satu : Bukan begitu, tapi kan memang beda.

Dua : Bedanya dikit, banyakan samanya mas..

Satu : Tetep aja beda, rasanya ga afdol…

Dua : Trus jadinya gimana? Nemu masjid KITA-nya?

Satu : Ga ada juga

Dua : Jadi?

Satu : Ya saya batal sholat…

Dua : …

***

Pembicaraan tersebut mengingatkan saya pada satu tulisan milik Ayahnya Vokalis Letto, tentang petuah orang madura kepada anak perempuannya. Menurut Cak Nun, dulu, orang madura yang terkenal kuat beragama sangat ketat dalam memilih calon suami anak perempuannya.

Pernikahan harus dilakukan dengan pria seagama, sealiran, seguru, semahzab, dan se-ormas.

Namun beberapa tahun belakangan, ketatnya aturan itu mulai sedikit berkurang. Cak Nun menulis, petuah mereka sekarang berubah jadi:

“Kalo cari suami harus yang sama Islam, minimal Muhammadiyah…”

Walah, saya langsung nyengir ketika membaca tulisan Cak Nun yang terdapat pada bukunya Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997) yang sampai sekarang masih dipinjam warmorning itu. (Buku saya apa lagi yang ada ditempatmu bos??)

Saya jadi berpikir, sebesar dan sepenting apa perbedaan dalam suatu keyakinan itu berpengaruh, dan kenapa perbedaan itu ada?

Saya dibesarkan dalam kultur Nahdlatul Ulama, namun untungnya orang tua saya tidak pernah menjelaskan kepada saya bahwa keluarga kami keluarga NU. Orang tua saya tidak pernah mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang kerap terjadi antara beberapa aliran dalam agama saya ini. Ayah saya hanya kerap menyatakan, yang paling penting adalah saya harus memilih yang saya rasa benar tanpa perlu menyalahkan orang lain.

Karena itu, saya menjadi seseorang yang berpikir cukup terbuka. Tidak ada masalah bagi saya apakah seseorang itu NU, Muhammadiyah, Syiah, Sunni, Katolik, Budha, Atheis, atau …

Dua mantan perempuan saya Muhammadiyah :mrgreen:
Dua lagi nasrani
Beberapa lainnya kemungkinan atheis atau penganut Flying Spaghetti Monster
Dan tidak ada masalah untuk itu

Sekolah saya dulu separuh siswanya memiliki nenek moyang dari daratan peking sana. Hasilnya? Hampir setiap hari saya makan siang ditraktir teman yang berbeda. Karena rata-rata orang tua teman saya memiliki restoran, toko CD dan kaset, distributor buku, dealer mobil motor, dan lain sebagainya. Mungkin ini juga yang memupuk jiwa CDG (Cowo Doyan Gratisan) saya tumbuh subur.

Sayangnya, sama seperti apapun di dunia ini, tidak semua berpikiran sama.

Entah berapa juta nyawa yang hilang karena alasan perbedaan sedikit dalam keyakinan.

Entah berapa dada yang dipenuhi dendam karena latar belakang perang paling berpengaruh dalam sejarah dunia; Perang Salib.

Entah berapa cinta yang cabik binasa karena perbedaan opini siapa yang seharusnya menjadi Khalifah Pertama.

Sampai sekarang saya tidak mengerti, masa iya sih, ada orang normal yang lebih menyenangi kondisi konflik daripada damai??

“Differences…are nothing at all if our aims are identical and our hearts are open” - Albus Dumbledore

Spanyol Juara! Lalu Kenapa Saya…

Juni 30, 2008 at 10:51 am | In Uncategorized | 19 Comments

merasa kasihan dengan dengan Raul Gonzales… ?

Tak Mungkin Tak Pernah

Juni 27, 2008 at 4:47 pm | In Uncategorized | 36 Comments

*Menjura kepada Pakacil*

Setelah hampir 7 tahun pencarian, putus asa, bangkit dan kembali mencari, gagal lagi, dan terus mencoba berusaha.. Akhirnya, saya menemukannya! (lebih tepatnya, Pakacil menemukannya :mrgreen: )

Sebuah lagu, sederhana, bahkan ternyata tidak begitu dikenal hingga begitu sulit mencarinya.

Sebuah lagu yang saya dengar pertama kalinya bertepatan dengan awal masa kuliah saya. Dan akhirnya, menjadi semacam soundtrack bagi perjalanan saya selama beberapa tahun. Lirik yang menjadi patokan ketika harus menghempas harapan dan mimpi mereka sekali lagi.

Mengingat saat-saat melangkah pergi dan menegakkan logika untuk tidak lagi menoleh ke arahnya.

Entah sudah berapa mata yang harus basah gara-gara lagu ini belaka…

Karena itu, pada kesempatan ini, satu kata terucap pada semua perempuan itu, Maaf

No Limit - Tak Mungkin Tak Pernah

Dulu kita pernah janjian
Tak perlu ada ikatan
Dulu kita pernah setuju
Tak perlu rasa cemburu

*

Tapi kamu
Ingin lebih dari itu

Aku tak mungkin bisa
Memberikan hatiku sepenuhnya
Dan aku tak pernah bisa
Mencintaimu
Mencintai kamu

Kita memang sering bercinta
Dan tak pernah mengenal batasnya
Bukan karena aku memaksa
Kau dan aku sama-sama suka

Unduh lagunya di sini. Kalau kata teman saya, lagu ini LIBERAL!

Kalau kata saya: take my body, keep away from my heart…

Catetan: Tapi itu dulu. It WAS…

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.