Dunia Pendidikan
Januari 4, 2010 pada 10:00 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 33 KomentarJadi begini…
Yang namanya sekolah sebagai sebuah lembaga itu tidak cuma sekedar tempat guru mengajar murid belajar.
Sekolah itu tempat banyak kegiatan berlangsung. Ada kegiatan dasar, yaitu belajar mengajar. Ada juga kegiatan ekonomi, kegiatan agama, kegiatan politik, kegiatan administrasi, pokoknya semua kegiatan fisik, mental dan supernatural ada di sini.
Tidak percaya?
Mari kita dengarkan ceritanya…
Cerita 1
Sebenarnya ini pernah saya ceritakan di posting terdahulu. Yaitu cerita tentang bangunan sekolah tetangga yang atapnya hilang digondol maling. Tidak tanggung-tanggung, 20 lembar atap seng yang sudah dipasang dengan rapi melindungi kepala para siswa dari panas terik hujan badai ketika belajar, hilang lenyap tak bersisa.
Sudah saya ceritakan pula, setelah dilaporkan ke polisi, kepala sekolah mendapat SMS ancaman dari nomer asing. Bahwa demi kepentingan dan keselamatan bersama termasuk para guru, kehilangan itu sebaiknya diikhlaskan saja.
Fakta barunya cuma, kehilangan tersebut terjadi persis sehari setelah sekolah yang bersangkutan mengadakan rapat komite dengan para orang tua murid…
Cerita 2
Dua orang siswa laki-laki berkelahi di sekolah. Cukup seru karena para guru terlambat mengetahuinya. Jadi kedua calon anggota dewan itu sudah lumayan benjut-benjut.
Namun para guru dan kepala sekolah akhirnya bisa mendamaikan keduanya. Meski demikian, karena benjut-benjut tersebut di atas tidak bisa disembunyikan, orang tua kedua calon anggota dewan itu juga mengetahui kalau anaknya berkelahi di sekolah.
Menurut budaya setempat, untuk berdamai setelah perkelahian antara dua orang itu tidak cukup hanya sekedar senyum dan berjabat tangan. Ada semacam acara selamatan/kenduri dengan menyembelih hewan ternak dan mengundang warga sekitar untuk makan-makan. Istilah Banjarnya: Bapiduduk.
Celakanya, kedua keluarga siswa calon anggota dewan ini sepakat, karena pertengkaran terjadi di sekolah, maka biaya selamatan ditangung oleh… pihak sekolah.
“Kan ada dana BOS pak..” kata salah satu dari mereka..
Cerita 3
Menjelang akhir tahun, pengumuman cukup menyenangkan dikeluarkan Dinas Pendidikan di sebuah daerah, di mana ada seorang kepala daerah tingkat provinsinya yang kebetulan sudah berkoar-koar ingin melanjutkan masa jabatannya untuk yang kedua kalinya.
Pengumuman itu adalah, ada dana bantuan/beasiswa cukup besar untuk 3 orang siswa bagi setiap sekolah yang ada di daerah tersebut.
Masalahnya adalah, si kepala daerah yang kebetulan sudah berkoar-koar ingin melanjutkan masa jabatannya untuk yang kedua kalinya itu ingin menyerahkan sendiri beasiswanya. Bersama-sama dengan kepala biro keuangan daerah setingkat kabupaten yang kebetulan digosibkan akan menjadi calon wakil bupati pada pemilihan kepala daerah tahun ini, mereka bersikeras ingin ‘turun ke bawah’ sambil membagi beasiswa itu.
Dan keduanya, ingin beasiswa itu diambil sendiri oleh ORANG TUA siswa.
Padahal ongkos transportasi mengarak sedikitnya 7 orang (3 siswa + 3 wali murid + guru/kepala sekolah pendamping) ke lokasi pembagian beasiswa itu tidak sedikit. Apalagi untuk sekolah yang terletak di kawasan dekat neraka…
Dan tentu saja, pada hari H pembagian beasiswa, kesan yang disampaikan adalah, ini duit beasiswa dibagikan oleh si kepala daerah yang kebetulan sudah berkoar-koar ingin melanjutkan masa jabatannya untuk yang kedua kalinya itu, bersama-sama dengan kepala biro keuangan daerah setingkat kabupaten yang kebetulan digosibkan akan menjadi calon wakil bupati pada pemilihan kepala daerah tahun ini, SECARA PRIBADI.
Padahal duitnya ya tetap saja dari APBD yang sejatinya ya duit rakyat juga….
Cerita 4
Pembicaraan antar guru lain daerah tapi satu provinsi
D: “tau ndak kenapa kami bisa mudik? Bupati naikin tunjangan daerah sampai 1 juta sebulan! Sama suami bareng, dapat rapel 2 bulan, jadi 4 juta, plus gaji masing-masing 2 juta, jadi 8 juta… ting ting ting”
F: “gembel… bupati saya cuma nganggarin tunjangan daerah 250 rebu sebulan, itupun dibayar per dua bulan…”
H : “Ya ndak papa tokh, dari pada kabupaten di provinsi sebelah, tahun ini malah mau dihapuskan tunjangan daerah buat gurunya. Malah sebelumnya mereka pakai absen, sehari ndak masuk, tunjangannya dipotong..”
F: “Tetap saja gembel… Bagaimana mau menstandarkan pendidikan kalau soal begini saja tidak disamakan…”
Cerita 5
Seorang guru ganteng membagikan raport untuk siswanya. Selesai pembagian, dia mempersilahkan kalau ada pertanyaan dari para siswa TENTANG PEMBAGIAN RAPORT DAN NILAI mereka.
Seorang siswa mengangkat tangan, “Tanya pak, kapan beasiswa dibagikan?”
Guru ganteng bingung “beasiswa?”
Siswa optimis menyahut, “Iya pak, kemaren ada anggota dewan tinjauan ke desa sini, katanya sekarang sekolah ndak pake bayar lagi malah dikasih duit. Soalnya pemerintah bersama-sama dewan sudah menganggarkan dana buat beasiswa murid pak. Jadi mana duit kami?”
Guru ganteng memandang atap sekolah yang tiada berlistrik, sambil berkata dalam hati “Beasiswanya ambil ke anggota dewan sahaja nak…”
Cerita 6
Masih cerita pembagian raport.
Seorang teman berdebat sengit dengan suaminya. Beradu argumen panjang. Masing-masing tiada yang mau mengalah. Memperebutkan hal maha penting. Mengambil keputusan genting.
Mereka berebut tentang…
siapa yang harus menandatangani raport pertama anak sulung mereka yang baru masuk kelas 1 SD…
Cerita 7
Seorang wali murid datang ke kepala sekolah sebuah SMA…
Meminta bantuan untuk mengantar anaknya yang sakit ke puskesmas, plus bantuan biaya pengobatannya. Karena sekolah kan dapat dana BOS…
Cerita 8
Sebuah kabupaten di ujung pulau, bernama new city, berjarak ribuan kilometer dari Jakarta, mengadakan pelatihan bagi 20 orang gurunya di Jakarta. Dengan biaya perorang guru sekitar 10 juta rupiah ditanggung oleh anggaran daerah.
Padahal, jika mendatangkan tutor dari jakarta, biaya bisa dihemat hingga lebih dari separuhnya… Entah, logika apa yang menjadi dasar keputusan itu.
Kebetulan, bupatinya berkoar-koar pula ingin jadi gubernur tahun depan…
***
Demikian beberapa cerita pengantar tidur kali ini, kalau ada kesempatan bolehlah disambung lagi.
33 Komentar »
Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.


Pingsut, beres.
Yang ngiklan di TV itu?
Comment by lambrtz— Januari 4, 2010 #
@ Lambrtz
Eh? Sirius! Mereka memang pake suit akhirnya dalam memutuskan, dan si emak kalah
.
Bukan, kabupaten sebelahnya…
Comment by ManusiaSuper— Januari 4, 2010 #
Mmh kirain dongeng si kancil,tryata pndidikan ya. . .Kata orang,smakin baik pndidikan negara itu,maka smakin maju perkembanganx. . .
Comment by iezul— Januari 5, 2010 #
@ iezul
Masalahnya, pendidikan itu benar-benar harus dipedulikan tidak hanya oleh negara atau oleh guru, tapi juga oleh masyarakat dan orang tua…
Comment by ManusiaSuper— Januari 5, 2010 #
Asyik juga ya kerja di dunia pendidikan, bisa nemu hal menarik setiap hari
Comment by Felicia— Januari 5, 2010 #
@ Felicia
Menarik, tapi kalau tidak kuat mental, bisa stres ^_^
Comment by ManusiaSuper— Januari 5, 2010 #
pak guru ternyata wali kelas juga to..??
Comment by hera— Januari 5, 2010 #
Wah, ternyata jadi guru juga banyak kejadian aneh2nya yah. Dulu waktu jadi murid nggak berasa bahwa sekolah itu ribet. Ternyata beda kalo dari kacamata guru. Hehehe.
Comment by arierahayu— Januari 5, 2010 #
cerita 5 itu pasti pengalaman pribadi, makanya ditulis guru ganteng.. cih!
Comment by Chic— Januari 5, 2010 #
kasian guru gantengnya…
Comment by setanmipaselatan— Januari 5, 2010 #
@ Hera
Saya tidak mengiyakan loh ya… Kalian yang menebak sendiri kalau ada gantengnya pasti asosiasinya saya…
dipaksa kepala sekolah
.
@ arie
beda banget rie, menyesal kadang ingat kelakuan jaman sekolah dulu..
.
Chic – Joe
Comment by ManusiaSuper— Januari 5, 2010 #
bedtime stories yang menarik. lain kali diangkat jadi film aja…
Comment by cK— Januari 5, 2010 #
D=Dewi
F=Fanjul…
Comment by Amd— Januari 5, 2010 #
mansup, traktir saya di pizza hut dong…
kan ada dana BOS *digampar*
kan bisa jalan-jalan ke Jakarta….
Comment by itikkecil— Januari 5, 2010 #
bicara tentang tanda tangan rapor oleh orangtua, jadi inget waktu SD, ibu saya meniru tanda tangan ayah saya di rapor, padahal my dad sudah gak ada lagi :’(
Comment by mina— Januari 5, 2010 #
Pa guru..sekarang saya sudah menandatangani rapor anak saya..!
Comment by aap— Januari 5, 2010 #
@ cK
Bisa saja, paling tidak, tidak semembosankan pilem vampire-apa-itu-yang-ada-cowo-cantik-nya
.
@ Amd
Ah, hanya kebetulan
.
@ ibu ira
tidak masuk akal…
.
@ Mina
Padahal, tanda tangan ibu juga sah saja kok Min
.
@ Aap
Ranking berapa si sulung Pak?
Comment by ManusiaSuper— Januari 6, 2010 #
cerita yang jauuuuhhh lebih menarik dari scene laskar pelangi
oh ya
benar kan kata saya
kau itu berhenti aja udah jadi guru,
pindah ke humas
*saran menyesatkan*
Comment by warm— Januari 6, 2010 #
@ Mr. Warm
Ogah, saya mau pindah ke Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah saja.. Nanti, kalau golongan sudah 3-D
Comment by ManusiaSuper— Januari 6, 2010 #
Saya mau ke BKD Provinsi…
Comment by Amd— Januari 6, 2010 #
cerita 1 :
wkwkwk….mungkin juga si maling seng tau, bahwa uang pembelian seng itu hasil korup, karena dia nggak kebagian, makanya mending ambil sengnya sekalian ngasih ancaman lewat sms…hehehe
Comment by baburinix— Januari 6, 2010 #
@ Amd
ketemuan Asf?
.
@ Baburinix
Hidup maling seng!
Comment by ManusiaSuper— Januari 6, 2010 #
udah pemilihan belum…?? bupati yang mana yang jadi gubernur yang kasih tunjangan satu juta kah..??
Comment by luvaholic9itz— Januari 6, 2010 #
@ Quenn
Belum pemilihan kok, masih beberapa bulan lagi
Comment by ManusiaSuper— Januari 6, 2010 #
[...] itu dilontarkan seorang rekan, yang mengaku peduli terhadap dunia pendidikan, dan kebetulan saat ini tengah menjabat sebagai tenaga pengajar sebuah sekolah di daerah dekat [...]
Pingback by Preposisi— Januari 7, 2010 #
Ajaib.
Dongeng masa kini dan masa lalu ternyata masih sama.
Ajaib.
Comment by Takodok!— Januari 7, 2010 #
.
Cikgu oh cikgu… pahlawan yang dielus-elus kepalanya sama pemerintah (yang ngakunya negara) sambil dibuai manja, “Kalian adalah pahlawan tanpa tanda jasa…
Harap maklum, kami sajalah yang berhak dapat tanda jasa, jadi anumerta biarpun mati kena sipilis paska melonte sama artis… Bersabarlah wahai guru… Bapak-bapak.. ibu-ibu… kita lanjutken kherjasama yang baikh ini…”.
Mengingat, menimbang, dan mencengiri semua itu, maka aku tak pernah ingin mengabdi sebagai guru. Bukan… bukan karena hina. Ibuku guru, bro. Almarhum kakekku juga guru. Saudara kakekku juga. Sepupunya juga. Banyak sepupu ibu juga guru. Dari delapan saudara kandung ibuku, cuma satu yang bukan guru. Dari keluarga besar yang dulu jadi boneka pemerintah untuk dipermalukan setiap tahun karena sekolah terpuruk, jadi lap tangan pemerintah untuk cuci tangan kalau pendidikan brengsek, jadi keset kaki pemerintah yang dijemur di lapangan upacara dalam barisan para guru sementara itu cecunguk2 pemerintah duduk manis di bangku VVIP yang teduh; aku sungguh tak mampu mengugu dan meniru ketabahan serupa itu. Masih terasa-rasa ngilu gigiku dikasih beras catu di masa sulit dulu. Beras catu: beras jatah guru yang – persis namanya – campur batu. Beras suplai paska dijemur dalam seragam PGRI demi Pohon Beringin
.
Tapi oh tapi, banggalah kau sikit, brother. Tak mampu benar2 jadi Manusia Super yang perkasa dengan kolor merah nyala, setidaknya – es par es ai nau – guru itu kuli pemerintah yang masih lebih layak daripada pegawai negeri lain. Profesi yang benar-benar profesi, bukan yang berseragam coklat dengan logo pemkab macam yang acap kutemui di warung kopi saat jam kerja
Yes, yes this celoteh is generalisasi…
.
Dulu pernah kuceritakan di blog yang sudah isdet itu, soal kebakaran di SDN 2 Kampung Rawa di sini, tempat ibuku mengajar hampir 20 tahun. Kau tahu apa kata pemerintahkimak ini? Pakai dana sekolah dulu, pemerintah saat ini APBD krisis. Di minggu yang sama mereka beli sofa baru, meja2 ukiran jepara, dan segala mebel mewah yang ditarohnya di istana tengiknya itu dengan alasan “wibawa pemerintah saat menjamu tamu penting.”
*ketawasakitjiwa*
Comment by Alex©— Januari 7, 2010 #
kalo ada pembagian duit beasiswa, saya mau deh sekolah lagi
yg kasian yg gentengnya dicolong yah. ngelapor polisi malah diancam..
Comment by elia|bintang— Januari 10, 2010 #
guru gantengnya siapa? beuh…
Comment by venus— Januari 11, 2010 #
“Ndak ada dana tanggap darurat buat ganti atap seng jadi mohon ditangani sendiri pake dana BOS sama minta dari komite”……lah wong ORTUnya aja mengharapkan uang beasiswa dan bantuan dr sekolah gimana mau diminta bantuannya sedangkan dana BOS cuman sedikit dihitung persiswa sedangkan siswanya cuma 38 orang trus dana BOS kan ada pos tersendiri mana yang boleh dan tidak boleh……
Dana BOS dibelikan atap seng ……menyalahi peraturan bung bukan posnya tapi…..ya sdhlah drpd kehujanan dan kepanasan…..
Comment by bukan taro— Januari 11, 2010 #
[...] Baca tulisan selengkapnya [...]
Pingback by Dunia Pendidikan : Kayuh Baimbai— Januari 12, 2010 #
Kayaknya lebih “manantang” kalo judulnya “Sandiwara Pendidikan”.. hehe.. bagaya haja bos..
*sambil mikir,pantes masuk radar
Comment by 71mm0— Januari 14, 2010 #
[...] itu dilontarkan seorang rekan, yang mengaku peduli terhadap dunia pendidikan, dan kebetulan saat ini tengah menjabat sebagai tenaga pengajar sebuah sekolah di daerah dekat [...]
Pingback by Preposisi « A Sort of Homecoming— Februari 27, 2010 #