Kekurangan Film Laskar Pelangi

7 Oktober 2008 pukul 22.24 | Ditulis dalam Uncategorized | 49 Komentar

Sudah menonton laskar pelangi? Sudah membaca novelnya? Saya sudah, dan saya menemukan kekurangan mendasar pada film yang diilhami dari novelnya tersebut.

Dari sekian laporan, ulasan, review, dan pendapat yang bertebaran di blogosphere tentang film karya duet produser sutradara Mira Lesmana – Riri Reza ini, sebagian besar memang memuji. Bahkan sudah beberapa tulisan yang menyatakan Laskar Pelangi sebagai Movie of the Year.

Salahkah?

Tidak salah sama sekali.

Film ini memang salah satu dari sedikit film Indonesia yang tidak menjijikkan.

Tapi bagi saya, kekurangan mendasar dari Film ini adalah minimnya daya resap pesan yang ingin disampaikan, baik oleh Film Maker maupun Novel Writernya.

Bukan berarti film ini miskin pesan moral. Pesan yang ingin disampaikan justru sangat banyak dan penting.

Andrea Hirata sendiri pernah berujar, Laskar Pelangi memang membawa pesan tentang pendidikan, persamaan kesempatan dan kesenjangan yang pernah dan masih ada di bumi laskar pelangi ini.

Tapi sayangnya, dengan penonton yang menikmati film ini dari kursi empuk berbusa, dalam ruangan nyaman ber-AC, ditemani popcorn dan hotdog seharga puluhan ribu rupiah dan bersisian dengan kekasih atau teman yang beraroma parfum wangi, pesan ini MENURUT SAYA sulit merasuk ke benak mereka dan kita.

Sulit mengingat makna ‘bertahan dan berjuang dalam hidup’ gedung sekolah Muhammadiyah reyot yang ditempati para laskar pelangi selama bertahun-tahun jika setelah 2 jam di dalam bioskop kita keluar dan langsung disambut hiruk pikuk mall mewah.

Bebal otak ini merasakan semangat kayuhan kaki Lintang pada sepeda tuanya, 40 kilometer pulang pergi, setiap hari, jika sepulangnya dari nonton kita dengan nyaman duduk di dalam mobil ditemani suara penyanyi kesayangan dari CD player di dashboard.

Tidak tertulis ironi apapun pada hati kita, saat melihat jemuran kapur tulis basah di halaman sekolah SD Muhammadiyah, atau pelajaran berhitung dengan lidi, jika sekarang kita kuliah dengan mudah menenteng laptop.

Lalu apa?

Tidak ada apa-apa, saya hanya ingin mengingatkan, cobalah berhenti sejenak, merenungkan kenapa Laskar Pelangi begitu fenomenal…

Bukan karena film itu dibuat dengan biaya milyaran rupiah, bukan karena keindahan landskap Belitong yang menarik saya untuk suatu hari nanti menjelajah di sana, bukan pula ketampanan penulis, atau aktor-aktor mudanya.. (sungguh, menurut saya Andrea tidaklah sebegitu tampannya)..

Laskar Pelangi menjejak begitu dalam di otak dan hati, karena mereka hadir dari pengalaman nyata. Menunjukkan pada nurani yang sudah mulai mati ini betapa masih banyak ketidak adilan di bumi. Membuktikan jika nilai-nilai universal itu selalu akan ada dan bertahan…

Tentang semangat, pengabdian, pengorbanan, keikhlasan, dan cinta…

***

Additional notes:

Beberapa quote favorit saya dari Laskar Pelangi,

Ikal : (setelah melihat jemari A Ling) “Aku baru saja lihat kuku paling cantik sedunia!”

Lintang : “Memangnya kau sudah keliling dunia?”

Lintang : (menunjuk Ikal yang dimabuk cinta) “Dia keracunan kuku!”

Lintang : “Kalau belum ketemu buaya di tengah jalan berarti belum jauh…”

Kepala Sekolah : “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya!”

Mahar : “Tenang saja kau boi, puisi yang dibikin orang jatuh cinta pasti dahsyat…!”

Ibu Muslimah : “Semua orang da percaya anak-anak miskin juga punya hak untuk belajar”

Mahar : “Tenang saja Pak… Serahkan pada Mahar dan alam…!”

Flo : “Aku suka tarian kalian waktu karnaval, indah sekali”

Samson : “Apanya yang indah?! Baru seminggu hilang gatal-gatalku gara-gara getah buah aren! Kuhajar kau Mahar!!”

Sementara tokoh favorit saya di film ini adalah Mahar , Ikal dan Flo. Kalau Sahara saya anggap mirip bocah ini saja, mirip sok yess-nya, buken iyeng-nya…

49 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. [...] <teruskan membaca> [...]

  2. Kekurangan yang paling utama: aku belum bisa nontooooooooooon…. nasib terdampar di negeri jiran

    Nayantakas last posting..Wisanggeni Gugat 3: Mata-mata para Dewa

  3. @ Nayantaka
    Kesian ente, baca bukunya saja dulu puwas-puwas…

  4. hahahahaa, iya Mas bener jg, gmn mo merasakan betapa pesan filem itu sangat mendalam klo sambil nonton sama pacar trus malah mesra2an gt.. dikursi empuk nan gelap remang2..

    tp.. sy inget wkt noonton. bnyk jg yg nangis…

    mgkin krn diputus pacarnya kali yah

  5. kapan ya laskar pelangi diputer di layar tancep, kampung to kampung.

    ilamonas last posting..Euforia US Election 2008 di Layanan Microblogging

  6. film adaptasi novel terburuk sepanjang masa. gagal total.
    1. film LP seharusnya mampu menggambarkan pentingnya pendidikan secara non verbal, yang parahnya justru dikatakan oleh para guru di sekolah muhammadiyah, hal yang justru terasa dihindari pada bukunya.
    2. pembangunan karakter yang amat lemah, coba lihat karakter Ikal yang sering diperlihatkan celingukan gak jelas, guru2 yang terlalu sering kelihatan ngomel2 tentang keadaan. terlihat sekali ada kebingungan pada kepentingan mana yang ingin ditonjolkan : apakah anak2 laskar pelangi, atau tujuan pesan2 moral.
    3. pengambilan gambar yang buruk, coba lihat pesta background blur dimana2, komposisi yang kurang pas, goyangnya pengambilan gambar, penggunaan sudut pandang yang kurang lebar pada scene landscape, dll.
    4. keinginan untuk “melucu” yang tidak pada tempatnya. penggunaan efek2 dangdut yang menyedihkan, misalnya saat Ikal melihat kuku A Ling saat mengambil kapur…
    5. jelas2 skenario yang dibuat hanya mengambil dari fragmen bab yang ada pada novel, tidak ada benang merah yang kuat untuk mengantar penonton menikmati cerita dari awal hingga akhir. hanya potongan2 terputus2 cerita seperti novelnya.

    • ckckckckkc,,,cuman bisa berkomentar saja,,,cobalah jadi pemain jgn jdi komentator doankkk orang bodoh itu cuman bisa berkoment j

  7. Belum baca bukunya, belum nonton juga.. Jadi ga bisa ngasih komen.. :p btw, gimana kalau petualangan menjadi backpacker di mulai dari belitong? Hohoho..

    Rasyeeds last posting..Hmm..

  8. @df: memang menghujat adalah pekerjaan paling mudah, saya tunggu adaptasi film LP buatan anda? OK
    tapi maaf, Riri riza masih yang terbaik…
    *yang punya blog sapa sich*

  9. kekurangan lainnya,
    yang nonton banyak yang belom insyaf akan pesan moral,
    dari film maupun novelnya,
    inti dari sekolah adalah,
    semangat sang murid,
    dan super semangat sang guru, yang sekaligus merangkap pembakar semangat mimpi anak didiknya,
    dan orang macam ini,
    masih teramat langka ! :)

  10. @warmorning: iya, semoga pesan moral yang di dedahkan kekepala mereka suatu saat akan meronta karena terlalu lama di pasung, tetapi setidaknya laskar pelangi sudah cukup baiki daripada fil yang sekedar menjual ketampanan, materi, dan setan-setan buruk rupa.

  11. Pesan yang aku tangkep dengan jelas seh malah dari buku Sang Pemimpi. “Kita ini orang miskin. Orang miskin cuman punya mimpi.” and they go to France.
    Yang jelas gara2 itu aku jadi semangat ngambil S2, walau nggak kebayang duitnya darimana.
    Soal pendidikan sih no comment lah… Wong mendiknasnya saja bilang pendidikan di Indonesia itu baik2 saja, bahkan jumlah guru dibanding jumlah murid sudah ideal. Kok laporannya “Asal Bapak Senang” ya?

  12. yah, best of the worst :D lagian kita tidak bisa membuat semua orang senang kok..

    kokos last posting..Laskar Pelangi! Laskar Pelangi! Laskar Pelangi!

  13. Humm.. dari sekian banyak penonton di kursi empuk itu pasti ada beberapa yang pernah merasakan sulit bersekolah, katakan saja seorang bapak, lalu ia akan berkata kepada anaknya bahwa ia pernah seperti itu;)

    Yah.. setidaknya saya suka karena film ini benar2 SU (Segala Usia). Dan ya, poinnya penonton hendaknya cerdas menangkap esensi film tsb, begitu? Itu hak sekaligus tanggungjawab penonton, dan film maker hanya menawarkan “fasilitas” berupa film itu sj.

    Seperti biasa, sesuatu yg fenomenal akan mengundang tanggapan2 fenomenal pula’, hohoh..

  14. memang tak ada yang sempurna dalam hidup ini

    SHALEHs last posting..Reg [spasi] Maut

  15. @ faizan kharisma
    Ga salah juga seh boi. Penonton kan sudah bayar untuk mendapatkan hiburan, jadi wajar penonton menikmati apa yang sudah dibayar itu..

    tp.. sy inget wkt noonton. bnyk jg yg nangis…

    mgkin krn diputus pacarnya kali yah

    Hemmm! Curhat colongan ente…

    @ ilamona
    Ide bagus tuh Dan, Ranbow Warrior Road to Village :mrgreen:
    Jangan-jangan sudah direncanakan, soalnya saya perasaan pernah baca di mana gitu..

    @ df
    Ah, saudara merasa dapat teman sefaham di sini? :)

    Padahal dalam postingan saya, tidak sedikitpun saya mencerca Film atau Novel Laskar Pelangi.

    Saya bilang bahkan Film ini memang salah satu dari sedikit film Indonesia yang tidak menjijikkan.

    Saya hanya mengingatkan penontonnya, termasuk saya sendiri, agar tidak melupakan pesan yang ingin disampaikan dan tida terjebak pada sekedar kelucuan Harun atau kisah cinta lugu Ikal – A Ling.

    1 & 5 Film adalah media yang berbeda dengan buku. Adalah sangat keliru mengharapkan kesan yang sama jika menonton film adaptasi semacam ini. Saran saya, kalau menonton film adaptasi, lupakan sejenak alur cerita dan detail yang ada pada buku asli, cukup sekedar pengingat karakter tokoh saja.

    2. Saya tidak sependapat. Saya justru sangat menikmati karakter yang ada di film ini. Mereka realistis. Manusiawi.

    3. Saya tidak bisa mengomentari masalah tekhnis, karena memang tidak punya ilmu apapun di bidang ini. Hanya saja secara pribadi, saya menghargai usaha membangun background 70-80an oleh si pembuat film ini, terlihat dengan upaya mereka menutupi latar belakang gedung sekolah Muhammadiyah dengan jejeran kayu, agat tidak terlihat latar belakang modern saat ini.

    Sempitnya penggunaan sudut pandang mungkin disebabkan sulit mengambil gambar keseluruhan dengan kondisi saat ini, untuk menciptakan nuansa 70-80an itu. Mungkin saja di sekeliling backgroun itu sudah ada papan reklame atau ruko, hotel gedung modern yang tentu akan merusak cerita jika termuat dalam gambar.

    4. Saya tidak setuju lagi. BELUM PERNAH lagu Rhoma Irama terdengar seromantis ini bagi saya.

    @ Rasyeed
    Memang terniat untuk memulai backpacking dari dalam negeri saja dulu, bahkan dari kalimantan saja.. Doakan sahaja…

    @ awym
    Sabar wym…

    @ warmorning
    Susahnya sekarang, murid tidak semangat guru tidak punya mimpi…

    @ dnial
    Mau S2 bareng? France sounds good :P
    Jangan ngomongin mentri pendidikan di blog ini, kena akismet :mrgreen:

    @ koko
    Seep, saya setuju dengan bagian itu. Nabi Muhammad saja ada yang tidak suka ko.

    @ Takochan
    Justru itu maksut saya boss, jadilah penonton yang cerdas, yang tidak hanya tertawa ketika adegan lucu dan menjerit ketika adegan seram. Jadilah penonton yang mendapatkan sesuatu.

  16. @ shaleh
    Tidak ada sempurna, karena itu konflik pendapat harusnya disikapi dewasa,,,

  17. @manusia super
    paling dapat petasan wkakak

    “konflik harusnya disikapi dewasa…”
    klo konfliknya itu trus kan bosan lebih baik putuskan saja.

    SHALEHs last posting..Reg [spasi] Maut

  18. *lirik koment mansup di atas*
    betul sekali, one vote for mansup.
    kita tak seharusnya lari dari perbedaan pendapat dan mencari kemenangan di tempat lain…
    sekali lagi, umur tak menentukan kadar kedewasaan
    *mode sok dewasa:ON*

  19. … wujudin dong, dodol ! :D

  20. tapi saya kok tetep nangkep ironi itu ya…
    mungkin karena saya sudah baca novelnya duluan..

    itikkecils last posting..I did that for what?

  21. @awym
    “lari dari perbedaan dan mencari kemenangan di tempat lain”
    Tidak juga, klo perbedaan itu sudah terlalu lebar dan menyangkut masalah prinsip, sulit digabungkan karena hanya akan bikin sakit hati di salah satu pihak. Bukankah hidup katanya mengalir

    SHALEHs last posting..Reg [spasi] Maut

  22. uuuh katanya mereview penontonnya huh! -tertipu-

    bagiku best quotes adalah apa saja yang dikatakan Mahar *drools* rasanya pengen mengijon ni anak deh.
    tambah satu quote lagi: “Bu Bu!” kata Harun. his ONLY line.

    minas last posting..Daddy-Long-Legs (Kidari ajeossi)

  23. komennya si dnial: “Pesan yang aku tangkep dengan jelas seh malah dari buku Sang Pemimpi. “Kita ini orang miskin. Orang miskin cuman punya mimpi.” and they go to France.” <— very well put.

    minas last posting..Daddy-Long-Legs (Kidari ajeossi)

  24. Bagi saya, film ini adalah sebuah film yang luar biasa.
    Cuma satu hal yang masih jadi pertanyaan saya, “Dimana yah klimaks utamanya?”

    o c H es last posting..If the World Could Vote

  25. makanya saya menunggu film itu diputar dikoridor kampus dan bukan di ruangan ber AC seperti 21, dulu mba mira lesmana itu sring banget melakukan road show pmutaran film2 hasil garapannya, tentu saja pd waktu itu film indo blum sebooming sekarang ini

  26. Postingnya ko sama kya yang di WP ya?
    ?binun sambil garuk² kepala?

  27. kapan ya ada film indonesia yang mengangkat urang banjar???

  28. Wakakakakak … keracunan kuku … ya walaupun banyak kekurangan, tapi saya tetep cinta buku, cerita dan film ini … :D

    Fentys last posting..Lebaran tahun ini …

  29. wahhhh saya belum lihat tuhhhhh pengen lihat tapi di padang kapan ya/……?

    imoes last posting..‘www.rinduku.wordpress.com’

  30. Tapi biasanya semakin banyak kritik semakin menarik.

  31. pak guru rupanya ingin kembali menegaskan pentingnya pendidikan. Okeh deh. Filmnya hebat, bukunya gak tau. Lom baca…

    hariesajas last posting..Benarkah Teh Celup Berisiko Tinggi bagi Kesehatan?

  32. Memang susah untuk berharap kesempurnaan dari adaptasi buku, tapi bagaimanapun film ini adalah film pertama yg ditonton anakku di bioskop(pas ultahnya yg ke 7).
    Dia sempat menangis ketika adegan Lintang nggak bisa nerusin sekolah….
    Aku sendiri berkaca-kaca terus hampir di separo film…..
    Semoga saja aku dan anakku bisa menangkap kebaikan yg ada di film itu seterusnya, sepanjang hidup…
    Salam

  33. ehem, kayaknya ada yang ngerasa. Padahal ga nyinggung siapa2 tuh ;)
    *siapa yah, garuk2 kepala*
    yah, hidup memang mengalir, tapi tidak mengalir ke arah yang kurang tepat kan, menyikapinya juga tidak dengan emosi… hehehe

    ditunggu deh Rancangan Undang-Undangnya? Sukses yaa!

    awyms last posting..Entahlah

  34. mulai dari awal buku keluar saya sudah tidak suka, keterlaluan yang meagung-agungkan novel itu bagus, dak Alhamdulillah saya di ingatkan Allah untuk tidak kepingin nonton filmnya

    isuur loewengs last posting..Kisah Cinta Tanpa Bicara.

  35. menarik rasanya, sekedar menikmati..
    berkaca tentang diri..
    tentang perjuangan hidup..

    belajar lagi tentang ikhlas, tentang cinta dan tentang harapan..

    salamhangat
    be a better man for a better destination

    bangzenks last posting..Klasemen LSI per 6 Oktober 2008

  36. alhamdulillah sampai saat ini aku masih keras kepala..

    baca bukunya belum
    nonton filmnya juga belum…

    biarlah itu jadi booming buat orang lain..
    buat aku tidak hahaha

    bakhrians last posting..Fulfillment of the spiritual needs

  37. Nadira dan Sahara memang sama-sama iyengnya dan sama-sama pengarasan-nya ya? Hohoho…

    Ameds last posting..Bahasa

  38. Saya ga susah membayangkan susahnya dunia pendidikan di kampung. Kan sudah tau gimana Rantau Bujur dan Belangian.

    Yang susah saya bayangkan gimana anak kampung Belangian bisa jadi sepeti Andrea Hirata???

    Jangan jangan Andrea Hirata itu bukanlah anak kampung beneran. Soalnya selain Hirata, saya belum pernah nemu anak anak Dari Juhu, Batu Perahu, Alat, Belangian dan desa desa lainnya yang bisa jadi penulis buku apalagi sampai kuliah ke luar negeri. Soalnya paling banter mereka jadi petani tuh.

    Kalau pun jadi mahasiswa paling paling juga mahasiswa lokalan, bukan luar negeri. Dan setelah lulus pulkam ke habitatnya

    Fortynines last posting..Ramadhan Akan Segera Berlalu

  39. kekurangan laen,
    – mp3 nya kada beisi lo hehehehe ?????
    – antrinya panjang

    SoulHs last posting..Akhirnya SUNGKEM juga (BodoH)

  40. kata orang memang film ini bagus. saya, belum menonton.
    kritis menonton film ya memang harus mas mansup.

    Kelak, saya pasti akan menonton.
    semoga film ini tidak mengecewakan!

    *salam*

    blues last posting..My Blueberry Night

  41. setuju dengan klo nonton film jgn mengingat bukunya tar yang ada kecewa seperti biasanya karena sibuk membanding-bandingkan…

  42. sayang aku belum nonton filmnya (ya iyalah, mau nonton di mana geto lowh?)

    tapi kalau penilaian ini diambil karena melihat profil penontonnya, gak sah juga dong, dil.
    karena berarti bukan tontonannya yang kurang nilai, tapi penontonnya yang gagal mengambil iktibar.
    lagian, belajar atau tidak melalui film ini, itu kan generik banget, apa tolok ukurnya?

    marshmallows last posting..Marshmallow was in Canberra

  43. Saya malah belum nonton sama sekali :-?

    isneses last posting..Omong-Omong Soal Pekerjaan…

  44. bisa tidaknya penonton menangkap pesan bukan cuma tergantung sama filmnya, tapi juga penontonnya itu sendiri..
    kalo niatnya cuma pengen menghabiskan waktu kencan sama pasangan paling nangkap pesannya ya segitu2 aja, atau malah bisa2 ‘nangkap’ yang lain..
    nah, kalo si manusia super (pendek) pengen nangkap pesannya dengan baik, harusnya habis nonton pulangnya naik sepeda ke gambut, trus waktu ‘kerja’ (alias ngajar) juga naik sepeda..
    pasti ‘berasa’ deh..

  45. ah, ulasan yang sangat dalam!
    :mrgreen:

  46. Kekurangan terbesar laskar pelangi ya ada pada penontonnya bila kita nggak dapet apa-apa. :oo:

    Posting Terakhirnya lovepassword Berjudul Tragedi Kusni Kasdut dan Nasib Tentara Kita

  47. Whah…
    Tiap2 manusia itu khan ada kekurangan dan kelebihan
    Nah semua yank berperan secara langsung maupun gak langsung dari pembuatan film itu khan udah berusaha menghasilkan film yang terbaik…
    Kita sebagai penikmat juga harus sadar…
    Memanknya kita bisa membuat film seperti itu???
    Tanyakan kenapa??

  48. bukunya keren…

    pilem-na keren…

    kepada yang berujar seperti itu,
    1 pertanyaan..
    jika anda di posisi seorang andrea hirata dkk,
    dengan sgl k’kurangan, mampukah anda bertahan? ;)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Get a free blog at WordPress.com | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: