Antara Pelacur, Ulama, Polisi dan Saya
April 11, 2007 at 9:18 am | In Uncategorized | 25 CommentsStereotif, sebuah tantangan.
Oxford menyebutkan:
stereotype —n. 1 a person or thing seeming to conform to a widely accepted type. b such a type, idea, or attitude. 2 printing-plate cast from a mould of composed type. —v. (-ping) 1 (esp. as stereotyped adj.) cause to conform to a type; standardize. 2 a print from a stereotype. b make a stereotype of.
Tantangan paling besar dalam sebuah status, pekerjaan, profesi atau kegiatan, adalah stereotif negatif.
Saya bekerja sebagai reporter berita, atau secara umum disebut wartawan. Saya pernah begitu lelah bekerja dengan status ini. Bukan pekerjaan fisiknya yang menguras energi saya. Tapi justru beban mental yang sangat berat untuk otak dan batin seadanya milik saya ini.
Menjadi wartawan di Banjarmasin (saya tidak tau dengan daerah lainnya, diagnosanya seh, sama) berarti mensejajarkan diri dengan peminta-peminta. Tanpa harga diri. Bahkan tanpa nurani.
Sedikit cerita, wartawan di Banjarmasin bergaji rata-rata 350 ribu hingga 2,5 juta. Namun kebanyakan memiliki pendapatan dibawah 800 ribu.
Tapi dengan target gaji seminim itu, ternyata profesi ini banyak peminat. Kenapa? Karena gaji boleh sedikit, tapi pendapatan, bisa puluhan juta rupiah perbulan!
Dari mana pendapatan itu didapat?
Dari amplop tentu saja. Amplop? Amplop adalah istilah untuk merujuk pada pemberian atau suap atau sogokan atau uang tutup mulut dari pihak lain untuk wartawan terkait berita.
Contoh, misalnya saya wartawan yang meliput sebuah penangkapan pengedar narkoba di Banjarmasin. Keluarga si pengedar karena malu anaknya ditangkap, meminta saya untuk tidak memberitakan peristiwa ini. Imbalannya? Bisa mencapai jutaan rupiah! Nominal pemberian bisa lebih besar tergantung kasus dan kondisi keuangan si ‘korban’.
Itu adalah contoh uang tutup mulut. Adalagi contoh, sebuah Partai mendeklarasikan pasangan calon bupatinya menjelang pemilihan kepala daerah. Wartawan diundang hadir dan meliput acara ini. Beritanya diminta ditulis dengan sebagus-bagusnya, puji si calon kepala daerah dengan semaksimal mungkin, tutupi keburukannya, dan silahkan ambil amplop berisi uang ratusan ribu ini.
Bahkan ada media di Banjarmasin dan mungkin di daerah-daerah lainnya, yang ada hanya untuk membajak. Mereka sengaja menyebar wartawannya ke ejabat-pejabat, atau ke link-link lainnya. Mencari kasus korupsi, pelanggaran hukum dan lainnya. Setelah dapat info, mereka akan mendatangi pihak yang melanggar hukum ini dengan ancaman akan memuat berita tersebut. Setelah si pejabat korup memberi sejumlah uang, berita urung ditulis, media tidak jadi terbit.
Hal ini tidak hanya dilakukan oleh wartawan media lokal tapi juga wartawan dan koresponden media nasional yang gembar-gembor ‘wartawan kami tidak menerima uang, amplop, perhiasan atau suap dalam bentuk apapun’.
Itu, adalah stereotif yang saya hadapi. Bayangkan setiap saya bekerja, saya MEMBAYANGKAN orang lain MEMIKIRKAN saya sebagai orang yang kerjanya mengerecoki, pura-pura pintar, sok tau, membuang waktu, dan ujungnya minta duit sangu….
Betapa menyedihkan…
Saya hampir mengajukan pengunduran diri karena hal ini. Saya ingin pekerjaan yang membebaskan saya dari stereotif-stereotif negatif. Saya ingin bekerja dengan baik dan dinilai baik.
Tapi setelah saya pikirkan, pekerjaan apa seh yang tidak ada stereotifnya?
Sekarang, menjadi ulama saja (memang ulama profesi? debatable, he…) ada stereotif negatifnya. Yaitu sebagai sosok pura-pura ahli agama yang justru membodohi umat.
Contoh kongkrit, dokter. Betapa mulia profesi itu, betapa negatif stereotif yang disandangnya. Dokter kerap indetik dengan drakula penghisap darah tanpa nurani yang memanfaatkan sakit orang lain untuk mencari keungtungan pribadi.
Sebut lagi, polisi. Wuih, stereotifnya untuk masuk akademi polisi saja harus keluar duit jutaan rupiah. Pas jadi polisi resmi, tujuannya hanya menutupi kerugian bea masuk tadi hingga akhirnya kebablasan keterusan mencari keuntungan dari keadilan yang dipermainkan. Sama seperti hakim, jaksa, dan petugas keadilan lainnya. Itu stereotif, faktanya mungkin tidak seperti itu.
Ada lagi anggota DPR RI – DPRD, perlu saya sebutkan stereotif negatifnya? Yang kerjanya hanya tidur, bicara asal dan membawa duit negara ratusan juta setiap bulannya.
Status lain, pejabat negara, presiden, mentri, pengusaha, anggota LSM, Praja IPDN, PNS, sopir angkot, pengemis, sales, pegawai swasta, pramugari, cewek pirang, orang arab, orang madura, orang batak, artis, pelacur, sampai blogger.
Tolong sebutkan siapa yang tidak memiliki stereotif negatif dalam statusnya… Tidak ada?
Well, lalu kenapa saya harus membebani otak saya untuk sesuatu yang permanen ada? Kenapa saya tidak membuktikan diri saja? Menegaskan bahwa meski saya wartawan, saya tidak bisa dibeli, berita saya berpihak pada keadilan dan kepentingan umum, saya mencintai pekerjaan saya, karena memang saya menyukai pekerjaan ini.
Saya suka atau tidak suka, saya pikirkan atau tidak saya pikirkan, stereotif akan selalu ada di sekeliling saya.
Saya dokter, saya polisi, saya blogger, saya ulama, saya manusia dan saya tidak seperti yang dicitrakan negatif itu.
Saya akan buktikan, dan penilaiannya saya serahkan kepada Hakim Yang Paling Adil.
25 Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.











setuju… sebagai seorang guru, saya sangat mendukung gerakan menuju profesionalisme sejati ini… kapan mau dideklarasikan secara resmi?
Komentar oleh andana — April 11, 2007 #
Dil, blogger itu jurnalis yang frustasi! Kamu frustasi kan? Kalo gitu betul stereotif Wan Mentri Malaysia itu…
Komentar oleh Amd — April 11, 2007 #
Salah satu polisi yang tidak pernah korupsi meskipun siapapun melewatinya, yang saya tahu POLISI TIDUR. Ulama yang tidak pernah korup atau mengambil-ambil ayat untuk sesuap nasi adalah U – lama (OE), dan Pelacur yang tidak pernah merasa bersalah… ya praja IPDN…. (nggak nyambung, yang sama cuma huru P saja)….
Duh… ternyata wartawan yang punya hati nurani itu masalahnya susah ya. Semoga kuat menerima beban kehidupan dalam lingkaran lumpur. Seberapa besar kita mampu mengelak?…
Komentar oleh agorsiloku — April 11, 2007 #
Profesionalisme?! Setuju deh…, tapi kata ini lebih mudah utk
diucapkanditulis ketimbang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kecuali orang2 yg berada dalam barisan Idealis.Komentar oleh Sugeng Rianto — April 11, 2007 #
yupz! profesionalisme itu memang sulit untuk diaplikasikan pada kehidupan nyata. tentunya karena terbentur stereotip yang negatif itu tadi. tapi aku setuju n ndukung apa yang dilakukan mas superman ini =9
Na juga wartawan, dan sempet dilema seperti mas superman waktu awal2 tugas. tapi sekarang sih cueka ajah.. untungnya, aku sekarang dah jarang banget ketemu sama yang suka ngasih2 ‘duit’.. =9
Komentar oleh kana — April 11, 2007 #
wah…saya kalo liputan dikasih duit bisa dimarahin si boss…mendingan dikasi makan aja. khan ga bisa diminta kembali tuh khekhekehkhe…
Komentar oleh cK — April 11, 2007 #
dil, kalo ‘pake’ lo semalem perlu pake amplop kagak?
Komentar oleh antobilang — April 11, 2007 #
pikir senengnya aja.
toh banyak yang mbayar
rejeki ya rejeki, idealisme ya idealisme
Komentar oleh joesatch — April 11, 2007 #
Jadi pengangguran saja, Mas
Eh, pengangguran masih ada stereotipnya, ya
Komentar oleh Mr. Geddoe — April 11, 2007 #
Rahasia umum, banyak kasus korupsi/penyelewengan lenyap tanpa terekspos, wartawannya disumpel duwit
) Banyak yang beragama fulusudin, agama duwid!
Harusnya sekalian aja, jadiin wartawan yang agamanya fulusudin itu sebagai berita.
Semoga idealisme mansup bisa bertahan dalam jaman yang edan, meski resiko gak keduman
Komentar oleh wadehel — April 11, 2007 #
koreksi!! stereotip, bukan stereotif. *gubrakksss*
Komentar oleh venus — April 12, 2007 #
Kemarin ngomongin generalisir, sekarang stereotype, lha kok repot mikirin anggapan orang lain, do your best in the best way sajalah… masalah rejeki urusan Allah, klo disogok ya emang repot sih ga bisa nolak ya? Yang penting nulis apa adanya dan tujuannya baik, misale klo kasus narkoba itu di tulis untuk pembelajaran org lain yg tetep di tulis tanpa menyebut nama si pengguna (inisial) aja khan bisa?
Tapi iya sih anggapan orang wartawan mau nulis berita klo di kasih duit, sebagian org butuh beritanya di publish untuk kepentingan bisnis.. jd disitu terbentuk simbiosis mutualisma terjadilah kolusi, eh kita bikin majalah aja po, trus cari berita yg laku di jual…hahahaha…
halah kok gue yg paling serius nanggepin ya..?
apasih maksud postingannya, narsis ya? huahuhaua….
Komentar oleh EVY YG GAPTEK INI — April 12, 2007 #
Oh, itu istilah di dunia jurnalistik dengan sebutan wartawan bodrex. Sing sabar ya Mas. Hidup ini adalah perjuangan. Dan perjuangan paling berat adalah menjalani hidup sesuai syariat. Karena di sana ada hal-hal yang tidak boleh kita langgar, padahal menurut (nafsu) kita enak dan menguntungkan.
Komentar oleh antosalafy — April 12, 2007 #
Keep istiqomah, suatu saat kejujuran akan menang.
Komentar oleh doeytea — April 12, 2007 #
@ andana, amd, sugeng, kana
Ini bukan soal profesionalisme atau tentang guru atau tentang wartawan… Ini tentang stereotif (atau stereotip!?) yang kadang kerap menjadi masalah untuk saya dalam bekerja, sekedar berbagi pengalaman untuk yang juga merasakannya.
@ Agor
Maksa masukin Praja IPDN mas? Dendam banget ya?
@ Ck
Mau makan bareng? Nanti saya jemput ya…
@ Antobilang
Kalo mau pake gw, jangan pake amplop. Bahkan, jangan pake apa-apa! Tapi gw terima khusus yang ga punya ‘pangeran kecil’
@ joesatch
Dasar! Kesenangannya menyesatkan orang lain…
@ Mr. Geddoe
Betul juga, nganggur saja ya.. Da ada stereotifnya…
@ Wadehel
Fulusudin?? Cabang baru IAIN?? Wakakak…
@ Venus
*pura-pura da baca komentnya*
@ Evy
Di Amrik begitu juga tidak bu?
@ Antosalafy *beneran antosalafy ini??*
Kalo ulama habis ceramah terima amplop, haram tidak pak?
Komentar oleh manusiasuper — April 12, 2007 #
Ass…
Di dunia ini.. memang susah jadi orang baik.. terima kasih atas tulisannya.. luar biasa.. terkadang kita memang harus lebih jernih memandang hidup…
Visit My Blog… Ok…
salam kenal pa!! (Boleh panggil pa kan?)
Komentar oleh almuhandis — April 12, 2007 #
Nah. keresahan atas segala model stereotip dan stigma negatif itu udah dijawab sendiri dengan kalimat terakhir kan?
Semoga tetap bisa istiqomah, Bro…
Komentar oleh n0vri — April 12, 2007 #
Jadi seniman…? Adakah stereotif negatif yang dihadapi…?
Atau jadi
seniman komputerpemakai Adobe Photoshop saja. Sama kan…?Komentar oleh Death Berry — April 12, 2007 #
bukannya menyesatkan…
terimalah amplop itu supaya yang ngasi juga lega.
tapi siapa yang bakal tau kalo idealisme kita tetap berjalan?
buat pelajaran juga untuk yg suka ngasi2 amplop. begitu lho, mas.
yah, intinya…rejeki kok ditolak? hohohoho
Komentar oleh joesatch — April 12, 2007 #
@ joesatch
Seperti contohnya tidak ikut kampanye padahal sudah diberi kompensasi beserta kaos Partai…
Komentar oleh Death Berry — April 12, 2007 #
yang penting niat dulu dalam mendapatkan pekerjaan
yah jadi begitu kalo niatnya gak jelas dan hanya mementingkan diri sendiri
Komentar oleh arul — April 13, 2007 #
pas waktu kasih amplop apa katanya ? kalo katanya buat bensin, ya serahin semuanya ama petugas pom, walaupun ngisinya cumen seliter. hehehe.. namanya aja rejeki to mas, embat ajehhhhh…
Komentar oleh telmark — April 13, 2007 #
salut, aku ikut semangatmu yang terbaca di bagian akhir tulisan ini. sebagai reporter, amplop beredar di sekeliling kita. kebahagiaan terbesar seorang reporter adalah menulis tanpa beban karena tidak menerima amplop. lega sekali….
salam kenal
Komentar oleh j.rizal — April 13, 2007 #
@ almuhandis
susah jadi orang baik?? halah, kok malah begitu? susah jadi orang waras kali…
@ n0vri
yo bro, wassap bro..
@ death berry
seniman itu stereotifnya JARANG MANDI!!
@ joe
susah bro, loe mesti ngalamin sendiri deh, gimana rasanya harga diri loe diinjak-injak hanya karena amplop…
@ arul
niat tanpa perwujudan juga bikin malu kan..?
@ telmark
rejeki halal atau haram? *Kabur nanya para salaf*
@ j. rizal
mantabs bos, tuh ngerti beliau..
Komentar oleh manusiasuper — April 16, 2007 #
gw juga tuh pernah iseng,utk nyari uang tambahan buat bayar krdit motor…gw coba jadi penjawab telp premium call ( yg gambar iklannya seksi dengan penulisan copy writer yg mengundang libido ).sumpah waktu itu isi kepala gw juga sama dengan stereotape org awam lainnya.gw ga di test apa2x kok,cuma suara aja harus di sexy2x in setiap kali ngangkat telp.dan gw tambah kaget lagi begitu gw liat semua rekan kerja gw….ternyata mereka tuh kebanyakan adalah wanita dgn umur 30-40 an.dan kebanyakan sudah punya anak.mereka ngambil pekerjaan itu dikarenakan kekurangan ekonomi,dan terpaksa menempuh kerjaan demikian.yg secara profesi ga susah2x amat.dan ga harus dgn kwalitas pendidikan tertentu.
)
secara bayaran mereka cuma dibayar 400rb/bln.kalau mereka dapat target bulanan ada tambahan cuma sebesar 200rb.dgn hasil demikian mereka diminta begadang semalaman menemani org bicara apa aja di telp,dari mulai soal sex,sosial dan lainnya.start kerja utk sip malam jam 10pm-6am.selama seminggu.libur di atur satu bulan utk setiap pegawai cuma 2 hari.
dengan tekad gaji yg tdk seberapa gw paksain juga utk ikut kerjaan tsb,tapi lumayan bisa buat bayar cicilan motor.ga salah kan membicarakan sex dengan desahan2x nya,selama gw sendiri ga melakukan aktifitas seksualnya.( melakukannya juga gpp seh
profesi itu harus dijalankan dengan niat dari lubuk hatinya,kata bokap gw. fuck with what people think about u,as long as u work it with u’r heart n good mind.its halal n good 4 u.
Komentar oleh adegita — April 26, 2007 #