Masalahnya

7 November 2009 pukul 12.31 | Ditulis dalam Uncategorized | 31 Komentar

Pelayanan publik di negara ini memang carut-marut…

Entah sektor kependudukan mulai dari hal sederhana macam pembuatan KTP, sampai hal rumit macam perijinan mendirikan usaha.

Belum lagi bila disebutkan sektor-sektor penting yang menunjukkan suatu negara itu beradab atau tidak.

Pendidikan, misalnya.

Jutaan orang tua di luar sana diakui atau tidak, mencemaskan biaya yang harus mereka keluarkan untuk dapat menyekolahkan putra putri terbaik mereka hingga kuliah nanti. Konon, di India, biaya pendidikan seorang anak hingga lulus kuliah itu cuma 7 juta rupiah. Sementara di negara ini, 70 juta rupiah.

Komunikasi, satu hal lain.

Berapa banyak pasangan bercerai di sekitar RW saudara, hanya karena masalah sms yang ternyata gagal terkirim. Si suami lembur dan memberitahukan lewat sms kepada sang istri. Ternyata, smsnya gagal karena gangguan jaringan.

Atau masalah tayangan informasi dan hiburan di televisi yang menjijikkan itu…

Transportasi hal lain lagi.

Pengguna transportasi masal di negara ini tidak pernah dianggap sebagai manusia. Mereka dijejalkan macam sarden ke dalam angkot dan kereta api. Mereka dipaksa menahan rasa takut ketika naik pesawat yang sayapnya ditambal pakai kaleng bekas susu bubuk.

Belum lagi kondisi jalan yang luar biasa mengerikan.

Pernah suatu ketika saya ingin memasang rambu DILARANG MENGUPIL di sepanjang jalan Banjarmasin – Batu Licin. Karena mengupil di jalan berlubang sebesar kerbau itu dapat menyebabkan telunjuk anda menusuk tembus ke otak…

Di sisi lain, dalam sektor-sektor yang disebutkan diatas, selalu akan ada pilihan.

Pendidikan yang mahal dapat disiasati dengan memilih setidaknya sekolah pinggiran yang murah meriah. Soal kualitas, itu lain soal.

Sektor transportasi yang mengancam kewarasan dapat diatasi dengan trik, jadi kaya, beli mobil milyaran rupiah yang meskipun kecebur danau tetap tidak terasa karena suspensinya yang luar biasa. Males naik angkot ya pilih taksi argo. Males berjejalan di kereta yang pilih bus antar kota. Atau, jangan pernah keluar rumah sekalian.

Tayangan TV yang memuakkan dapat diatasi dengan sederhana, pindah channelnya, atau jual perangkat TV anda.

Namun masalahnya akan berbeda ketika yang kita hadapi adalah masalah listrik.

Listrik negara ini bermasalah.

SANGAT BERMASALAH

Padahal tidak akan maju suatu daerah jika ketersediaan daya listriknya minimalis.

Tidak akan maju usaha warganya, tidak akan bagus pendidikan anaknya, tidak akan lancar pelayanan publiknya, tidak akan bahagia manusianya, jika listrik tidak ada.

Celakanya, jika di sektor lain kita bisa memilih, untuk listrik, TIDAK ADA PILIHAN.

Selalu dan akan selalu kita dihadapkan pada ketidak becusan sebuah perusahaan milik negara bernama PLN.

Masalah dengan PLN adalah ketidakadilan pasokannya.
Pulau jawa keparat di sana, dua jam saja padam listriknya, maka warganya akan mencaci sedemikian rupa. Sementara di Kalimantan, Di Pekan Baru, di Papua, listrik itu jadwalnya SEHARI PADAM SEHARI MATI. Masih untung… Sebagian malah belum pernah menemui yang namanya colokan listrik.

Masalah dengan PLN adalah ketiadaan kepastiannya.
Janji-janji palsu yang ditebarkan entah pejabat PLN sendiri atau pejabat politik macam Gubernur atau Presiden bahwa pemadaman tidak akan terjadi lagi pada tahun sekian-sekian itu bullshittaikebo semua.

Masalah dengan PLN adalah ketertutupan mereka.
Saya masih ingat betapa frustasi Gubernur provinsi saya ketika ingin bedialog dengan pimpinan PLN setempat tentang pemadaman bergilir yang jadi hobi mereka. Para pimpinan PLN itu pun sangat sulit dipenuhi. Selain itu, penyebab pemadaman pun tidak jelas. Kadang pasokan batubara yang terhambat jadi alasan. Kadang ketinggian air waduk yang jadi penyebab. Kadang kerusakan mesin pembangkit. Kadang kegoblokan petugasnya.

Herannya, seorang teman pernah bercerita, dia kontributor koran terbesar se-Indonesia, kalau terjadi pemadaman di kawasan perumahannya, dia tinggal telpon si pimpinan PLN setempat, dan lsitrk langsung menyala. Hal yang sama terjadi pada satu anggota DPRD yang saya kenal.

Pun atau ketika seorang rekan yang juga kontributor media berkelas indonesia kehilangan HP, si pimpinan PLN cepat tanggap mengirimkan dana untuk beli HP baru, dan berita tentang kisruh listrik daerah ini tidak pernah hadir di media berkelas indonesia tersebut.

Masalah dengan PLN adalah pelayanan publik mereka yang buruk.
Saya tidak berbicara tentang teman-teman teknisi di jalan yang siang malam harus selalu siaga untuk perbaikan dengan pertaruhan nyawa karena minimnya prasyarat keamanan kerja. Saya berbicara tentang hotline telpon 123 yang tidak pernah ada manusianya ketika dihubungi.

Padahal, minimal jika terjadi pemadaman, setidaknya ijinkan kami menelpon dan bertanya apa penyebabnya, dan kapan perkiraan menyala kembalinya…

***

Diketik dengan terburu-buru di laptop pinjaman yang batere-nya tinggal 3 persen dan listrik belum menyala sejak 18 jam yang lalu..

PLN memang heb

About these ads

31 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. Tadi malam dapat sms dari Almas, sambil berpuisi meminta bantuan kepada daerah laen untuk membagikan listrik ke Maluku

  2. Bilang almas, jangan minta ke sesama BLOGGER DAERAH… Minta ke BLOGGER PUSAT…

    • Blogger Pusat itu Berarti Blogger Daerah Khusus Ibukota kan ???

  3. awal pembuka yg penuh keluhan… eh ternyata keluhan utama na ttg listrik yg sering padam toch…. hhiihi… sabar ae om lah… mang begini lah adanya… :-)

  4. PLN memang heb…

    *Tuuuut…* :mrgreen:

    Eh, kayaknya belum jadi blogger Kalsel kalo belum pernah menulis tentang PLN ya?

  5. Saya nunggu ada hadiah novel kalau nulis PLN baru ikutan *ngelirik mansup* :mrgreen:

  6. GKM!

  7. Begitulah kita hidup didaerah kaya batubara tapi cuma lewat saja. Entah kapan berakhir ?

  8. ada hadiah nulis tentang PLN? ikuuuut! *seperti biasa salah fokus*

    tapi kita bersyukut juga. sempat nginap di Timpah (Kaltim) tahun lalu, itu listriknya cuma 6 jam sodara-sodara nyalanya dalam sehari (jam 6 sore-12 malam) (tapi anehnya di sana semua orang pake parabola). beberapa daerah di Mentangai juga. gak bisa bikin es batu kan? gak bisa online seharian kan? gak bisa pake rice cooker dan magic jar kan?
    pas di Aceh seminggu 2 tahun lalu, itu sehari bisa jutaan kali mati nyala. medan juga gitu. gak tahu sekarang ya.
    jadi kayaknya bersyukur juga kita ya…..
    *sok baik padahal sedang ngipas-ngipas kepanasan*

  9. Baru sadar : memang penuh masalah ternyata :)

  10. liat komentar bang Amed .. :D

    ===
    PLN memang menyimpan banyak permasalahan untuk pelanggannya, apalagi MATI SEHARI HIDUP SEHARI !!! kenapa ga ada perusahan swasta yang bisa menggantikan posisi PLN sebagai penyedia listrik??

  11. liat komentar bang Amed .. :D

    ===
    PLN memang menyimpan banyak permasalahan untuk pelanggannya, apalagi MATI SEHARI HIDUP SEHARI !!! kenapa ga ada perusahan swasta yang bisa menggantikan posisi PLN sebagai penyedia litrik??

  12. masalahnya PLN nya ga baca postingan mansup,,, mungkin sedang berlibur…
    ga usah jauh-jauh… Kaltim saja tak pernah padam kok, kita yg Kalsel kok hobi banget PLN nya mati’in lampu…

    *berniat rusuh

  13. curhatannya ngena banget…
    PLN lagi, PLN lagi….sy jarang mengikuti perkembangan PLN, jd jangan2 sumber dayanya udah overload sehingga musti gantian nyalanya ? :-?

  14. Ah, parah memang negeri ini,
    yang penting mari berhenti mencaci Indonesia mas :D

  15. @ Chandra
    Lah, blogger pusat daerah itu kan ente yang mencetuskannya?

    @ Widiya
    Beginilah Wid, masih untung kita bisa mengeluh di blog…

    @ Amd
    nanti di kopdar selanjutnya, kita canangkan gerakan blogger kalsel menulis pe el en

    @ syafwan
    Errr…. itu… dibatalkan…

    @ Farid
    Gerakan Kalimantan Menangis?

    @ Aap
    Kalau kita sudah berani menganggap ibukota kita bukan jakarta?

  16. @ mina
    Ga perlu jauh-jauh bu, di Loksado, listriknya juga nyala 12 jam saja. Di kotabaru juga.

    @ lovepassword
    penuh masalah minim pemecahan

    @ nia
    MATI SEHARI HIDUP SEHARI atau
    MATI SEHARI PADAM SEHARI ?

    @ awiem
    Kita bergabung dengan malaysia saja wiem?

    @ ibu ketiga
    banyak pertanyaan tentang PLN, minim jawaban

    @ fadhil.web.id
    *tertohok*

    Errr, ini bukan cacian terhadap tanah air tapi terhadap oknum..

    *ngeles*

  17. Ah, listrik saya baru saja nyala. (Langsung diberitahukan di FB, dan dikasi link kesini) :mrgreen:
    Brengsek, jadi gak bisa nonbar MotoGP

  18. @ jensen
    sapa yang memberi link jens?

    Saya mau liat Chelski vs MU…!!

  19. masalah ini ga akan selesai kalo PLN tetap tidak mau IPP terjun langsung di dalamnya. Permasalahan para investor IPP sekarang ini bukan saja birokrasi yang luar biasa “basi” di administrasi PLN,tapi juga harga beli dari PLN yang ditekan serendah mungkin sehingga menutup biaya investasi pun tidak. Kalo sudah begini, siapa yang mau investasi di listrik kalo bukan PLN sendiri. :|

  20. mendadak, saya pengen ngupil di negara India sana..

  21. @ chic
    tahun-tahun belakangan ini sebenarnya sudah ada beberapa calon investor yang berminat mendirikan pembangkit di kalimantan, tapi selalu batal. Konon karena harga beli listrik yang ditawarkan PLN sangat minim dan di bawah biaya produksi. Alasannya harga sudah ditetapkan pemerintah. Padahal di sisi lain pemerintah juga sudah memberi subsidi trilyunan rupiah untuk PLN. :mad:

    pernah juga, pemadaman masal dilakukan PLN dengan alasan kekurangan batubara. Bayangkan, kekurangan batubara di pulau penghasil batubara terbesar di dunia! Ternyata menurut kabar, perusahaan batubara enggan menjual ke PLN karena harga yang ditawarkan jauh lebih kecil dibanding jika batubara ini dijual ke China… Alasan PLN lagi-lagi bahwa harga beli batubara sudah ditetapkan pemerintah… :shock:

    @ om warm
    sekalian ketemu Kajol?

  22. Masalahnya, negara kita Banyak dan Penuh Masalah :mrgreen:

  23. itu bukan konon ManSup, soal harga beli yang rendah itu adalah kenyataan. dua proyek power plant di kantor saya terbengkalai cuma gara-gara harga beli itu. bayangpun, udah investasi dari tahun 2004, PPA baru ditandatangani tahun 2007, dan sampe sekarang belum bisa jalan sama sekali. Padahal dari 2004 itu, biaya investasi terus membengkak. huh! :|

  24. @ indra
    selamat!

    @ chic
    secara logika kan aneh bu, yang menetapkan harga beli itu pemerintah (pusat), yang punya PLN itu pemerintah (pusat), jadi siapa mempersulit siapa?

    Padahal di sini, pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten kota) sempat berinisiatif patungan dana untuk membangun pembangkit, tapi lagi-lagi dilarang karena patungan untuk kepentingan rakyat tersebut konon melanggar aturan yang dibuat pemerintah (pusat).

    Ini negara yang konon aneh, memang..

  25. pln toh…
    *males*
    di sini sudah agak mendingan… tapi masih tetep mati juga tengah malam….

  26. @ mansup

    sapa yang memberi link jens?

    Si lambrtz.

  27. Paling tidak, kita sebagai individu pengguna listrik juga sadar akan kewajibannya membayar tagihan tepat waktu dan hemat dalam konsumsi beban listrik tadi.

    Mungkin sudah saatnya mempertimbangkan pasang solar panel untuk ngatasin PLN yang doyan sekali “batuk & pilek” macam begini :D

  28. @ Domba Garut
    Ada info soal biaya pemasangan Solar Panel bos?

  29. kepet…jadi inget gw pernah mau kebatu licin dan sampe pagatan jalannya putus karena banjir…akhirnya balik ke banjar dan ngambil rute pake pesawat ke kota baru dan nyebrang ke batulicin…doh

  30. [...] Tahun ini, di tengah carut-marutnya pertarungan para reptil, ditingkahi meningkatnya penjualan lilin, teplok dan genset, serta badai tuduhan-tudingan-hujatan di sana-sini, apa lagi makna kebahagiaan buat [...]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Get a free blog at WordPress.com | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: