Masalah Selera..
Maret 1, 2011 pukul 10:22 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 11 KomentarSaya ingin bercerita tentang sebuah peristiwa, yang terjadi di Amerika, pada tahun 2007 lalu.
Tulisan ini juga saya buat sedikit banyak untuk ikut serta dalam kekisruhan aneh terkait putri yang ditukar di blogosphere Indonesia beberapa waktu lalu.
Begini ceritanya…
Pada sebuah pagi yang dingin, Januari 2007 di Stasiun Metro, Washington DC, kotanya para pemikir Amerika.
Seorang pria berdiri di satu sudut memainkan karya maestro klasik Bach dengan biola-nya. Selama 45 menit sudah ia menggesek alat musiknya, dengan topi terhampar terbalik di bawah kakinya.
Selama itu, kira-kira 2000 orang yang pulang pergi di stasiun tersebut. Pagi yang selalu sibuk di Metro.
3 menit kemudian, seorang pria paruh baya menyadari bahwa ada seorang musisi sedang bermain. Ia memelankan langkahnya, berhenti beberapa detik, dan kemudian bergegas kembali melanjutkan perjalanannya, menuju tempat kerja.
4 Menit kemudian
Sang pemain biola menerima dolar pertamanya. Seorang wanita melemparkan uang ke topinya dan, tanpa berhenti, terus berjalan.
6 menit
Seorang remaja pria bersandar ke dinding mendengarkan permainan biolanya, lalu melihat ke jam tangan dan berlalu.
10 menit
seorang anak berusia 5 tahun berhenti di depan pemain biola, namun ibunya mendorongnya agar terus berjalan. Si anak kembali menoleh namun sang ibu terus menyuruh si anak buru-buru. Anak itu terpaksa meneruskan langkah kakinya namun dengan terus-menerus menoleh ke arah si pemegang biola.
Kejadian ini terulang pada beberapa anak lain. Dan semuanya, tanpa kecuali, terus dipaksa orang tuanya untuk terus berjalan.
45 menit
Sang pemusik terus bermain. Hanya 6 orang yang berhenti dan mendengarkannya sejenak. Sekitar 20 orang memberinya sumbangan namun terus berjalan tanpa memperhatikan. Pria ini mengumpulkan total 32 dolar.
1 jam
Sang pemain biola selesai bermain dan keheningan menyambut. Tak ada yang menyadari. Tak ada tepuk tangan, tak ada apapun.
Tak seorangpun menyadari, sang pria ini adalah Joshua Bell, salah satu pemusik terhebat di dunia. Yang ia mainkan adalah salah satu karya musik klasik paling menakjubkan, dimainkan dengan biola seharga 3,5 juta dolar. 2 Hari sebelumnya, tiket pertunjukan Joshua Bell di sebuah teater di Boston dipenuhi terjual habis. Harga tiketnya rata-rata 100 dolar.
***
Cerita ini adalah fakta.
Joshua Bell melakukan aksinya itu sebagai bagian dari eksperimen sosial yang digagas koran Washington Post, terkait persepsi, selera dan prioritas masyarakat.
Dari peristiwa ini tercipta tanya, apa dan bagaimana sebenarnya ukuran dari selera kita?
faktor apa saja yang mempengaruhi kita dalam menentukan sesuatu itu layak atau tidak layak untuk kita nikmati?
Namun satu hal, jika kita tidak sempat berhenti untuk menikmati seorang pemusik kelas dunia memainkan karya terindah yang pernah ada, dengan instrumen terbaik yang pernah dibuat…
Berapa banyak lagi yang sudah kita lewatkan?
11 Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.


terlambat sangadh sepertinya saya memposting ini…
Comment by ManusiaSuper— Maret 1, 2011 #
Masih tetap menyenangkan untuk dibaca .. Di dalam kesehariannya lebih banyak lagi yang tak bernama menampilkan kebaikan terindah mereka .. tapi sekarang2 ini memang tidak zamannya tampaknya ..
Comment by draguscn— Maret 1, 2011 #
memang telat. ga gawul kamu, dil!
Comment by satch— Maret 1, 2011 #
Saya pernah baca ini sekitar setahun setelah kejadiannya. Beberapa menafsirkannya sebagai “seni tergantung bagaimana menyajikannya”, beberapa malah “sudah terjadi pembodohan sosial”.
Comment by Pak Guru— Maret 1, 2011 #
kalau teman saya bilang malah, coba kalau Inul yang disuruh tampil, jamin banyak yang brenti,,,,
Comment by ManusiaSuper— Maret 1, 2011 #
nah,,kalau yg terakhir itu (inul) atau coba jupe d DP pasti banyak yg berhenti…he,,he…
Comment by aap— Maret 1, 2011 #
Kalau begini, saya mesti ingatnya pada salah satu tokoh kartun paling ngenes: Squidward!
Comment by sora9n— Maret 2, 2011 #
Tapi saya pernah baca suatu cerita, begini : Jimmy Hendrick salah satu pemain gitar terhebat di dunia pernah menggelar konser besar, dan di konser itupun tiket dengan harga yg sangat mahal ludes terjual, diborong penikmat musik (papan atas), tapi saat itu si Jimmy ( sengaja ) memainkan gitarnya dengan sangat buruk, namun anehnya para penonton tetap memberikan sambutan yg gegap gempita dan tepuk tangan yg sangat meriah, si Jimmypun sedih dan langsung membakar gitarnya di panggung itu… nah..disini dipertanyakan selera seperti apa yg ada pada penonton, semu, atau sekedar ikut ikutan tanpa tau persis apa yg dinikmatinya, ( dan ini banyak terjadi pada bangsa kita ) meskiput duduk dan terlihat sangat menikmatinya.. tapi sesungguhnya kita telah melewati apa yg sesungguhnya harus kita nikmati..
jadi menurut saya selera itu masih * abu abu * kecuali soal perempuan dan makanan wkwkwkwkkk…. eh bukankah ente penikmat dangdut boy..?
Comment by yulian— Maret 2, 2011 #
apakah itu berarti Putri Yang Ditukar dibuat oleh maestro kelas dunia?
yang menjadi masalah di sini adalah karena Joshua Bell, memainkan musiknya di dekat stasiun kereta, yang asumsi-nya adalah di mana orang-orang sedang bergegas menuju satu tempat untuk pertemuan berikutnya, bergegas untuk mengejar jadwal kereta yang akan membawa dia ke oportuniti berikutnya. Begitulah… Jadi saya pikir wajar kalau hampir tidak semua orang berhenti memperhatikan si pemusik.
Lain halnya ketika si pemusik memainkan musiknya di sebuah concert hall, orang-orang datang ke sana dan mendengarkan karena mereka meyediakan waktu khusus untuk itu. Yakin deh, ga ada kan yang datang ke concert hall dalam keadaan terburu-buru menuju satu tempat berikutnya.
Atau katakan lah si pemusik bermain sebuah taman di mana orang-orang datang ke situ untuk bersantai. Mungkin penonton yang duduk di situ menikmati sajian musik yang disuguhan akan lebih banyak ketimbang apabila dia ngamen di stasiun kereta.
IMSO (in my sotoy opinion), kasus di atas bukan masalah selera atau siapa yang memainkannya, tapi lebih kepada tempat di mana dia memainkan musiknya…
*berlalu*
Comment by Chic— Maret 2, 2011 #
Ini ada hubungannya dengan lagu-lagu yang sering diputar di Food Court UNY ndak ya? Yang sering berubah tiba-tiba ketika dirimu tiba itu… *character asinan detected*
Comment by Amd— Maret 2, 2011 #
yups betul apa kata chic, bukan masalah selera & siapa pemainnya tapi situasi & kondisinya seperti apa? klo ngamennya di stasiun kereta pasti kita g bakal lama2 ngedengerin palingan kta cuma nengok doang,,,
Comment by baju— Maret 26, 2011 #