Sejarah Bahasa Inggris Sebagai Bahasa Asing di Indonesia
Juni 9, 2011 pukul 11:25 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 12 KomentarBahasa Inggris di Indonesia secara umum diajarkan sebagai bahasa asing. Istilah ‘bahasa asing’ dalam bidang pengajaran bahasa berbeda dengan ‘bahasa kedua’. Bahasa asing adalah bahasa yang yang tidak digunakan sebagai alat komunikasi di negara tertentu di mana bahasa tersebut diajarkan. Sementara bahasa kedua adalah bahasa yang bukan bahasa utama namun menjadi salah satu bahasa yang digunakan secara umum di suatu negara.
Sebagai contoh, bahasa Inggris di Singapura adalah bahasa kedua. Media massa, komunikasi, dan pembicaraan di negara tersebut kerap menggunakan bahasa Inggris.
Sementara Bahasa asing biasanya diajarkan sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dengan tujuan berkomunikasi dasar serta menguasai 4 skill berbahasa (menyimak, membaca, menulis, berbicara) dalam bahasa tersebut dalam batasan tertentu.
Di Indonesia, kebijakan pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing berubah seiring waktu dan pergantian kebijakan yang kebanyakan dipengaruhi ekonomi dan politik.
Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari sejarah Bahasa Inggris di Indonesia…
Jaman Belanda
Pada masa peperangan dengan Belanda, Bahasa Inggris diajarkan di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yang setara dengan SMP dan AMS (Algemeene Middlebare School) yang setara dengan SMA.
Pada masa ini, selain anak-anak Belanda, hanya orang-orang pribumi tertentu yang mampu dan diijinkan bersekolah di MULO dan AMS. Sebagian besar anak pribumi biasa hanya sekolah hingga tingkat yang setara SD saat sekarang.
Kondisi ini turut mempengaruhi pengajaran Bahasa Inggris.
Dan jangan salah, kondisi sekolah pada jaman Belanda ini konon sangat bagus. Guru-guru mendapat gaji besar, material pengajaran mencukupi, dan sistem pengajaran dan ujian sangat berkualitas. Wajar, karena sebagian besar yang sekolah hanyalah orang-orang berduit, terpandang, atau anak orang Belanda.
Lulusan MULO biasanya mampu berbahasa Inggris dengan sangat baik. Selain itu, mereka juga wajib menguasai bahasa Belanda serta memilih pelajaran bahasa pilihan Prancis atau German, serta bahasa lokal (Jawa/Melayu).
Namun membandingkan kondisi pengajaran di sekolah pada jaman Belanda dan sekarang tidaklah adil, karena saat itu, sekolah bersifat elit dan kemewahan adalah bagian dari elitisitas tersebut.
Jaman Jepang
Pada masa peperangan dengan Jepang, kondisi sebaliknya terjadi. Bahasa Belanda, Inggris, dan bahasa Eropa lainnya dilarang total digunakan di Indonesia. Semua buku yang berbahasa tersebut dimusnahkan dan dibakar. Sedihnya, keputusan pembakaran buku ini berdampak hingga saat ini, di mana sangat sedikit referensi sejarah yang bangsa Indonesia miliki tentang negerinya sendiri.
Sisi lainnya, Jepang merubah secara radikal sistem pendidikan, dari elitis menjadi egalitarian. Semua orang harus sekolah.
Selain itu, bahasa Jepang diajarkan secara intensif dan bahkan ditargetkan menjadi ‘bahasa kedua’ di Indonesia. Ditambah, pada masa Jepang ini lah banyak buku-buku asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Jaman Kemerdekaan
Bahasa Inggris secara resmi diajarkan sebagai bahasa asing di sekolah-sekolah Indonesia seiring dengan keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1967.
Sejak saat itu, perubahan menteri, kurikulum, keadaan politik, ekonomi dan perkembangan ilmu pendidikan, terus mewarnai perkembangan pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia.
Mulai dari sistem pengajaran di mana siswa diwajibkan menghapal sekian ratus kata dan artinya dalam waktu tertentu, menguasai grammar, lalu berubah ke orientasi bahasa Inggris untuk komunikasi, sampai ke isu pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak saat ini.
Yang perlu menjadi catatan adalah dana trilyunan rupiah yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan beragam pelatihan, seminar, peningkatan kualitas guru, perubahan kurikulum, pengadaan fasilitas bahasa semacam laboratorium hingga kamus dan semacamnya. Sebagian dari usaha ini membawa hasil positif, sebagian lainnya tidak jelas.
Mulai dari pendirian model pelatihan ekperimental yang disebut Standard Training Course (STC) di Bukit Tinggi dan Yogyakarta pada tahun 1950an (catatan penting: didanai oleh Ford FOundation), lalu pendirian Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Malang yang lalu berubah menjadi IKIP malang (sekarang Uiversitas Negeri Malang), hingga kontroversi Sekolah Berstandar Internasional saat ini.
Masalahnya adalah, konon sebagian besar dana yang digunakan untuk proyek-proyek pendidikan ini berasal dari pinjaman luar negeri, dan tentu saja, harus dikembalikan.
Beberapa catatan
Pada tahun 1960-an, ada dua kementrian yang mengurusi masalah pendidikan di Indonesia, yaitu Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan serta Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan. Celakanya, konon kedua pejabat tersebut saling berbeda pandangan, yang satu cederung kiri yang lain cenderung nasionalis. Dan hal ini turut mempengaruhi perkembangan pendidikan di Indonesia.
Kondisi politik 1960-an di mana faham komunis berjaya, membuat sebagian besar tenaga pengajar asing (khususnya dari negara barat) meninggalkan Indonesia, dan menciptakan kesenjangan proses perkembangan pendidikan.
Kontroversi pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Sebagian pihak berpendapat mengajarkan bahasa Inggris pada siswa SD akan sangat bagus bagi perkembangan anak ke depannya. Namun di sisi lain, perbedaan kondisi sosial, ekonomi dan geo-politik daerah-daerah di Indonesia, menciptakan perbedaan kualitas sekolah dan latar belakang siswa, sehingga ada siswa-siswa yang jangankan berbahasa Inggris, bahasa Indonesia dasar saja mereka belum menguasai secara baik.
Bahasa Inggris adalah bisnis yang besar. Jutaan dolar mengalir ke negara produsen material pengajaran Bahasa Inggris (USA, UK, Australia) dalam bentuk pembelian materi audio-visual, buku, sumber daya manusia dan lain-lain.
Bantuan-bantuan dari negara tersebut di atas dalam bentuk proyek pelatihan bahasa Inggris, beasiswa dan sebagainya bukanlah ketulusan. Semakin banyak penguasa bahasa Inggris di negara ini, semakin mudah penyebaran faham dan ideologi mereka. Ditambah, hubungan ekonomi, politik, bisnis, akan lebih gampang jika dilakukan dalam bahasa yang sama.
Masalah utamanya, adalah; Siswa mempelajari bahasa Inggris di Indonesia tanpa tujuan yang jelas. Untuk berkomunikasi? Untuk ke luar negeri? untuk nilai?
Pendapat pribadi
Saya pribadi berpendapat, selain menggiatkan pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, kita juga harus memperbanyak penerjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Indonesia. Kemajuan yang di dapat dari memperbanyak buku terjemahan menurut saya pribadi akan jauh lebih besar dibandingkan dengan pengajaran bahasa Inggris kepada orang Indonesia.
Memperkuat kecintaan terhadap bahasa Indonesia juga perlu dilakukan. Jika para orang asing itu ingin berbisnis di sini, mencari keuntungan di sini, ya usaha dong, belajar bahasa sini. Masa iya kita yang harus bersusah payah belajar bahasa mereka?
Tapi tentu saja, belajar bahasa asing itu tidak akan pernah salah, hanya saja, pertanyakan dulu, untuk apa kita mempelajarinya…
***
- A Concise History of Teaching English as a Foreign Language in Indonesia – Eugenius Sadtono (Widya Mandala Surabaya Catholic University)
- http://en.wikipedia.org/wiki/English_as_a_foreign_or_second_language
- http://id.wikipedia.org/wiki/Kabinet_Kerja_III
12 Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.


saya mengalami sistem pengajaran yang menurut saya acakadut pas SMP dan saya menyalahkan sistem itu sebagai penyebab hancurnya grammar saya.
Buat saya pribadi, belajar bahasa inggris itu perlu karena saya ingin menikmati buku dalam bahasa aslinya…
Comment by itikkecil— Juni 9, 2011 #
Ayah saya bersemangat sekali menyuruh saya untuk les bahasa Inggris. Beliau menginginkan saya menguasai bahasa tersebut. Katanya bahasa Inggris itu penting. “Menguasai bahasa Inggris bisa menjadi nilai plus kamu,” kata Ayah saya. Sayangnya, kemampuan bahasa Inggris saya nanggung. Gak jago2 amat. Parahnya, udah bahasa Inggris pas-pasan eh bahasa Indonesia saya juga jelek. Haduh. *tepok jidat*
Comment by Kimi— Juni 10, 2011 #
Seandainya kita dijajah Inggris terus, tanpa Belanda, mungkin negara ini bisa jadi seperti Malaysia…
Comment by Asop— Juni 10, 2011 #
IMHO malah sebaiknya gak dijajah siapapun biar kita mengembangkan bahasa Indonesia sendiri
Comment by Ceritaeka— Juni 23, 2011 #
IMHO malah sekarang kita dijajah bangsa sendiri
Comment by AnDo— Juli 9, 2011 #
Tes ngomen pake akun fesbuk…
Comment by Rahmad Hidayat— Juni 10, 2011 #
selama jadi bahasa asing, berarti nasbnya gak berubah menjadi bahasa kedua, ya. dari cerita kakek-nenek, kesejahteraan guru jaman doeloe emang lebih tinggi ketimbang sekarang. dulu malah dapet hak tanah untuk dikelola. hmmm
Comment by guru rusydi— Juni 14, 2011 #
saya cuma bingung kenapa anak2 pada protes ttg syarat TOEFL sebelum bisa sidang gitu, kenapa harus diprotes, padahal saya kan udah lulus *eh
*nyoba komen take twitter*
Comment by warm— Juni 20, 2011 #
Mas’e aku ini lemah dalam hal sejarah, tulisan ini memperkaya wawasan.
Aku setuju pada dirimu mas bahwa kecintaan terhadap penggunaan bahasa Indonesia perlu ditingkatkan namun tak melupakan keahlian berbahasa asing juga (dgn tujuan tertentu).
Soal carut marutnya pendidikan kita…
Comment by Ceritaeka— Juni 23, 2011 #
[...] tunjukkan bahwa kecintaan dan kekaguman terhadap bahsa kita tidak akan pernah luntur.READ MORE; http://manusiasuper.wordpress.com/2011/06/09/sejarahinggrisindonesia/ Download doc Download Pdf Did you like this? Share it:Tweet Category: Uncategorized [...]
Pingback by Hana's Blog » Blog Archive » sejarah bahasa inggris sebagai bahasa asing di indonesia— Agustus 4, 2011 #
semuga semua bahasa tetep jadi yang terdepan dalam segala urusan berkomunikasi. just write what are in mind
Comment by badrus syamsi— November 24, 2011 #
may i know your real name..please..
i’m conducting my research n it needs your name as source..
Comment by lita— Desember 5, 2011 #