Berhenti Mencaci Indonesia
Juli 11, 2008 at 11:53 pm | In Uncategorized | 71 CommentsHampir setiap hari, setiap orang, mencaci maki Indonesia.
Merapalkan serapah benci, kutukan penuh isi dan penyesalan tiada terperi.
Mempertanyakan betapa sial diri terlahir di negeri ini. Negeri di mana demokrasi masih sekedar basa basi. Negeri yang menjungkir balikkan akal sehat, menipiskan iman, mendewakan penampilan kasat mata, dan negeri yang kebodohan dan kesombongan pemimpinnya jadi hiasan.
Di Indonesia, karunia yang ada di dalam tanahnya justru menjadi kutukan bagi manusia di atasnya. Dan kembali cacian terlontar untuk itu.
Di Indonesia, warga mati diisi peluru yang mereka beli dari uang pajak mereka sendiri, dan kembali tangisan darah mengiringi serapah.
Di Indonesia, sejak kecil anak diajar menilai diri sendiri melalui angka-angka tak berarti, dan dipaksa melupakan fitrah nurani imajinasi. Dan untuk itu, kembali penyesalan terlahir di negeri ini.
Di Indonesia, Hampir setiap hari, setiap orang, mencaci maki.
Tapi…
Sudahkah kita mendoakan Indonesia?
Seberapa sering dalam sujud kita terbersit Indonesia?
Setinggi apa tadahan tangan kita di tahajud malam yang dikhususkan untuk Indonesia?
Masuki Masjidmu, Gerejamu, Puramu, Wiharamu, Kuilmu, Hatimu, dan tanyakan, doa apa yang pernah ada di sana untuk Indonesia?
Tidak malukah kita, mencaci Indonesia, yang dititipkan kepada kita, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, namun tetap setia membiarkan kaki-kaki kotor kita menginjak tanahnya, paru-paru kita diisi udaranya, bahkan dua pertiga tubuh kita dibangun dari airnya.
Maka malam ini, saya ingin berdoa, untuk Indonesia…
Ya Allah, tuhan pencipta Indonesia
Ampuni saya, yang alpa mengingat, betapa Engkau membenci caci maki
Ampuni saya, yang lupa janji-Mu untuk selalu mendengar Do’a kami
Ya Allah, berilah Indonesia kedamaian sebenarnya
Lindungi manusianya dari segala bencana, bencana dari alam, maupun dari mereka sendiri
Ya Allah, berilah Indonesia keadilan sebenarnya
Jadikan Indonesia tempat semua lidah berani mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah
Ya Allah, berilah Indonesia pemimpin yang bijaksana
Jauhkan Indonesia dari pemimpin yang hanya bermodal pesona.
Turunkan hambamu yang mewarisi kebijakan Sulaiman, kearifan Ibrahim, cinta kasih Isa, keteguhan Musa, kesabaran Ayub, dan menteladani Muhammad sebagai pemimpin Indonesia.
Ya Allah, hindarkan anak-anak Indonesia dari segala kebodohan dan kebencian, jauhkan dari pengaruh buruk para tua, namun biarkan mereka belajar menjadi dewasa dalam arti sesungguhnya.
Ya Allah, berikan saya petunjuk, untuk menjadikan Indonesia, lebih baik…
Amin
Caci maki, sumpah serapah dan umpatan yang kita lontarkan setiap hari, akan menyatu di udara, menuju langit, menjadi doa yang buruk bagi Indonesia. Karena itu, mulai saat ini, mari belajar untuk berhenti mencaci Indonesia.
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.


MERDEKAAAAA!!!!
Komentar oleh ManusiaSuper — Juli 11, 2008 #
Saya ndak mencaci Indonesia, Bang..
Cuma mencaci orang yang duduk di singgasana laknat itu…
*pembenaran
Komentar oleh Nazieb — Juli 12, 2008 #
@ Nazieb
Makanya, doakan saja..
Doakan biar diganti
Komentar oleh ManusiaSuper — Juli 12, 2008 #
yepp, masih ada harapan kok…
*ga mo bangun tidur*
Komentar oleh edy — Juli 12, 2008 #
langkah yang berani disaat Indonesia yang begitu terpuruk dan kehilangan arah.
Indonesia atau rakyatnya yang kehilangan arah? atau justru saya? hmmm….
tetap melangkah ke arah yang lebih baik. Mari…
Komentar oleh antown — Juli 12, 2008 #
Hmmmm…..
Begini Mas, biasanya di doakan itu malah akan jadi kebalikannya.
Contoh: Banyak yang mendoakan supaya Nelly Latiff cepat mampus!! Nyatanya? Umurnya hampir seabad.
Maka dari itu. Marilah mencaci dan memaki Indonesia sebagai negara busuk keparat! Hasilnya adalah negara yang bagus dan bersih.
Kok kasus terakhir ini malahan ga berhasil ya??
Komentar oleh Mr. Fortynine — Juli 12, 2008 #
iya, daripada mencaci, lebih baik memaki…
kesannya lebih kuat… hehehhe…
Komentar oleh Silly — Juli 12, 2008 #
apapun yang terajdi sekarang, adalah ridho-nya Alloh SWT, kita harus menerima dan selalu berusaha memperbaikinya, tidak ada gunanya hanya dengan mencaci maki, sama dengan meledek diri sendiri
Komentar oleh Yoyo — Juli 12, 2008 #
Untung saya hanya mencaci pejabat2 yang ga beres itu.
Komentar oleh CY — Juli 12, 2008 #
Saya nda pernah mencaci Indonesia. Yang saya caci biasanya (dan selalu) mereka2 di atas sana yang mengkhianati rakyat mereka.
Komentar oleh KiMi — Juli 12, 2008 #
ya.. dari pada tak kuat menahan diri untuk tidak mencaci, mungkin lebih baik pindah negara saja, siapa tau berhenti mencaci..
Komentar oleh Pakacil — Juli 12, 2008 #
hentikan mencaci indonesia..
teruskan mencaci mas fadhil…
hohohoh…
Komentar oleh Sir Arthur Moerz — Juli 12, 2008 #
jangan salahkan mereka para pencaci (termasuk saya hehe) bang
Mrk juga cinta mati negeri ini, mereka hanya mkn putus asa aja krn melihat negeri ini trus bergerak ke belakang.
Mrk putus asa krn tdk bisa berbuat sesuatu untuk perubahan. Atau mereka sdh berbuat tp itu tdk cukup krn langkah mereka tdk didukung oleh yg lain.
Jd mrk mengeluarkan sumpah serapah dgn harapan di dengar oleh mereka yg bebal
Mrk menyumpah krn mrk cinta negeri ini….
Komentar oleh herry setyono - boelansabit — Juli 12, 2008 #
auk gak termasuk pencacimaki indonesia, kalo mencaci orang yg ngaku2 Indonesia tp gak care – sering! I luv this tumpah darah..
Komentar oleh warmorning — Juli 12, 2008 #
sumpah, dab. saya cuma berusaha mencintai indonesia dengan cara saya sendiri
Komentar oleh joesatch yang legendaris — Juli 12, 2008 #
Setelah baca ini…jadi malu…
Kadang ya saya mencaci Indonesia…tapi lebih banyak bersyukurnya…coz banyak dapet cerita dari temen2 yang di luar negeri.
*_*
Komentar oleh Rystiono — Juli 12, 2008 #
kucinta Indonesia
setulusnya
sungguh cintaku takkan
pernah terbagi yang lain
hehe…komentar saya enggak karuan yah?
superman, kapan kamu main ke rumah? main yah?
Komentar oleh restava — Juli 12, 2008 #
Ikhtiar dulu. Habis itu baru berdoa. Doa melulu tanpa pernah ikhtiar, gimana Indonesia mau jadi baik? Ingat kan kalau Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri?
Komentar oleh moh arif widarto — Juli 13, 2008 #
duh… 1 lagi tulisan yang bagus banget. Jadi penyair ja sudah
Komentar oleh sandi — Juli 13, 2008 #
*mengamini semua doa*
Komentar oleh cK — Juli 13, 2008 #
Fudlail bin ‘Iyyadl seorang Imam Ahlus Sunnah yang menetap di Makkah dan wafat pada tahun 187 H menyatakan : “Kalaulah aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan niscaya tidaklah aku peruntukkan kecuali untuk penguasa. Oleh karena itu kami diperintah mendoakan kebaikan dan tidak diperintah untuk mendoakan kejelekan bagi mereka walaupun mereka berbuat jahat dan dhalim. Karena kejahatan dan kedhaliman mereka (balasan akibatnya) untuk mereka sendiri sedangkan kebaikan mereka (balasannya) untuk diri mereka dan kaum Muslimin.”
tapi saya bukan nasionalis(apalagi pancasilais) maupun pemberontak(apalagi Hizbut Tahrir) ya…
Komentar oleh Frozen X — Juli 13, 2008 #
ikutan kontesnya Ah…
Komentar oleh ardianto — Juli 13, 2008 #
biasa aja tuh…
Komentar oleh adi isa — Juli 13, 2008 #
[...] sangat menyesakkan apabila Indonesia yang sudah remuk redam ini mengalami kesialan yang sama dengan Nigeria atau Bengal. Saya tidak mau itu [...]
Ping balik oleh Konspirasisme « RosenQueen, company. — Juli 13, 2008 #
indonesia mas,ya tetep indonesia,ga bisa berubah jadi turki apalagi jadi cina, mimpi jadi singapura aja susah apalagi nyium baunya turki,manusianya kebanyakan 200 juta lebih susah di atur,termasuk saya..itulah enaknya di indonesia
Komentar oleh ichal — Juli 13, 2008 #
…berbanggalah jadi orang Endonesia,,,upsss!
*setiap kali menekan huruf ‘i’ kok jadi ‘E’ terus? aneh!!!*
Komentar oleh harie insani putra — Juli 14, 2008 #
insya Allah tak sekedar makian, tapi ingatan yang membangun.
do’a kami bersamamu Indonesiaku!!
salamhangat.
berbagi cerita..
Komentar oleh bangzenk — Juli 14, 2008 #
[...] ɐısǝuopuı ıɔɐɔuǝɯ ıʇuǝɥɹǝq [...]
Ping balik oleh LPLPX.COM » Blog Archive » Write Upside Down — Juli 14, 2008 #
semoga jaya Indonesia.
adil pemimpinnya.
sejahtera rakyatnya.
Komentar oleh arifrahmanlubis — Juli 14, 2008 #
eh tapi bukannya tiap kali habis sholat berjamaah itu yang didoakan para pemimpinnya?
Komentar oleh itikkecil — Juli 14, 2008 #
ga adil ya.
yg dapat untung segelintir manusia serakah…
tapi seluruh negeri menuai serapah.
Komentar oleh Toga — Juli 14, 2008 #
Saya percaya .. postingan indah diatas, ditulis bukan karena ingin ikutan lomba, tapi semata karena menyadari, sudah cukup caci maki buat negeri ini. Saatnya sekarang kita menyadari, bahwa caci maki tak pernah dapat membuat kita mandiri. Yang ada hanya membuat kita pergi.
Semoga .. kalimat² indah diatas benar² merasuk dalam sanubari dan dituliskan dengan tulus ikhlas agar doa kita dikabulkan Allah Sang Maha Pemilik Alam yang telah menitipkan negeri ini pada kita semua.
Nice postingan bro
Komentar oleh erander — Juli 14, 2008 #
kalo doa beneran aku aminnnin
kalo buat lomba aku doain menang..
Komentar oleh ulan — Juli 14, 2008 #
Indonesia
biar kumaki kau dengan sepenuh cinta.
Indonesia
biar jujur hatiku mengatakan kau tak sempurna
Indonesia
Negeri Narsis yang dipimpin oleh pemimpin Narsis pula
Tapi kau tetap negeriku Indonesia.
Jujur aku nggak bilang kamu sempurna
Jujur kamu emang negerinya para kadal.
Jujur ini negeri tempat para kadal berkuasa
Tapi jujur pula
Biarkan aku mencintai dalam
semua kekuranganmu…
Karena akupun tak sempurna.
Komentar oleh lovepassword — Juli 14, 2008 #
yuk mariiii…. klo gitu setelah berhenti mencaci mari kita bersih2…. bersih2 rumah gw…. hiks…hiks… wakakakaka
*kabuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrr*
Komentar oleh masenchipz — Juli 15, 2008 #
@ All











Maaf baru sempat menanggapi, sedang sibuk penerimaan siswa baru
Dan sekedar klarifikasi, postingan ini tidak diniatkan untuk lomba apapun, hanya saja kebetulan sehari setelah diposting, ketemu info dari Bos Iwan, kebetulan saja.
Tulisan ini murni untuk Indonesia
dan hosting gratis
@ Edy
*Siram pake air cucian beras*
@ antown
Berdoa bukan berarti kehilangan keberanian untuk bertindak masbro, tapi sebagai penopang utama dari suatu tindakan
@ Mr 49
*ngakak guling-guling*
Kenapa contohnya sidin buset?? Ketulahan mau pank tu..
@ Silly
Ngomong apa
tantemba ini@ Yoyo
Bener betul Masbro, bukannya yang membuat Indonesia begini ya rakyatnya juga, kita juga kan?
@ CY
Celakanya cacian itu tidak membuat pejabat menjadi beres
@ KiMi
Tukang listrik? *lirik ke atas*
@ Pakacil
*Ngakak*
Saya sempat berpikir, sepertinya sulit memperbaiki dari dalam, karena kita masih jadi bagian dari sistem yang hendak diperbaiki ini. Jadi mungkin lebih afdol kalau memperbaikinya dari luar, tapi entahlah, belum ada jalan menuju ke sana
@ Moerz
Uuu, Uaseemm… *kubur Moerz hidup-hidup bareng Luna Maya*
@ Herry Setyono
Tapi sumpah serapaj tidak merubah apa-apa pak, hanya memuaskan sementara bagi si penyumpah
@ warmorning
We love Indonesia, and love sometimes hurts
@ joesatch
Saya mengerti dab, kamu memang unik
@ Rystiono
Saya juga sering mencaci negara ini dan semua prilaku manusianya, tapi kadang lupa, tokh saya juga manusia Indonesia
Saya menang kan masbos?@ restava
Kaya pacaran, janji setia fren?
Mau seh berkunjung, tapi link-nya mana?
@ MAW
Bener sekali kata anda bos, tanpa ikhtiar ya sia-sia juga. Tapi ini bukan tentang usaha dan doa, tapi antara cacian dan doa
@ sandi
Wah, saya males jadi penyair, jadi
suamipenyiar ja puwas dah..@ Frozen X
Wuih, ada ya fatwa begitu? Saya baru tau malah, mana yang ngomong Fudlail ya?
Fudlail – FDL – Fadil *maksa*
@ ardianto
Jangan mas, ntar saingan saya nambah
@ adi isa
Terima kasih sudah meluangkan waktunya
@ ichal
Tapi mungkin suatu hari, 100 tahun lagi, anak cucu saya akan mengenang saya sebagai salah satu orang yang menjadikan Indonesia mereka lebih baik, bukan sebaliknya (Dream on…)
@ Harie Insani
Nah duit, ganti keyboard gen, supan mun ketua komunitas keyboarnya error
@ bangzenk
Terima kasih doanya bos, salam juga
@ arifrahmanlubis
Aminnn
@ itikkecil
Tapi apakah doa itu dari hari bu? Atau sekedar ritual sebuah upacara yang hanya terlontar di lidah tanpa difahami?
@ Toga
Mungkin keadilan itu punya beragam definisi pak, terima kasih sudah datang
@ erander
Tulisan ini ditulis sebelum lomba bang
Tapi pas kebetulan ketemu pengumuman lombanya, ya sekalian promosi diikutken saja. Tidak diniatkan ko.
@ Ulan
Tumben koment belakangan
@ lovepassword
Narsis masih mending bos, yang celaka itu suka ga nyadar kalo sudah salah
@ masenchipz
Bersih-bersih di rumah? Sering dicaci juga mas?
Komentar oleh ManusiaSuper — Juli 16, 2008 #
anehnya setelah ribuan kali di caci, tetep stuck disitu ya
ato karena
cuciancaciannya kurang ya?*sini tak tambahin*
-kaboor-
Komentar oleh lainsiji — Juli 16, 2008 #
nice post pakbro guru, mengingatkan saya utk jangan hanya pande mencaci, tapi jg kudu pande bersolusi
Komentar oleh the hermawanov — Juli 16, 2008 #
@ lainsiji
Justru itu, mungkin cacian itu kembali ke Indonesia dalam bentuk energi negatif yang menyulitkan kita memperbaiki segala sesuatu..
the hermawanov
Mantabs pak, seepp.. Seepp..
Komentar oleh ManusiaSuper — Juli 16, 2008 #
benar sekali,.. oh nampaknya saya harus mulai memasukkan nama indonesia dalam daftar doa tiap malam neh,,hehe
Komentar oleh ika — Juli 16, 2008 #
I really love my country too, tapi jujur tulisan ini menyadarkan gw bahwa sampe saat ini gw memang belom pernah mendo’akan Negara yang gw cintai… berasa dosa besar nih gw
Komentar oleh andi — Juli 16, 2008 #
itulah semuanya saling menghujat . . .
jarang ada yang berfikir positif,
Komentar oleh bakhtiar — Juli 16, 2008 #
woalaaaaaah…
pantes ae postingane agak waras…
buwat lomba ternyata!
Komentar oleh chiw — Juli 17, 2008 #
Hidup Hiduplah dengan Hidup itu sendiri
Komentar oleh Jauhari — Juli 17, 2008 #
Mungkin maksud hati menyampaikan pesan ke penguasa, tapi dengan cara memaki. Saya setuju apa yang kita pikirkan itu yang akan kita dapat. Lebih baik kita mendoakan Indonesia untuk lebih maju.
Komentar oleh dhyar — Juli 17, 2008 #
indonesia akan maju kok…
entah kapan
Komentar oleh kishandono — Juli 17, 2008 #
caci maki saja mereka, aku cuma pengen ikut-ikutan
Komentar oleh NdaruAlqaz — Juli 20, 2008 #
[...] saya, ratu kopdar terkenal seantero jagad, pak dokter hewan yang hebat bikin komik , pak guru yang suka dikira keren dan gak nyadar potensi diri, bu guru yang jarang nulis tapi rajin jalan-jalan, bapak guru yang punya obsesi tersembunyi [...]
Ping balik oleh warmorning award « easy like sunday morning — Juli 22, 2008 #
[...] terus terang auk sedikit bingung setelah ngetik nama yang auk kenal ini, dan hasilnya seperti di bawah ini.. ah benarkah *ketik sekali lagi…, ah tetap gak berubah [...]
Ping balik oleh google page rank o’mine « what you gonna do beside my desk — Juli 22, 2008 #
janganlah kalian mencaci indonesia.
indonesia kan akan hancur sebentar lagi, untuk apa dicaci.
Komentar oleh Mahavatar Ratu Adil Satria Pinandhita — Juli 22, 2008 #
*Ngelirik komen di atas*
Wohohohohoho…
Komentar oleh Amed — Juli 22, 2008 #
sayah ga nyesel jadi orang indonesia… palingan cuman mikir “wahhh dimana ya keluarga-keluargaku yang lain?”, karna mereka masih terdampar di negri entah mana ituh… huhuhu… bisa jadi bobo ho adalah sepupu sayah kan?
Komentar oleh fenny — Juli 22, 2008 #
Saya udah capek maki gak ngaruh juga. Lama2 ikut gila juga. Bener2 penggilaan terstruktur
Komentar oleh utchanovsky — Juli 22, 2008 #
aku ikutan ahh….
Komentar oleh thegands — Juli 23, 2008 #
abis.. kadang2 nyebelin sih, jadi sumpah serapah kadang2 terlontar juga, tapi kalo kritik itu kan tandanya sayang, hehehe
Komentar oleh neng fey — Juli 23, 2008 #
aku dah doakan indonesia tercinta ini
menjadi negara yang maju dan tidak ada lagi bencana
pertumbuhan ekonomi naik 9 %
aminnnnnnnnnnnn
Komentar oleh satya sembiring — Juli 24, 2008 #
saya hanya nyindir…
Komentar oleh sluman slumun slamet — Juli 25, 2008 #
wah banyak banget komennya. artikelnya emang bagus
Komentar oleh rahmat sandi — Juli 26, 2008 #
rahmat sandi:::
bukan. itu sih gara2 mansup suka nyepam
Komentar oleh joesatch yang legendaris — Juli 26, 2008 #
Hmmm… yg mau saya komentari hanya satu. Doanya bagus
Memang sudah saatnya membangun negeri ini dengan kasih sayang, bukan cacian…
Komentar oleh dho — Juli 27, 2008 #
amiennnn… mencaci indonesia ya sama aja mencaci diri sendiri. saya gak pernah menyesal dilahirkan disini. mari doakan terus dan bangun… lagi-lagi: amien… salam -japs-
Komentar oleh japspress — Juli 27, 2008 #
@ ika – andi – dhyar – dho – japspress



Muantebs, mari kita sama-sama mendoakan Indonesia
@ bakhtiar
Sebenarnya ga salah juga pesimis kalo kondisinya memang serba negatif, tapi tetap saja rasanya da afdol kalo lupa berdoa…
@ chiw
asem, ga gw transfer lagi neh?!
@ Jauhari
*bingung*
@ kishandono
Entah kapannya bikin ga enak pak
@ NdaruAlqaz
Mending ajarin saya ngitung bos
@ Mahavatar Ratu Adil Satria Pinandhita
Ya, ya, ya, koment pertama ini masih saya anggap lumayan, belum masuk daftar akismet…
@ Amed
Wohohoho, we need enemy, always
@ fenny
Kalo bobo yang telinganya panjang itu sodara juga?
@ utchanovsky
Siapa yang ngatur ya? kospirasi?
@ thegands
ikut berdoa?
@ neng fey
Kadang saya juga memaki bu, sering malah… Emang kebangetan seh kadang…
@ satya sembiring
amiin…
@ sluman slumun slamet
nyindir yang nyinyir
@ joesatch
…
Bukannya guru kita sama??
Komentar oleh ManusiaSuper — Juli 29, 2008 #
[...] timbul pikiran, haruskah saya memaki Indonesia ataukah memaki penjahat jenis ini. Ataukah cacian saya lemparkan untuk pemeras supir-supir [...]
Ping balik oleh Supirlah Yang Mensubsidi Pelajar, Bukan Pemerintah ! « Sains-Inreligion — Agustus 3, 2008 #
bingung, apakah Indonesia sudah sedemikian rusak, bahkan oleh rakyatnya sendiripun malu dengan bangsanya ini?
Komentar oleh iis sugianti — Agustus 3, 2008 #
Hiks…jadi tersentuh…
Komentar oleh Mi Chan — Agustus 15, 2008 #
hahhahha,,,
ciep ciep,,
jangan caci INDONESIA,,
tanahku,,,
klo mang g’ ska ma indo g’ sah d’ caci,,
daripda makan ati mending langsung keluar ngri aja,,,,
g’sah muna sedikit2 ngebanggain sedikit2 nge–caci,,,
sebenerna kan bkan negrinya yang slah tapi orang yang menempati na,,,
yang slah tu KITA,,
bukan INDONESIA,,,
>.< ,,
—–___________——
Komentar oleh mE — Agustus 20, 2008 #
[...] 1: Berhenti mencaci Indonesia. Juara II: Jangan main-main, ini Indonesia Bung. Juara III: Pak Tani, Their Endless Circle of [...]
Ping balik oleh Pengumuman pemenang kontes blogging 17-an | Rystiono 2.0 — Agustus 21, 2008 #
[...] [dot] com adalah pemberian dari om Iwan Rystiono, sebagai penghargaannya atas tulisan Berhenti Mencaci Indonesia. Domain dan hosting sepenuhnya diurus oleh beliau. Untuk itu, saya mengucapkan terima [...]
Ping balik oleh Langkah Baru - A Journal Of A Not-Superman Human — Agustus 25, 2008 #
Wow, merinding aku bacanya. Selamat ya jd pemenang kontes blog rystiono
http://www.mannusantara.blogspot.com
Komentar oleh wong ndeso — Agustus 28, 2008 #
[...] Lalu pada pertengahan tahun 2008 ini, saya dapat hadiah dari mas Iwan, sebuah domain dan hosting gratis karena penghargaan beliau atas posting saya yang berjudul Berhenti Mencaci Indonesia. [...]
Ping balik oleh Sejarah Blog - A Journal Of A Not-Superman Human — Oktober 29, 2008 #
[...] masih terdengar doa-doa itu? Bukankah setiap khatib jum’at sudah mengajak kita untuk mendoakan ulama, mendoakan pemimpin, mendoakan negara, agar terlepas dari bala [...]
Ping balik oleh Apakah doa kita sudah dikabulkan? « Pieces of Mind — Maret 11, 2009 #