Beberapa yang Tersisa dari L.A. Lights Meet the Labels 2014 Regional Banjarmasin

17 September 2014 pukul 09.21 | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

“Ngapain mabuk ? Musisi top itu terkenal dulu baru mabuk, Lu terkenal aja belum udah mabuk-mabukan.”

Entah kenapa kalimat itu terus yang teringat di kepala selama beberapa saat ketika menyaksikan L.A Lights Meet the Labels 2014 regional Banjarmasin hari minggu 7 September kemarin. Itu kalimat diucapkan kawannya Abdee Negara yang kesal melihat kelakuan si Abdee sebelum terkenal dan jadi gitarisnya Slank.

Kenapa malah kalimat itu yang terngiang? Sekali lagi entahlah. Mungkin karena melihat para peserta program offline L.A Lights Meet the Labels yang keluyuran tanpa lepas kacamata hitam padahal pagi itu cuaca sedang mendung-mendungnya. Atau karena menyaksikan para mbak-mbak muda kelayapan ke sana kemari ngintilin mas-mas yang bawa gitar atau stik drum macam groupie-wanna-be. Atau sederhana saja, karena iri :P

Lalu mendadak teringat, kalimat di atas pertama terbaca adalah pada medio akhir 90-an. Di sebuah majalah yang sedang khusus mengulas Slank. Ah iya, mungkin rasa tidak nyaman ini juga karena faktor usia. Ada yang sudah tua, dan terperangkap di tengah-tengah mereka yang masih (merasa) muda.

Jadi sudahlah. Terlepas dari niatan para peserta L.A Lights Meet the Labels Banjarmasin ini, entah mau terkenal, entah mau kaya, entah mau punya banyak pacar dan lain sebagainya, yang jelas acara ini sungguh membuka banyak jalan bagi para musisi lokal luar Jawa untuk bisa mengejar mimpi mereka. Seperti yang sejak awal diutarakan, Meet the Labels diadakan karena disadari, ada kesenjangan di Indonesia. Antara Jawa dan luar Jawa, di mana yang satu berlimpah kesempatan dan sarana prasarana, sementara yang lain cenderung dipandang sebelah mata bahkan kadang dianggap tidak ada. Jadi acara ini dimaksudkan untuk menjadi jembatan bagi perusahan rekaman menjemput bola, mendatangi kota-kota di sudut kanan dan kiri Indonesia, dan melihat bahwa mungkin saja ada di sini bakat-bakat musik yang luar biasa.

Dan benar saja, dari sekitar 50-an band, duo dan musisi solo yang tampil di depan juri perwakilan label-label ternama Indonesia hari itu, banyak yang skill musik mereka cukup mumpuni. Para juri yang terdiri dari mas Iman (Universal), mas Ali (AlfaRecords) & dan Richard (267Musikindo) berulang kali sempat memuji para musisi yang tampil. Contoh salah satunya adalah mbak Putri, drummernya The Pabo yang sempat diminta tampil solo memperlihatkan skill menggebuk drumnya.

DSCF5249 aAda juga band yang isinya bidadari semua, Calysta, yang dibilang secara visual sudah cukup menjual. Tinggal perlu peningkatan skill musik masing-masing personil serta memilih genre yang tepat. Soalnya waktu tampil di panggung, mbak-mbak ini bawain lagu yang lumayan keras. Padahal menurut mas Iman, cocoknya mereka membawakan lagu-lagu yang kesannya manis.

calistaTapi ya itu tadi. Kelemahan musisi lokal biasanya ada dua; kurang pengalaman tampil di panggung dan kurang percaya diri. Selain itu, menurut mas Ali, yang penting diperhatikan calon pemusik profesional adalah soal hati. Jaman sekarang, kalau ada kelemahan tekhnis itu gampang diperbaiki. Peralatan studio musik sudah digital semua. Suara miring-miring dikit, autotune ada. Muka rada kucel tinggal make-up sama kostum maksimal sudah bisa. Tapi soal hati, ini yang tidak bisa pura-pura. Mau pas perform, mau pas bikin lagu, kalau tidak pakai hati, ya tidak bisa dinikmati.

Soal hati ini juga yang banyak dibahas waktu Sharing Season L.A Lights Meet the Labels Banjarmasin ini. Selain tiga orang juri dari perwakilan labels, sharing season yang dilaksanakan malam hari sebelum pengumuman Golden Tickets ini juga diisi oleh 3 orang bintang tamu; Kiki the Potters, Steven dari Steven Jam sama Firza Idol. Hampir semuanya menekankan pentingnya main musik pake hati.

sharing season

Selain itu, disinggung juga soal pentingnya sabar. Ada cerita tentang Sheila on 7 yang kaset demo mereka mengendap selama dua tahun di gudang label sebelum akhirnya ada satu produser yang iseng bongkar-bongkar dan akhirnya tertarik merekrut mereka rekaman. Juga Kiki the Potters yang menceritakan, bahkan setelah resmi dikontrak, mereka masih harus menunggu 1,5 tahun sebelum master album pertama mereka selesai direkam, dan setelahnya, harus menunggu 1 tahun lagi sampai single promo pertama mereka dilempar ke pasaran.

Dari sisi tekhnis, calon musisi yang ingin mengirimkan sample musik mereka ke label diingatkan untuk serius dalam packaging. Jangan cuma mengirimkan CD dan data band. Tapi juga cantumkan hal-hal lain yang dirasa bisa menarik.

Juga perbedaan-perbedaan jenis kontrak antara artis dan perusahaan rekaman. Diantaranya tipe Direct Signing dimana semuanya dihandel label, mulai dari rekaman, hak cipta, promosi sampai akomodasi konsumsi. Lalu ada tipe kontrak Master licence, yaitu ketika copyright lagu dimiliki artis tapi biaya produksi lagu juga ditanggung artis yang bersangkutan sementara label menangani urusan promosi. Serta tipe Join venture yang membagi biaya yang serta keuntungan yang ada secara persentasi.

Diingatkan pula, sekarang jamannya media sosial berpengaruh besar. Perusahaan rekaman juga sedang aktif memantau internet. Karenanya mereka yang ingin punya kesempatan lebih besar untuk menjadi profesional harus rajin upload video dan rekaman mereka di media-media yang tersedia.

Setelah Sharing Season selesai, akhirnya diumumkan 3 band yang berhak menerima Golden Ticket rekomendasi untuk maju ke 50 besar nasional L.A Lights Meet the Labels. Mereka adalah Querty, The Mafia dan LOL. The Mafia sejak awal sudah saya prediksi sih, dibuktikan dengan twit saya pagi ketika mereka tampil. Keren soalnya.

winnerAkhirnya L.A Lights Meet the Labels regional Banjarmasin ditutup dengan penampilan Steven dari Steven Jam yang reggae abis, dan Virza Idol yang membawakan lagu Somebody That I Used to Know dan Kangennya Dewa 19. Sial memang. Mana acara ini diadakan di Kawasan Wisata Kuliner Kayutangi Banjarmasin yang dekeeeet banget sama kampus jaman S1 dulu. Lalu lah memori membuncah mendera hati… Halah…

Oh iya, satu lagi, kalau dari obrolan dengan kawan-kawan dari kota lain yang juga mengadakan L.A Lights Meet the Labels, salah satu keluhannya adalah kurangnya peserta cewek. Kalau di Banjarmasin, separo lebih band yang tampil ada anggota perempuannya. Bahkan ada duo dan band yang isinya cewek semua. Jadi soal cewek dan pemandangan sepertinya tidak ada keluhan. Paling yang dipermasalahkan adalah panggung yang kelewat sempit dan tidak beratap, panas brai *_*

PicsArt_1410920649594

 

Untuk lebih lengkapnya sekalian aja ke http://meetthelabels.com gih. Banyak videonya juga di sana, lumayan buat ngayal :P

Cara Kenalan Dengan Mahasiswi Baru di Saat Ospek

3 September 2014 pukul 18.48 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Sudah musim ospek mahasiswi baru ya?

Baiklah, sepertinya sudah saatnya juga saya kembali menurunkan satu ilmu lagi kepada para pria yang merasa kesulitan mendekati wanita dan takut menderita jomblo permanen.

Masalah utama para pria dalam mencari (minimal) kawan perempuan biasanya adalah momentum. Dan pun ketika momentumnya didapat, malah bingung harus diapain.

Adik-adik dan kakak-kakak sekalian, momentum itu jangan dtunggu. Ciptakan!

Dan sekarang di saat-saat ospek seperti ini adalah salah satu saat yang tepat. Ospek adalah saat ketika mahasiswi-mahasiswi baru (yang kebanyakan ngekost) itu sedang labil dan mengalami banyak tekanan. Mereka akan selalu diburu-buru waktu. Diharuskan mencari ini itu di tempat yang mereka sendiri belum tau banyak. Lalu setiap hari harus mendesak-desak diri agar tidak terlambat mengikuti upacara pagi sambil menghadapi panitia-panitia yang sok terlihat tidak pakai hati.

Makanya kalau mau dapat cewek pas ospek, jangan jadi panitia.

Lalu?

Gampang. Pagi-pagi, menjelang waktunya mereka para mahasiswi baru ini harus tiba secepatnya di kampus. Kamu seliwiran aja di sekitaran kampus dan kawasan kos-kosan. Terserah, pake mobil atau motor. Cuma kalau bawa motor, ingat bawa helm tambahan.

Nanti, menjelang waktu masuk ospek itu akan ada banyak mahasiswi baru yang nyaris terlambat. Mereka biasanya juga belum sempat minta kirimi motor dari daerah asal jadi mesti jalan kaki. Nah, di sini lah kamu ceritanya pura-pura lewat dan menawarkan tumpangan biar tidak terlambat mengikuti ospek. Percayalah, mereka tidak akan menolak.

Kalau sudah mau nebeng kamu, ya tinggal ajak bicara tentang kampus barunya. Tanya-tanya. Lalu terakhir bilang aja kalau perlu bantuan diantar-antar lagi, hubungi kamu. Kasihkan nomermu. JANGAN MINTA NOMER DIA. Kasihkan aja nomer HPmu, tunggu dia yang menghubungi duluan.

Kalau sudah dilaksanakan begitu, selanjutnya ya terserah. Mau temenan aja atau dijadikan gebetan. Tergantung rencanamu menatap masa depan…

:P

Banjarbaru yang Beranjak Remaja

23 Juli 2014 pukul 21.07 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Banjarbaru adalah kota favorit ke-3 saya. Setelah London dan Yogyakarta. Bahkan melihat perkembangan Yogya yang setiap tahun semakin macet dan kehilangan identitas budayanya, ada kemungkinan dalam waktu dekat Banjarbaru menjadi kota favorit saya yang ke-2. Berdoa saja.

Namun sama dengan Yogya, sekian tahun ini, Banjarbaru juga berkembang pesat. Kota ini menjadi pilihan untuk perkantoran, pemukiman dan beragam jenis tempat hiburan. Pembukaan dan perluasan lahan di mana-mana.

Saya masih ingat, sekitar 10 tahun yang lalu ikut kegiatan Lintas Alam di kota ini. Waktu itu kawasan yang padat penduduk hanya ada dalam radius sekitar 5-6 kilometer dari jalan raya Ahmad Yani. Sisanya benar-benar cocok untuk lintas alam. Ada hutan di belakang kampus Unlam, lalu menyeberangi bebatuan sungai Kemuning yang airnya cukup dalam, hingga menerabas ilalang setinggi leher hingga malam.

Tapi sekarang, Banjarbaru sudah beranjak dewasa. Ia seperti gadis yang mulai menarik perhatian semua pria. Mulai dari pemerintah provinsi yang memindahkan ke sini pusat perkantorannya, developer perumahan yang bahkan berani membuat villa-villa, perusahaan tingkat nasional dan multi-nasional yang membuka cabangnya, hingga tempat tongkrongan anak-anak muda dari kota dan kabupaten tetangga. Semua ada di Banjarbaru kita.

Secara infrastruktur, Banjarbaru juga tidak buruk. Tata kelola kotanya cukup baik. Rasa memiliki warganya juga sangat terjaga. Dan, kota ini satu-satunya kota di Kalimantan Selatan yang pemerintah daerahnya mengaspal jalan bahkan hingga ke dalam gang-gang kecil tak bernama.

Namun di sini masalahnya.

Berkembangnya Banjarbaru berbanding lurus dengan semakin banyaknya pemukim yang berdatangan. Sebagian besar pendatang ini baru beberapa tahun ada di sini. Mungkin banyak yang tidak mengetahui kultur dan kebiasaan asli.

Mulusnya jalan-jalan di Banjarbaru selain membawa kemudahan transportasi, ternyata juga membawa ekses negatif yaitu kebiasaan kebut-kebutan sebagian pengguna jalannya. Hal ini diperparah dengan kerap mereka yang memacu motornya di atas batas kecepatannya ini juga memakai knalpot-knalpot modifikasi yang bising setengah mati.

Saya, kebetulan tinggal di Banjarbaru dengan posisi rumah persis di samping jalan yang lumayan besar dan menuju salah satu kawasan pemukiman padat baru. Di sini, setiap 10 menit sekali motor-motor, dan bahkan mobil, yang melaju kencang dan bising itu lewat. 24 jam tanpa henti.

Seandainya ini bukan Banjarbaru. Saya menjamin, mereka yang ngebut dan berisik itu tidak akan bertahan setengah hari. Sebut saja seandainya pengendara berisik ini lewatnya di kawasan Kelayan Banjarmasin, atau sekitaran Kayu Tangi. Habis mereka akan dipukuli oleh warga setempat yang emosi.

Saya tidak ingin ini terjadi di Banjarbaru. Kota ini kota yang ramah. Menerima pendatang dan penduduk aslinya mudah berafiliasi. Tapi kesabaran tentu ada batasnya.

Sempat ada pembicaraan tingkat RT untuk membuat semacam polisi tidur di jalan-jalan yang kerap dilewati pembalap amatir ini. Tapi usul ini dipending, karena polisi tidur justru akan menyulitkan pengguna jalan lain yang berhati-hati. Janganlah karena perilaku sebagian oknum, kita menyusahkan seluruh negeri. Itulah, contoh betapa warga Banjarbaru baik hati.

Lalu kalau polisi tidur tidak jadi, bagaimana?

Tentu saja, kita perlu berharap pada polisi beneran.

Sepengetahuan saya, Undang-undang Lalu Lintas sudah memuat pasal yang mengatur tingkat kebisingan sebuah kendaraan bermotor. Hal ini seharusnya bisa menjadi pegangan aparat khususnya di jajaran Satlantas Polresta Banjarbaru untuk mengambil tindakan.

Bahwa dengan kota yang berkembang pesat seperti Banjarbaru, maka akan ada kendala seperti kekurangan aparat polisi, tentu bisa dimengerti. Selanjutnya maka yang perlu dicari adalah solusi.

Mungkin Satlantas Polresta Banjarbaru bisa membuka semacam hotline publik untuk pengaduan warga terkait masalah seperti ini. Setahu saya, di Kabupaten Banjar sudah ada yang begini. Di setiap kelurahan ada nomer telepon aparat yang menjadi penanggung jawab dan bisa dihubungi.y

Mungkin juga bisa dibuka pos-pos jaga baru di kawasan pemukiman yang memang terus berkembang. Tidak hanya terfokus pada jalan raya utama atau lapangan Murjani.

Mungkin, juga bisa mengintensifkan patroli.

Saya harap ini bisa diterapkan secepatnya. Sebelum warga main hakim sendiri…

PNS, Politik, Kampanye dan Media Sosial

21 Juni 2014 pukul 20.16 | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar

Pada setiap pemilu, isu netralitas Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah salah satu topik yang hangat diperbincangkan. Seiring juga dengan isu netralitas TNI/POLRI. Namun berbeda dengan TNI/POLRI yang memang secara jelas sesuai undang-undang diharuskan netral tanpa hak pilih, PNS ada di area abu-abu. PNS secara tegas dilarang menjadi pengurus atau anggota partai politik, tapi mereka memiliki hak pilih. Karenanya, PNS selalu menjadi sasaran janji-janji muluk partai, janji calon kepala daerah, atau janji calon presiden.

Suara para PNS di Indonesia yang mencapai 4,5 juta orang, menjadi rebutan. Di Kalimantan Selatan sendiri, data BPS terakhir menyebutkan jumlah PNS daerah ini mencapai hampir 100.000 orang. Angka tersebut belum termasuk hitungan jika PNS bersangkutan bisa membawa keluarga dan kenalannya untuk memberikan dukungan yang sama dengan pilihannya. Maka dari itu merebut dukungan para PNS selalu menjadi agenda setiap partai politik, calon kepala daerah, calon presiden atau stakeholder politik lainnya pada setiap pemilu dan pemilukada.

Lalu pertanyaannya adalah, di mana posisi PNS pada sistem politik di Indonesia? Apakah diharuskan netral total seperti TNI/POLRI sementara mereka punya hak pilih? Bolehkah PNS ikut berkampanye atau memberikan dukungan secara terbuka pada calon atau partai politik tertentu?

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian yang kemudian diganti dengan UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) secara jelas menyatakan: Dalam upaya menjaga netralitas ASN dari pengaruh partai politik dan untuk menjamin keutuhan, kekompakan, dan persatuan ASN, serta dapat memusatkan segala perhatian, pikiran, dan tenaga pada tugas yang dibebankan, ASN dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik.

Hal ini diperkuat Undang-undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang pada pasal 41 ayat 2 yang secara tegas melarang Pegawai Negeri Sipil menjadi PELAKSANA kampanye politik.

Namun undang-undang yang sama pada pasal 41 ayat 4 dan 5 menyebutkan bahwa PNS boleh menjadi PESERTA kampanye. Dengan prasyarat, tidak boleh menggunakan atribut Partai Politik, Pasangan Calon, atau atribut pegawai negeri sipil. Serta dilarang mengerahkan pegawai negeri sipil di lingkungan kerjanya dan dilarang menggunakan fasilitas negara.

Pasal 44 undang-undang nomer 42 tahun 2008 ini juga memuat topik yang bertema PNS dan kampanye, isinya secara lengkap sebagai berikut:

(1) Pejabat negara, pejabat struktural dan pejabat fungsional dalam jabatan negeri serta pegawai negeri lainnya dilarang mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap Pasangan Calon yang menjadi peserta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden sebelum, selama, dan sesudah masa Kampanye.

(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pertemuan, ajakan, imbauan, seruan atau pemberian barang kepada pegawai negeri dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat.

Pada bagian ini, perhatian perlu ditujukan pada larangan mengajak dan mengimbau anggota keluarga dan masyarakat.

Satu dekade terakhir, dengan semakin canggihnya teknologi informasi dan semakin maraknya penggunaan jejaring sosial di internet serupa Facebook, Twitter atau sejenisnya, orang perorang dengan mudahnya memaparkan ide, pilihan maupun pendapatnya kepada publik.

Terkait hal tersebut di atas, PNS sebagai abdi negara yang statusnya dijamin dan diatur undang-undang perlu memahami bahwa jejaring sosial adalah bagian dari masyarakat. Karenanya, perlu ada kehati-hatian dalam menyuarakan pendapat khususnya terkait politik dan keberpihakan.

Dalam paparan dua undang-undang di atas, dapat disimpulkan bahwa PNS sebagai warga negara yang mempunyai hak pilih, diperbolehkan mengikuti kampanye serta menyuarakan dukungan terhadap partai atau calon jabatan politik tertentu. Namun, PNS dilarang mengajak orang lain untuk memilih partai atau calon tertentu termasuk dilarang mengajak anggota keluarga.

Hal ini diperkuat Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2004 tentang Larangan Pegawai Negeri Sipil Menjadi Anggota Partai Politik yang menyatakan sanksi bagi PNS yang terlibat aktif dalam kegiatan politik adalah pemberhentian dengan hormat atau dengan tidak hormat. Sementara bagi PNS yang ingin menjadi anggota atau pengurus partai politik, dapat dilakukan asalkan ia mengundurkan diri sebagai PNS.

Larangan yang sama juga tercantum pada Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil yang melarang PNS memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan cara ikut serta sebagai pelaksana kampanye, menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau atribut PNS, atau mengerahkan PNS lain sebagai peserta kampanye.

Pelanggaran PNS pada aturan PP di atas akan dikenai hukuman disiplin, seperti yang dijelaskan sebagai berikut:

Tingkat hukuman disiplin terdiri dari:

  1. Hukuman disiplin ringan (teguran lisan; teguran tertulis; atau pernyataan tidak puas secara tertulis).
  2. Hukuman disiplin sedang; (penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 tahun; penundaan kenaikan pangkat selama 1 tahun; atau penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 tahun).
  3. Hukuman disiplin berat (penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 tahun; pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah; pembebasan dari jabatan; pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS; atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS).

Selain Undang-undang dan PP tersebut di atas, netralitas PNS juga diatur oleh Surat Edaran MENPAN Nomor 07 Tahun 2009 tentang Netralitas Pegawai Negeri Sipil dalam Pemilihan Umum yang pada dasarnya adalah penjabaran dari aturan-aturan di atasnya. Namun pada Surat Edaran MENPAN ini dimuat aturan yang memperbolehkan PNS menjadi anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS), dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dalam kegiatan pemilu dengan disertai adanya izin dari atasan langsung.

Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa PNS sebagai warga negara yang memiliki hak pilih dalam pemilu, memiliki hak untuk mengikuti kampanye serta dapat menyuarakan ide serta pendapatnya terkait politik, baik di masyarakat maupun di media sosial termasuk internet. Namun PNS dilarang menjadi pelaksana kampanye termasuk dilarang mengajak dan mengimbau siapapun untuk memilih calon tertentu. Sanksi dari pelanggaran aturan ini berupa sanksi disiplin mulai dari tingkat ringan, sedang hingga berat sesuai dengan penilaian dari atasan yang berhak melakukan penilaian.

Survei, Internet dan Kita

20 Juni 2014 pukul 13.39 | Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar

Membaca lingkar pertemanan di media sosial semacam Facebook atau Twitter akhir-akhir ini memang memerlukan level kesabaran dan kekuatan mental yang luar biasa. Indonesia sedang terbelah dua. Pemilihan presiden yang hanya menghadirkan dua pasang calon penyebabnya.

Tidak adanya calon incumbent dalam pemilu kali ini juga membuatnya jadi luar biasa. Isu klasik “keberhasilan pembangunan sebelumnya” vs “kita perlu perubahan” menjadi sulit diangkat ke permukaan sebagai bahan kampanye. Kedua calon dan pendukungnya sama-sama menawarkan merek baru, sama-sama membawa visi misi yang penuh janji.

Seiring dengan semakin dekatnya waktu pemilihan, beragam isu mulau bergentayangan. Mulai dari keunggulan masing-masing calon, janji apa yang akan dilakukan jika terpilih, latar belakang calon, soal agama, soal keluarga, hasil beragam survei hingga isu-isu tidak jelas yang kalau dipikirkan seksama sebenarnya konyol luar biasa.

Kali ini mari berbicara tentang hasil survei.

Dikutip dari laman Wikipedianyanya Lingkaran Survei Indonesia – LSI Denny J. A. disebutkan survei dan riset sosial menjadi instrumen penting pertarungan politik. Partai politik, kandidat presiden, kandidat kepala daerah dan elit politik lainnya semakin menyadari akan pentingnya survei pemilih. Lewat survei, posisi, kekuatan dan kelemahan partai atau kandidat bisa diketahui sedini mungkin. Strategi politik bisa dilakukan secara efektif dan efisien karena memperhatikan data mengenai apa yang dibutuhkan oleh pemilih (Wikipedia, 2014).

Kenapa membicarakan hasil survei ini dirasa perlu? Karena hasil survei bisa menimbulkan opini publik. Bisa mengubah pendapat dan mempengaruhi hasil pemilihan.

Terakhir Anies Baswedan, juru bicara salah satu pasangan calon mengklaim bahwa dari hasil survei 9 Lembaga Survei, 7 lembaga survey secara konsisten mengunggulkan pasangan yang didukungnya. Sementara dua lembaga survei mengunggulkan pasangan lainnya.

Paparan Anies ini menyusul klaim dari pihak lawannya yang memberitakan hasil satu lembaga survei yang menyebutkan pasangan tersebut mulai unggul setelah sebelumnya selalu ada diurutan bawah.

Kenapa hasil survei bisa berbeda? Karena yang melakukan survei juga berbeda. Mereka bisa punya perbedaan metode, beda demografis sasaran survei, dan tentu saja, beda penyandang dana survei.

Karenanya, survei mungkin memang penting bagi stakeholder politik. Bagi para politisi dan yang berkepentingan langsung dengan pemilih. Tapi bagi para pemilih sendiri, bagi penduduk, masyarakat awam, bagi kita, survei sebenarnya TIDAK PENTING.

Mengambil keputusan berdasarkan hasil survei adalah hal yang berbahaya jika tidak diimbangi dengan data tambahan lainnya. Sama seperti mempercayai media tanpa tahu siapa di belakang media atau faktor lainnya.

Jadi untuk kita, masyarakat pemilih, sekali lagi, HASIL SURVEI TIDAK PENTING. Putuskan pilihan berdasarkan pertimbangan rasional, apa yang sudah dilakukan calon, rekam jejaknya, visibilitas janji-janjinya, para pendukungnya, atau alasan lainnya yang menurut level otak sampeyan memang bisa dibenarkan.

Selain survei, hal lain yang bisa menipu penilaian adalah lingkaran pertemanan. Jejaring sosial memang sering dianggap sebagai miniatur realitas. Bahwa segala macam jenis manusia ada di sana, sama seperti lingkungan pergaulan kita pada umumnya. Jadi apa yang terjadi di social media, adalah cerminan dari keadaan di luar sana sebenarnya.

Benarkah?

Tidak. Ada beberapa perbedaan yang membuat jejaring sosial tidak bisa dijadikan dasar utama dalam pertimbangan mengambil keputusan di dunia nyata.

Mari kita dalami sejenak asumsi tersebut. Pertama, demografi internet itu tidak menggambarkan secara tepat demografi sebenarnya. Isi internet (khususnya media sosial) berdasarkan data terakhir didominasi oleh pengguna di rentang usia 15-35 tahun. Terkenal di internet belum tentu terkenal di luar internet. Tanyalah orang tua kalian, apakah kenal dengan Edward Snowden, atau Triomacan?

Kedua, selain media sosial yang memang booming, macam Facebook, Twitter, dan sejenisnya, sisi-sisi lain internet didominasi kaum adam. Karena itu, keren di internet belum tentu keren bagi kaum wanita di dunia nyata :P

Dan ketiga, tentu saja, jauh sebelum membahas perbedaan pendapat, isu dan pilihan politik, kita sadar atau tidak sadar sudah membuat lingkar pertemanan yang kita rasa cocok dengan kita. Kita melakukan seleksi pada siapa yang kita add sebagai teman, siapa yang kita blok. Siapa yang kita follow di twitter dan lainnya. Ini, tentu saja mempengaruhi apa yang kita liat di timeline akun media sosial. Karena itu, populer di lingkar pertemanan kita, belum tentu populer di luar sana. Hal ini berlaku juga untuk pendapat dan ide.

Jadi sebagai penutup, bisa disimpulkan bahwa meskipun terkesan masif dan gaungnya ke mana-mana, isu-isu dan topik hangat di internet belum tentu berpengaruh besar pada publik. Hasil survei hanya penting bagi mereka yang berkepentingan merancang strategi dan perencanaan ke depan.

Oleh karena itu, jika disempitkan pada topik pemilihan presiden 9 juli mendatang, pesannya adalah: jangan pasif. Sampaikan ide-ide kalian agar mampu menjangkau seluas mungkin. Diskusikan dengan rekan kerja, keluarga, kawan tim futsal, siapa saja. Berdebat di internet sebagian besar hanya menghasilkan kepuasan sementara. Mereka yang berlawanan pendapat hanya akan semakin kuat menolak, sementara yang belum memilih hanya akan jenuh melihat.

Demikian.

***

Sebagai hiburan, saya sertakan video musik dari Taylor Swift berikut ini, selamat menikmati.

 

 

Berpikir Kritis Membaca Berita

16 Juni 2014 pukul 14.25 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Pembaca kritis

 

Perkembangan media massa dan internet dalam beberapa tahun terakhir membuat kita dibanjiri informasi dari segala sisi. Tidak jarang terjadi kebingungan karena banyak informasi yang masuk justru saling bertentangan dan tumpang tindih.

Tidak sedikit yang merasa overload informasi dan merasa kebingungan sendiri. Padahal, hakikat berita adalah membantu pemahaman.

Untuk menghindari kebingungan dan kesalahpengertian ketika membaca berita, ada baiknya kita belajar menjadi pembaca yang kritis. Caranya sederhana. Sama seperti wartawan junior diajari cara menulis berita yang baik, seperti itu pulalah kita belajar menjadi penerima berita yang baik. Yaitu dengan memahami konsep 5W1H.

Apa itu 5W1H?

Mereka yang berkecimpung di dunia informasi, penulisan atau sekedar penikmat linguistik, pasti tahu. 5W1H adalah akronim bahasa Inggris dari Who, What, Where, When, Why dan How.

Siapa, Apa, Di mana, Kapan, Kenapa dan Bagaimana.

Berita yang baik selalu memuat enam unsur di atas.

  • Siapa yang mengalami, siapa yang mengatakan.
  • Apa yang dialami, apa yang dikatakan.
  • Di mana kejadian terjadi, di mana ucapan tersebut di katakan.
  • Kapan kejadian tersebut, kapan omongannya itu diutarakan.
  • Kenapa bisa terjadi, kenapa sampai terucap.
  • Bagaimana kronologis kejadian, bagaimana cara ngomongnya.

Kalau tidak memuat fakta-fakta di atas, suatu berita bisa dikatakan sebagai berita yang tidak benar. Atau bahkan, bukan berita. Bukan berita bisa jadi berupa opini, pendapat, prediksi, atau yang berbahaya, fitnah.

Nah, untuk menjadi penikmat berita yang kritis, kita juga perlu menerapkan prinsip-prinsip di atas ketika menerima suatu informasi dan menelaahnya.

1. Siapa (who)
Kita perlu mengetahui siapa yang mengalami kejadiannya, atau siapa yang mengatakan berita tersebut. Apakah seseorang yang terkenal? Ahli di bidang yang memang menjadi topik berita? Orang yang memang berwenang?

Misalnya, ketika kita membaca berita tentang seorang calon presiden, tapi yang menjadi sumber berita adalah tim sukses calon tersebut, maka secara logis perlu dipertimbangkan bahwa apa yang diucapkannya ada unsur promosi. Atau sebaliknya, yang dikutip oleh berita tersebut adalah lawan dari si calon, maka perlu dipahami tentu akan ada tendensi menjatuhkan dari omongannya tersebut.

2. Apa (What)
Apakah yang ditulis merupakan fakta atau opini? Jika memang fakta, apakah semua fakta ditulis lengkap atau dipotong-potong untuk menimbulkan asumsi?

Misalnya, ada berita calon presiden A dilahirkan dari orang tua yang non-muslim. Tapi tidak disebutkan kalau si calon sudah mualaf karena perkawinan. Maka ini adalah pemaparan fakta yang tidak utuh.

3. Di mana (Where)
Ini termasuk poin penting yang terkadang dilupakan dalam memahami latar belakang berita. Di mana kejadiannya atau di mana si sumber berita mengatakan kutipannya. Apakah di forum publik atau privat? Di depan siapa ia berkata itu? Karena orang cenderung memiliki tutur bahasa yang berbeda di lingkungan yang berbeda. Omongan di depan orang banyak akan berbeda dengan omongan di lingkungan terbatas. Omongan di depan anggota FPI akan berbeda dengan omongan di depan dewan gereja, dst.

4. Kapan (When)
Ini juga penting dan kadang terlupakan. Kapan kejadiannya. Apakah di saat konflik? Di saat damai? Di saat kampanye? Di saat santai sehingga ada kemungkinan itu kutipan tidak serius?

5. Kenapa (Why)
Kenapa si narasumber berkata sesuatu, atau kenapa berita ada? Apakah karena dia memang bertugas sebagai juru kampanye? Atau karena dipaksa? Atau karena ada perintah atasan? Semua ini harus jadi pertimbangan.

6. Bagaimana (How)
Pertimbangkan juga bagaimana kejadiannya. Apakah si pengucap sedang marah? Sedang sedih? Sedang lelah? Apakah sumber beritanya dari ucapan lisan, atau tertulis? Dari bocoran dokumen militer atau fatwa ulama tidak jelas? Dll.

 

***

Catatan tambahan, dengan maraknya situs-situs (yang mengaku sebagai situs) berita serta dengan kemudahan mendirikan perusahaan pers sejak jaman reformasi, kita juga perlu kritis terhadap media penyampai berita itu sendiri. Kita perlu mengetahui SIAPA DI BELAKANG MEDIA YANG BERITANYA KITA BACA/DENGAR ITU.

Misalnya, pemilik media A ternyata adalah ketua partai pendukung calon presiden B, maka tentu perlu dipikirkan netralitas media tersebut dalam memberitakan topik calon presiden dukungannya dan calon presiden yang tidak ia dukung.

Atau yang lebih perlu dipikiran, yang mengaku media ini apakah memang pantas disebut media? Apakah ada dewan redaksinya? Profesionalkan yang mengaku wartawannya? Sudahkah isi beritanya menerapkan standar cover both side?

Di jaman informasi digital saat ini, memang terjadi pergeseran makna dari sumber berita.

Menurut Michael Schudson, profesor dari Columbia University Graduate School of Journalism, ada setidaknya 6 perubahan paradigma berita saat ini.

  • Semakin kaburnya batasan antara penulis dan pembaca, karena setiap orang bisa menuliskan apa yang sedang terjadi/dirasa melalui media sosial, blog atau forum internet.
  • Semakin kaburnya batasan definisi dari tweet, status facebook, posting blog, opini, artikel, dan berita.
  • Semakin tidak jelasnya batasan profesional dan amatir.
  • Semakin campur aduknya status organisasi media sebagai media pers murni, atau media non-profit, atau publik, atau media simpatisan.
  • Semakin banyaknya campur tangan pemilik pebisnis sebagai pemilik media pada independensi redaksi.
  • Mulai banyaknya media klasik semacam koran yang membuka diri terhadap ide media baru seperti situs internet.

Hal ini kerap membuat kebingungan karena misalnya, seorang wartawan profesional yang bekerja pada media bonafide, sekaligus juga adalah pemilik blog yang tema tulisannya mirip dengan tema tulisannya di koran tempat dia bekerja. Lalu apakah tulisan blognya bisa dianggap sebagai berita?

Atau ketika media resmi membuka portal untuk individu-individu menuliskan ide pribadi mereka. Misalnya Kompas yang punya Kompasiana. Banyak yang tidak menyadari bahwa Kompasiana bukanlah media standar seperti Kompas. Kompasiana adalah wadah individu-individu menuliskan opininya. Isi Kompasiana bukanlah berita.

Hal-hal seperti inilah yang perlu dipelajari agar menjadikan kita pembaca berita yang cerdas. Bukan sebagai target pasar yang gampang dibodoh-bodohi.

——-

Penulis adalah blogger, lulusan jurusan Linguistik Terapan pada Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta, guru dan dosen bahasa Inggris, dan pernah menjadi wartawan radio jejaring nasional Smart FM selama 4 tahun dan penyiar berita serta host dialog pada TVRI Kalimantan Selatan selama 2 tahun.

Beberapa fakta dan trivia Sherlock “The Empty Hearse”

3 Januari 2014 pukul 12.21 | Ditulis dalam Uncategorized | 6 Komentar

Kemungkinan SPOILER. Bagi yang belum nonton, silakan nonton dulu.

  • Judul episode pertama season ketiga ini adalah The Empty Hearse. Judul ini merupakan pelesetan dari cerita asli Sherlock Holmes karangan Sir Arthur Conan Doyle berjudul The Empty House yang juga menceritakan kembalinya Sherlock dari kematian (palsu).
  • Mary (Amanda Abbington), tunangan John Watson di episode kali ini adalah pasangan sebenarnya dari Martin Freeman (pemeran Watson) di dunia nyata. Mereka sudah punya dua orang anak. Dan iya, mereka pasangan tapi tidak menikah :)
  • Orang tua Sherlock yang hadir di episode kali ini merupakan orang tua asli dari Benedict Cumberbatch.
  • Sosok pria misterius di ending episode ini diperkirakan adalah calon musuh Sherlock selanjutnya, Charles Augustus Magnussen/Milverton. Di cerita asli karangan Conan Doyle, ia adalah penjahat yang pekerjaannya memeras para korbannya.
  • Hasil pengamatan Sherlock pada Mary yang tertera pada pop-ups episode ini adalah Lib Dem, Only Child, Size 12, Guardian, Bakes Own Bread, Linguist, Part-time Nurse, Short sighted, Clever, Romantic, Cat Lover, Appendix, Scar, Secret Tattoo, Disillusioned dan…Liar.KGAAs9u
  • Ada tiga teori cara Sherlock mengelabui kematian yang diceritakan di episode ini. Tiga-tiganya adalah teori yang paling populer di kalangan fans-base di internet dan forum-forum (Kecuali teori yang sangat Gay itu, itu sungguh cuma buat lucu-lucuan).
  • Tukang Hipnotis yang muncul di awal episode ini adalah Derren Brown. Dia adalah semacam Deddy Corbuzier-nya Inggris :P
  • Skenario episode ini ditulis Mark Gatiss, yang juga memerankan kakak Sherlock: Mycroft.
  • Tunangan yang dikenalkan Molly di akhir episode ini memakai pakaian yang persis biasanya Sherlock pakai. Makanya Sherlock dan Watson nampak menahan ketawa di adegan ini.
  • Latar belakang episode ini adalah peringatan Guy Fawkes. Kejadian di mana rencana pengeboman gedung parlemen Inggris pada tahun 1605 gagal dan pelakunya, Guy Fawkes, ditangkap.  Hari peringatan ini biasanya diisi dengan anak-anak berkeliling meminta sumbangan untuk membeli kembang api, pesta kembang api, dan penyalaan api unggun besar yang dijadikan tempat membakar boneka Fawkes di berbagai tempat.

Secara keseluruhan, menurut saya ini adalah salah satu episode Sherlock yang kurang maksimal secara plot cerita. Namun masih sangat menghibur karena kemampuan akting keren dari para aktornya.

Curiganya, episode ini semacam pembukaan dengan tujuan utama memanjakan para fans setelah dua tahun penantian. Terbukti dari porsi besar visualisasi teori karangan fans tentang cara Sherlock survive, karakter Sherlock yang berkembang semakin manusiawi dan humoris, dan kilasan adegan Sherlock di Serbia ketika ia berambut…panjang pirang.

Tapi tentu saja, masih ada dua episode lagi yang perlu ditunggu. Janjinya sih akan rilis dalam seminggu dua minggu kedepan ini. Just wait…

30 Mei 2013

31 Desember 2013 pukul 18.28 | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Duduk di samping dua orang ibu paruh baya. Mereka berbincang saling membanggakan anak-anaknya. Ada yang baru lulus S2. Ada yang baru diterima kerja. Berkisah ketika anak-anaknya akan ujian maka si ibu berpuasa. Dan saya… Tanpa sadar di sini saya menggigil merindu bunda…

Film Terbaru Benedict Cumberbatch “The Imitation Game”

27 Desember 2013 pukul 21.26 | Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar

Sepertinya tahun ini dan tahun depan, masih jadi tahunnya Benedict Cumberbatch.

0HGAsHA

Setelah sukses menghidupkan kembali karakter detektif paling terkenal di dunia Sherlock Holmes dalam kemasan modern, Cumberbatch juga jadi daya jual di beberapa film lain seperti Star Trek Into Darkness dan The Hobbit trilogy.

Dengan logat british yang kental, kesan misterius yang nakal, serta raut muka yang tidak pasaran, Benedict saat ini menjadi sasaran histeria para wanita di seluruh dunia. Ini tentu saja ditunjang dengan kemampuan aktingnya yang memang luar biasa.

Tapi mari kita tidak membicarakan pesona dan dan kehebatan Benedict Cumberbacth ini dari sudut pandang penggemar wanitanya. Takutnya nanti saya dituduh punya kecenderungan menjadi penyuka sesama pria… (–‘)

Mari kita berbicara tentang penyuka sesama pria saja..

Lah?

Jadi rencananya, tahun 2014 ini film terbaru Benedict Cumberbatch akan kembali dirilis. Filmnya diberi judul “The Imitation Game”. Kali ini ia akan memerankan sosok Alan Turing.

Kenal Alan Turing?

Sebagian orang menyebut Turing harusnya dikenal sebagaimana kita mengenal Albert Einstein. Selain sama-sama jenius, Turing juga berperan besar dalam mengubah jalan sejarah dunia menjadi apa yang sekarang kita kenal. Ia menciptakan mesin pemecah kode yang membantu Inggris membaca kode-kode milik pasukan Jerman pada perang dunia II. Dengan bantuan Turing, strategi perang Jerman dapat diketahui dan akhirnya, dikalahkan.

Selain itu, Turing juga dikenal jenius dalam komputer dan matematika yang penelitiannya pada jamannya mempengaruhi perkembangan komputer seperti yang kita kenal sekarang.

Dengan jasa-jasanya itu, seharusnya ALan Turing dikenal sebagai pahlawan, bukan?

Bukan, tentu saja.

Alan Turing dikucilkan dan dicabut hak-haknya oleh Kerajaan Inggris karena ia menjalin cinta dengan seorang remaja pria. Homoseksual merupakan pelanggaran hukum berat pada masa itu. Pengucilan dan penistaan tersebut yang konon akhirnya membawa Turing memutuskan untuk bunuh diri dengan memakan apel yang sudah dicampur sianida (Turing dikenal sangat menyukai dongeng Putri Salju dan Tujuh Kurcaci). Namun juga ada kecurigaan, Turing sebenarnya diracun oleh pihak tertentu.

Baru-baru ini, diberitakan Ratu Inggris sudah memberikan maaf resmi kepada Alan Turing.

Menarik ditunggu bagaimana Cumberbacth memerannya sosok Alan Turing, termasuk juga perlu ditunggu plot cerita film ini. Tapi sementara itu, mari kita menonton Sherlock dulu….

***

Link terkait

1. http://en.wikipedia.org/wiki/Alan_Turing

2. http://www.imdb.com/name/nm1212722/

3. http://www.buzzfeed.com/danmartin/heres-the-first-picture-of-benedict-cumberbatch-as-alan-turi

4. http://edition.cnn.com/2013/12/24/world/europe/alan-turing-royal-pardon/

Agnes Monica di Kantor Baru Saya

25 Desember 2013 pukul 13.19 | Ditulis dalam Uncategorized | 7 Komentar

Jadi sejak pindah kantor ini, saya mendadak melek gosib selebriti. Sialan.

Bayangpun. Saya, yang menolak mengikuti segala macam trend baik di dunia nyata maupun dunia maya, tiba-tiba saja mengerti kalau ternyata banyak artis yang memang sengaja bikin sensasi biar terkenal. Ada pedangdut yang sempat dikira salah satu teman saya ustadzah karena namanya pake Siti-siti dan beakhiran “yah-yah” yang gosibnya foto bugilnya beredar di internet. Ada om-om yang pacaran sama artis muda pendatang baru entah-siapa-namanya-saya-lupa lalu ternyata itu pacaran katanya settingan biar masuk infotainment. Ada pengacara yang saya curiga punya kelainan jiwa yang wara-wiri mengomentari segala kabar yang ada di tipi. Saya cuga jadi tau kalau adiknya Olga sama adiknya Raffi itu lagi flirting-flirtingan walau mungkin sebagian juga settingan produser acara.

Semua gara-gara kantor baru…

Di tempat kerja ini ada sekitar 30-an rekan kerja saya, dan cuma 3 orang termasuk saya yang punya titit. Dan entah kenapa, kaum hawa ini begitu berdedikasi dengan berita selebriti. Setiap pagi, setelah ucapan assalamualaikum, maka kalimat selanjutnya adalah “Liat hitam putih tadi malam gak?” atau “liat artis ini dihipnotis sama uya gak?” atau “anaknya Dhani yang pertama itu ganteng banget yaa” dan kalimat-kalimat tersebut diucapkan oleh ibu-ibu usia menjelang 50…

Dan tidak hanya acara gosib, atau sinetron yang mereka komentari, tapi juga iklan. IKLAN!

Seperti hidup di Indonesia belum cukup ribet dan harus ditambah dengan mengomentari iklan di tipi…

Salah satu iklan yang dikomentari adalah iklannya Agnes Monica. Tidak tanggung-tanggung, rekan-rekan kerja saya ini menggunjingkan Agnes dengan topik ‘kenapa iklan yang dibintangi Agnes Monica rata-rata itu iklan kelas dua. Khususnya iklan di tipi”.

Mau tidak mau saya jadi kepikiran, haha… Walaupun berniat tidak akan tidak ingin ikut menggibah, tetap saja jadi penasaran. Apa iya?

Jangan salah, Agnes itu salah satu dari ‘first crush’ masa-masa aqil baliq saya dulu. Selain Agnes, saingannya adalah Rachel di serial Friends, dan tentu saja… … Kimberly si Ranger Pink.

SIWI

Tapi kita tidak akan membahas Kimberly atau Rachel kali ini. Kita ngobrolin Agnes Monica saja.

Setelah saya pikir-pikir, terlepas dari nyinyiran banyak orang, IMHO Agnes sejauh ini tidak pernah mendapat pemberitaan yang negatif. Tidak pernah ada 3gp dengan aktris dia (Kalau yang judulnya ‘mirip Agnes’ sih banyak), tidak pernah ada terdengar cerita Agnes membuat isu murahan menjelang dia rilis album atau single, pun tidak pula ada kisah jelek tentang pribadinya.

Jikapun ada gosib-gosib seputar Agnes dan mantan-mantan, ya wajar. Namanya seleb, cantik pula. Jangankan yang seleb beneran, selebtwit saja sekarang polahnya sudah macam Don Juan 2.0 kok…

Lalu tentang kegagalannya Go International? Lah situ membahas Agnes gagal di Amerika, memangnya situ sudah keluar album berapa copy? Kesalahan Agnes di sini menurut saya cuma karena dia bragging rencananya memperluas pasar ke luar negeri sebelum ada bukti. Beda dengan (yang biasanya dibanding-bandingkan dengannya) Anggun, yang memang tau-tau muncul dengan status Diva Internasional. Agnes melewatan moment untuk menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu. Dia keburu penasaran rasanya terbang sebelum punya sayap yang mumpuni :)

Tapi dia masih muda, masih punya banyak jalan menuju Roma.

Dan tentang iklan kelas dua. Kenapa memangnya? Setau saya, selain iklan yang memang packagingnya sederhana macam iklan aromaterapi itu, Agnes juga pernah jadi duta promosi operator seluler paling besar Indonesia kan? Toh, kita nyinyir, duitnya tetap lumayan juga buat dia..

Terakhir, kenapa pula saya membahas Agnes membabi buta begini? Ya mau gimana lagi? Kerjaan sudah selesai, libur sudah membayang, tapi jadwal masih mengharuskan saya masuk kerja, duduk di meja menghadap TV dikelilingi ibu-ibu membahas berita selebriti hari ini…

Saya, terkontaminasi….

Halaman Berikutnya »

Blog di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 54 pengikut lainnya.